
Adnan berbaring di tempat tidur dengan menjadikan satu tangannya sebagai tambahan bantal di kepala. Hidup dengan kekayaan yang berlimpah tak mesti menjadikannya memiliki kehidupan yang bahagia pula, sebagaimana yang orang-orang pikirkan.
Tampak dari luar, keluarganya adalah keluarga yang harmonis, yang kata orang-orang di sekelilingnya patut dijadikan contoh agar memiliki keluarga yang harmonis pula. Namun, orang lain hanya melihat kulit luarnya saja, kenyataannya gemilangnya harta dunia tak mampu membeli kasih sayang seorang istri untuk suaminya. Setidaknya itulah yang ia rasakan selama kurang lebih 2 tahun ini.
Ratih selalu berkata kepada Adnan, suatu hari jika kamu sudah menikah, maka perlakukanlah pasanganmu sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Berikanlah ia kasih sayang yang berlimpah, bahagiakan dia, jagalah dia, ketika ia berbuat kesalahan kamu harus menempatkan dirimu sebagai dia dulu sebelum mengambil keputusan.
Yah, dan Adnan berjanji pada ibu dan dirinya sendiri, semarah apapun ia, ia tidak akan pernah mengangkat tangannya pada istrinya kelak. Ia sudah melihat bagaimana ibunya menerima semua rasa sakit yang diberikan ayahnya, meski hati dan fisik berdarah, namun wanita itu tetap mengukir sebuah senyum di bibirnya.
Berbicara soal pendamping hidup, ia jadi mengingat gadis manis gigi kelinci itu. Adnan tahu ia mungkin sudah melakukan kesalahan karena mengacuhkan Indah di sekolah tadi pagi. Tapi ia sebenarnya tidak ingin melakukan itu, hanya saja rasa cemburu dan tak rela membuatnya bersikap demikian.
“Apa Indah akan marah sama aku yah? Hufftt…” Adnan bergumam.
***
Seperti kesepakatan sebelumnya, hari ini pun Indah dan Sinta berangkat ke sekolah bersama dengan David. Posisi duduk mereka pun masih sama seperti kemarin, dengan David yang beralasan tidak punya teman mengobrol, dan Sinta yang masa bodoh aja, yang penting hadiah yang dijanjikan kakaknya akan segera ia dapatkan.
Sesampainya di sekolah David memarkirkan mobilnya di tempat parkir siswa, masih di tempat yang sama pula seperti kemarin. Bedanya tak nampak Adnan hari ini yang menatapnya dengan dingin.
Indah turun dari mobil dengan David yang membukakan pintunya, mendadak ia mengingat kejadian sewaktu Adnan mengacuhkannya.
“Huufftt…” Raut sendu kembali menghiasi wajah cantiknya.
Skip
“Indah ke kantin yuk!” Ajak Sinta saat seorang guru baru saja keluar dari kelas mereka.
“Kamu duluan aja, nanti aku nyusul, aku mau ke perpus dulu balikin buku ini.” Indah memperlihatkan buku kumpulan rumus matematika.
“Hm, ya udah deh. Kamu nyusul yah. Awas loh kalau enggak.”Sinta mengepalkan tangannya dan mendekatkannya pada wajah Indah.
“Iya-iya, ih, serem banget sih punya teman kayak kamu.”Indah mengerucutkan bibirnya.
Saat akan beranjak meninggalkan kelas,
“Sin, pesenin aku semangkok yah, nanti kan aku gak perlu nunggu lagi, tinggal makan aja.” Nyengir.
“Ck, repotin banget deh, yaaahhhh.”
“Terima kasih, hehe.”
__ADS_1
Indah membereskan buku dan pulpennya yang ada di atas meja, memasukkannya ke laci. Setelah itu, berjalan menuju perpustakaan, dengan sebuah buku di tangannya.
Indah berdiri tepat di depan perpustakaan, ada sedikit keraguan untuk masuk ke sana. Jangan sampai ia bertemu dengan Adnan, entahlah… tapi rasanya ia tidak ingin melihat kakak kelasnya itu dulu, ada rasa canggung dan malu setelah senyuman dan sapaannya kemarin tak ditanggapi lelaki itu.
“Kalaupun ada, kamu hanya perlu berpura-pura tidak melihatnya Indah, hanya mengembalikan buku ini saja dan langsung keluar dari perpustakaan ini. Huufftt…. Kamu bisa, yuk!” Indah menyemangati dirinya sendiri.
Indah masuk ke perpustakaan dan langsung menuju meja penjaga perpustakaan itu.
“Bu, aku ingin mengembalikan buku ini.” Katanya pada Bu Retno yang sedang sibuk dengan benda pipih di tangannya.
“Hmm… tunggu sebentar yah.” Jawabnya tanpa melihat ke arah Indah.
