
Indah hanya diam, menunggu Sinta melanjutkan penjelasannya.
"Kak Ayu melihat kak Adnan begitu peduli padamu, akhirnya kebenciannya ia tumpahkan pada rencana jahat itu. Indah, kondisi keuangan keluargaku saat itu sedang dalam masa buruk. Ayah adalah salah satu pegawai yang bekerja di perusahaan orang tua kak Ayu. Waktu itu ibuku baru saja masuk Rumah sakit, dia mengancam ku kalau aku tidak membawamu ke tempat yang ia inginkan, dia akan menyuruh orang tuanya untuk memecat ayahku. Saat itu aku sangat takut Indah. Jika ayahku di pecat, bagaimana dengan nasib keluarga kami? Bagaimana ayah akan membayar biaya Rumah Sakit ibu. Saat itu aku sungguh tidak berpikir jernih, aku tidak memikirkan perasaanmu dan apa yang akan terjadi padamu, dan itu adalah kesalahanku yang kedua." Sinta kembali tertunduk.
"Tapi kamu juga telah memberitahu kak Adnan di mana aku saat itu kan?!"
Sinta terkejut, ia bingung mengapa Indah bisa mengetahui hal itu.
"Ia Sinta, kak Adnan sudah menceritakan semuanya padaku. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah, aku sangat bersyukur karena hari itu kak Adnan datang, dan itu semua berkat kamu."
Sebuah senyuman kembali terukir di bibir Indah, berusaha menenangkan sahabatnya itu. Begitu pun dengan Sinta, hatinya kini merasa lega seolah beban berat yang menindih tubuhnya beberapa waktu ini sudah terangkat.
"Kak Adnan datang di waktu yang tepat, jadi kamu tidak perlu khawatir ataupun merasa bersalah."
Sinta mengangguk pelan.
Indah melirik jam di tangannya, pukul 17.05.
"Ini sudah sangat sore, aku harus segera pulang Sinta. Ibuku juga pasti sudah ada di rumah."
Sinta mengangguk.
"Oh iya, aku sampai lupa. Kalau kamu bisa datanglah ke sekolah besok, kamu sudah lama tidak ke sekolah Sinta. Dan aku tahu, kalau kamu tidak memberitahu kak David soal ini, dan Tante Siska juga pasti tidak tahu kan?! Dan..."
Indah membuka tas ransel berukuran sedang yang sedari tadi tak pernah ia lepaskan dari punggungnya. Lalu mengeluarkan beberapa buku.
__ADS_1
"Ini adalah buku catatan aku dan beberapa tugas. Salinlah nanti, agar kamu tidak ketinggalan pelajaran." Indah memberikan buku-bukunya itu.
"Terima kasih Indah."
Indah tidak menjawabnya hanya membalas dengan senyuman khasnya dengan lesung Pipit dan gigi kelincinya.
"Baiklah, aku pulang dulu yah." Sambil beranjak dari tempatnya duduk.
"Iya. Eh, kamu pulang naik apa Indah?"
"Tenang di depan pasti banyak akan ada banyak ojek atau taksi yang lewat, aku juga bisa memesan driver online jika perlu."
"Baiklah, kamu hati-hati yah."
"Iya, assalamualaikum." Indah melambaikan tangannya.
Sinta melihat Indah yang perlahan semakin jauh hingga hilang dari pandangannya, kemudian ia kembali ke ruangan ibunya di rawat.
Indah berdiri di tepi jalan raya di depan Rumah Sakit itu. Melihat ke kanan dan kiri, tak ada ojek atau pun taksi yang lewat. Beberapa kali ia melihat pada jam di tangannya, hampir 10 menit telah berlalu. Akhirnya ia memutuskan untuk memesan driver online. Dirogohnya kembali tas punggungnya dan mengambil sebuah handphone, lalu segera membuka aplikasi yang ia butuhkan.
"Syukurlah, drivernya tidak jauh dari sini." Ucap Indah pelan.
3 menit menunggu, sampai akhirnya pengemudi driver itu berhenti tepat di depan Indah. Tanpa menunggu waktu lama ia segera naik, ini sudah sangat sore untuknya berada di luar rumah.
