Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Berhasil Kabur


__ADS_3

Setelah melompat dari tembok itu, Dania terus berlari berlari dan berlari, 2 penjaga mengejarnya di belakang.


“Aku tidak boleh menyerah Sarah sudah berkorban untukku, aku tidak boleh menyerah Indah putriku menungguku di rumah.” Dania menyemangati dirinya sendiri, air mata tergenang di pipinya.


“Hei, jangan kabur kamu!”


“Berhenti!” Teriak dua penjaga tersebut.


Dania terus berlari menyusuri hutan itu, ilalang yang tumbuh panjang memudahkannya untuk bersembunyi dari penjaga yang mengejarnya.


“Hosh… hosh…” ia menarik nafas sejenak. Menunduk memegangi lututnya.


Ia tak sanggup lagi berlari, melihat sebuah pohon besar yang dikelilingi ilalang, Dania dengan cepat bersembunyi di balik pohon itu.


Beberapa saat kemudian, dua penjaga itu juga telah tiba di tempat Dania, hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya bersembunyi.


“Lari ke mana perempuan itu?” Ucap salah satu penjaga.


“Iya, tadi aku melihatnya berlari ke arah sini.” Ucap yang lainnya.


Dania yang bersembunyi gemetar, menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


“Kita harus segera mencarinya sebelum Tuan Tonson tahu kalau perempuan itu kabur, bisa habis kita nanti.”


Penjaga satunya menganggukkan kepala, merasa takut.


“Ya sudah kita cari di sana.”Menunjuk arah lain.


“Iya.”



“Lepaskan aku!” Teriak Sarah kepada penjaga yang menangkapnya dan kini memegangnya dengan erat.


“Diam kau! Dasar wanita sial*n.”


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipinya.


“Lihat saja apa yang akan dilakukan Tuan Tonson saat tahu kamu membantu temanmu itu untuk kabur, sini kau.” Menyeret Sarah dengan kasar.


“Tidak, aarrgghh… sakit.” Sarah berteriak menangis.


“Diam kau!”


“Hiks… hiks… ampun, aarrgghh…” Penjaga tersebut terus menjambak rambut Sarah.



Setelah dalam ketegangan sewaktu penjaga itu berada di sekitarnya, akhirnya Dania dapat bernafas lega.


“Alhamdulillah, ya Allah lindungilah aku, dan lindungilah Sarah.” Ucapnya lirih.

__ADS_1


Dengan langkah cepat ia berlari ke arah yang berlawanan dengan penjaga tersebut. Dania berlari tanpa arah, sampai kemudian…


“Arrgghh.” Kakinya tertusuk sesuatu, Dania meringis terjatuh.


Ia terduduk dan melihat sebuah paku tertancap di telapak kakinya, merasa ngeri namun tak punya pilihan, ia lalu menarik dan mencabut paku itu, di ikuti teriakan tertahan darinya.


Wanita itu menangis, menahan rasa sakit yang teramat sangat. Kakinya mulai mengeluarkan darah, Namun ia tidak bisa berhenti bisa saja penjaga itu menemukannya.


Dania terus terjatuh saat ia berusaha untuk berdiri, sampai kemudian saat ia berhasil menegakkan tubuhnya, tubuh itu kembali ambruk, ia pingsan di tengah hutan itu.



Plak plak


Tonson terus menampar Sarah yang kini kembali di kurung di kamar Jayadi.


“Wanita kurang*jar, berani sekali kamu membantu Dania kabur dari sini.” Tonson menjambak rambut Sarah.


“Arrgghh… lepaskan aku Tonson, mengapa kamu melakukan ini kepadaku dan Dania.?!”


Plak


“Kau sama sekali tidak pantas menanyakan hal itu padaku wanita jala*g.”


“Hiks…. Hiks…”


Sarah meringis, menangis menahan siksaan yang sedari tadi ia terima dari Tonson dan penjaganya, wajahnya memar.


“Apa kau sudah bosan hidup, hah!!” Bentak Tonson.


“Hahahhh…..” Tonson tertawa keras.


“Kau tau awalnya kami memang hanya ingin menculik Dania, tapi kesalahanmu adalah karena kau terlalu cantik dan sexy nona Sarah.” Ucap Tonson menatap Sarah, pria itu memegang pipi Sarah.


Sarah yang merasa jijik menghempaskan tangan Tonson.


“Singkirkan tanganmu yang kotor itu, pria breng*ek!”


Tonson yang marah kembali menampar Sarah dengan keras, Wanita itu tersungkur ke lantai.