Indah mengangguk mengiyakan, ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, sampai kemudian tatapannya menangkap seseorang yang sedang berada di rak paling ujung perpustakaan tersebut.
Yah, Adnan berada di sana, berdiri dengan memegang sebuah buku. Tatapan Indah beralih pada seorang gadis cantik yang ada di samping Adnan, mereka tampak akrab mengobrol dan, lihat…. Gadis itu tertawa di susul dengan Adnan yang menyunggingkan senyum tipis pula.
Melihat pemandangan itu, Indah terluka. Yah, tentu. Seseorang pasti akan merasakan hal yang sama saat berada di posisinya. Apalagi dengan sikap Adnan kemarin, Indah berspekulasi, bahwa Adnan mengacuhkannya karena cowok itu ingin menjauh darinya, dan itu semua pasti ia lakukan agar tidak menyakiti hati perempuan yang bersamanya, mungkin.
Kadang perempuan memang suma menyimpulkan semuanya sendiri, tanpa mendengarkan penjelasan. Tapi bukankah perasaan perempuan sangat peka, sehingga kemungkinan itu biasanya hampir benar semua kan. Eh, yang cowok jangan marah yah, hehe
Indah mengalihkan pandangannya dan berbalik memunggungi Adnan dan perempuan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Bu Retno memberikannya buku daftar siswa yang meminjam buku.
“Siapa namamu?” Tanya Bu Retno.
“Indah Nur Aisyah Bu, kelas XI. B." Jawab Indah setengah berbisik.
Bu Retno mulai mencari nama Indah di daftar tersebut.
“Indah Nur Aisyah yah.” Ulang Bu Retno dengan suara yang cukup keras.
Mendengar nama itu, seseorang di ujung sana langsung berbalik, dan menemukan gadis pujaan hatinya sedang berdiri di depan meja Bu Retno, memunggunginya.
“I… iya Bu.”
‘Duh suara Bu Retno kenapa keras sekali, semoga aja kak Adnan gak denger. Bisa malu aku kalau ketahuan ada di sini.’ Batin Indah khawatir.
“Ini, kamu tandatangan di sini.”
__ADS_1
Indah dengan cepat menandatangani daftar tersebut, berjalan menuju rak dan menaruh buku itu kembali ke tempatnya, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Adnan, meski ia tahu sekarang mungkin ia sudah ketahuan.
Setelah menaruhnya, ia dengan cepat melangkah menuju pintu, namun dua kata dari Adnan sukses mengehentikan langkahnya sejenak.
"Indah, tunggu!" Panggil Adnan.
Indah reflek berbalik ke arah Adnan, dan menemukan cowok itu sedang berjalan ke arahnya. Indah membulatkan matanya, dengan langkah seribu, ia meninggalkan tempat itu. Bicara dengan Adnan? Oh tidak, ia belum siap dengan hal itu.
Indah berjalan dengan terburu-buru menuju kantin. Tak sedetik pun ia berbalik lagi ke belakang meski hanya sekedar mengecek apakah Adnan mengikutinya atau tidak.
‘Ayolah Indah, memangnya kak Adnan tidak punya kerjaan apa, sampai harus mengikuti kamu dari belakang. Lagipula, mana mungkin ia meninggalkan gadis yang bersamanya tadi.’
Sesampainya di kantin…
Indah langsung duduk di samping Sinta yang sedang menikmati makanannya dengan David yang juga duduk di tempat mereka.
“Indah akhirnya kamu datang juga, sekarang makanlah ini sebelum dingin.” David menyodorkan makanan pesanan Indah lebih dekat ke gadis itu.
“Terima kasih kak.” Ucap Indah pelan.
“Hei aku yang memesan makanan itu, tapi kamu malah berterima kasih pada kak David.” Sinta sewot.
“Ck, gitu aja pakai dibahas, dasar.” David menyentil dahi Sinta.
“Auugghh… sakit kak.” Sinta memegang dahinya.
Indah hanya tersenyum tipis melihat adik dan kakak itu bertengkar. ia mengaduk-aduk makanannya, selera makannya hilang sejak hatinya bersedih. Sinta yang menyadari hal itu pun lantas bertanya.
“Ada apa? Kenapa kamu jadi murung?” Sinta berbisik, jangan sampai David mendengar dan ia harus menyaksikan ke lebay an nya lagi kepada Indah.
“Tidak apa-apa, aku hanya tidak nafsu makan saja.” Jawab Indah datar.
“Apa kamu sakit?” Sinta menempelkan punggung tangannya pada dahi Indah.
Melihat hal itu David lantas bertanya.
“Ada apa? Apa kamu sakit Indah?” Tanyanya tampak khawatir.
“Eh, enggak kok kak, Indah…”
__ADS_1
“Indah!” Suara seseorang sukses membuat Indah membeku di tempat.