Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Obrolan Biasa


__ADS_3

“Indah.” Suara itu sukses membuat Indah membeku di tempat.


Sinta menatap tak peduli kedatangan kak Adnan sementara David, yah…. Apalagi, tentu dia tidak suka saingannya ada di sana.


“Aku boleh duduk di sini?” Tanya Adnan, pandangannya masih mengarah pada gadis yang tengah menundukkan kepalanya itu.


“Gak boleh.” Ucap David cepat.


“Aku gak nanya sama kamu.” Jawab Adnan datar.


‘Hadeehh… mulai lagi deh, drama memperebutkan hati si gadis lugu.’


Ragu-ragu Indah menjawab.


“Bo… leh kak.” Katanya tanpa menatap cowok itu.


Adnan duduk di samping David. Jadilah sekarang mereka berhadap-hadapan. Setelah Adnan duduk, barulah Indah sadar jika Adnan membawa semangkuk makanan dengan menu yang sama dengannya.


‘Ya Allah, situasi seperti apa ini? Kenapa kak Adnan harus ke sini, rasanya aku ingin lari saja dari tempat ini sekarang.’ Indah mengeluh.


Untuk beberapa saat tak ada perbincangan di antara mereka.


“Apa itu adalah makanan kesukaanmu Indah?” Tanya Adnan membuka percakapan.


Indah menatap cowok itu sebentar, lalu tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Ia tak seperti biasanya saat bertemu dengan Adnan, raut wajah bahagia dengan senyum sumringah itu tak terlihat, hanya ada rasa canggung.


“Indah memang sangat suka makan bakso kak. Kalau jalan sama dia, pasti nyarinya yah makanan itu.” Sinta yang menjawab.


“Aku juga sangat suka kok. Selera kita ternyata sama yah Indah.” David menimpali.


Sinta memutar bola matanya jengah.


“Siapa yang nanya kamu?” Adnan melirik sinis.


“Siapa juga yang bicara sama kamu.” David melakukan hal yang sama.


Jadilah mereka saling menatap dengan aliran listrik yang tak kasat mata mengarah pada mata masing-masing.


“Indah kamu udah selesai belum.” Sinta berbisik.


“Iya, sudah.” Indah mengangguk.


“Ya udah, ayo ikut aku!” Sinta menarik tangan Indah, mereka beranjak dari sana dengan pelan, agar tidak menimbulkan suara.


“Kamu ngapain sih ke sini, bukannya lagi di perpustakaan?” David bertanya sewot.


“Memangnya kenapa kalau aku ke sini? Ada larangan yah, enggak kan?!”

__ADS_1


“Kamu bisa kan duduk di tempat lain, kenapa harus di sini. Melihatmu merusak selera makan ku saja.”


“Ya sudah jangan melihatku, lagipula hanya kamu yang keberatan Indah sama sekali tidak merasa seperti itu.” Adnan masih membalas.


“Kamu salah, Indah juga tidak mau kamu ada di sini, setelah kamu bersikap seperti kemarin padanya, apa kamu pikir dia tidak marah. Iya kan Indah?” David berbalik ke arah tempat Indah duduk, begitu pun dengan Adnan.


Tapi, gadis itu sudah tak ada di sana.


“Ck, Sinta pasti sudah membawanya pergi.” David menyandarkan punggungnya ke bangku seolah kehilangan semangatnya.


“Sejak kapan mereka pergi? Kenapa aku tidak memperhatikan.” Gumam Adnan.


“Iyalah kita gak lihat, kamu kan sibuk mengajakku bertengkar.” Sewot David mensedekapkan kedua tangannya di dada.


“Hei, bukannya kamu yah yang ajak aku bertengkar duluan.”


“Iya, tapi kan kamu yang…”


“Sudahlah, bicara denganmu tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah tambah pusing.” Adnan pun berlalu dari meja tersebut, menuju meja lain dan mulai memakan makanannya.


“Huu… giliran gak ada Indah aja, dia dengan suka rela pergi dari meja ini, dasar.” David menggerutu, ia pun meninggalkan kantin dan kembali ke kelas.



“Sin apa kak Adnan dan kak David tidak akan marah kita pergi dari sana tanpa memberitahu mereka?” Tanya Indah saat mereka sudah sampai di kelas. Indah duduk di bangkunya, memangku dagu dengan satu tangannya.


“Memangnya siapa mereka sampai kita harus meminta izin dulu.” Sinta sibuk mencoret-coret mejanya.


