
Setelah adegan foto-fotoan itu dengan Indah yang bergaya super narsis, jadilah Indah terus tertawa senang melihat hasil jepretan bibi dan Sinta yang terus saja mengumpat dalam hati.
“Wah aslinya kamu itu memang Masya Allah sangat cantik Sin, hanya saja cara berpakaian mu yang salah.” Ucap Indah blak-blakan.
‘Cara berpakaian yang salah? Enak saja. Masih mending aku yang masih pakai pakaian tertutup, dari pada aku pakai baju yang kekurangan bahan. Iya kan pemirsa?’ Batin Sinta menggerutu.
“Lihat baju kita hampir couple an loh. Sayang aku gak bawa baju atau jilbab pink yah.”Indah terus berbicara dengan pandangan masih mengarah di ponselnya.
Mendengar itu, Sinta memperhatikan penampilan Indah.
‘Akan sangat sederhana untuk acara malam ini kalau dia hanya memakai baju ini.” Ia berpikir sejenak mengusap dagunya.
‘Oh, iya.” Sinta buru-buru membuka lemarinya begitu ia terpikirkan sesuatu.
Indah yang melihat itu pun menghampiri.
“Kamu lagi cari apa?” Tanya Indah.
“Mana yah? Perasaan ada di sini.” Sinta terus mengobrak-abrik pakaian di lemarinya.
Beberapa saat kemudian…
“Ah, ini dia.” Ia memegang sebuah baju berwarna pink yang sangat Indah.
“Wah, Indah sekali. Kenapa aku tidak melihatnya tadi, kan aku bisa memberikan yang ini untuk kamu pakai.” Ucap Indah memperhatikan baju di tangan Sinta itu.
“Uhuk… uhuk…” Sinta terbatuk.
Yang benar saja menyuruhnya memakai pakaian ini, dia saja tidak pernah memakainya. Baju itu adalah hadiah dari teman les pianonya, karena temannya itu akan pindah keluar negeri, temannya memberi ide untuk mereka saling bertukar kado agar bisa memiliki kenangan masing-masing. Meski awalnya enggan, Sinta tetap melakukannya demi pertemanan mereka. Namun, ia di buat kesal saat melihat isi kado tersebut. Sebuah baju feminim yang jauh dari gayanya berpakaian. Jadilah ia memarahi temannya itu yang sudah mengerjainya, dan dibalas dengan suara tawa yang kencang. Pakaian yang dia pakai sekarang saja sudah cukup membuatnya sakit kepala, apalagi yang ia pegang sekarang, hadeehh….
“Udah jangan bicara lagi. Kamu pakai ini.” Sinta memberikan baju itu pada Indah.
“Loh kok aku?”
“Katanya mau couple an, ya kamu harus pakai lah.”
Indah tampak berpikir.
“Ini masih tampak sangat baru.” Ucap Indah.
“Iya lah, aku kan belum pernah memakainya.”
“kok kamu bisa punya baju ini? Terus kenapa gak pernah di pakai? Kenapa beli kalau gak mau di pakai juga?”
“Aaaa.... udah Indah, pusing aku. Nanyanya nanti aja, sekarang kamu ganti baju dulu.” Sinta mendorong pelan tubuh Indah ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka.
“Nah, gini kan jadi makin cantik.”
“Benarkah?” Indah tersenyum menatap sekali lagi penampilannya, yang tampak sederhana tapi terlihat menawan.
“Ya udah yuk, berangkat sekarang!”
__ADS_1
Indah mengangguk dan mengikuti langkah Sinta.
…
“Wah ini anak mama?” Siska yang melihat Sinta dan Indah turun dari tangga itu menghampiri.
“Kalau kamu dandan kayak gini kan jadi terlihat sangat cantik nak.” Siska membelai rambut putrinya.
“Ck, mama, udah ah. Ini semua tuh gara-gara Indah, dia paksa aku buat pakai ini.” Sinta mensedekapkan kedua tangannya di dada.
Indah tersenyum.
“Tidak ada salahnya kan, kamu ini perempuan memang seharusnya berpenampilan seperti perempuan, bukan laki-laki, iya kan Indah?”
“Bener banget tante.” Ucap Indah menanggapi.
“Mama…” Sinta mengerucutkan bibirnya.
“Hehe ya udah sana, kalian mau jalan kan?”
“Iya Ma, udah telat nih.” Sinta melirik jam di ponselnya.
“Iya, hati-hati yah.”
“Iya, dah ma.” Sinta melambaikan tangan.
“Indah pergi dulu Tan.” Indah meraih tangan Siska dan menciumnya.
