
Di tempat lain…
Sejak kejadian tadi, saat ia melihat Indah dan David di pantai itu Adnan memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Wajah pria tampan itu tampak murung dan sedih, walau ia sudah berusaha untuk bersikap biasa saja, namun tetap saja ada bagian dari hatinya yang begitu sakit saat melihat seseorang yang ia cintai bersama dengan pria lain, satu yang pasti ia tahu kalau David akan mengungkapkan perasaannya pada Indah.
Yah, ia sangat mengenal sahabatnya itu, walau sekarang sikap David tampak berubah padanya namun mereka sudah bersama sejak SMP.
“Aku akan berusaha untuk mengikhlaskanmu Indah, kalau memang kamu memilih sahabatku… aku akan bahagia untuk kalian berdua. Aku… aku akan bahagia kalau kamu juga bahagia.” Ucapnya dengan tulus.
Namun apa yang dikatakan pria itu nyatanya begitu menyakiti perasaannya sendiri.
Meskipun pria selalu tampak tegar, namun mereka pun juga memiliki sisi lemah dalam dirinya, lihatlah rasa takut kehilangan kini membuat seorang Adnan menangis.
...***...
Dania, Sarah, Jayadi dan seorang asisten Jayadi kini telah berada dalam satu mobil. Mereka sedang dalam perjalanan menuju villa yang di maksudkan Pak Tonson yang diketahui oleh Dania dan Sarah sebagai clien mereka.
Jayadi duduk di samping kemudi, dekat dengan asistennya yang kini mengemudikan mobil. Sementara Dania dan Sarah duduk di kursi belakang. Demi menjaga kenyamanan dua wanita itu agar mereka tidak curiga dengan semuanya, Jayadi rela duduk di kursi depan. Padahal keinginan sebenarnya adalah ia sangat ingin duduk di dekat si cantik Sarah.
Sarah tampak santai memainkan ponselnya selama di perjalanan. Sedangkan Dania tampak gelisah. Perempuan itu terus meremas jemari tangannya, hatinya merasa tak tenang. Ia terus melihat keluar jendela mobil. Memperhatikan sekelilingnya.
“Sarah…” Dania menyentuh lengan Sarah.
Sarah berbalik ke Dania, menghentikan sejenak kegiatannya yang sedari tadi mengscroll Instagram, ia mengangkat kedua alisnya, seolah mengatakan ‘Ya, ada apa?’
“Ini kok lama banget yah sampainya? Kelihatannya lokasinya sangat terpencil. Aku jadi takut.” Dania berbisik di samping telinga temannya itu.
“Masa sih?” Sarah melihat sekelilingnya, jalan itu di penuhi oleh pepohonan yang rindang di samping kanan dan kiri mereka. Suasana pun tampak sangat sepi, hanya ada beberapa rumah warga yang mereka lewati. Yang masih menggunakan penerangan pelita di rumah mereka. Sepertinya mereka sudah masuk di sebuah pedesaan.
“Ia juga yah. Kita udah jalan sekitar sejam lebih ternyata.” Sarah tampak terkejut melihat jam yang melingkar di tangannya.
Dania memegang tangan Sarah dengan erat.
“Kamu jangan takut, beberapa villa kan memang lokasinya akan jauh dari perkotaan, mmm… aku akan Tanya pada Pak Jayadi yah.” Sarah berusaha menenangkan Dania.
__ADS_1
Dania menganggukkan kepalanya.
“Ehem… mmm… maaf Pak apa lokasi villanya masih jauh?” Sarah bertanya ragu-ragu, pada asisten pak Jayadi.
Asisten Jayadi menengok pada bosnya itu sebentar, sebelum menjawab.
“Tidak jauh lagi Nona Sarah, mungkin sekitar 15 menit perjalanan lagi.” Jawab Roy.
“Ada apa nona Sarah? Apa mobil ini tidak membuat nona Sarah dan Bu Dania merasa nyaman selama di perjalanan?” Tanya Jayadi melihat Sarah dengan intens dari kaca di depannya itu.
“Ah, tidak Pak, mobil ini sangat nyaman. Hanya saja kami tadi agak kaget karena ternyata lokasi villanya cukup jauh dari perkotaan.” Sarah menjelaskan, tak ingin bosnya itu salah paham, dia tentu tak ingin menjadi pengangguran jika sampai menyinggung bosnya itu.
