Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Membeli Hadiah


__ADS_3

“Kak Adnan, ayo cepat, kenapa lama sekali?” Teriak Humairah di depan pintu rumahnya, gadis kecil itu sudah tak sabar untuk berjalan-jalan sore ini sembari memakan es krim sesuai dengan yang di janjikan oleh Adnan padanya.


“Iya, Humairah, kakak datang.” Balas Adnan sedikit berteriak.


“Ayo!”


Humairah memperhatikan penampilan kakaknya yang terlihat sangat tampan sekarang, dengan kaos putih dan jaket putih yang ia kenakan.


“Ada apa ? kenapa melihat kakak seperti itu?” Adiknya itu terlihat menggemaskan dengan raut wajah yang ia pasang.


“Wah, kak Adnan terlihat sangat tampan, kalau seperti ini kita tidak akan makan eskrim dengan tenang.” Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.


Adnan mengerutkan keningnya, tak mengerti.


“Kenapa?”


“Kakak terlihat seperti oppa-oppa korea yang biasa di nonton kak Lani di tv. Cewek-cewek yang melihat kakak pasti akan terus meracau di dekat kita, bagus kalau mereka tidak minta berfoto dengan kakak. ” Ungkap Humairah. Lani adalah salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


“Benarkah? Jadi kamu juga sering nonton film itu?” Adnan menatap tajam pada adiknya.


Humairah gelagapan.


“Enggak kok, Humairah Cuma lihat sekilas aja, kalau cowok-cowok gantengnya muncul.” Gadis kecil itu langsung berlari menuju mobil meninggalkan Adnan sendiri.


Adnan menggelengkan kepalanya, ia harus lebih mengawasi lagi tontonan adiknya. Adnan pun ikut masuk ke mobil.


“Kita mau makan es krim di mana kak?” Humairah memasang sabuk pengamannya.


“Terserah kamu saja.” Adnan menghidupkan mesin mobil.


“Kalau gitu kita ke mall aja yah, sekalian beliin Humairah boneka yah kak.”


“Iya, baiklah tuan putri, kita berangkat sekarang.”


“Iya, ayo jalan.” Gadis itu berteriak kegirangan.


***


Sesampainya di mall Sinta langsung menuju toko sepatu, sesuai janji David ia membelikan sepatu sport yang berharga jutaan rupiah itu untuk Sinta. setelah itu mereka masuk ke beberapa toko lagi dengan David yang menjadi ATM berjalan Sinta, menggunakan kesempatan langka itu, Sinta juga membelikan beberapa barang untuk Indah, walau gadis itu menolak tapi ia tetap tidak peduli. David terus mengikuti langkah kedua gadis itu, sampai kemudian mereka masuk ke toko perhiasan.


“Kamu juga mau membeli perhiasan Sin?” Tanya Indah saat mereka masuk ke toko itu.


“Iya.” Jawab Sinta singkat.


“Wah… Alhamdulillah.”


“Kenapa?” Sinta heran.


David masih menjadi pendengar yang baik.


“Yah, Alhamdulillah. Itu artinya sifat femini mu sudah mulai kembali.” Jawab Indah asal.


David yang berdiri di samping Indah, menahan gelak tawanya melihat raut wajah Sinta yang kesal.


“Indah, aku tidak mau yah ribut denganmu di sini.” Jawab Sinta sewot.


“Hah! Memangnya aku mengajakmu ribut?” Tanya Indah tak mengerti.


“Ck, sudahlah tidak perlu di perpanjang.” Sinta mengibaskan tangannya ke udara.


“Huh, sabar Sin.” Gumam Sinta pelan.

__ADS_1


Sinta mulai mencari perhiasan yang ia inginkan, sampai kemudian pandangannya jatuh pada sebuah kalung, berbentuk oval dan dihiasi permata.


“Kak David menurut kakak, ini bagus gak?” Tanya Sinta.


Indah yang melihat itu ikut menyela.


“Itu terlihat sangat tua untukmu Sin, kamu akan terlihat seperti ibu-ibu saat memakainya.” Ucap Indah polos.


Lagi-lagi David hanya bisa tertawa tanpa suara mendengarnya.


“Ck, kamu diam saja aku kan tidak bertanya padamu.”


“Aku kan hanya berpendapat, lagian setiap orang kan punya hak untuk menyuarakan pendapatnya.” Indah melipat kedua tangannya di depan dada.


“Kamu kira kita lagi pemilihan anggota DPR Indah?!” Sinta semakin kesal.


Penjaga toko yang melayani mereka terlihat menahan tawanya. Lagi-lagi Indah mengerucutkan bibirnya, merasa kesal.


David memperhatikan kalung itu dengan seksama.


“Tidak, itu terlalu berlebihan, mama tidak akan suka.” Ucap David sengaja agar Indah tahu kalung itu untuk Siska bukan untuk Sinta.


“Oohh.” Indah ber o ria.


“Panjang banget o nya Ndah.” David terkekeh.


