
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
***
"Kenapa Adnan? Kenapa kau tidak bisa mencintaiku?" Ayu mulai menangis.
Indah yang berada di belakang Adnan tidak tega melihat Ayu yang menangis. Meski Ayu telah sangat menyakitinya.
"Kak Ayu." Indah ingin menenangkan Ayu.
"Diam lo, lo pasti senang kan mendengar Adnan bilang seperti itu ke gue."
"Cukup Ayu, aku sama sekali tidak suka dengan sikap kasar mu ini, kamu terlalu egois dan angkuh."
"Kalau memang kamu tidak menyukai semua itu, aku janji akan berubah Adnan, demi kamu aku janji." Ayu memohon.
"Tidak Ayu, bukan karena itu. Seperti yang ku katakan padamu cinta tidak bisa dipaksakan, dan aku tidak pernah merasakan apapun untukmu. Dan setelah yang terjadi hari ini, aku sangat mensyukuri bahwa aku tidak pernah menyukai perempuan seperti kamu. Tolong maafkan aku jika aku menyakiti perasaanmu."
Ayu terdiam mendengar ucapan Adnan.
Adnan kemudian meraih handphone yang sedari tadi Widia pegang.
"Hei handphone ku, apa yang lo lakuin?" Ucap Widia tidak terima.
Adnan membuka handphone Widia, menghapus video yang tadi ia rekam.
"Ambil handphone mu, aku sudah menghapus video yang kamu ambil tadi. Dan ku peringatan kepada kalian, jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi kepada Indah. Dan yah, aku harap besok kalian bertiga datang ke sekolah karena aku punya kejutan untuk kalian." Ucap Adnan kembali.
"Indah, ayo aku antar pulang." Adnan berbalik ke arah Indah.
Indah mengangguk, menghapus air matanya.
"Adnan kamu tidak bisa meninggalkan aku seperti ini, Adnan!"
Adnan tidak mempedulikan panggilan Ayu, Sementara Indah mulai berjalan di samping Adnan, meninggalkan tempat itu.
"Arrgghhh!!!!!" Ayu berteriak keras.
"Kalian...."
__ADS_1
"Kalian harus cari tahu kenapa Adnan bisa datang ke sini. Aku yakin pasti ada yang memberitahunya."
Dewi dan Widia hanya mengangguk pelan.
"Ayu bagaimana jika Adnan memberitahu guru di sekolah tentang hal ini? Kita pasti akan berada dalam masalah besar." Dewi khawatir.
"Diam lo, itu gak akan terjadi. Gue yang akan urus semuanya." Bentak Ayu.
***
Indah berjalan berdampingan dengan Adnan keluar dari gedung itu, menuju gerbang sekolah.
"Jangan sedih lagi Indah, aku tidak ingin melihatmu menangis." Ucap Adnan saat melihat gadis itu masih terisak, Indah tidak menjawab.
"Jika ada yang melihatmu, mereka pasti akan berpikir aku telah menyakitimu dan membuatmu menangis, iya kan?" Adnan tersenyum ke arah Indah.
"Hhmm..." Indah mengangguk menghapus air matanya.
"Kamu tidak mau kan kalau aku di pukulin orang-orang." Adnan mencoba menghibur Indah.
Indah tersenyum cukup lebar mendengar ucapan Adnan.
Tak lama kemudian mereka sampai di gerbang sekolah. Terlihat motor Adnan terparkir di samping sepeda motor Indah.
Adnan melirik pada jam di tangannya, jam menunjukkan pukul 03:50.
"Ke mana kak? Aku..." Indah ragu.
"Tenang saja Indah, aku tahu kamu pasti masih merasa shock dengan kejadian tadi. Aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat, agar kamu merasa lebih baik. Lagi pula orang tuamu pasti akan merasa sangat khawatir jika melihat putri mereka pulang dalam keadaan mata yang sembab." Adnan tersenyum.
"Iya kak." Indah berkata pelan mengiyakan.
Mereka naik sepeda motor masing-masing, Indah mengikuti Adnan dari belakang. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah Masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Suasana di tempat itu cukup Indah, dengan sebuah Pantai yang ada di depannya. Terlihat banyak orang di sana, sekedar menikmati jajanan atau Indahnya pemandangan Pantai dengan cuaca yang cukup teduh hari ini.