“Iya, oh ya Indah, sering-sering yah buat Sinta berpenampilan seperti itu, tante senang lihatnya. Kalau perlu sih pakai hijab kayak kamu.” Pinta Siska.
“Iya, nak.” Siska menepuk-nepuk pelan bahu Indah.
“Indah! Cepetan!” Teriak Sinta.
“Iya!” Jawab Indah.
“Aku pergi dulu yah Tan, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam."
Setelah sampai di teras rumah, tampak David sudah menunggu, bersandar di mobil sambil memainkan ponselnya.
“Ayo!” Ucap Sinta.
David yang melihat penampilan adiknya itu merasa terheran-heran.
“Kamu… sehat kan?” Pertanyaan pertama yang di ucapkan David saat melihat Sinta berpenampilan tidak seperti biasanya.
“Udah, kakak jangan banyak Tanya, aku lagi kesal sekarang.” Sinta langsung masuk ke mobil.
“Indah mana?”
“Sebentar lagi juga keluar.”
Beberapa detik kemudian gadis itu keluar.
__ADS_1
“Sinta!” Panggil Indah, namun ia hanya mendapati David yang kini terus menatapnya, cowok itu bengong.
“Kak David, lihat Sinta kemana?”
Sinta menurunkan kaca jendela mobil dan menjawab pertanyaan Indah.
“Aku di sini, ayo naik! Kak David udah terpesonanya kita sudah terlambat.” Sinta menyindir kakaknya yang masih terus menatap Indah.
David yang sedari tadi hanya terdiam pun akhirnya sadar.
“Loh, kamu kok naik ke mobil kak David sih? Memangnya kak David juga ikut yah?”
“I… iya Indah, Sinta tadi mengajakku. Karena tidak ada kegiatan di rumah jadi aku menerima ajakannya.” David berbohong.
‘Padahal dia yang ngajak, malah mengkambing hitamkan aku.’ Sinta mendengus.
“Gak apa-apa kan aku juga ikut dengan kalian?” Tanya David hati-hati.
“Tentu saja tidak apa-apa kak, malah makin ramai makin seru.” Ucap Indah.
David tersenyum senang.
“Ya udah, yuk!” Ajak Indah.
Melihat Indah yang akan membuka pintu belakang mobil dengan cepat ia mendahului langkah gadis itu dan membukakan pintu depan samping kemudi.
“Silakan.” Ucap cowok itu manis.
“Tapi kak, aku mau duduk bareng Sinta.”
“Nanti aja pas pulang, sekarang kamu temenin aku ngobrol aja yah di depan.”
‘Hadehh… apa tidak ada alasan lain di kepala kak David? Setiap hari ia memberikan alasan yang sama, kurang kreatif sekali sih jadi cowok’ Batin Sinta.
“Hhmm… baiklah.”
Indah pun duduk di kursi depan. Bersama David yang mengemudikan mobilnya.
Di perjalanan…
“Indah kamu terlihat sangat cantik hari ini.” David memuji.
“Terima kasih kak, Sinta yang sudah membantu ku tadi memilihkan baju ini.” Indah tersenyum senang.
“Wah, tumben sekali seleranya bagus, untung saja dia tidak menyuruhmu memakai jaket hitam dan topinya itu.” David mengejek.
Indah terkekeh mendengarnya, sementara Sinta tampak cuek saja. Ia merasa kurang nyaman dengan pakaian yang ia kenakan. Bukan kurang nyaman sih sebenarnya, hanya masih kurang terbiasa saja.
“Lihatlah bahkan hari ini pun dia juga terlihat cantik, sepertinya kepalanya itu sudah terbentur sesuatu hingga membuatnya berubah seperti ini, tapi aku sebagai kakak sih suka, sudah lama aku tidak melihatnya memakai baju dengan warna yang terang. Dia kan hanya memakai warna-warna gelap saja. Kak David jadi merasa punya adik perempuan beneran sekarang.”
Kali ini Indah tertawa mendengarnya.
“Terus saja menggosipkan aku, aku tidak peduli. Lagi pula asal kakak tahu yah Indah yang udah paksa aku buat pakai baju ini, dia mengancam tidak akan pergi kalau aku tidak memakainya. Seharusnya kak David berterima kasih dong sama aku, bukan malah mengejekku.”
David membulatkan matanya mendengar ocehan Sinta.
__ADS_1
“Ekhmm… Sin kamu mau beli apa nanti?” David mengalihkan pembicaraan saat Indah melihatnya dan Sinta secara bergantian.