“Hehe, jadi kalung ini untuk Tante Siska yah kak?” Indah bertanya memastikan.


“Iya.” Jawab David tersenyum manis menatap gadis itu.


Indah berbalik melihat Sinta, tersenyum lebar pada sahabatnya.


“Apa? Jangan tersenyum seperti itu, kau terlihat menakutkan.” Sinta tak ingin memandang lebih lama wajah lucu Indah, bisa-bisa ia tidak akan tahan lagi untuk ikut tersenyum bersamanya.


“Hhmm… “ Jawab Sinta dengan gumaman.


Sinta kembali melihat-lihat perhiasan yang lain.


“Duh, aku bingung, aku tidak pandai memilih perhiasan.” Ucap Sinta frustasi.


“Boleh aku bantu gak?” Indah menwarkan.


“Tentu saja Indah, kamu aja yang pilih.” David yang menjawab.


“Ok kak.”


Indah mulai melihat-lihat dengan seksama sederet kalung emas yang berjejer di sana.


“Mbak, coba lihat yang ini.” Tunjuk Indah pada salah satu kalung itu.


Pegawai toko itu mengambilkannya.


“Masya Allah ini terlihat sangat cantik Sin, Desainnya sederhana tapi sangat elegan.” Ucap Indah berkomentar.


Sinta juga memiliki pendapat yang sama dengan Indah, senyumnya mengembang memperhatikan kalung yang memiliki ukiran bunga dan dihias permata.


“Iya, Indah. Ini terlihat sangat cantik, mama pasti menyukainya.”


Indah menganggukkan kepalanya.


“Menurut kak David gimana?” Tanya Indah melihat ke arah samping tempat David berdiri tadi, namun cowok itu sudah tidak terlihat di sana.

__ADS_1


“Eh, kak David mana?”


Indah dan Sinta mengedarkan pandangan ke seluruh toko, sampai kemudian mereka melihat David di etalase paling ujung, seperti sedang memilih sesuatu.


“Itu kak David!” Tunjuk Indah yang melihat keberadaan kakaknya terlebih dahulu.


“Oh iya, kak David!” Teriak Indah.


Sinta membulatkan matanya, sementara beberapa pengunjung sudah melihat ke arah mereka.


“Kak Da……” Dengan cepat Sinta menutup mulut Indah yang akan berteriak lagi, dan tersenyum malu-malu kepada pengunjung yang terlihat cukup terganggu dengan teriakan Indah.


“Eeempphh…” Indah berusaha berbicara.


“Kamu membuat aku malu saja Indah, lihat para pengunjung melihat ke arah kita. Jangan berteriak lagi seperti tadi, ini bukan pasar, mengerti?” Ucap Sinta penuh penekanan.


Indah menganggukkan kepalanya, Sinta melepas tangannya dari mulut Indah dengan raut wajah kesal, ia memandang gadis itu dengan tatapan horor.


“Maaf, aku kan gak sengaja.” Indah mengerucutkan bibirnya melihat Sinta yang kesal.


“Ck.” Decak Sinta.


“Mbak, aku ambil yang ini saja yah.” Sambungnya pada pegawai toko itu, lalu memberikan kartu kredit David yang ia pegang sejak masuk ke mall tadi.


“Baik tunggu sebentar yah.” Pegawai toko itu mulai mengemasi kalung pilihan Sinta.


“Loh, kita gak tunggu kak David dulu untuk minta pendapatnya?” Tanya Indah.


“Udah gak usah, aku rasa pilihan kamu ini sudah sangat bagus, lagian ini kan hadiah aku untuk mama.” Jawab Sinta.


“Tapi kan kamu belanjanya pakai uang kak David.”


Sinta kembali menatap Indah dengan tajam.


'Gak usah diperjelas juga kali.' Rutuk Sinta dalam hati.


“Huuusstt…. Diam aja.” Capek rasanya meladeni gadis di sampingnya itu.


Setelah pegawai toko itu memberikan belanjaan mereka, Indah dan Sinta pun beranjak akan keluar toko, di saat bersamaan David sudah ada di depan mereka.


“Udah belanjanya?” Tanya David.


“Udah, ayo keluar.” Jawab Sinta.


Mereka bertiga pun keluar beriringan.


“Kak David tadi ngapain di etalase ujung? Beli perhiasan juga untuk tante Siska?” Tanya Indah.


“Eh, tidak… aku… aku hanya melihat-lihat saja.” Jawabnya.


“Hhmm…” Indah mengangguk.


“Sekarang kita mau ke mana?” Tanya David.


“Ke mana lagi yah?” Sinta tampak berpikir.


“Menurut kamu Ndah, kita mau beli apa lagi yah?” Tanya Sinta.


Indah pun tampak berpikir, kemudian menggelengkan kepala.


Sedetik kemudian suara seorang gadis kecil mengalihkan perhatian mereka bertiga.

__ADS_1


“Kakak cantik!” Teriak Humairah.


__ADS_2