Masjid itu cukup luas, tapi tidak seluas Masjid yang ada di Kompleks Indah. Dengan cat berwarna cokelat muda dan tua membuatnya terlihat sangat Indah. Tempat Wudhu dan pria dan wanita berada di luar, tepatnya di sisi kanan Masjid itu, Dengan sebuah tembok penghalang di antara keduanya.
Indah baru ingat, dia memang belum sholat ashar. Karena sewaktu keluar rumah masih pukul 14 lewat.
"Ayo, pasti kamu belum sholat kan?"
"Iya kak."
Setelah berwudhu Adnan masuk ke dalam Masjid, begitu pun dengan Indah yang masuk beberapa waktu kemudian. Dan melaksanakan sholat di shaf masing-masing.
Indah merasa lebih baik setelah melaksanakan sholat. Walaupun hatinya masih sedikit terasa sedih saat teringat kembali kejadian yang ia alami. Setelah berdoa, Indah membuka mukenah umum yang ada di Masjid itu, karena ia memang tidak membawa mukenah tadi. Indah menggantungnya dengan rapi di sudut Masjid Shad perempuan. Setelah itu melangkah keluar menuju tempat parkir.
__ADS_1
Terlihat Adnan telah ada di sana. Duduk santai di atas sepeda motornya menatap ke arah Pantai yang ada di depan. Laki-laki itu terlihat sangat tampan dengan kaos putih dan jaket hitamnya juga celana jeans hitam yang ia pakai. Kulitnya yang putih tampak bersinar. Indah sempat tertegun menatapnya, hingga ia dikejutkan oleh suara klakson sepeda motor yang ada di dekatnya.
Indah berjalan menuju ke arah Adnan karena sepeda motor mereka terparkir berdampingan. Adnan tersenyum melihat Indah.
"Ayo!" Ucap Adnan berdiri dari tempatnya duduk.
"Ayo ke mana kak?" Indah bingung.
"Bukankah tadi ku katakan ingin mengajakmu ke suatu tempat?"
"Indah kira maksud kak Adnan di Masjid ini."
"Iya kamu benar, tapi masih ada tempat yang lainnya."
"Dimana kak?"
"Di sana."Adnan menunjuk ke depan, ke arah Pantai yang sedang cukup ramai pengunjung.
Walaupun Indah sudah beberapa bulan pindah ke kota ini, Indah belum pernah ke tempat ini. Yah, semua waktunya hanya ia habiskan di rumah, sekolah, dan Masjid di kompleknya.
"Tapi..."
"Sudah, ayo!"
Mereka berjalan ke arah Pantai. Adnan dan Indah meninggalkan sepeda motornya di tempat itu. Yah, mereka tak perlu menggunakan kendaraan, karena jaraknya dan pantai hanya di batasi oleh jalan raya.
Terdapat banyak pedagang kaki lima di sana menjajakan berbagai macam makanan dan minuman.
Adnan dan Indah susun di sebuah tanggul yang ada di sana. Mereka duduk berdampingan dengan jarak sekitar satu meter lebih. Yah, tak ingin terlalu dekat. Terdapat banyak orang yang ada di sekelilingnya mereka, sekedar untuk duduk menikmati pemandangan atau jajanan sore itu. Waktu menunjukkan pukul 16:45.
"Tunggu sebentar yah."
Indah mengangguk pelan, Adnan berjalan menjauh.
Beberapa menit kemudian, Adnan datang dengan membawa 2 ice cream cokelat di tangannya.
"Ini, untukmu!" Ucap Adnan sembari memberikan Ice cream itu.
Indah meraihnya malu-malu.
"Terima kasih kak."
Adnan tersenyum. Ia mulai menikmati ice creamnya.
"Apa yang sudah kakak lakukan hari ini untukku, aku..."
__ADS_1
"Sudahlah Indah, kamu sudah terlalu banyak mengucapkan terima kasih kepadaku. Apa aku ini seorang pengantar paket?" Canda Adnan.
Indah tersenyum lepas memperlihatkan lesung Pipi dan gigi kelincinya.