Di perjalanan Indah membuka kaca jendela mobil, terlihat banyak kendaraan lain yang melintas. Namun tidak sepadat di kota-kota seperti Jakarta, Bali, atau kota besar lainnya. Yah, kota ini memang cukup ramai, tapi kemacetan masih jarang terjadi.
__ADS_1
Indah mengarahkan pandangannya ke langit. Hari ini mentari kini telah kembali memancarkan cahaya jingga kemerahan, menandakan ia akan kembali ke peraduannya. Beristirahat sejenak untuk kemudian menyambut hari esok. Indah tersenyum tipis, karena bayangan seseorang muncul dibenaknya.
"Kehadiranmu selalu membawa senyuman, keindahanmu selalu membuat hatiku tenang, sama seperti senja yang kini terlihat di langit. Namun bedanya, kau memancarkan cahaya keindahanmu dalam ruang hatiku, kak Adnan kau adalah senjaku." Ucap Indah dalam hati.
...***...
Pagi kembali menyapa hari ini. Sama seperti biasa, kedatangannya di sambut oleh semua makhluk hidup. Burung-burung mulai berkicau menyanyikan lagu mesra, orang-orang mulai sibuk untuk bersiap-siap memulai aktivitas.
Indah masih berada di kamarnya, masih bersiap-siap. Terlihat sibuk memperbaiki hijabnya, sambil sesekali merapikan seragam putih abu-abu yang ia gunakan. Setelah itu, ia memasukkan buku-buku pembelajaran yang tersusun rapi di atas meja belajar. Yah, hanya tinggal memasukkannya saja, karena semalam ia sudah mempersiapkannya. Setelah semua selesai, Indah keluar kamar dan menuju meja makan.
Di sana Bu Dania sudah menunggu, tampak rapi dengan seragam kantornya. Anak dan Ibu itu bertukar senyum saat duduk berhadapan di meja makan. Beberapa menit mengobrol sambil menikmati sarapan dengan menu nasi goreng spesial ala Bu Dania.
Setelah semua selesai, Bu Dania mengantar Indah ke sekolah untuk kemudian kembali melajukan sepeda motornya ke tempat kerja.
Siswa-siswi di sekolah mulai ramai berdatangan, Indah langsung menuju kelasnya.
Di kelas beberapa siswa sudah datang begitu pula dengan Radit dan Adit, yang terlihat sedang duduk bersama di bangku mereka, asyik membicarakan acara MotoGP yang kemarin malam tayang. Ada pula dua siswi lainnya yang sedang berdiri berdampingan di dekat jendela. Sedang asyik melihat siswa-siswa lainnya berdatangan dari gerbang sekolah. Yah, kelas mereka sangat dekat dengan gerbang dan taman sekolah. Saat mulai bosan melihat suasana kelas tetapi juga mager untuk keluar kelas, maka cara terbaik adalah melihat keluar jendela. Dengan pemandangan siswa-siswa yang berdatangan, atau menunggu gebetan datang dari gerbang tersebut. Atau mungkin melihat si kutu buku dengan kacamatanya yang terlihat cukup tampan sedang asyik membaca di taman sekolah, dan jangan lupa dengan beberapa siswi yang kelihatannya sedang mengghibah seseorang, terlihat dari ekspresi wajah mereka.
Indah memilih untuk duduk manis di bangkunya. Membuka buku pelajaran matematika yang akan masuk kurang dari satu jam lagi. Yah, Indah menyadari bahwa dalam masalah perhitungan ia belum cukup baik. Jadi setiap pelajaran yang berhubungan dengan menghitung, Indah akan selalu menghabiskan waktunya untuk mengulang kembali pembelajaran sebelumnya, di malam hari dan saat tiba di sekolah. Namun jika pembelajaran seperti Agama, Bahasa Indonesia, sejarah, geografi dan sosiologi, Indah selalu mendapatkan nilai yang memuaskan. Yah, dia sangat menyukai pelajaran-pelajaran itu.
Konsentrasinya terbuyarkan saat Radit dan Adit berteriak mengejek seseorang yang baru saja masuk kelas.
"Hei, si cewek tomboi sudah datang." Teriak Radit.
Yang di ejek tidak mempedulikan.
__ADS_1
Adit tersenyum melihat siapa yang datang.
Indah spontan menoleh karena ia tahu betul siapa yang di maksud oleh Radit. Sebuah senyum terukir saat ia melihat Sinta berjalan menuju bangku di sampingnya.