
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
"Maafkan kami bibi atas apa yang telah kami lakukan kepada Indah." Ucap Widia meminta maaf pada Bu Dania.
"Aku juga minta maaf Bi." Dewi menunduk.
"Tidak apa-apa nak, setelah mendengar apa yang kalian katakan tadi bibi mengerti mengapa kalian melakukan hal itu. Tapi nak, hanya karena kalian takut kepada seseorang bukan berarti kalian akan melakukan hal buruk kepada orang lain. Bibi berharap kalian tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi."
"Kami berjanji Bi." Ucap Widia dan Dewi bersamaan.
Setelah mendapat maaf dari Indah dan ibunya, Dewi dan Widia kemudian memeluk orang tua mereka. Mereka juga harus meminta maaf kepada orang tua mereka karena telah membuat mereka kecewa.
...***...
Pukul 14:20 Indah baru sampai di rumah, dibukanya pintu pagar perlahan, terlihat sepeda motor milik ibunya terparkir di halaman.
'Berarti mama sudah pulang dari kantor, atau hari ini mama tidak ke kantor setelah datang ke sekolah ku tadi yah?' Indah bergumam dalam hati. Ia tahu betul apa yang ibunya cemaskan, dan apa yang ia takutkan sekarang.
"Assalamualaikum." Ucapnya saat sampai di depan pintu, tak ada jawaban. Indah segera membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Dengan langkah terburu-buru ia segera masuk ke rumah. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menghindar dari ibunya dan segera masuk ke kamar. Namun baru saja ia hendak membuka pintu kamarnya, Bu Dania telah berdiri tepat di sampingnya, memegang pundak Indah. Seolah sedang tertangkap basah melakukan hal yang buruk, Indah tersenyum kaku.
"Mama mau bicara sama kamu, ikut mama sekarang ke ruang tengah!" Perintah Bu Dania.
__ADS_1
Sedari tadi Bu Dania memang sedang menunggu Indah, ia ingin segera membicarakan masalah yang menimpa anaknya itu, sampai setelah ia menerima telepon dari sekolah dan pulang dari tempat tersebut ia tidak kembali ke kantor dan memilih untuk pulang ke rumah. Pikirannya saat ini tidaklah mungkin membuatnya bisa berkerja dengan tenang.
"Iya, ma." Ucap Indah sambil mengikuti langkah ibunya dari belakang.
Bu Dania lalu duduk di sebuah kursi panjang di ruang tengah mereka. Begitu pun dengan Indah yang kemudian juga duduk dengan ragu tak jauh dari ibunya.
Suasana hening sejenak, sampai kemudian...
"Mengapa kamu menyembunyikan semua ini dari mama, Indah? Apa kamu merasa mama bukanlah siapa-siapa? Sampai masalah sebesar ini kamu tidak mengatakannya?" Bu Dania berucap sedih menatap anaknya.
"Maafkan Indah ma, Indah tidak bermaksud seperti itu." Indah mulai menangis.
"Terus apa Indah?"
"Indah tidak mau buat mama khawatir dan sedih. Mama pasti capek sudah kerja seharian, Indah tidak ingin menambah beban pikiran mama dengan masalah yang Indah hadapi di sekolah." Indah kembali mengusap air matanya yang jatuh.
"Kenapa kamu mengatakan semua itu Indah? Mama adalah mama kamu kan, sudah tugas mama untuk selalu melindungi kamu, memberikan kamu rasa aman. Di dalam hidup mama tidak ada lagi yang lebih penting selain kebahagiaan kamu. Kamu bukan beban untuk mama, Indah. Kalau kamu menderita dan tidak mengatakan apa-apa sama mama, maka mama akan merasa kalau mama sudah gagal dalam merawat dan mendidik kamu nak." Bu Dania menangis.
Bu Dania membalas pelukan putri semata wayangnya itu, jauh di lubuk hatinya ia juga merasa bersalah atas apa yang terjadi. Beberapa orang telah menyakiti putrinya, yang ia sendiri pun bahkan tidak pernah membentaknya.
