
SILAKAN TINGGALKAN JEJAK UNTUK TERUS MENDUKUNG NOVEL INI.
...***...
Setelah membujuk Indah cukup lama agar tidak perlu ikut ke perusahaan tersebut, akhirnya Adnan dan David telah sampai di sana.
“Nan, kamu yakin direktur perusahaan ini akan mau menemui kita? Dia kan direktur, pasti tidak sembarang orang bisa menemuinya kan.” Pikir David.
“Iya juga sih, tapi apa salahnya kalau kita coba dulu. Aku juga akan memakai nama papaku, aku yakin di pasti mau menemui kita.”
David mengangguk.
Di meja resepsionis…
“Selamat pagi mba, kami ingin menemui Pak Jayadi, direktur perusahaan ini.” Ucap Adnan to the point,
“Maaf dek, tapi Pak Jayadi sedang ada urusan di luar kota, beliau tidak ada di kantor.” Ucap wanita tersebut.
“Apa kami bisa meminta nomor ponselnya Mba?” David menimpali.
“Apa adik berdua ini sudah punya janji? Kami tidak bisa memberikan nomor Ponsel Pak Jayadi ke sembarang orang, jika ada pesan, kalian bisa memberitahu saya.”
Adnan terdiam berpikir sejenak.
“Kalau begitu bisa mba telepon aaiaten Pak Jayadi sekarang untuk menanyakan apakah kami bisa menghubunginya? Katakan saja saya adalah anak dari pemilik perusahaan JCI Industry.”
“Baik, kalau begitu, kalian silakan tunggu dulu di sana.” Menunjuk kursi tunggu.
Adnan dan David mengangguk, mereka berdua duduk di sana dengan penuh harap.
“Semoga saja bisa yah.” Ucap David.
“Yah, aku juga berharap begitu.”
Tak lama, resepsionis itu tampak sudah menghubungi seseorang lewat telepon.
“Baik Pak, terima kasih.” Ucap resepsionis tersebut.
Setelah menelpon, ia memanggil Adnan dan David kembali.
“Saya sudah menghubungi asisten Pak Jayadi, dia berpesan jika kalian ingin menghubungi Pak Jayadi kalian bisa menelponnya sore nanti, dan ini nomor telepon beliau.”
“Sore mba?” Adnan memastikan.
“Iya.”
“Baiklah, terima kasih banyak mba.”
“Sama-sama.”
Setelah mendapatkan nomor ponsel Jayadi, Adnan dan David pun keluar dari kantor tersebut.
Di parkiran…
“Aduh… kenapa mesti nunggu sore coba? Emangnya gak bisa kita menghubunginya sekarang, kan kasihan Indah harus nunggu lagi.” David mengomel.
“Mungkin dia sedang sibuk. Aku juga kasihan sama Indah, tapi setidaknya kita sudah mendapatkan nomor ponsel Pak… siapa tadi?”
“Jayadi.”
“Iya, Pak Jayadi.”
__ADS_1
“Ya sudah kita kembali.”
“Hmmm…”
Dengan mengendarai motor masing-masing, Adnan dan David pun kembali menuju rumah Indah.
…
“Kok kak Adnan sama kak David lama banget yah Sin.” Indah gusar menunggu dua cowok itu. Sedari tadi dia tidak ingin masuk ke rumah, dan memilih untuk menunggu di teras.
“Kamu sabar yah… kan mereka baru pergi 45 menit yang lalu ndah.” Jawab Sinta.
“Ya Allah, kenapa semua ini terjadi, di mana mamaku Sinta, aku takut sekali mama kenapa-kenapa.” Indah kembali sedih, air matanya sudah tergenang di pelupuk mata.
“Udah dong ndah, jangan sedih gitu, kita berdoa aja semoga kak Adnan dan kak David bisa mendapatkan informasi tentang tante di kantor.”
Indah mengangguk, menghapus jejak air matanya di pipi.
“Sudah kamu jangan menangis lagi.”
Indah mengangguk.
"Ya udah kita tunggunya di dalam aja yah..."
"Hhmm..." Kembali mengangguk.
…
Saat Farid mengatakan bahwa besok ia akan mengantarnya pulang, Dania begitu semangat melakukan pekerjaan rumah, ia tak henti-hentinya merapikan dan membersihkan rumah tua itu, meski nenek sudah berulang kali melarangnya terlalu banyak bergerak, namun rasa senang dan haru dalam hatinya membuatnya tak bisa tenang di tempat, senyum tak pernah pudar dari wajahnya.
“Sudah ndo, kamu dari tadi bersih-bersih terus. Kamu harus istirahat, ini biar nenek dan Farid yang mengerjakannya.” Nenek melarang saat Dania kembali ingin mencuci pakaian.
“Tapi…”
“Tidak apa-apa nek, nenek tidak perlu khawatir yah…”
Dengan ragu-ragu akhirnya nenek meninggalkan Dania, membiarkannya mencuci pakaian mereka.
Nenek duduk di ruang tamu, menyusul kakek dan beberapa saat kemudian Farid datang.
“Tante Dania mana nek?” Tanya Farid.