Tonson menunduk mensejajarkan dirinya dan Sarah. Wajah Sarah penuh dengan lebam dan darah yang keluar di bibir dan hidungnya.


“Kalau sampai temanmu yang sial*n itu tidak di temukan, kamu yang akan menanggung akibatnya, huh!” sekali lagi Tonson mendorong tubuh Sarah hingga dahi wanita itu terbentur keras ke lantai.


Tonson dan anak buahnya pun keluar dari ruangan itu, mengunci semua pintu dan jendela. Sementara Sarah, tak bergerak ia terlalu sakit, tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi. Membiaran dinginnya lantai itu masuk menembus tulangnya.


...***...


Tok tok tok


Asslamu”alaikum


Ketukan pintu terdengar…

__ADS_1


“Kayaknya ada orang deh Ndah, aku lihat dulu yah…” Ucap Sinta yang sedari tadi masih menemani Indah. Ia sudah tahu yang datang itu hanya ada dua kemungkinan, kakaknya atau Adnan.


Indah menganggukkan kepala, menghapus air matanya.


Ceklek


Pintu terbuka, dan terlihatlah si wajah tampan yang kini tampak khawatir.


“Indah mana?” Tanyanya tak sabar.


“Masuk dulu gih kak, gak sabaran banget deh.” Sinta mengerucutkan bibirnya.


Gadis manis sahabatnya itu begitu banyak yang menyayanginya, sedikit iri sih sebenarnya. Tapi ah, sudahlah… Indah memang sangat imut untuk tidak di sukai.


Adnan lalu masuk setelah Sinta mempersilakan, cowok itu mengedarkan pandangannya mencari Indah.


“Indah mana?” Katanya.


“Indah di…” Belum sempat Sinta menjawab David juga datang dengan terburu-buru. Namun baru saja ia hendak bertanya di mana Indah, raut wajahnya sudah berubah melihat Adnan juga ada di sana.


“kamu ngapain di sini?” Tanya David sewot, cowok itu masuk ke rumah dan duduk di sofa.


“Memangnya kenapa? Tidak ada larangan kan aku bisa ke sini atau tidak.” Adnan membalas.


“Huh.” David mendengus, baru saja ia kembali ingin marah sama Adnan, tapi saat mengingat jika gadis itu menyukai sahabatnya dan bukan dirinya, David pun terdiam.


Melihat itu Adnan jadi bingung sendiri.


Sejujurnya ia pun ragu-ragu untuk datang, mengingat Indah dan David yang mungkin sudah memiliki ikatan saat ini, sejak ia melihat mereka di tepi pantai itu. Cowok itu mengira Indah telah menerima cinta David. Tapi rasa khawatirnya pada gadis manis pujaan hatinya itu mengalahkan semua rasa sakit hatinya.


“Indah mana?” Tanya Adnan sambil duduk di sofa seberang David.


“Ada di kamar kak, dia masih nangis.”


“Kamu udah telepon mamanya lagi?”


“Udah kak, udah dari pagi tadi Indah nelponin tante Dania, sampai sore ini ponselnya gak aktif-aktif juga. Aku juga selalu bantu hubungin, tapi tetap aja gak bisa.” Sinta menjelaskan.


Adnan dan David yang masih diam itu tampak berpikir.


Sinta lalu ke kamarnya untuk memanggil Indah keluar dari kamar.


“Indah kita keluar yuk! Ada kak Adnan dan kak David di luar.” Sinta mengajak.


Mendengar nama Adnan dan David, desiran aneh Indah rasakan. Perasaan senang, dan juga tak enak, bercampur aduk.


‘Kenapa mereka mesti datang bersamaan sih, kenapa juga datang, perasaan aku ga ngundang.’ Indah membatin.


Melihat Indah yang melamun, Sinta mengerutkan keningnya.


‘Ni anak, kenapa lagi? Apa dia merasa tak nyaman karena ada kak David? Sebenarnya apa sih yang terjadi sama dia dan kak David, aku sih tebaknya Indah nolak yah… tapi aku kan mau denger langsung ceritanya.’ Sinta pun juga berbicara dalam hati.


Beberapa detik kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, membuyarkan lamunan nya sendiri.

__ADS_1


“Ayo keluar, siapa tahu kan mereka bisa bantu soal tante Dania.”


Ketika mendengar hal itu, Indah langsung berdiri, menghapus jejak air matanya di pipi. Lupakan semua hal lain dulu, ia hanya ingin segera mendapat kabar dari ibunya.


__ADS_2