"Jangan pernah mengulangi hal seperti ini lagi nak, jangan pernah menyembunyikan sesuatu lagi dari mama."
"Indah janji ma, Insya Allah Indah tidak akan menyembunyikan hal apapun lagi dari mama, Indah akan jujur dan tidak akan berbohong lagi." Isaknya.
Bu Dania kembali memeluk Indah erat, mencium kepala putrinya itu, mereka berdua tenggelam dalam tangis.
Beberapa saat kemudian...
"Sudah, sekarang kamu ganti baju dan langsung makan siang yah sayang!" Ucap Bu Dania perlahan melepas pelukannya. Indah mengangguk kemudian menuju kamar untuk mengganti pakaian.
__ADS_1
...***...
Malam ini Indah memilih untuk menghabiskan waktunya menatap keluar jendela kamarnya. Melihat keindahan langit malam, juga suasana di sekitar komplek. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya jadi melupakan hobi kesukaannya, membaca novel.
Indah melihat beberapa anak yang sedang bermain dengan riang. Berkejar-kejaran di jalan komplek itu. Terlihat pula beberapa kali orang tua dari anak-anak tersebut memperingatkan untuk segera berhenti, takut jika ada kendaraan yang lewat. Namun mereka tak juga mendengar, dan kembali bermain dengan riangnya. Indah tersenyum melihat mereka, ia juga menyadari satu hal, bahwa menjadi anak-anak memang jauh lebih menyenangkan dibandingkan harus menjadi orang dewasa.
"Sewaktu kecil aku ingin sekali segera menjadi dewasa. Mencoba banyak hal baru, berteman dengan banyak orang, bebas kemanapun yang aku mau, dan mengenal cinta. Tapi saat telah beranjak dewasa, hati ingin kembali pada masa-masa menyenangkan itu. Dimana bermain adalah hal yang utama, tanpa ada sedikitpun beban pikiran yang mengganggu. Menjalin pertemanan yang tulus dan melupakan semua masalah, sangat menyenangkan." Indah berucap pelan pada diri sendiri.
Indah kembali menatap pada arah langit, malam ini terlihat begitu Indah tanpa ada awan mendung di sana. Terlihat banyak bintang yang bertaburan dan sebuah bulan yang semakin melengkapi keindahannya.
"Bulan malam ini terlibat begitu terang." Indah mengukir senyum.
Malam ini Indah tak ingin berpikir hal lain, ia hanya ingin menikmati apa yang ia lihat sekarang.
...***...
"Baiklah masukkan semua buku kalian ke dalam tas, dan hanya ada pulpen di atas meja. Hari ini kita akan melaksanakan ulangan harian." Ucap Bu Rahma.
"Yah Bu, kok mendadak sih, kita kan belum belajar." Ucap seorang siswa dari bangku belakang.
"Iya Bu, aku juga belum"
"Aku juga Bu."
Siswa-siswi mulai mengeluh satu per satu.
Indah hanya diam, tapi dia sudah mempersiapkan dirinya untuk ini. Karena ia ingat kalau pekan lalu Bu Rahma memang sudah berpesan tentang hal tersebut.
"Ibu kan sudah memberitahu kalian pekan lalu untuk selalu mempelajari catatan kalian, karena kemungkinan ibu akan memberikan kalian kuis atau ulangan harian dipertemuan selanjutnya." Jelas Bu Rahma.
__ADS_1
"Yah, Bu." Beberapa siswa mengeluh bersamaan.
"Sudah-sudah, ibu akan mulai membagikan kertas ulangannya yah." Sambung Bu Rahma yang mulai sibuk membagikan kertas ulangan, dan beberapa saat kemudian, para siswa mulai sibuk mengerjakan ulangan mereka, meski beberapa dari mereka masih juga kesal karena tidak memiliki persiapan untuk ujian hari ini.