
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Farid merasa jauh lebih tenang sekarang. Ia masih duduk di sana, di sudut masjid di saf depan. Ia merenungkan semua yang telah terjadi.
“Bertahun-tahun aku mencoba mencari keberadaanmu ayah, aku selalu bertanya mengapa ayah tidak pernah pulang. Meskipun sempat terpikirkan hal ini, bahwa ayah telah menikah dan punya kehidupan baru di kota, tapi aku selalu berusaha untuk menepis semua kemungkinan itu. Namun mengapa? Mengapa semua ini menjadi kenyataan? Apa ayah tidak mencintai ibu lagi? Apa ayah tidak pernah memikirkan diriku?” Farid berbisik menahan tangisnya.
“Mengapa kamu harus pergi di saat aku ingin menanyakan semua hal padamu? Bahkan sekarang aku pun tidak tahu, apa aku harus marah atau malah bersedih untuk apa yang telah terjadi padamu ayah?”
“Ayah… aku menyayangi mereka berdua, aku menyayangi tante Dania seperti ibuku sendiri, aku menyayangi Indah seperti adikku sendiri, dan kenyataannya mereka memang benar-benar keluargaku, apa aku harus membenci mereka karena telah mengambilmu dariku dan ibu? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa? Apa aku harus menerima kenyataan pahit ini ayah? Mengapa kau melakukan ini semua padaku dan ibu, mengapa?” Setetes cairan bening itu akhirnya jatuh melewati pipi pemuda itu, berusaha menahan isakan tangisnya, Farid mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Saat itu tiba-tiba ponselnya kembali berdering, nada pesan masuk terdengar, hatinya yang tergerak akhirnya membuka pesan itu, dari Indah.
Assalamu’alaikum kak, kak Farid di mana? Kenapa kakak tidak mengangkat teleponku? Mama Indah sedang ada di rumah sakit kak, mama terkena serangan jantung tadi. Indah takut sekali kak, Indah sendiri di sini, mama terus mengigau memanggil nama ka Farid. Kalau kakak sudah membaca pesan Indah, cepatlah ke rumah sakit medika Indah menunggu kakak di sini, Indah mohon.
Bunyi pesan Indah, Farid yang terkejut membaca pesan itu langsung berdiri dari duduknya. Tergesa-gesa ia keluar dari Masjid, namun saat akan menyalakan mesin motornya, gerakan pemuda itu kembali terhenti.
“Bagaimana mungkin aku sekhawatir ini pada keluarga yang telah menghancurkan keluargaku sendiri?” Memukul jok motornya.
Farid terdiam, memijit pelipisnya.
Kak Farid di mana? Kenapa kakak tidak mengangkat teleponku. Mama sakit kak, mama terkena serangan jantung. Indah takut sekali kak, Indah sendiri di sini.
Kalimat Indah di pesan itu terus berngiang-ngiang di kepalanya.
“Indah pasti ketakutan sekarang, ayolah Farid turunkan egomu. Bagaimanapun dia tidak bersalah, dia tidak tahu apa-apa. Bagaimanapun dia adalah adikmu, bukankah selama ini kau selalu berharap memiliki adik sepertinya? Tuhan telah menjawab do’a mu, jangan membuatnya kecewa Farid….” Melawan egonya sendiri.
Akhirnya dengan sedikit paksaan, pemuda itu memilih untuk ke rumah sakit. Perasaan benci pada Dania memanglah kuat, namun rasa sayangnya pada Indah mengalahkan hal itu. Dengan kecepatan di atas rata-rata, ia segera menuju ke sana.
…
London, 04 mei 2021 pukul 23:00
Seorang pria masih terlihat sibuk dengan komputer dan beberapa berkas yang ada di meja kerjanya. Ia tampak serius dengan pekerjaannya, sementara seorang lagi tengah berada di sofa yang ada di sana, sedang terlelap dalam tidurnya.
Pria tampan dengan kulit putih dan rahang yang tegas, wajah yang tenang namun memiliki mata yang tajam. Beberapa menit berlalu ia akhirnya menyelesaikan pekerjaannya, mematikan komputer di depannya, menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
__ADS_1
“Daniel!” Panggilnya pada lelaki yang tertidur di sofa.
“Daniel!”
Pemilik nama masih terlelap.
“Ck.” Mendekat.
“Daniel, bangun!” Menggoyangkan tubuh laki-laki itu.
“Oh, sebentar lagi Kareen, aku sangat mengantuk sekarang.” Ocehnya.
Laki-laki yang membangunkan mengangkat satu alisnya.
