
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai ke tempat tujuan. David turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Indah.
Indah tampak senang melihat pemandangan di hadapannya, sebuah pantai yang sangat Indah.
“Wah, Indah sekali… aku belum pernah ke sini kak.” Ucap Indah
David tersenyum melihat wajah gadis itu.
“Ayo.” Ia mengajak Indah untuk ke tepi pantai.
“Kita mau apa ke sini kak?” Tanya Indah.
David memandang gadis yang berdiri di sampingnya itu dengan seksama. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Indah.
Indah yang melihat tingkah David pun sedikit bingung.
“Indah, ada yang ingin aku katakan padamu.” Ucap David tampak serius.
Indah mengerutkan keningnya.
“Ada apa kak?”
“Kamu ingat waktu kita pertama kali bertemu?” Tanya David.
Indah menganggukkan kepala.
Pasalnya pertemuan pertamanya dengan David kurang baik.
Flashback
Indah yang sedang berada di rumah tepatnya di kamar Sinta di kejutkan dengan seorang cowok yang masuk ke kamar tersebut tanpa mengetuk pintu. Ia yang sedang sendiri di kamar dan sedang asyik bermain ponsel sambil merebahkan dirinya di tempat tidur itu sangat terkejut.
“Siapa kamu? Kenapa masuk ke kamar ini?”
Baru saja cowok itu akan menjawab pertanyaan Indah, Indah kembali memotong perkataannya.
“Kamu pencuri yah?!” Teriak Indah.
“Bu… bukan.”Cowok yang tidak lain adalah David itu ikut panik.
“Enggak, kamu pasti pencuri mana ada pencuri mau ngaku. Pergi kamu!” Indah melempar barang apa saja yang ada di dekatnya ke arah David.
“Hei, apa yang kamu lakukan.” David menghindari buku yang di lempar Indah ke arahnya.
“Hei, aku bukan pencuri.” Teriaknya lagi.
“Tolong ada pencuri!” Teriak Indah.
Indah melemparkan buku-bukunya, bantal, dan tas tapi David selalu berhasil menghindarinya. Sampai kemudian Indah melemparkan sebuah vas bunga mini ke arah David, cowok itu pun terlambat untuk menghindar dan vas itu mengenai dahinya.
“Arrgghh…” David meringis memegang dahinya yang terluka.
__ADS_1
Indah panik, meski ia memang bermaksud untuk mengusir cowok itu, tapi ia juga takut melihatnya kini terluka. Di tengah kepanikannya Sinta datang dengan sebuah nampan berisi 2 jus jeruk. Ia yang melihat dahi David berdarah lantas terkejut dan meletakkan nampan itu di meja.
“Kak David, kak David kenapa?” Sinta membantu kakaknya untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya. Sementara Indah masih mematung di tempatnya.
Sinta melihat kamarnya yang sudah sangat berantakan. Bantal dan buku berserakan di mana-mana, juga sebuah vas yang sudah pecah.
“Ini… ada apa?” Tanya Sinta.
“Ada pencuri.” Jawab Indah cepat.
“Pencuri?” Sinta bingung.
“Dia, dia pencurinya.” Tunjuk Indah pada David.
“Dia tiba-tiba saja masuk ke sini tadi, aku kaget dan melemparnya dengan vas bunga.” Ucap Indah dengan nada sedikit bersalah saat melihat David kesakitan.
Sinta membulatkan matanya.
“Indah!!!” Teriak Sinta.
“Kamu kenapa teriak Sin?” Indah menutup telinganya.
“Kamu benar-benar membuatku marah, dia itu bukan pencuri tapi kakakku, kakak kandungku.” Ucap Sinta kesal.
Spontan Indah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia lebih terkejut lagi sekarang.
“Dia… kakak kamu yah Sin……… hehe” Indah nyengir kuda.
Sinta mendengus.
Indah menganggukkan kepala merasa bersalah.
Perlahan ia mendekat ke arah David, dan duduk di sofa yang ada di depan cowok itu.
“Apa masih sakit kak?” Tanya Indah hati-hati.
“Tentu saja sakit, kamu baru saja melemparkan ku sebuah vas bunga.” Jawabnya ketus.
Mendengar itu, Indah memanyunkan bibirnya.
