
"Aaaa.... hantu!!" Sinta berteriak sangat keras lalu menutup wajahnya dengan selimut.
Indah yang terkejut langsung terbangun dan duduk dengan mata yang masih memicing. Sementara Dania langsung berbalik dan berjalan cepat menuju ranjang.
Beberapa detik kemudian kesadaran Indah sudah terkumpul sepenuhnya.
"Sinta kenapa?" Tanya Dania pada Indah.
"Gak tahu ma." Indah mengedikkan bahunya.
"Sin! Sinta kamu kenapa?" Ucapnya menggoyangkan bahu Sinta.
"Ada hantu Ndah, di sana! Yang putih-putih itu! Sinta menunjuk tanpa membuka selimut itu dari wajahnya.
"Hantu?" Ucap Indah dan Dania bersamaan.
Pandangan mereka lalu bertemu, lalu Indah melihat dengan seksama penampilan mamanya yang masih memakai mukenah putih, begitu pun dengan Dania yang menundukkan pandangannya melihat penampilannya sendiri.
Sedetik kemudian wajah Indah berubah masam, sementara Dania tampak terkekeh.
"Sinta, ini Tante bukan hantu." Kata Dania
Sinta menurunkan selimut itu secara perlahan.
"Eh?" Menatap Dania dan Indah secara bergantian.
"Jadi tadi yang putih-putih itu, Tante yah?" Sinta bertanya ragu, ia merasa tidak enak sekarang.
"Iya nak, tadi Tante lagi beresin buku-buku kalian yang berserakan di lantai."
Sinta nyengir kuda.
"Maaf yah Tante, habisnya tadi Tante ngadap ke belakang, jadi aku gak lihat muka Tante.
Dania tersenyum, ia sama sekali tidak marah tapi merasa lucu dengan tingkah Sinta. Cewek tomboi dan galak yang sering di ceritakan Indah itu ternyata kocak.
"Iya tidak apa-apa, Tante ke sini mau bangunin kalian. Karena kalian sudah bangun, cepat bersiaplah sholat subuh, Tante akan buat sarapan dulu."
"Iya Tante, sekali lagi aku minta maaf yah."
Dania mengangguk mengiyakan, ia mengusap puncak kepala Indah sebelum keluar dari kamar putrinya itu.
Setelah Dania keluar dari kamar Indah, Indah langsung menatap Sinta dengan tajam. (Tapi gak sampai setajam silet kok, ntar jadi bahan gosip lagi).
Ditatap seperti itu membuat Sinta salah tingkah.
"Apa?" Tanyanya pura-pura tak tahu.
"Kamu mengatai mamaku hantu, aku tidak terima." Katanya kesal.
__ADS_1
"Ck, aku kan udah minta maaf, lagian tadi aku gak lihat wajah Tante Dania, jadilah aku berpikir seperti itu. Melihat kain putih itu bergerak-gerak, membuatku ngeri." Sinta menjelaskan.
Indah tak menggubris, ia menyilangkan tangannya di depan dada.
"Udah ah kamu jangan liatin aku kayak gitu, kamu jadi terlihat semakin jelek." Sinta mendorong wajah Indah agar gadis itu mengalihkan tatapan mautnya itu padanya.
"Sinta!!!" Teriak Indah.
Sinta langsung berlari ke arah kamar mandi, menghindari kemarahan Indah.
...
Saat ini Dania, Indah dan Sinta sedang menikmati nasi goreng buatan master chef si pemilik rumah.
"Masakan Tante memang lezat." Sinta yang makan dengan lahap, mengacungkan jempolnya pada Dania.
"Iya dong, siapa dulu anaknya." Ucap Indah bangga.
"Uhuk uhuk." Sinta terbatuk mendengar ucapan Indah itu.
"Indah berikan air itu pada Sinta nak."
Indah menuangkan air dan memberikannya pada Sinta.
"Minum dulu, kamu kenapa sih ceroboh sekali, makan nasi goreng saja bisa sampai tersedak begitu. Bagaimana kalau kamu makan ayam, kamu bisa tersedak tulangnya nanti." Indah menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sinta memicingkan matanya, sedetik kemudian ia kembali menyentil dahi Indah.
"Loh, kok aku."
Dania menggelengkan kepala melihat pertengkaran kecil Indah dan Sinta.
