Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Katakanlah


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


Bugh


Prak


Prak


Celine melempar tasnya dengan kasar ke atas tempat tidur, kemudian diikuti dengan kedua sepatutnya yang juga melayang ke dekat meja rias di kamarnya.


"Nyebelin... nyebelin... nyebelin." Celine mengacak-acak rambutnya.


"Arrgghh, sialan." Teriaknya.


Ia lalu membuang tubuhnya ke tempat tidur dan menenggelamkan wajahnya di balik bantal.


Beberapa saat kemudian, Celine meraih tasnya kembali, segera duduk dan mengambil ponsel di dalamnya.


Ia menyandarkan dirinya pada Dashboard dan membuka kembali fotonya dan Adnan yang tadi ia abadikan di ponselnya.


Diperbesar-nya gambar itu hingga hanya memperlihatkan wajah Adnan, mengusap perlahan bagian pipi Adnan di gambar itu dengan ibu jarinya.


"Kenapa kamu belum bisa mencintaiku hingga saat ini Adnan? Kita sudah saling mengenal sejak lama, bukan. Kenapa cinta hanya tumbuh di hatiku dan tidak denganmu? Aku pun sudah berulang kali menyatakan cintaku Adnan, berkali-kali... Namun, berkali-kali pula kamu menolak-ku."


"Kenapa?" Teriak Celine.


Mengusap air matanya dengan kasar, Celine memandang foto pria itu lekat.


"Apa aku kurang cantik? Pintar? Atau kurang baik? Selama bersamamu aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu, bahkan aku berpura-pura menjadi wanita yang begitu lembut dan tidak pernah marah saat bersamamu. Itu semua ku lakukan agar kamu tertarik padaku, tapi kenapa sedikitpun kamu tidak pernah menoleh padaku Adnan? Aku muak... aku muak dengan sikapmu!" Ucapnya seraya melempar ponsel ditangannya hingga terbentur tembok.


...***...


"Silakan pesanannya Mas, Mbak." Seorang pelayan meletakkan 2 mangkuk bakmi di depan Adnan dan Celine.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Adnan ramah.


Sementara Celine hanya menatap tanpa berselera pada makanan di depannya itu.


Seandainya saja Adnan tidak memaksanya untuk makan di tempat ini, tentu ia akan lebih memilih untuk makan di restoran mewah berbintang lima.


Meskipun lahir dari keluarga yang kaya raya, Adnan melakukan pola hidup sebagai orang biasa. Dia adalah lelaki sederhana yang tidak pernah memamerkan kekayaaan dengan bergaya hidup yang super mewah.


Bahkan ke sekolah saja dia lebih senang jika memakai sepeda motor yang juga sederhana. Meskipun berkali-kali ayahnya menasehati dia untuk menggunakan mobil jika ingin bepergian.


Ini adalah salah satu dari sifat Adnan yang paling Celine benci. Celine yang selalu dimanjakan dengan fasilitas mewah kadang jengah dengan gaya hidup Adnan yang sering kali harus menggunakan motor saat mereka sedang bepergian. Dan sialnya lagi, ia selalu berpura-pura menikmati dan merasa senang dengan hal itu. Celine harus selalu berusaha untuk membuat lelaki itu jatuh hati padanya, dan ia harus membayar mahal akan hal itu.


Beruntung tadi ia sudah membujuk Ayah Adnan agar Adnan mau pergi dengan mobilnya. Dia sangat tidak tahan jika harus kepanasan di jalan dan makeup nya bisa saja luntur karena itu.


Adnan mulai menikmati makanan yang ada di depannya walaupun sebenarnya kini pikirannya masih berada di tempat yang lain. Sementara Celine hanya mengaduk-aduk bakmi itu.


"Kenapa kamu tidak makan? Kamu bilang tadi sangat lapar, makanya kita ke sini kan?" Ucap Adnan saat melihat Celine tak juga mencicipi sedikitpun makanan itu.


Sebenarnya Celine sama sekali tidak lapar, dan kalau pun ia lapar, yang ada di pikirkannya saat ini adalah ingin memakan sebuah steak di restoran bintang lima.


"Aku kan tadi bilang mau makan steak Adnan, bukan bakmi." Celine mengerucutkan bibirnya.


"Hhmm... baiklah." Jawab Celine singkat.