“Maaf, aku kan tidak sengaja. Lagi pula aku tidak tahu kalau Sinta punya seorang kakak, dia tidak pernah menceritakannya padaku.”
“Itu bukan alasan yang baik untuk melakukan kekerasan pada seseorang kan?!” lagi-lagi David menjawabnya ketus.
“Itu kan salah kakak sendiri, kenapa tidak bilang kalau kakak, kakaknya Sinta, tadi kan aku panik sekali, mana mungkin aku berpikir.” Indah membela dirinya.
“Mau menjelaskan bagaimana kalau kamu sendiri terus berbicara dan tidak mau mendengarkan penjelasan ku.”
Indah menggaruk pipinya yang tidak gatal. Yah, cowok di depannya itu memang benar, ia yang salah karena tidak mau mendengarkannya tadi.
“Iya-iya, aku akui aku salah, karena itu aku minta maaf yah kak.” Ucap Indah mengalah.
“Memang harus kan.”
__ADS_1
Indah tampak kesal mendengar jawaban David yang terus ketus padanya.
Beberapa saat kemudian Sinta datang dengan sebuah kotak obat di tangannya. Ia memandang Indah yang terlihat tengah menyilangkan kedua tangannya di dada, tampak kesal.
“Kamu kenapa kesal begitu?” Tanya Sinta.
“Tidak apa-apa.” Jawab Indah ogah-ogahan.
“Ck, Ini ambil.” Sinta memberikan kotak obat itu pada Indah.
“Lah, kok di kasi ke aku? Kan kak… siapa tadi?” Tanyanya.
“David.” Jawab Sinta.
“Yah, kan kak David yang terluka.” Indah bingung.
Bugh
Sinta memukul lengan sahabatnya itu.
“Ih, kok aku dipukul sih Sin, sakit tahu.” Ketus Indah.
“Itu hukuman buat kamu karena sudah buat kakak aku sampai terluka seperti ini, sekarang kamu obatin dia untuk menebus kesalahanmu itu.” Sinta menjelaskan.
“Aku kan gak sengaja, jahat banget sih.”
“Sudah-sudah, Sin, tidak perlu menyuruhnya kakak juga bisa sendiri.” Ucap David yang memegang pangkal hidungnya karena pusing mendengar ocehan Indah dan Sinta.
“Gak apa-apa kak, dia yang harus obatin kakak, aku gak mau tahu.” Sinta berkacak pinggang.
“Ck, iya-iya aku yang obatin.” Indah akhirnya mengalah.
...***...
“Waktu kamu mengobati dahiku, aku tak sengaja melihat matamu. Saat itu aku merasakan desiran aneh di dalam hatiku Indah.”
Indah terkejut mendengar David mengatakan hal itu.
“Entahlah, tapi aku merasa telah jatuh hati padamu, gadis cerewet yang menggemaskan. Aku sudah lama ingin mengatakan perasaanku ini, tapi aku takut kamu akan menjauh dariku. Tapi hari ini aku memberanikan diri untuk mengatakannya.” David mengambil sebuah benda di saku jaket yang ia kenakan.
Indah masih terdiam, hanya menyaksikan gerak-gerik cowok itu.
David mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna biru, pandangan Indah beralih pada kotak kecil itu.
David membuka kotak itu, dan tampaklah sebuah cincin emas dengan sebuah permata berbentuk hati di tengahnya. Lalu ia pun terduduk, menjadikan satu lututnya sebagai tumpuan.
“Indah, aku mencintaimu, maukah kamu menjadi seseorang yang akan terus berada di sisiku.” Ucap David serius.
Indah terpaku di tempatnya, ia masih bingung dengan keadaan ini, ia tak ingin semua ini terjadi.
Tak jauh dari sana, seseorang menatap Indah dan David di tepi pantai itu, ia melihat bagaimana David melakukan hal yang romantis itu kepada Indah.
Yah, Adnan. Cowok itu ada di sana, menyaksikan semuanya. Tadinya ia akan pulang, tapi karena tak sengaja melihat mobil David yang tidak berjalan masuk ke komplek, ia pun memutuskan untuk mengikuti mobil itu. Dan apa yang ia saksikan sekarang, membuatnya menyesali tindakannya barusan.
__ADS_1
Dengan wajah yang penuh kekecewaan karena terluka ia meninggalkan tempat itu.