Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Gugup


__ADS_3

"Terima kasih atas kerjasamanya Pak, saya tidak akan mengecewakan Pak Farid." Menjabat tangan Farid.


"Baiklah, saya hanya ingin melihat kinerja anda, saya harap anda tidak mengecewakan saya." Farid berkata datar.


"Tentu Pak Farid, sekali lagi terima kasih."


Farid mengangguk.


Setelah itu...


Farid menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, pria itu tampak begitu lelah, menutup mata untuk beberapa saat.


Tak lama hanya beberapa menit, matanya yang terpejam kembali ia buka saat teringat sesuatu, Indah.


Mengecek ponselnya, lalu melihat pesan dari adiknya, Indah memberitahu kalau ia sudah sampai di rumah, ah, pesan itu di kirim satu jam yang lalu, ia sampai melupakan adiknya itu.


Farid memencet log panggilan pada ponsel tersebut, menekan nama Mas Rinto, supir pribadinya, melakukan panggilan.


"Halo assalamualaikum Pak Farid." Suara di seberang sana menjawab teleponnya.


"Wa'alaikummussalam Pak, bagaimana hari ini, Indah baik-baik saja kan saat mas menjemputnya?" Melakukan hal yang selalu ia lakukan sejak dulu.


"Nona Indah baik-baik saja tuan, hanya saja..."


"Hanya saja?" Farid mengerutkan keningnya.


"Iya tuan, hanya saja tadi kelihatannya nona Indah sangat kesal, dan saya lihat jilbab nona Indah juga kotor." Melaporkan pengamatannya hari ini.


"Kotor bagaimana maksud kamu?" Mulai gelisah.


"Sepertinya kena cokelat atau semacam es krim tuan."


Farid menghembuskan nafas panjang.


"Tuan tidak perlu khawatir, mungkin nona Indah kesal karena jilbabnya kotor saja tuan." Mencoba menenangkan.


"Iya, mungkin benar. Sepulang kerja nanti saya akan tanya sendiri sama dia, terima kasih yah mas."


"Iya tuan, tuan tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tugas saja." Berbicara sungkan.


"Hm." Farid mematikan panggilan.


Meski tampak tegas, cuek dan dingin nyatanya Farid masih seperti yang dulu. Pemuda baik hati, ramah dan menjunjung tinggi sopan santun kepada yang lebih tua darinya, hanya saja terkadang sifatnya itu tertutup oleh ambisinya saat ini dan ketidakpercayaannya pada orang-orang di sekitarnya.


...


"Bagaimana kabar kak David, dia baik-baik saja kan?" Sinta bertanya saat makanan di mulutnya telan tertelan.


"Dia seperti biasanya." Jawab Adit singkat, pria itu tampaknya benar-benar lapar kali ini, bukan hanya modus untuk bisa bersama Sinta, ia tampak lahap sekali.


"Aku mau penjelasan yang spesifik Adit. Setiap aku bertanya kamu selalu menjawab seperti itu, kali ini aku tidak mau menerima jawaban itu." Kesal.


Adit tersenyum senang, ia malah lebih suka melihat wajah ngambekan Sinta, menurutnya itu terlihat sangat menggemaskan.


"Kamu terlihat semakin cantik saat sedang marah Sin." Ucapnya serius.

__ADS_1


Tak seperti biasa, yah.... memang benar Adit selalu menggoda Sinta, mengungkapkan gombalan-gombalan yang menurut Sinta sangat ketinggalan zaman, tapi hal itu selalu ia bersamai dengan candaannya, namun kali ini ucapan pria itu nyatanya begitu menyentuh hatinya, tak seperti biasanya.


Sinta salah tingkah.


"A... Apaan sih kamu." Menggaruk tengkuknya, melihat ke sembarang arah.


Tak jauh berbeda dengan perempuan di depannya, Adit pun salah tingkah begitu menyadari ucapannya sendiri, mengapa ia jadi se-serius itu.


Dengan cepat ia memakan semua makanan di depannya, mulutnya penuh tak berani menatap Sinta sekarang.


2 menit kemudian, semua makanan di depannya tandas tak bersisa, begitu pula Sinta. Suasana di meja itu jadi canggung, tak ada yang berucap sedikitpun, Adit tak berani memulai pembicaraan.


"Aku sudah selesai, sebaiknya kita segera kembali bekerja Adit." Sinta berucap malu-malu.


"Ekhem..." Berdehem.


"Iya.. a... Aku juga harus kembali ke rumah sakit secepatnya." Menatap jam di tangannya.


'Adduhh... Kenapa aku jadi gugup kayak gini sih, oh ayolah Adit gentleman lah sedikit sebagai lelaki.' Malah duduk semakin tegap.