“Bukankah Villa memang lebih banyak di bangun di daerah pedesaan yah… kalian berdua tidak perlu khawatir. Ini akan menjadi perjalanan dan tempat yang sangat mengesankan untuk kalian.” Jayadi tersenyum licik.
Sementara Sarah dan Dania tidak menjawab, Sarah hanya tersenyum sungkan dan Dania masih merasa tak nyaman dengan perasaannya dan kata-kata yang diucapkan Jayadi, seperti menyimpan makna tersembunyi, pikirnya.
...***...
Sinta yang sedari tadi sudah pulang ke rumah itu terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Gadis tomboi itu tampak gelisah, sesekali ia melihat ke bawah dari jendela kamarnya, gerbang rumahnya itu untuk memastikan kedatangan David dan Indah. Tapi sudah pukul 20.25 ini kakak dan sahabatnya itu belum juga datang.
“Duh… mereka kok lama banget sih? Apa kak David berhasil atau tidak yah?” Ucapnya sembari duduk di tempat tidur.
“Kalau berhasil sih, Alhamdulillah aja. Tapi kalau enggak gimana? Bisa-bisa Indah marah sama aku dan dia bakalan jauhin aku.”
“Duh… kak David menempatkan aku pada dilema yang besar kak.” Gadis itu terus berceloteh.
Namun baru saja ia akan kembali menelpon kakaknya, terdengar suara mobil yang masuk ke gerbang rumah. Dengan cepat Sinta menuju ke arah jendela kamarnya, melihat siapakah gerangan yang datang, ia harap itu adalah orang yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.
“Huufftt… akhirnya kak David pulang juga.” Ia menghela nafas lega, melihat mobil David yang sudah memasuki halaman.
Beberapa saat kemudian David tampak keluar dari mobil, dan dengan langkah cepat masuk ke rumah. Cowok itu tampak kusut dan berantakan.
“Loh…. Indah mana, kenapa kak David Cuma sendiri?” Sinta bertanya, gadis itu kembali khawatir. Mencoba menebak apakah yang sebenarnya telah terjadi, tak ingin terus berpikir yang tidak-tidak Ia pun berniat bertanya kepada kakaknya itu. Saat gadis itu membuka pintu kamarnya, terlihat David yang baru saja muncul dari tangga.
Tatapannya kosong…
__ADS_1
“Kak David, Indah mana?” Tanya Sinta.
David tak menjawab, ia melewati adiknya itu dan segera masuk ke kamar, menguncinya. Ia masih ingin sendiri.
"Kak David!" Teriak Sinta.
"Ih, di tanya kok malah diam sih, ini pasti ada yang gak beres." Sinta bertolak pinggang.
Sinta belum menyerah, ia pun mengetuk pintu kamar David, berharap cowok itu membukanya dan memberi penjelasan.
"Kak David, buka pintunya dong, kakak kenapa?" Teriaknya.
"Terus Indah mana kak? kenapa kak David sendiri? Indah baik-baik aja kan?!"
"Kak David!"
Lelah mengetuk pintu dan berbicara sendiri, Sinta memutuskan untuk kembali masuk ke kamarnya. Sepertinya kakaknya itu memang perlu waktu untuk sendiri.
"Indah mana yah...? Bagaimana caranya aku bertanya pada kakak? Mukanya aja kusut begitu, kalau aku kembali mengetuk pintunya bisa-bisa aku kena semprot lagi."
Melihat David yang tampak tak karuan Sinta sudah bisa menebak apa yang terjadi, kalau David saja tampak seperti ini, bagaimana dengan Indah? Apalagi ia tahu dari awal kalau Indah memang bukan menyukai kakaknya melainkan Adnan.
"Indah pasti marah banget sama aku, apa dia kembali pulang ke rumahnya...." Sinta tampak merasa bersalah.
"Aku harus pastiin dia ada di sana, aku gak tenang kalau gini terus."
Demi bisa menghilangkan rasa khawatirnya, gadis itu pun mengambil jaket dan ponselnya, dengan langkah setengah berlari menuruni tangga, ia harus secepatnya ke rumah Indah untuk memastikan gadis itu ada di sana, dan baik-baik saja.
**hai guys aku mau bagi-bagi in hadiah kecil nih, untuk kalian pembaca setia "Adnan dan Indah".
jadi nanti aku ambilnya tuh pembaca teraktif setiap pekan yah.... Dan pemenangnya Insya Allah akan aku kirimin pulsa 10, oke!
Jadi stay tune yah, kita akan mulai besok. Insya Allah
😊❤️**
__ADS_1