
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
Saat sampai di perpustakaan, Indah langsung menuju rak penyimpanan novel. Yah...karena memang itulah tujuannya ke sini. Beberapa kali mencari novel yang beberapa ia lihat, yang membuatnya begitu penasaran ingin mengetahui isi dari novel itu. Saat telah menemukannya, ia segera duduk di salah satu kursi di pojok perpustakaan itu.
Dengan tidak sabar Indah segera membuka lembaran pertama novel itu. Membacanya dengan raut wajah yang sangat serius. Beberapa menit kemudian, ia telah masuk dalam alur cerita yang ia baca. Beberapa kali ia membalikkan lembar buku itu, memahami setiap kata yang ada di dalamnya. Sesekali ia menorehkan senyum, namun terkadang pula memperlihatkan wajah yang kesal. Indah begitu serius hingga ia tidak menyadari ada seseorang yang sudah duduk di depannya, memperhatikan dia sembunyi-sembunyi, dan terus tersenyum melihat raut wajah Indah yang berubah-ubah.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia harus ke tempat itu?" Indah berbicara sendiri.
"Karena dia harus menemui seseorang, bukankah dia harus menepati janjinya?" Suara seseorang tiba-tiba menjawab pertanyaan Indah. Sontak Indah terkejut, melihat siapa yang kini duduk di hadapannya.
"Kak Adnan?" Indah berkata pelan.
Adnan duduk bersandar di kursi itu, persis berhadapan dengan Indah. Satu tangannya memegang sebuah buku, dan tangan lainnya bertugas membolak-balikkan lembar yang telah ia baca.
"Aku sudah membaca novel itu, ceritanya cukup menarik." Adnan berbicara, namun masih dengan pandangan melihat ke buku di tangannya.
Indah hanya tersenyum, menunduk malu. Yah, memangnya apalagi yang harus ia lakukan, melihat seseorang yang ia sukai kini berada di depannya, bahkan kini telah mengajaknya berbicara, tidak seperti dulu, yang bersikap begitu dingin. Jika ia memiliki alat penghenti waktu milik Doraemon, ia tentu sudah memakainya dari tadi. Tak ingin hal ini berakhir begitu cepat.
Suasana hening sejenak, mereka kembali terdiam. Tenggelam dalam buku yang yang masing-masing mereka pegang.
"Oh iya, Indah!" Adnan memanggil, pandangan mereka tak sengaja bertemu.
" Aku ingin memberikan ini." Adnan mengeluarkan sebuah kertas berwarna merah muda yang sudah terlipat rapi di kantong sakunya. Kemudian memberikannya kepada Indah.
"A... apa ini kak?" Indah bingung.
"Ambillah."
Indah meraih kertas itu di tangan Adnan.
"Apa ini sebuah surat?"
__ADS_1
"Anggap saja begitu."
Saat Indah tersenyum memandang kertas merah muda itu, ada seseorang yang menatapnya dengan penuh amarah. Yah, Ayu melihat semuanya dari balik pintu perpustakaan itu. Sebenarnya dia akan menemui Adnan karena dia tahu persis Adnan berada di mana saat jam istirahat. Namun, dia melihatnya bersama dengan Indah. Ayu semakin membenci Indah, dia menganggap Indah adalah rintangan terbesarnya dalam mendapatkan cinta Adnan.
"Teruslah tersenyum, dan setelah besok gue yakin tidak akan ada lagi senyum di wajah lo." Ayu mengepalkan tangannya kuat, menatap benci Indah lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan berbagai sumpah terucap di bibirnya.
Indah masih menggenggam surat itu di tangan kanannya, sementara ia sedang berpura-pura kembali fokus pada novel yang tadi ia baca. Sungguh, ia sudah tidak bisa memikirkan apa-apa selain surat yang kini ada di tangannya.
Adnan melirik jam tangan di tangan kirinya.
"Aku akan masuk ke kelas sekarang, sebaiknya kamu juga. Kalau kamu ingin meminjam buku itu, tulislah sekarang namamu di daftar pinjam, sebentar lagi bel masuk berbunyi." Adnan kembali berbicara cukup panjang, dan bangkit dari tempat duduknya.