'Ohh Sinta, dia hanya Adit yang sudah bertahun-tahun menjadi temanmu, mengapa kamu grogi sekarang hanya karena ucapan gombalannya, dia juga sudah biasa kan mengucapkan itu.' Memegang jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang.


"Ayoo... Aku antar kamu dulu." Adit beranjak dari duduknya.


"Iya." Mengangguk.


...


Pukul 11:18 Farid baru pulang ke rumah, dari wajahnya saja sudah sangat terlihat kalau pria itu sangat lelah.. Namun masih saja ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja, wajah datarnya menutupi itu.


"Selamat malam tuan." Seorang asisten rumah tangga menyambutnya, mengambil tas kantor yang Farid pegang.


Seorang pelayan lainnya menghampiri, menghidangkan segelas teh hangat dan beberapa cemilan kesukaan Farid.


"Silakan tuan."


"Iya, terima kasih.


"Saya permisi tuan." Menunduk.


"Iya... eh tunggu." Menghentikan.


"Ada apa tuan?"


"Indah sudah tidur?"


"Iya tuan, nona Indah sudah tidur sejak tadi."


"Hhmmm... Baiklah."


Asisten rumah tangga itu mengangguk, pamit untuk pergi.


"Sebaiknya aku bicara padanya besok pagi saja." Farid berucap pelan.


...

__ADS_1


"Permisi non, ada yang mencari non di luar." Seorang asisten rumah tangga yang sudah berumur paruh baya menghampiri Humairah yang asyik duduk di taman belakang, sibuk dengan ponselnya.


"Siapa bi?" Tanpa menoleh.


"Coba tebak non, saya yakin non Humairah pasti sangat senang kalau tahu siapa yang datang." Berkata antusias.


Lamanya ia bekerja di rumah tersebut, membuat kedekatan dengan majikannya itu, sehingga ia tak sungkan lagi namun tetap dengan batas kewajaran.


"Siapa? Dewi?" Teman sekelasnya.


"Bukan non, ayo tebak lagi."


"Siapa sih bi? Bintang?"


"Bukan non."


"Terus siapa dong?" Cemberut.


"Kamu yakin tidak bisa menebaknya Humairah?" Suara seseorang berhasil membuat gadis itu terkesiap.


Adnan muncul dari balik pintu, dengan senyum khasnya.


"Kak Adnan!" Terkejut.


Dengan sigap Humairah berlari ke pelukan kakaknya itu, rindu, sungguh ia sangat merindukannya.


"Kak Adnan, ini beneran kakak kan?" Kembali melihat wajah Adnan, memastikan.


"Kamu kira wajah kakakmu yang tampan ini pasaran?" Menyentil dahi Humairah.


"Hehe siapa tahu aja kan." Tertawa.


"Aku sangat merindukan kak Adnan, kenapa lama sekali sih di sana? (London), betah banget yah sampai gak ingat pulang?" Menyindir, menyilangkan kedua tangannya di dada.


Sementara bibi asisten rumah tangga itu sudah berlalu dari sana sejak tadi, tak ingin mengganggu pertemuan kakak beradik setelah bertahun-tahun itu.


"Bukan seperti itu dek, banyak pekerjaan yang harus kakak selesaikan." Membelai rambut adiknya penuh kasih sayang.


"Oh, jadi pekerjaan lebih penting dari pada aku dan mama, begitu?" Agak kesal.


Adnan tersenyum, Humairah ini, merajuknya masih sama seperti dulu.


"Maafkan kakak yah, yang penting sekarang kakak kan sudah pulang, hm..." Menaikkan alisnya.


"Ck." Luluh juga, ia kembali memeluk Adnan.


Adnan membalas pelukan adiknya.


"Mama mana? Ada di rumah kan?"


"Iya kak, mama ada di kamar. Ayo kita kejutkan mama, mama pasti sangat bahagia lihat kak Adnan, beberapa hari ini mama memang sedang sangat merindukan kakak, dia selalu membicarakan semua hal tentang kakak, makanan kesukaan kakak lah, tempat favorit kakak lah, hal yang kak Adnan tidak suka lah, pokoknya banyak deh, mungkin saking rindunya mama kak. Kadang mama bercerita sama bibi, kadang juga sama pak satpam di depan, atau sama aku." Humairah menjelaskan sembari mereka berdua beriringan menuju kamar Bu Ratih.


Adnan menghembuskan nafas berat, nampak penyesalan di raut wajahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Assalamualaikum, terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir. Jangan lupa like dan komen yah supaya aku makin semangat lagi up nya. 😊😊❤️


Sehat selalu teman-teman 😊


__ADS_2