“Ck, dia mengigau?” Curiga.
“Daniel kalau kamu tidak bangun sekarang, aku akan menguncimu di ruangan ini sampai pagi.” Ancamnya.
“Ah, iya iya siap bos, tuan, Pak, pak… Adnan!” Langsung terbangun dan duduk, memberi hormat.
“Kamu tidak bisa membohongiku, aku tahu kamu mendengarku tadi.” Adnan ikut duduk bersandar di sofa.
“Aku tidak berbohong, aku memang sangat mengantuk, apa pekerjaanmu sudah selesai?” Tanyanya dengan mata memicing.
“Sudah, oh iya kamu sudah memesankan aku tiket untuk pulang ke Indonesia besok kan?” Adnan menatap pria di sebelahnya serius.
“Iya sudah… sudah, kamu tidak perlu khawatir. Apa sekarang aku bisa tidur? Aku sangat mengantuk, bisakah kita tidur di sini saja sekarang?” Kembali menjatuhkan tubuhnya, berbaring di sofa.
“Aku tidak bisa, aku harus segera pulang dan berkemas untuk berangkat besok, kalau kamu mau, kamu saja yang menginap di sini, itu juga kalau kamu berani sendirian.” Mengejek, ia tahu lelaki yang ada di hadapannya itu sangat penakut.
“Eh… enak saja, aku tidak mau sendirian, lagian kenapa sih kamu sangat terburu-buru untuk pulang, kita kan bisa menundanya beberapa hari lagi.” Malas.
“Aku sudah menundanya selama bertahun-tahun, dan sekarang aku tidak bisa menundanya lagi.” Berbicara dengan nada serius.
__ADS_1
Daniel yang mendengar perkataan temannya sekaligus atasannya itu menatap Adnan. Kalau dia sudah mode serius seperti ini, Daniel mana berani membantah, sejak 8 tahun ini mengenal Adnan, ia tahu bagaimana sifat dan sikap pria itu.
Daniel adalah asisten pribadi sekaligus teman masa SMA Adnan, yah… dulu mereka sekelas, namun tidak begitu dekat. Saat memasuki dunia kerja, mereka kembali dipertemukan dengan Daniel yang menjadi asisten pribadinya. Pria itu begitu senang saat tahu bahwa pemimpin perusahaan itu tidak lain adalah Adnan sendiri, pria jenius dan baik hati di kelasnya dulu. Bahkan ia bisa berbicara dengan santai kepada atasannya itu jika mereka hanya tinggal berdua seperti sekarang ini.
“Baiklah… baiklah, kita akan pulang sekarang.” Daniel kembali duduk bersiap-siap untuk pulang.
Adnan mengangguk ia juga ikut beranjak.
“Besok penerbangan kita jam delapan pagi, semua berkas-berkas yang diperlukan sudah aku siapkan, besok aku akan menjemputmu.” Ucapnya sembari memakai kembali jas yang tadi ia buka.
“Baiklah, ayo!”
Mereka pun pulang ke apartemen masing-masing dengan Daniel yang membawa mobil. Yah… sebagai asisten pribadi ia pun merangkap menjadi supir pribadi pria itu juga, hehe.
…
Langkah Farid terhenti saat ia akan masuk ke rumah sakit, ia melihat Indah yang baru saja keluar dari sebuah musholla yang ada di rumah sakit tersebut. Melihat gadis itu, ia dengan cepat menghampiri.
“Indah!” Panggilnya saat beberapa meter lagi mencapai Indah.
Indah yang sedari tadi tertunduk mengangkat pandangannya. Gadis itu tersenyum bahagia melihat Farid di sana.
“Kak Farid…” Indah begitu lega melihat pemuda itu.
“Akhirnya kakak lihat pesan dari Indah juga, kenapa kak Farid lama sekali? Aku takut di sini sendiri kak.”
“Tidak apa-apa, kamu jangan takut, kakak di sini.” Farid spontan memegang tangan Indah.
Indah yang merasa aneh melepaskan tangannya dari Farid, mengapa Farid sekarang malah menyentuhnya, padahal selama ini meski ia menganggapnya adik ia tidak pernah menyentuh Indah, karena bagaimanapun mereka bukan muhrim.
“Kak…”
“Ehmm… maaf ndah, ayo kita ke tante Dania sekarang.” Farid canggung, mengapa dia memegang tangan gadis itu, Indah kan belum tahu kalau mereka bersaudara.
__ADS_1
Indah mengangguk mengiyakan, segera ia bawa pemuda itu menuju ruangan Dania di rawat.