“Ck, kamu ini udahlah, gak usah di pikirin. Lagian yah, kamu mau apa denger mereka bertengkar terus. Aku sih ogah, lebih baik kita pergi kan.”


“Hhmm… iya sih.”


Sebenarnya bukan karena itu saja, Indah juga merasa lega karena tak harus berlama-lama berada di meja yang sama dengan Adnan.



“Assalamu’alaikum Ma.” Indah memberi salam dengan girang. sehari tak bertemu dengan ibunya membuatnya merasa sangat rindu.


“Wa’alaikumsalam warahmatullah, kamu lagi apa nak?” Tanya Dania di seberang telepon.


Waktu menunjukkan pukul 13.15 saat ia menelpon putrinya itu.


“Gak ada ma, Indah lagi santai aja. Tiduran di tempat tidur, Indah gak ada kerjaan di sini, membosankan sekali.” Ucap Indah tanpa melihat sudah ada tatapan mata yang melihat sinis ke arahnya.


“Hahahh…. Memangnya kamu mengharapkan apa sayang?”


“Aku pikir selama menginap di sini, aku bisa membantu Sinta memasak, atau membereskan rumahnya, atau mungkin melakukan hal lain. Tapi Sinta tidak mengijinkan ma, di sini semuanya asisten rumah tangga yang urus, Sinta menjadi anak yang pemalas di rumahnya, jadi aku pun ikut-ikutan deh kayak dia.”

__ADS_1


Pletak


“Bisa-bisanya yah kamu jelek-jelekin aku di depan aku sendiri, menyebalkan sekali. Apa kamu mau aku hukum mencuci dan mengepel seluruh rumah ini?” Ancam Sinta, ia yang sedari tadi bermain ponsel tak tahan untuk tidak menggetok kepala Indah.


“Lihatlah ma, dia melakukan KDRT pada anakmu ini, huuuuu….” Indah dramatis.


Dania tersenyum di ujung sana, merasa lega putrinya baik-baik saja.


“KDRT-KDRT, sembarangan aja kalau ngomong.” Sinta merebut ponsel Indah, mendekatkannya di telinga.


“Halo tante, ini Sinta.”


“Iya nak, terima kasih yah sudah menjaga Indah, Insya Allah Tante akan balik besok pagi.”


“Iya tante, nanti aku sampaikan ke Indah, dia lagi dalam mode dramatisnya.”


“Hehe, iya.” Dania terkekeh.


“Ya sudah kalau begitu, tante tutup dulu yah.”


“Iya tan, tante baik-baik yah di sana.”


“Iya, asslamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.” Jawab Sinta.


“Yah, kok udah selesai? Aku kan belum bicara banyak sama mama.” Indah tampak sedih.


“Isstt.. lebay banget deh.” Sinta mengusap wajah Indah dengan kasar.


Indah mendengus.


“Tante bilang akan pulang besok pagi, jadi gak usah lebay gitu.” Jawab Sinta langsung berbaring di tempat tidur kembali sibuk dengan ponselnya.


Indah tersenyum senang, akhirnya… meski rumah Sinta mewah, jauh dari keadaan rumahnya yang sederhana. Namun, bersama dengan ibunya Indah bisa merasakan kebahagiaan.


Gadis itu pun juga ikut berbaring di samping Sinta, mencoba mendekatinya, siapa tahu ia bisa mencari bahan lain untuk mengganggunya. Namun baru saja ia akan menjalankan rencana yang sudah ada di kepala, ponsel Sinta berdering.


“Halo kak, ada apa?”


“Kamu lagi ngapain?” Tanya David.


“Ck, aku atau Indah?” Sinta sudah tahu maksud kakaknya bertanya seperti itu.


“Hehe… kamu tahu aja dek.”


Sinta rasanya ingin memukul wajah kakaknya itu sekarang. Kurang kerjaan sekali ia menelponnya hanya untuk menanyakan hal itu, sementara sekarang mereka hanya dipisahkan oleh tembok sebagai penghalang.

__ADS_1


“Indah gak lagi ngapa-ngapain, dia Cuma lagi cari cara untuk mengerjai aku.” Ucap Sinta menatap Sinis pada Indah yang kini nyengir kuda di dekatnya.


‘Kok Sinta bisa tahu yah apa yang aku pikirkan tadi?” Indah bertanya dalam hati, berpikir keras hingga melamun sendiri.


__ADS_2