
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
Indah yang baru saja akan memasuki gerbang sekolah mendadak menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan aneh bin luar biasa ada di depan matanya saat ini.
"Eh, Sinta..." Ucap Indah pelan saat melihat Sinta turun dari taksi.
"Sin. " Panggilannya ter jeda saat melihat seorang cowok turun dari taksi yang sama dengan sahabatnya itu.
"A... Adit...?" Indah cengoh.
"Kenapa mereka bisa bareng yah?" Tanyanya pada diri sendiri.
Terlihat Sinta berjalan dengan terburu-buru. Raut wajahnya nampak begitu kesal, sementara Adit sedang berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Sinta. Ia tersenyum-senyum sendiri melihat wajah kesal gadis pujaannya itu.
Pemandangan ini membuat Indah bingung sekaligus penasaran, apa yang sebenarnya terjadi?
"Sinta, kalian..." Ucapan Indah kembali ter jeda karena Sinta melewatinya begitu saja.
"Hah! Apa dia gak lihat aku yah?" Tanya Indah mengarahkan jari telunjuk ke wajah.
"Ck, mereka aneh sekali sih." Indah mensedekapkan kedua tangannya di dada, ia tak melihat jika Sinta memutar langkahnya kembali ke arahnya yang masih seperti orang yang sedang berpikir keras di jalan.
"Astagfirullah." Indah tersentak kaget saat tangannya di tarik oleh Sinta.
Dengan raut cemberut Sinta menarik tangan Indah sampai ke kelas, dan Adit yang masih setia mengikuti gadis itu.
...***...
Saat pelajaran berlangsung...
"Huusstt... husstt.... Sin!" Indah menyenggol lengan Sinta.
"Ck." Sinta berdecak, pura-pura tidak peduli.
"Huusstt... husstt... Sintaaa!" Mencubit lengan Sinta.
"Aaww... Indah sakit tahu." Sinta memegang lengannya.
"Habisnya kamu gak balik-balik aku panggil." Berbisik.
Sinta memutar bola matanya.
"Iya lah aku gak balik, orang kamu bukannya manggil tapi malah ngusir aku." Berbisik.
"Hah? Kapan aku ngusir kamu?" Bingung.
"Ck, tadi kamu bilang apa? Husstt... husstt... husstt... itu kan namanya ngusir, kamu pikir aku kucing apa digituin." Cemberut.
"Hehe, salah yah...?" Memasang tampang polos.
"Ck."
__ADS_1
"Ya, terus harus gimana kalau mau panggil kamu? Aku kan mau tanyain sesuatu."
"Seharusnya kamu bilang..." Sinta menghentikan ucapannya.
"Isstt... Indah, gak usah dipikirin lagi bagaimana cara kamu panggil aku, orang akunya udah tau kalau kamu manggil. Ada-ada aja deh." Sinta tak habis pikir dengan kelakuan Indah.
"Hehe, iya yah, maaf deh. Aku jadi gak kepikiran." Terkekeh.
"Indah! Sinta! Perhatikan penjelasan ibu di depan." Tegur Bu Dinda yang sedari tadi memperhatikan Indah dan Sinta yang terus mengobrol.
"Maaf Bu." Jawab mereka bersamaan.
Bu Dinda kembali melanjutkan penjelasan materinya.
"Kamu sih ngajak aku ngobrol, Kita jadi kena marah Bu Dinda kan." Menyalahkan Indah.
"Hehe, maaf. Habis aku penasaran banget kenapa kamu dan Adit bisa bareng tadi." Indah cengengesan.
"Oh, jadi kamu mau tanya soal itu?" Tanpa sadar Sinta kembali memulai obrolannya.
"Iya, aku tadi mau tanya itu. Hhmmm.... jangan-jangan kalian berdua ada hubungan spesial yah?" Tanya Indah penuh curiga.
"Uhuk... uhuk..." Sinta tersedak ludahnya sendiri.
"Kamu kenapa? Ini minum dulu." Memberikan air minumnya kepada Sinta.
Bu Dinda menghembuskan nafas kasar, ia kesal melihat Indah dan Sinta yang begitu berisik di saat ia sedang mejelaskan materi pelajarannya.
'Kamu apa-apaan sih Ndah? Bisa-bisanya kamu kepikiran hal itu. Iihhh..... amit-amit deh kalau sampai aku punya hubungan spesial sama Adit." Sinta berbisik.
'Kamu akan melihat nanti Sinta, akan ku buat kamu jatuh cinta padaku. Karena perasaanku tulus untukmu dan aku pun yakin kamu akan segera membalas perasaanku ini. Tak apa jika sekarang kamu menolak ku aku tidak akan berhenti untuk berusaha mendapatkan mu. Batin Adit memberi semangat untuk dirinya.
