
Keesokan harinya, Indah sarapan pagi sendirian, ia tidak tahu mengapa Farid belum juga turun? Apa dia belum bangun? atau dia berangkat duluan ke kantor? Indah menebak-nebak. Jika benar Farid berangkat duluan ke kantor kan lebih baik, tapi masa ia sih.
Setelah menghabiskan sarapannya, gadis itu memilih untuk menunggu Farid di teras, sejak ia pindah belum sekalipun ia duduk bersantai di depan rumahnya itu. Dengan di temani segelas jus apel, ia menatap sekeliling.
Halaman rumah yang luas dipenuhi rerumputan hijau, membuat mata segar memandangnya. Ia tersenyum dari balik cadarnya, bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuknya dan Farid.
Meski bahagia, hatinya masih merasa ada yang kurang, Ia kembali teringat moment saat dia dan ibunya duduk di teras sederhana di rumah kontrakan mereka. Bercakap-cakap santai dengan segelas teh hangat, sangat menyenangkan.
Menatap langit yang tampak cerah hari ini.
"Hidup adalah sebuah misteri, entah apa yang akan ku lalui ke depannya, aku hanya ingin memohon untuk di berikan hati yang kuat dan lapang dalam menghadapi situasi yang berat dalam hidupku. Memaafkan orang-orang yang mungkin menyakitiku dan begitu pun sebaliknya. menegurku saat aku tak sengaja berbuat salah. Janganlah pernah meninggalkan aku ya Allah, iringi-lah langkahku, karena aku akan hancur tanpa Engkau." Senyum itu melahirkan air mata haru.
Melirik jam yang melingkar di tangannya, pukul 06:50. Ia mulai risau mengapa Farid belum juga terlihat, ia akan terlambat ke sekolah kalau begini.
Melihat mas Rinto yang sedang mengelap kaca mobil di halaman rumah, terpikirkan olehnya ide jahil untuk meninggalkan Farid saja. Gadis itu tersenyum lucu, berpikir bahwa bukan salahnya jika tidak menunggu Farid, Lagi pula dia akan terlambat bekerja.
Indah merapikan pakaian juga tasnya, menyeruput hingga habis jus yang masih tersisa dari balik cadar yang ia kenakan. Beranjak ke arah mas Rinto.
"Mas, kita jalan sekarang yah, tidak perlu menunggu kak Farid, aku sudah hampir terlambat." Berucap cepat.
"Tapi non, Pak Farid..." Bingung tersenyum kaku, melirik ke dalam mobil.
"Sudah tidak apa-apa, kak Farid bisa naik mobil lain saja, ayo!" Mengajak cepat.
"Tapi..." Menggaruk kepala yang tidak gatal.
Indah masuk ke dalam mobil dengan senyum jahilnya, namun senyumnya seketika berubah saat menyadari seseorang telah duduk manis di kursi yang ada di sampingnya, menatap ke arahnya. Farid mendekatkan wajahnya, memasang wajah konyol.
"Astaghfirullah." Indah begitu terkejut saat ia berbalik ke samping, wajah mereka saling bertemu.
"Iihhh..... Kak Farid!!" Memukul- mukul lengan Farid.
Farid tertawa, merasa lucu dengan ekspresi adiknya yang kaget melihatnya.
"Kakak bikin aku jantungan saja." Cemberut, mengelus dadanya. Wajah konyol Farid sukses membuat ia senam jantung pagi ini. Padahal harinya sudah berbunga-bunga karena berpikir Farid tidak akan mengantarnya ke tempat kerja.
__ADS_1
Farid tertawa hingga memperlihatkan giginya yang putih, pemuda itu begitu puas telah mengerjai adiknya.
"Makanya kalau sudah janji jangan di ingkari, dosa kamu yah mau ninggalin kakak."
"Hehe..." Tersenyum kaku, yah.... Ketahuan deh.
"Aku tidak mengingkari janji kok, kan kak Farid sendiri yang tidak kelihatan, aku juga hampir terlambat, itu bukan mengingkari janji kak, itu salah kakak sendiri." Elaknya.
"Awas yah kalau begitu lagi." Menyentil dahi Indah.
"Aduh kak, ih... sakit tahu." Cemberut memegangi dahinya.
Farid hanya tersenyum lucu, sesekali mengerjai adiknya kan tidak mengapa.
"Mas Rinto, jalan!" Memerintahkan, Supir yang tadi ikut masuk ke mobil tv tutorial 5itu hanya mendengarkan dua kakak beradik itu mengoceh di jok belakang, segera menjalankan perintah tuannya.
...