“Itu dia cu, setelah kamu mengatakan akan mengantarnya pulang ke rumahnya, dia sejak tadi tidak berhenti membereskan rumah ini, apa saja ia lakukan, menyapu, mengelap meja, mengatur barang-barang, sampai sekarang dia sedang mencucikan pakaian kita. Dia tampaknya begitu senang hingga senyumnya tak pernah hilang dari wajahnya.” Nenek bahagia sekaligus khawatir.
“Lalu kenapa nenek tampak khawatir begitu?” Tanya kakek merangkul bahu nenek yang duduk di sampingnya dengan mesra.
Pasangan sepuh itu masih tampak romantis di usia senja mereka.
“Dia kan belum sehat betul kek, nanti kalau dia sakit lagi bagaimana? Kan kasihan.”
“Nenek tidak perlu khawatir, cinta seorang ibu sangat besar bukan untuk anaknya, dan Dania hanya mengekspresikan salah satu dari rasa cintanya itu, walaupun dengan cara yang lain, dia pasti kuat.” Kakek menenangkan.
Nenek mengangguk.
“Nenek juga tenang saja, aku sudah meminjam mobil Rama, dan dia juga setuju, ku katakan padanya kalau aku ingin mengurus pendaftaran kuliahku di kota. Besok pagi-pagi sekali aku akan mengambilnya ke sana, dan membawanya ke sini untuk menjemput tante Dania.”
“Alhamdulillah kalau begitu, semoga besok semuanya berjalan dengan lancar yah… dan para penjahat itu tidak menemukan kalian.” Harap nenek.
“Iya nek, aamiin.”
Yah, Farid memang akan ke kota untuk mempersiapkan dirinya masuk ke universitas tahun ini, meski cukup terlambat, keinginannya untuk melanjutkan studinya itu tak pernah surut dari lubuk hatinya. Bertahun-tahun ia menabung untuk itu, dan sekarang tabungannya telah cukup untuk mendaftar di salah satu universitas di kota tersebut.
__ADS_1
“Ya sudah sekarang nenek sama kakek istirahat yah,” Farid berdiri dari tempatnya duduk mengajak nenek dan kakeknya itu masuk ke kamar.
Kedua pasangan sepuh itu pun mengikuti langkah Farid.
“Tapi Farid kakek kan mau ke kebun dulu.” Ucap Kakek saat telah sampai di kamar kecil mereka.
“Farid yang akan ke kebun, kakek istirahat saja, yah…”
Kakek mengangguk, tersenyum. Merasa sangat bangga karena memiliki Farid dalam keluarga mereka. Cucu satu-satunya yang di tinggalkan oleh anak perempuan satu-satunya dan menantu yang ia tidak tahu di mana keberadaannya saat ini.
...***...
Setelah sholat ashar Adnan dan David kembali ke rumah Indah.
Indah yang dengan tidak sabarnya itu menunggu David dan Adnan tepat di balik pintu, menengok beberapa kali ke jendela memastikan dua cowok itu sudah datang atau belum.
Dan yang dinanti-nanti pun tiba. Begitu Adnan akan mengetuk pintu. Indah dengan tidak sabar membukanya dan muncul tiba-tiba di sana.
“Kak Adnan, bagaimana? Ada…”
“Astagfirullah.”Adnan terkejut.
“Astaga naga, eh astagfirullah…” Panik David.
“Indah kamu buat kita kaget saja.” Adnan mengelus dadanya.
“Eh… maaf kak.” Tersenyum kaku merasa tak enak.
“Ck ck ck, anak ini memang yah… dari tadi aku sudah suruh dia buat duduk saja menunggu kalian, ini … tidak, dia terus saja mondar-mandir di depan pintu, sampai aku pun pusing melihatnya. Sinta yang masih duduk di sofa itu mengomel, melipat tangannya di depan dada.
Indah mengerucutkan bibirnya.
“Apa kamu tidak ingin mempersilakan mereka untuk masuk ndah? Bisa kering mereka kalau terus berdiri di luar.” Omel Sinta kembali.
“Iya, nenek lampir.” Ucap Indah berbisik.
Adnan dan David yang mendengarnya menyembunyikan tawanya.
“Indah aku bisa mendengar mu, kau ini yah…” seandainya saja situasinya berbeda, ia pasti sudah menggetok kepala Indah.
“Kuping besar.” Ucap Indah kembali berbisik.
“Aku juga denger.”
Indah mengalikan pandangannya ke Sinta, gadis itu tersenyum nyengir.
“Ck, tidak ada yang mau membeli gigimu.”
Mendengar itu, Indah cemberut.
“Kak Adnan kak David, ayo masuk, kalau kalian tunggu Indah bisa sampai malam kalian berdiri di situ.”
Adnan dan David masuk dan kembali duduk di sofa ruang tamu sederhana tersebut.
“Anak ini yah benar-benar, padahal tadi dia yang gak sabaran tunggu kakak berdua. Sekarang eh, malah dia yang buang-buang waktu.”
Indah masih cemberut.
“Iya,,, maaf.”
Adnan tersenyum melihat raut cemberut itu, jujur ia cukup rindu ingin melihatnya kembali, setelah beberapa hari ini Indah selalu saja sedih dan menangis.
__ADS_1