Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Sisi Lain Kehidupan Adnan


__ADS_3

SILAKAN TINGGALKAN JEJAK UNTUK TERUS MENDUKUNG NOVEL INI.


...***...


Adnan duduk berdua bersama Humairah di meja makan yang besar itu. Di rumah yang begitu mewah ini, ia merasa tak ada kehangatan kasih sayang dalam keluarganya. Beberapa pelayan nampak masih berdiri menunggu Adnan dan Humairah selesai untuk kemudian membersihkan meja dan piring-piring yang kotor.


“Kak, mama kan belum makan yah… kenapa mama bilangnya tidak lapar? Kalau perut mama sakit bagaimana?” Humairah memegang sepotong ayam bakar di tangannya.


“Kamu jangan khawatir yah, nanti kakak akan bawain makanan ke kamar mama.” Jawab Adnan dengan senyum tipisnya.


“Ikut!” Seru gadis kecil itu.


“Tidak perlu, Humairah kan harus belajar buat besok.”


Humairah mengerucutkan bibirnya, namun mana berani dia membantah perintah kakaknya itu. Bukannya takut, tapi lebih terkesan pada ia yang sangat menyayangi Adnan. Bagi gadis kecil itu Adnan adalah kakak terbaik, yang selalu mengurus dirinya setelah mama mereka, mengabulkan semua keinginannya selama itu hal baik untuknya, ia seperti menemukan sosok ayah pada diri kakaknya yang tidak ia dapatkan dari ayah mereka sendiri yang selalu saja sibuk di kantor. Hingga jadilah ia selalu mendengarkan ucapan Adnan.


“Ya udah deh, tapi besok kak Adnan beliin humairah eskrim yah.”


“Iya Insya Allah kakak belikan setelah pulang sekolah.”


“Yeaay.” Gadis itu bersorak.


“Humairah sudah selesai, Humairah ke kamar duluan yah, dadah kak.” Gadis kecil mencium pipi kanan Adnan, kemudian beranjak dari duduknya.


Sebelum Adnan menjawab ia sudah berlari dari sana menuju kamarnya yang berdampingan dengan Adnan.



Setelah selesai makan, Adnan menyiapkan sendiri makanan yang akan ia bawa ke kamar ibunya.


“Tuan muda biar saya saja yang menyiapkannya.” Kata seorang asisten rumah tangga yang bertugas di dapur.


“Tidak perlu Bi, biar aku saja yang menyiapkan ini untuk mama.” Adnan mengambil lauk-pauk dan menempatkannya di sebuah wadah.


“Hhmm… itu untuk nyonya ya Tuan Muda?” Bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


“Iya, mama kan belum makan malam. Jadi aku mau membawakan ini untuknya.”


Saat Adnan telah selesai dan akan beranjak dari sana, asisten rumah tangga paruh baya tersebut kembali menghentikan langkahnya.


“Tuan muda, tapi… hhmm… nyonya tadi berpesan agar jangan mengganggunya saat ini. Ia juga mengatakan kepada saya agar menghentikan tuan muda kalau ingin membawakannya makanan ke kamar.” Asisten rumah tangga itu menunduk, takut jika ucapannya ada yang menyinggung Adnan.


“Dan Bibi juga pasti tahu, kalau aku akan tetap membawakan ini pada mama.”


“Tapi Tuan muda…”


“ Bibi gak usah khawatir, aku yang akan bertanggung jawab kalau mama marah sama Bibi.” Adnan meyakinkan.


“Baiklah, Tuan Muda.” Membungkukkan badan, bersikap hormat.



Tok tok tok


Adnan mengetuk pintu kamar ibunya,


“Ma, Adnan bawain makan malam buat mama.” Ucapnya.


Tak ada jawaban.


Tak ada jawaban.


“Kalau mama gak keluar juga, Adnan tetap akan berdiri di sini nungguin mama.”


Masih tak ada jawaban, namun Adnan yakin ibunya pasti akan membuka pintu kamarnya itu. Ia mana tega membiarkan anaknya berdiri terus menerus di sana.


Beberapa menit kemudian, dugaan Adnan benar, pintu kamar itu terbuka. Ia tersenyum, namun senyum di bibirnya lenyap saat melihat wajah ibunya yang sudah tampak lebam di beberapa bagian, mata wanita itu bengkak karena menangis namun ia masih berusaha tampak tersenyum di depan anak sulungnya itu.


Adnan meremas buku-buku jarinya. Ia masuk ke kamar ibunya, meletakkan nampan berisi makanan itu di meja.