"Tante, kenapa anak ini menjadi semakin lemot setiap harinya? Aku rasa kepalanya sudah terbentur entah di mana. Lihatlah, aku memuji masakan Tante, dan dia malah mengatakan siapa dulu anaknya." Sinta mengikuti gaya bicara Indah.
"Gak nyambung banget, huh!"
Indah mengerucutkan bibirnya, sementara Sinta mendelik. Beberapa bulan ini mengenal Indah, dia baru tahu selain gadis itu begitu lugu, dia juga terkadang lemot, suka gak nyambung kalau diajak bicara, dan satu yang paling sering membuat Sinta emosi, yah sikap cengeng Indah. Tapi yah.... walaupun begitu ia tetap menyayangi Indah, gadis baik, lucu dan tulus dalam segala hal.
"Hhmm... Indah, ada yang mau mama bicarakan nak." Ucap Dania tampak serius.
"Ada apa ma?" Tanya Indah.
Sinta mendengarkan, toh dia kan juga tidak di suruh untuk pergi dari sana, jadi boleh-boleh saja kan.
"Begini, lusa mama ada perjalanan bisnis ke kota M, mama bingung harus bagaimana."
"Mama ingin menolaknya, tapi..."
Dania Bimbang.
__ADS_1
"Kenapa mama mau menolaknya? Kalau nanti berpengaruh sama kerjaan mama kedepannya gimana?"
'Duh nih anak, masa gitu aja gak ngerti sih. Tante Dania tuh khawatir sama kamu Indah Ramadhani.' Batin Sinta geram.
"Mama tidak mau meninggalkan kamu sendiri di sini Indah, mama khawatir."
"Hhmm... ia juga yah ma, tapi Indah berani kok. mama tenang aja, Indah bisa jaga diri." Indah meyakinkan meski sebenarnya ia ragu sekarang.
"Tetap saja, mama pasti akan kepikiran sama kamu kalau mama pergi nak."
"Mama percaya aja sama Indah, Indah gak akan ceroboh kok di rumah."
Dania tersenyum, anaknya ini begitu pengertian.
'Gak ceroboh apanya?' Batin Sinta mencebik.
"Tante titip Indah yah Sin, setiap sore mampirlah ke rumah untuk mengingatkannya menutup semua pintu dan jendela, juga mematikan kompor."
"Jangan percaya sama gadis ini Tante, dia itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri."
"Aku bisa menjaga diriku dan mengingat semua itu mama, aku bukan anak kecil lagi." Indah tidak terima dengan perkataan Sinta.
"Ck." Sinta berdecak.
"Kalau Tante mengizinkan biar Indah nginap di rumah aku aja dulu, biar lebih aman."
Indah menatap Sinta serius, Dania tampak berpikir.
"Apa tidak akan merepotkan kamu dan orang tuamu Sin? Tante jadi merasa tidak enak."
"Tidak sama sekali Tante, malah aku senang karena ada yang akan aku ajak berantem, hehe."
"Dan lagi, mama pasti setuju kok. Mama kan juga deket sama Indah, kalau papa... setiap hari papa sibuk di kantor, jadi dia tidak akan mempermasalahkan hal ini, papa pasti setuju-setuju aja." Jelas Sinta meyakinkan Dania. Ia juga sangat khawatir kalau Indah harus tinggal sendiri di rumah itu beberapa hari.
"Baiklah, Tante setuju, terima kasih yah nak."
"Iya Tante, sama-sama."
" Loh, kok aku gak ditanya setuju apa enggak?" Indah kesal dari tadi dikacangin.
"Kami gak minta persetujuan kamu Indah, tapi ini perintah langsung dari Tante dan aku, jadi kamu harus nurut, ngerti"
Lagi-lagi, Indah hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
"Iya, ngerti." Jawabnya ketus di tanggapi senyum kecil di bibir Bu Dania dan Sinta.
Setelah sarapan mereka pun berangkat. Indah dan Sinta berangkat ke sekolah dengan di antar Pak Budi, sementara Dania, melajukan sepeda motornya menuju Kantor.
"Sepulang sekolah, kita akan mampir ke rumah kamu buat ngambil barang-barang kamu, setelah itu kita langsung ke rumah aku oke." Ucap Sinta yang saat ini masih berada di perjalanan menuju sekolah.
__ADS_1
"Oke." Indah mengacungkan jempolnya.