
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
Saat ia telah menepikan sepeda motornya, Indah yang baru saja akan turun mendadak mengurungkan niatnya itu.
"Tetap duduk Indah." Perintah Adnan datar.
Indah yang mendengar nada dingin dari pria itu hanya bisa menurut dan enggan untuk membatah kalau Adnan sudah memasang wajah serius seperti ini.
Adnan melepas helmnya, lalu berdiri di depan Indah namun masih memberikan jarak yang cukup untuk mereka berdua. Pria tampan itu lalu mensedekapkan kedua tangannya di dada.
Indah hanya mampu menundukkan kepala. Terlalu canggung untuk menatap mata Adnan, bingung... apa dia sudah melakukan kesalahan? Pikirnya.
"Sekarang aku tanya, kenapa memintaku untuk berhenti?" Tanya Adnan dengan suara yang lembut.
Sementara yang ditanya hanya mengerucutkan bibirnya dengan tatapan yang masih menunduk. Namun,
deg
deg
deg
Sebenarnya Indah sedang berperang dengan perasaannya sendiri. Jantungnya sedari tadi tak bisa diajak berkompromi, dan terus berdetak dengan kencang, hingga gadis cantik itu yakin jika Adnan berada lebih dekat lagi dengannya, Adnan pasti bisa mendengar suara degup jantungnya yang sedang bermain genderang itu.
"I... itu kak, kan... kan... kak Adnan yang menyuruhku tadi." Ucapnya terbata-bata.
'Duh kenapa kak Adnan jadi terlihat tampan berkali-kali lipat begini yah kalau dia lagi di mode serius.' Batin Indah saat tak sengaja pandangan mereka bertemu.
"Aku tidak pernah mengatakan itu Indah, kamu salah mendengarnya tadi."
Indah yang tampak malu menjadi salah tingkah, dengan wajah yang sudah semerah tomat.
'Hhmm.... gadis ini, kenapa jadi semakin menggemaskan, seandainya saja sudah boleh dibawa pulang.' Batin Adnan lalu menertawakan dirinya sendiri.
"Tapi tadi..."
"Tadi aku bilang kalau nanti kamu sedang sendiri karena Sinta tidak ada untuk menemanimu pulang bersama, kamu tunggulah aku. Aku akan mengantarmu pulang, Hhmmm...."
Indah yang mendengar penjelasan dari Adnan hanya ber oh ria.
__ADS_1
"Oohhh." Ucap Indah seraya mengangkat kepalanya.
Kedua netra itu kembali bertemu.
1 detik
2 detik
Adnan segera mengalihkan pandangannya,terlihat salah tingkah saat melihat dalam manik Indah gadis di depannya itu.
"Y... ya sudah, sebaiknya kita lanjutkan perjalanannya." Ucapnya buru-buru memakai helmnya kembali.
Indah hanya mengangguk patuh, sebenarnya ia ingin meminta maaf karena sudah salah paham pada Adnan, namun ia mengurungkan niatnya itu. Terlalu gugup dan malu untuk kembali menatap kakak kelasnya itu.
...
Mengingat kejadia itu Indah kembali memukul pelan kepalanya sendiri. Ia sangat malu akan kebodohannya yang tiba-tiba mendadak tuli tadi. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena bisa pulang bersama dengan Adnan. Indah terus saja menggulingkan tubuhnya ke sana kemari sembari menahan tawa bahagia dari mulutnya, hingga hanya terdengar cekikikan yang menggelikan hati bagia siapapun yang mendengarnya.
Sampai kemudian, kegiatan absurdnya itu harus berhenti saat Bu Dania mengetuk pintu kamarnya.
"Kamu sedang apa nak? Sibuk tidak?" Tanya Bu Dania yang masih berdiri di ambang pintu begitu Indah membuka pintu kamarnya.
"Gak ada kok ma."
"Ya udah, kalau begitu bantuin mama yuk, kita siapin makan malam."
Sementara Bu Dania menatap anaknya heran, namun ia merasa senang melihat Indah yang terus tersenyum malam Ini.
'Kelihatannya dia sedang sangat bahagia.' Batin Bu Dania, tersenyum.
...***...
Tok tok tok
"Siapa?." Tanya Sinta yang sedang asyik bermain ponsel di kamarnya.
"Ini kakak."
Sinta mengerutkan keningnya, lalu melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Kak David, ada apa?" Tanyanya sembari mensedekapkan kedua tangannya di dada.
"Suruh masuk dulu kek kakaknya."
