
Adnan masuk ke dalam kelas saat pelajaran pertama sudah selesai. Ia langsung duduk di bangkunya. Bangku paling depan bersama David di sampingnya.
"Kamu dari mana aja? Kok baru datang?" Tanya David saat Adnan baru saja duduk di sampingnya.
Adnan hanya terdiam, melihat wajah David sejujurnya membuat dia selalu merasa kesal karena mengingat kalau sahabatnya itu juga menyukai Indah.
"Ck, ditanyain malah diem aja, kalau ditanya tuh jawab dong." Menyikut lengan Adnan.
Adnan yang mulai risih karena David tidak berhenti berbicara itu akhirnya menjawab.
"Aku tadi telat, jadi di hukum dulu, puas?"
"Oohh..."Jawabnya ber-o ria.
Namun sedetik kemudian ia tertawa.
"Hahaha, puas aku dengernya." Kata cowok itu di sela tawanya.
"Kamu memang selalu senang kan kalau lihat orang lain kesusahan." Tonjokan ringan mendarat di lengan atas David.
"Augh... yah, kalau kamu yang kesusahan sih, aku fine-fine aja." Nyengir kuda, sambil mengelus lengannya yang tadi dipukul.
"Dasar gak setia kawan."
"Hehe, bercanda bro, lagian baru kali ini kamu telat, jadi lucu aja membayangkannya. Kamu gak di suruh lari keliling lapangan kan? Atau mungkin jalan bebek, atau... aah, jangan-jangan kamu di suruh bersihin toilet lagi sama guru yang piket?"
"Kalau ia emang kenapa?" Tanya Adnan santai.
"Hiiii... Bau dong, sana-sana jangan terlalu dekat sama aku." David menggeser bangkunya sedikit menjauh. Tapi Adnan yang berniat mengerjai itu malah mendekatinya dengan menggeser bangkunya juga ke arah David.
"Eh, kamu ngapain deket-deket, bau tahu." David mendramatisir dengan menutup hidungnya.
"Orang kayak aku yang gantengnya akut, mana mungkin bau." Ucap Adnan percaya diri. Ia lalu merangkul bahu David.
__ADS_1
"Iihh... kamu apa-apaan sih, sana!" David mendorong tubuh Adnan menjauh.
Namun cowok itu malah semakin tertawa, puas melihat wajah David yang merasa jijik, karena anak itu cinta banget sama kebersihan, jadilah ia bertingkah seperti itu.
Pada saat adegan dorong-dorongan itu terjadi, dengan Adnan yang menjadi pelakunya, seorang guru masuk dan pembelajaran kedua pun di mulai, dan David bisa bernafas lega karena Adnan tak mengganggunya lagi. Ia mengambil handsanitazer dari kantong celananya, lalu memakainya.
...***...
Setelah tadi mengantar Indah ke sekolah, Bu Dania langsung menuju kantornya. Yah, dia selalu datang paling awal setiap pagi. Daripada harus pulang kembali ke rumah dan ke kantor lagi pukul 08:30 lebih baik ia langsung ke tempat kerjanya saja, pikirnya. Lagi pula itu hanya akan menghabis-habiskan bensin.
Jayadi Group Industry, adalah nama perusahaan tempat Bu Dania berkerja.
"Selamat pagi Pak, sapa Bu Dania pada satpam di kantor tersebut.
"Pagi juga Bu, semoga hari ibu menyenangkan." Jawabnya ramah.
Bu Dania tersenyum dan segera masuk ke dalam.
Beberapa jam kemudian, kantor itu sudah mulai tampak ramai dengan banyaknya karyawan yang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing.
...
Saat jam makan siang.
"Dania kita makan siang dulu yuk!" Ajak Sarah sahabat Dania sekaligus pemimpin di bagian keuangan itu. Ia tampak anggun dan elegan dengan high heels yang ia kenakan. Jiwa mudahnya masih berkoar di umurnya yang sudah memasuki 35 tahun. (Iyalah, masih mudah kok itu, iya kan?)
"Iya, tunggu sebentar." Dania masih sibuk di depan komputernya.
"Udahlah, nanti aja dilanjutin lagi, ayo." Menarik tangan Dania.