“kenapa kamu membawakan mama makanan nak? Mama kan sudah bilang sama bi Ijah kalau mama gak lapar.”

__ADS_1


Bu Ratih, wanita berumur 40 tahun dengan hijab panjang itu menghampiri anaknya.


Adnan berbalik, ia memegang tangan ibunya dan mengarahkannya agar duduk di sofa panjang yang ada di kamar itu.


“Mama duduk dulu yah, tunggu di sini!” adnan tampak berjalan keluar kamar, sekitar 3 menit kemudian ia kembali dengan kotak P3K di tangannya.


Ia duduk di samping ibunya, mulai menumpahkan cairan obat di kapas, dan membalurkannya pada sisi mata kanan, dan di pipi Ratih yang lebam.


Ia menatap ibunya sendu, ada kemarahan yang memuncak di dalam dirinya, yang telah ia simpan selama beberapa tahun ini.


Sementara Ratih, ia masih tampak tersenyum kecil pada putranya.


“Menangislah jika mama ingin menangis, Adnan akan ada di sini untuk mama.” Ucap Adnan masih memberikan obat pada luka ibunya.


Senyum di bibir ratih perlahan lenyap, di ikuti cairan bening yang sudah mengalir di sudut matanya. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu putranya, berusaha menyembunyikan isak tangis dengan menggigit bibir bawahnya.


Adnan menepuk pelan bahu ibunya, mencoba menenangkan.


Entah karena alasan apa, ayahnya yang dulu begitu menyayangi ibunya mendadak berubah menjadi pria yang begitu kasar. Sedikit saja ibunya melakukan kesalahan, maka ayahnya itu akan langsung mengangkat tangannya, entah itu akan menjadi sebuah tamparan, atau dorongan yang keras hingga Ratih terpental pada beberapa benda keras.


Tidak mungkin diam, Adnan juga selalu menerima tamparan jika ia membela ibunya. Bahkan Adnan sudah pernah mengancam ayahnya akan membawa Ratih dan Humairah pergi dari rumah tersebut karena merasa tak sanggup lagi melihat ibunya yang selalu menderita. Namun ucapannya itu malah di balas dengan tawa menggelegar dari sang ayah.


“Dengan apa kamu akan menghidupi mama dan adikmu itu, memangnya kamu punya uang? Dasar anak bau kencur, kamu tidak usah ikut campur urusan orang tua, atau ibu dan adikmu yang akan menerima akibatnya.” Ancam balik ayahnya.


Setelah menerima ultimatum itu dari ayahnya, ia mengurungkan niatnya. Namun satu hal yang ia janjikan, suatu hari nanti ia pasti akan sukses. Ia akan menggapai kekayaan itu, dan akan membawa ibu serta adiknya keluar dari neraka itu.


“Maafin Adnan yah ma… tolong bersabarlah sebentar lagi. Adnan janji bakal bawa mama pergi dari rumah ini. Kita akan hidup bersama adik dengan bahagia dan meninggalkan semua kesakitan yang ada di rumah ini.” Ucap Adnan lirih.


Ratih mengangkat kepalanya dari bahu sang putra, menatap lekat pada anak yang ia lahir kan 17 tahun yang lalu itu.


“Tapi mama tidak mungkin meninggalkan ayahmu nak.”


“Tapi Adnan juga tidak mau melihat mama terus menderita seperti ini. Apa yang mama harapkan dari seorang suami yang begitu kasar itu, dia hanya membuat mama terus menderita.” Adnan beranjak dari tempatnya duduk, emosinya tersulut.


“Bagaimana pun dia adalah suami mama, dia adalah ayah kamu. Dia hanya tidak bisa mengendalikan amarahnya saja, mama yakin dia masih mencintai mama seperti dulu.” Ratih membela.

__ADS_1


“Ma, cinta itu melindungi bukan menyakiti, mama kan yang selalu berkata seperti itu.”


Ratih kembali tersenyum, ia berdiri dan memegang bahu Adnan, tak ingin melanjutkan perdebatan itu lagi. Nyatanya apa yang dikatakan anaknya ia pun memiliki pendapat yang sama. Namun, satu yang ia akan pegang teguh, baginya selama suaminya itu masih mencintainya ia akan selalu ada di sisi laki-laki terebut. Karena ia tahu betul apa yang membuat sikap suaminya berbah menjadi kasar. Selama itu bukan tentang perselingkuhan, maka Ratih akan dengan lapang dada memaafkan suaminya.


__ADS_2