"Mengapa sekarang dia seolah-olah begitu peduli denganku." Indah berkata dalam hati, tak sadar masuk dalam lamunannya.
"Indah!" Adnan menyadarkan Indah dengan melambaikan tangannya ke arah wajah Indah.
"Ii... iya kak." Jawab Indah gugup.
Adnan melangkah pergi, meninggalkan perpustakaan. Sementara Inda masih terus menatapnya hingga hilang dari pandangannya. Indah tak menyangka akan sikap Adnan hari ini. Seolah mereka sudah seperti teman. Yah, walaupun hanya sebatas teman itu sudah lebih dari cukup untuk Indah. Indah kembali menatap pada surat yang di berikan Adnan padanya. Sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin membacanya sekarang. Namun ia berusaha untuk menahan dirinya, akan lebih baik jika ia membacanya di rumah, pikirnya.
Indah menoleh pada jam di tangannya.
Teng teng teng...
Bel masuk berbunyi saat Indah persis berada di depan pintu kelasnya.
Indah melangkah masuk dengan senyum merekah di bibirnya. Sedari tadi dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
"Kamu kenapa Indah? Dari tadi senyum-senyum terus." Sinta yang melihat Indah jadi bingung.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Indah berbalik ke arah Sinta, memperlihatkan gigi kelincinya.
"Kamu sakit yah?" Sambil memegang kening Indah, dia tahu sahabatnya itu sedang sangat senang kali ini.
"Iihh... Sinta, apaan sih, kok sakit. Aku lagi bahagia tau." Indah meletakkan kedua tangganya di masing-masing pipinya, menjadikannya tumpuan.
"Iya...iya aku tahu, sangat terlihat di wajahmu itu." Menyenggol pelan pundak Indah.
"Tapi apa yang membuatmu terus tersenyum seperti ini? Jawab aku!" Sambung Sinta mendesak.
__ADS_1
"Sebenarnya ada yabg ingin aku ceritakan padamu Sinta, tapi kamu janji yah jangan mengejekku." Indah menatap serius sahabatnya itu.
"Iya, lagian kenapa aku harus mengejek mu?"
"Huhuuu.... kamu kan selalu begitu." Indah memanyunkan bibirnya.
"Iya ..iya, aku janji tidak akan ngejek kamu, okay."
"Tapi.... nanti yah, setelah pulang sekolah. Sebentar lagi kan Bu Musdalifah masuk. Hehe...." Indah terkekeh.
"Yahh... Indah, aku udah serius juga." Sinta kecewa, sementara Indah hanya tertawa melihat wajah serius Sinta tadi.
Tak lama kemudian Bu Musdalifah pun masuk ke kelas, dan pembelajaran berlangsung seperti biasanya.
...***...
Seperti biasa Indah dan Sinta pulang sekolah dengan berjalan kaki. Suara bising kendaraan yang lalu-lalang di sekitar mereka terdengar.
"Oh iya, tadi kamu mau cerita apa?" Sinta kembali membuka percakapan.
"Cerita soal apa Sin?" Indah berpura-pura lupa.
"Itu loh, soal alasan kamu hari ini bahagia." Wajah Sinta mulai tampak kesal.
"Yang mana yah...aku lupa, ceritanya nanti saja yah." Indah menahan tawanya melihat wajah sahabatnya yang cemberut.
"Yah, Indah... kamu bilang pulang sekolah, masa lupa sih."
"Hehe.... iya, iya aku ingat kok." Indah terkekeh.
"Indah!!" Sinta menyenggol tangan sahabatnya itu. Mereka berdua tertawa bersama.
Beberapa saat kemudian, seseorang dengan mengendarai sepeda motor lewat persis di samping mereka. Dan Indah tahu betul siapa dia.
"Kak Adnan." Indah berkata pelan, menatap punggung Adnan yang terlihat semakin jauh.
"Kak Adnan? Kenapa dengan kak Adnan?" Sinta jadi ikut melihat ke arah kak Adnan.
"Yah, karena dia adalah alasan kenapa aku sangat bahagia hari ini." Indah menunduk malu.
__ADS_1