"Iya-iya, bentar aku matiin dulu."
Setelah mematikan komputer dan merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya, Dania pun mengikuti langkah Sarah. Lebih tepatnya karena Sarah menarik tangannya membuat perempuan yang juga berusia 35 tahun itu melangkah cepat.
__ADS_1
"Pelan-pelan Sarah, kita ini sudah bukan anak muda lagi. Kalau jatuh, bisa encok pinggang kita." Dania memperingatkan.
"Ck, usia boleh bertambah tapi semangat masa muda kita jangan sampai hilang Dania." Sarah membawa Dania keluar kantor.
"Kita makan di luar?" Tanya Dania.
"Iya, aku bosan makan di kantin kantor terus, ayolah nanti aku traktir, lagipula jaraknya tidak terlalu jauh dari sini."
Dania berpikir sejenak, namun belum juga ia memberikan jawaban Sarah sudah kembali menariknya untuk masuk ke mobil.
Setelah menyetir kurang dari 15 menit, mereka sampai di sebuah restoran yang tampak mewah.
"Sarah, kamu yakin kita mau makan di sini?" Tanya Dania ragu.
Mereka masih berada di dalam mobil.
"Yakin lah Dania, kamu tenang aja kita kan habis gajian, jadi tidak ada masalah." Katanya santai
"Tapi aku yang tidak enak sama kamu, kamu selalu traktir aku, dan sekarang di restoran mewah ini."
"Dania... sebenarnya kamu itu anggap aku ini siapa sih? orang lain atau sahabat kamu?" Sarah bertanya serius.
"Kamu jangan bilang seperti itu Sarah. Kamu itu sahabat terbaikku sejak kita masih SMP. Kita sudah saling mengenal selama puluhan tahun, bagaimana bisa kamu bertanya seperti itu?" Dania tak suka.
Yah, Dania dan Sarah adalah sahabat sejak mereka masih duduk di sekolah menengah pertama, hingga mereka lulus kuliah pun di kampus yang sama. Namun, karena urusan pekerjaan Sarah harus pindah ke kota J ini, sejak saat itu mereka hilang kontak dan baru bertemu kembali dengan Dania setelah Dania juga pindah ke kota itu. Tak di sangka, ia yang melamar kerja di kota tersebut bertemu dengan Sarah yang menjadi perantara Allah untuk menolongnya yang sedang dalam himpitan ekonomi itu.
Sewaktu sekolah dulu Sarah berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Dania yang berasal dari keluarga terpandang itu akhirnya berhasil membujuk kedua orang tuanya agar ia membiayai sekolah Dania. Melihat kedekatan putri mereka pada Sarah dan juga kebaikannya, maka orang tua Dania pun setuju dengan hal itu. Mereka sama sekali tidak keberatan.
Tapi sejak mereka berpisah setelahnya dan kehilangan kontak Dania, Sarah tidak tahu jika keluarga Dania mengalami kebangkrutan. Ayah Dania meninggal setelah terkena serangan jantung dan ibunya meninggal beberapa bulan setelahnya. Sungguh hidup yang begitu memilukan harus di jalani Dania seorang diri.
Pernah sekali Sarah kembali ke rumah Dania untuk mencarinya, namun yang ia dapatkan adalah orang lain yang tinggal di sana. Karena tak bisa menemukan sahabatnya itu, akhirnya Sarah kembali ke kota J.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Sarah tinggal bersama nenek dari ibunya. Ia yang lulus Kuliah itu akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan properti yang cukup terkenal di kota itu setelah mencari hampir satu tahun lamanya.
__ADS_1
Adrian Arzan Nugroho adalah CEO sekaligus pemilik perusahaan tersebut. Yah, Dania bekerja menjadi sekertaris seorang Adrian, pemimpin yang berkarisma, baik, dan penyayang. Kebersamaan mereka membuat benih cinta tumbuh di antara keduanya. Adrian pun melamar Dania, menikahi wanita itu, dan menerima segala kekurangannya dan begitu pun sebaliknya. Dari pernikahan itu mereka di karuniai putri yang cantik jelita yang mereka beri nama Indah Ramadhani.