"Iya... iya, silakan masuk kakakku yang baik hati." Ucap Sinta sambil membungkuk hormat ala-ala sedang menyambut tamu kehormatan.
__ADS_1
"Ada-ada saja kamu." David mengacak-acak puncak kepala Sinta gemas.
"Ckckck." David berdecak.
"Ini kamar yah? Kirain kapal pecah yang baru aja kena bom, berantakan sekali."
Sinta mengerucutkan bibirnya, pasalnya setiap kakak tunggalnya itu masuk ke kamarnya. Kata-kata itulah yang akan ia dengar pertama kali dari mulut sang kakak.
"Terserah kak David mau bilang apa, kuping aku udah bebal dengan ejekan itu, week." Sinta menjulurkan lidahnya.
"Hehe." David terkekeh, adiknya yang ajaib ini memang bukan tipe perempuan yang rapi, tapi setidaknya kan jangan se berantakan ini. Ya ampun, untung saja hanya Indah yang pernah melihat kondisi kamarnya. Awalnya gadis itu tampak syok, namun beberapa saat kemudian, ia membersihkan kamar Sinta, Indah sangat mencintai yang namanya kebersihan dan kerapian. Jadi melihat hal yang berantakan sedikit saja, hatinya merasa gelisah, tangannya seakan gatal ingin membereskan barang tersebut.
'Aneh sekali mereka yang memiliki kepribadian yang berbanding terbalik, bisa berteman seakrab itu, hehe.' Batin David mengingat gadis manis itu.
Ayah David dan Sinta yang bekerja di perusahaan milik keluarga Ayu itu belakangan ini akhirnya naik jabatan, berkat kinerjanya yang baik dalam bekerja di perusahaan tersebut. Kehidupan mereka pun mulai menjadi lebih baik lagi, dengan membeli beberapa mobil dan barang-barang mewah lainnya.
Sekalipun memiliki kendaraan dan supir yang siap mengantarnya kemanapun ia mau, Sinta tetap saja kekeh untuk pergi sendiri ke sekolah. Entah itu naik angkutan umum, atau kalau sudah akan terlambat, ia akan menumpang dengan David, dan pulangnya, Sinta akan memilih jalan bersama Indah, sahabat yang sangat ia sayangi.
"Duduk sini, kakak mau bicara!" Tunjuk David pada sebuah sofa mini di depannya.
Sinta berjalan dengan malas-malasan lalu duduk di tempat yang David perintahkan. Sesekali ia memainkan ponsel ditangannya. Namun, kendatipun begitu, pikirannya sedang berkelana, untuk apa David ke kamarnya? Apa mau membicarakan masalah tadi pagi di sekolah?
Kamar Sinta cukup luas dengan cat tembok hitam di kedua sisi tembok kanan dan kiri, sedang di sisi lain, berwarna putih dan biru yang dipadukan menjadi satu, menciptakan gambar seperti langit dan awan,sangat indah di pandang mata. Terdapat satu tempat tidur berukuran sedang di bagian tengah, 1 lemari besar dan sebuah meja belajar di sampingnya. Di sisi kanan tempat tidur terdapat meja dengan banyaknya barang yang berhamburan diatasnya selain lampu hias. 2 sofa mini dan meja di tengahnya, juga AC (air conditioner) yang selalu menyala, dan sebuah meja rias cantik berwarna putih bersih. Walau Sinta pun bingung, kenapa ibunya harus membelikan meja rias seperti itu, sementara dia saja tak pernah ingin berdandan.
Di atas meja itu hanya ada bedak ala kadarnya, satu bedak putih, yang bertuliskan my baby (bukan promosi yah😁), parfum, deodoran dan pelembab bibir yang baru dibelikan oleh ibunya pekan lalu.
Kendatipun kamar itu sangat Indah, namun lihat saja keindahan itu tersamarkan oleh banyaknya baju-baju yang berserakan dilantai dan meja juga sofa. Buku-buku yang berhamburan di tempat tidur, dan beberapa bungkus cemilan juga ada di sana.
"Kakak ngapain sih ke sini? Aku kan mau tidur." Tanyanya ketus.
"Ada yang mau kakak omongin." Jawabnya serius.
"Besok aja yah, aku ngantuk kak."
"Yah yah yah." Bujuknya.
"Sinta........!"
Sinta mengerucutkan bibirnya mendengar nada bicara kakaknya. Akhirnya ia diam dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Ya udah, iya."
"Hhhmmm.... kakak mau tanya soal sakit kepala kamu pas di sekolah tadi."
Deg
__ADS_1
'Waduh, gawat.' Batin Sinta gelisah.