Humairah terbangun saat mendengar pintu ruangan terbuka. Melihat ke sekeliling, seorang dokter muda yang tampan bersama seorang suster masuk ke ruangan. Gadis itu segera beranjak dari tidurnya, mendekat ke arah ibunya yang.... kejutan, Bu Ratih telah sadar, ia pun baru menyadari hal itu.
Betapa senangnya Humairah saat melihat Bu Ratih tersenyum padanya. Ingin segera memeluk, namun menunggu dokter selesai memeriksa keadaan ibunya. Mencari keberadaan Adnan, mungkin ia pergi untuk membeli sesuatu, pikir gadis tersebut.
"Bagaimana perasaan Tante sekarang, apa sudah lebih baik?" Bertanya dengan akrab, walau ia sangat kaku namun saat berinteraksi dengan pasien dan keluarganya David akan selalu bersikap profesional.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik dokter, hanya sedikit lelah." Menjawab dengan senyum, walau bibirnya nampak Masih pucat.
"Tidak perlu formal seperti itu Tante, mari kita berbicara dengan akrab."
Bu Ratih mengangguk.
'Mama kenal sama dokter tampan ini? Siapa yah dia, aku harus segera mencari tahu tentangnya.' Tersenyum malu masih menatap David.
"Kakak kamu ke mana? Bukankah dia ada semalam?" Bertanya pada Humairah, entah gadis itu masih mengenalinya atau tidak.
"Hah?" Humairah cengoh, bagai sebuah anugerah dokter tampan tersebut berbicara akrab padanya.
__ADS_1
Menatap David dengan mata besarnya.
"Kakak?" Bu Ratih bertanya, kakak siapa yang David maksudkan? Bukankah hanya Adnan? Pikirnya.
"Adnan Tante, kemarin dia yang membawa Tante juga ke rumah sakit ini." Menjelaskan.
Bu Ratih menatap Humairah, ingin penjelasan, jantungnya berdebar, rasa rindu pada anaknya kini begitu memuncak.
Humairah hanya menatap ibunya sebentar, tersenyum. Belum menjawab.
"Mungkin kak Adnan sedang keluar sebentar dok, aku juga tidak melihatnya tadi, karena... Ketiduran." Meremas jemarinya, gadis itu tampaknya sangat malu menjawab David.
"Hhmmm... Baiklah, kalau dia sudah datang sampaikan padanya untuk segera ke ruanganku, aku ingin bicara padanya." Menatap Humairah.
"Ba... Baik dok." Menjawab cepat.
David berpamitan sesaat kemudian, untuk memeriksa kondisi pasien yang lain. Humairah terus menatapnya hingga dokter tampan itu menghilang dari pandangannya, tersenyum senang.
...
"Humairah apa benar yang di katakan dokter David? Kamu bersama dengan Adnan nak?" Bu Ratih bertanya tak sabaran sesaat setelah David keluar dari ruangan.
Humairah menganggukkan kepala, tersenyum. Mengeluh kecil kalau kejutannya jadi tidak berhasil karena ketahuan duluan, lantas memeluk ibunya.
Humairah menceritakan tentang kedatangan Adnan kemarin, dan bagaimana ibunya di temukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di kamar mandi. Gadis itu bertanya apa yang terjadi, namun Bu Ratih kelihatannya masih enggan untuk menceritakan, memilih untuk kembali membahas tentang putra satu-satunya tersebut.
Ia begitu senang saat tahu Adnan telah kembali, begitu rindunya ia ingin memeluk putranya itu. Tak sabar menunggu, mengapa Adnan lama sekali, eluhnya.
Bu Ratih menunggu dengan tidak sabarnya, wajah yang tadinya pucat mendadak berseri karena begitu bahagianya. Pengaruh positif sepertinya membuat kondisinya menjadi jauh lebih baik.
Sembari menunggu Adnan, Humairah banyak menceritakan tentang kakaknya itu. Ia berkata Adnan sekarang menjadi jauh lebih tinggi, ia juga bertambah tampan sekarang, sungguh bangga ia memiliki kakak sepertinya. Mereka memang selalu berkomunikasi secara virtual, video call, maupun panggilan biasa, namun nyatanya saat melihatnya secara langsung, sungguh jauh lebih tampan. Bahkan Humairah berangan jika ia akan membawa Adnan untuk bertemu teman-temannya, pasti mereka akan iri karena ia memiliki kakak yang bisa di bilang menjadi incaran banyak wanita. Bu Ratih yang mendengarnya hanya tersenyum bahagia, menjadi lebih tidak sabar lagi melihat putranya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mampir, pengen denger suaranya dong, eh.... komenan-nya. Masukkan saran dari teman-teman yah.... ❤️🥰❤️
__ADS_1