Sebenarnya Adnan bukannya sedang banyak tugas, tetapi ia hanya ingin cepat-cepat kembali ke rumah dan terbebas dari wanita di sampingnya itu. Dan lagi, agar ayahnya tidak marah padanya.


Beberapa menit kemudian Adnan telah menghabiskan makanannya, sementara Celine setengahnya pun belum habis. Dia hanya memasukkan beberapa sendok ke mulutnya.


"Aku sudah selesai, ayo pulang." Sahut Adnan.


"Yah, ayo!"


"Hei, makananmu masih banyak. Kenapa tidak dihabiskan?"


"Tidak... aku sudah kenyang Adnan."


"Hhmm.... baiklah."


setelah membayar, mereka keluar dari restoran itu.

__ADS_1


Adnan mengemudikan mobilnya, hendak mengantar Celine pulang terlebih dahulu. Celine yang duduk di sebelah kemudi itu terus mencuri pandang pada Adnan. Sesekali ia tersenyum lalu kembali melihat jalan di depan.


Oh ayolah, secinta itukah ia pada Adnan?


Jika cinta yang tumbuh dihatinya itu tulus... bukankah untuk mendapatkan hati lelaki itu harus dengan usaha tanpa adanya kepalsuan? Bukankah cinta harusnya memperlihatkan semua sikap dan sifat yang apa adanya tanpa adanya kepura-puraan?


Lalu bagaimana dengan rasa cintanya? Apa hal itu bisa dikatakan cinta ataukah hanya ambisi semata?


"Adnan, ada Taman di sana." Ucap Celine menunjuk ke arah kanan.


"Can we go to that place for a minute? I have something to tell you." Ucap Celine


(Bisakah kita pergi ke tempat itu sebentar? Ada yang ingin ku katakan padamu).


"Kamu bilang saja sekarang Celine, atau katakan nanti saat kita sudah sampai di depan rumahmu." Jawab Adnan datar tanpa menoleh pada Celine.


"Oh come on Adnan, lusa aku sudah harus balik lagi ke Amrik, Consider this my request before I go too far, please..." Celine menangkupkan kedua tangannya di dada.


(Anggap saja ini adalah permintaan sebelum aku berada jauh darimu).


Adnan melirik jam ditangannya, berpikir sejenak.


"Hhmm.... baiklah, 15 menit." Ucapnya segera menuju Taman yang di maksud Celine.


"Dasar... selalu saja begitu, 15 menit, 10 menit, 5 menit. You never change, Adnan."


(Kamu tidak pernah berubah Adnan).


Adnan tidak menjawab ocehan kesal Celine.


Adnan dan Celine duduk di salah satu bangku panjang di Taman itu. Suasana di sana cukup sejuk walaupun letaknya berada di tengah kota. Mata dimanjakan dengan pemandangan pohon-pohon yang cukup tinggi dan bunga-bunga yang bermekaran Indah. Terlihat cukup banyak pengunjuk saat itu, karena memang sudah cukup sore untuk mereka sekedar bersantai di sana.


Tak jauh dari tempat Adnan dan Celine duduk ada sepasang keluarga yang sedang piknik di bawah naungan pohon. Terlihat anak-anak kecilnya berlarian tak jauh dari mereka. Yang satu seorang anak perempuan berusia sekitar 8 tahun dengan rambut yang di kucir 2, dan satunya lagi seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan mungkin masih berusia 2 tahunan, namun terlihat ia sudah pandai berlari dengan kencang. Dan seorang lelaki yang bisa ditebak kalau dia adalah ayah dari anak-anak itu, tengah mengejar dua bocah itu, memperlihatkan wajah yang dibuat seram membuat dua bocah itu semakin tertawa dan terus berlarian ke sana-kemari. Yah, sementara ibunya sedang sibuk mempersiapkan makanan yang sudah ia bawa. Sesekali tersenyum melihat suami dan anaknya yang masih asyik bermain kejar-kejaran. Tak lelah pula berteriak memperingatkan anaknya agar tetap berhati-hati saat berlari. Ah... keluarga yang bahagia.


"Bukankah kamu mau mengatakan sesuatu? Katakanlah, lalu aku akan mengantarmu pulang." Adnan membuka percakapan.


"Hhmm..... iya."


"Hhmm... aku... aku... Adnan kamu tahu bagaimana perasaanku padamu, aku..."

__ADS_1


__ADS_2