"Kamu jangan Marah seperti itu dong, aku kan hanya menebak saja, siapa tahu benar." Tersenyum manis pada Sinta.
"Ck, kau ini yah, menyebalkan sekali." Sinta menyentil dahi Indah dengan jarinya.
"Aauu... Sin sakit." Meringis memegang dahinya.
"Biarin."
"Indah!!! Sinta!!!" Bu Dinda tiba-tiba berteriak.
Indah dan Sinta terkesiap, pandangan mereka perlahan mengarah pada sumber suara. Nampak Bu Dinda yang sudah siap meledakkan amarahnya.
'Astagfitullah, kenapa Bu Dinda terlihat semakin seram yah.' Batin Indah.
Guru dengan postur tubuh gemuk dan rambut pendek sebatas bahu itu, berjalan mendekat ke arah bangku Indah dan Sinta.
"Sekarang juga kalian berdua berdiri di depan kelas, angkat satu kaki dan pegang kedua telinga kalian." Perintah Bu Dinda marah-marah.
"Ta... tapi Bu." Sinta gugup.
"Ga ada tapi-tapian SEKARANG!"
"i... iya, iya Bu." Jawab Indah dan Sinta bersamaan.
Dengan langkah seribu mereka langsung berada di depan kelas.
__ADS_1
Sinta berdecak melihat wajah-wajah teman kelasnya yang menertawakan ia dan Indah.
"Tetap dalam posisi itu sampai ibu selesai mengajar."
"Yah Bu, kan masih satu jam-an lagi " Keluh Sinta.
"Iya Bu, kalau kaki saya patah karena terus berdiri dengan satu kaki seperti ini bagaimana?" Indah melas.
Bu Dinda terlihat semakin kesal mendengar keluhan Indah.
'Duh, nih anak bisa-bisanya yah sifat manjanya kambuh pas lagi genting gini, yang ada Bu Dinda malah makin marah, tuh kan mukanya Bu Dinda terlihat semakin seram, kamu menyebalkan sekali Indah.' Batin Sinta menyalahkan Indah.
Bu Dinda mengatur nafasnya agar bisa mengendalikan amarahnya yang sudah di ubun-ubun.
"Indah, Sinta." Panggilnya lembut, namun hal itu malah membuat kedua sahabat itu semakin merinding saja mendengarnya.
"Karena kalian mengeluh, jadi hadiahnya ibu tambah yah." Tersenyum palsu.
Indah dan Sinta mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
"Sekarang kalian berdua bukan dihukum berdiri di depan kelas, tapi di teras kelas, cepat lakukan!" Bu Dinda setengah berteriak.
Indah dan Sinta sontak terkaget-kaget mendengarnya, dengan cepat mereka berdua berlari dan berdiri di teras kelas, melakukan apa yang guru mereka itu perintahkan, mengangkat satu kaki dan memegang kedua telinga.
"Tetap seperti itu sampai saya selesai mengajar dan menyuruh kalian berhenti, mengerti!"
"Me...mengerti Bu." Jawab Indah dan Sinta bersamaan.
...
1 jam kemudian...
Suara bel menggema memenuhi lingkungan sekolah, menandakan waktu istirahat pertama.
"Duh, gimana nih Ndah, udah bel lagi. Kan malu diliatin siswa lain." Sinta melihat siswa-siswi yang sudah berhamburan keluar kelas.
"Sabar, sebentar lagi Bu Dinda kan juga keluar, jadi hukuman kita berakhir."
Beberapa siswa yang melewati kelas Indah dan Sinta tampak menertawakan kedua sahabat itu.
"Kenapa kamu, ada masalah?" Ucap Sinta sinis saat seorang siswa terus memandangnya sembari berbisik-bisik dengan temannya yang lain.
"Kamu juga, apa! Ngapain liatin kita!"
"Udah-udah, jangan marah-marah Sinta."
"Ck, Bu Dinda mana sih kok gak keluar-keluar?"
"Iya yah." Indah menghembuskan nafas kasar, ia lelah, sangat lelah berdiri dengan mengangkat satu kakinya seperti ini.
Jadilah mereka kembali diam, pasrah menunggu Bu Dinda keluar, namun sebelum guru itu dua cowok tampan sudah membuat mereka terkejut.
"Indah! Sinta" Panggil Adnan dan David bersamaan.
"Kak Adnan..." Indah menatap malu.
"Kak David." Sinta takut-takut.
__ADS_1