
“Dasar goblok!!”
Bugh bugh bugh
Para penjaga yang menerima kemarahan Tonson itu hanya bisa mengerang kesakitan.
“Cari perempuan lemah seperti itu saja kalian tidak bisa! Apa gunanya saya membayar kalian, hah!” Tonson berteriak marah.
“Maafkan kami Tuan, tapi kami sudah menyisir seluruh daerah ini, tapi perempuan itu tidak ada.” Pemimpin penjaga itu angkat bicara.
“Bagaimana mungin dia bisa tidak ada, memangnya dia bisa terbang dan sampai ke kota dalam satu malam? Kalian saja yang tidak becus mencarinya, masih saja membantah.”
“Maafkan kami Tuan.”
“Memangnya dengan maaf kalian bisa membebaskan kita semua dari hukuman Tuan Jayadi?”
Tonson tampak sangat gusar, melirik jam di pergelangan tangannya.
“Waktu kita hanya tinggal 2 jam lagi, cepat kalian cari kembali wanita sialan itu!”
“Cepat!”
“B… baik Tuan.”
Para penjaga yang berjumlah lebih dari 10 orang itu pun kembali menyebar untuk mencari keberadaan Dania.
...***...
Drrtt… drttt…
Nada dering dan getaran sebuah ponsel terdengar, Jayadi yang sedang berada di halaman belakang Villa itu tampak terkejut.
Ia sedari tadi sedang duduk dan menunggu kabar dari Tonson dan anak buahnya itu, takut-takut melihat nama yang tertera di ponsel.
Kalau itu dari Tonson yang ingin memberikan kabar baik maka itu akan menenangkannya, tapi sedari tadi ia juga sedang gusar, kalau-kalau Kuncoro menelfon dirinya dan menanyakan perihal Dania.
Namun saat melihat layar ponsel, apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.
Matanya membulat seiring dengan degup jantungnya yang sudah tidak beraturan.
Ragu-ragu, akhirnya ia mengangkat telepon tersebut.
“Ha… halo kuncoro.”
“Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku?” Marah suara di seberang sana.
“Maaf… a… ada yang sedang aku kerjakan tadi.”
“Ck, sudah lah, terserah apa yang kau lakukan. Aku menelpon mu hanya untuk memastikan kalau pekerjaanmu sudah selesai.”
Jayadi menelan Saliva-nya mendengar hal itu.
“Bagaimana? Apa kamu sudah menyingkirkan perempuan itu?”
Tak ada jawaban….
__ADS_1
“Halo! Mengapa kau tidak menjawab ku?”
“Ah… i… itu, sebenarnya ada sedikit masalah Kun.”
“Masalah? Jangan bilang kalau kamu belum melakukan apa yang aku perintahkan Jayadi?!”Geramnya.
“I… iya, sebelumnya… Sebelumnya aku sudah akan membunuhnya malam itu, ta… tapi ku pikir, aku harus memberikannya siksaan terlebih dahulu, ta… tapi sekarang Dania berhasil kabur.”
“Apa!” Teriak Kuncoro.
“Dasar gobl*k!”
“Apa saja yang kau lakukan? Melakukan hal mudah seperti itu saja kamu masih gagal, apa kau terlalu menikmati malam bersama perempuan itu sehingga melupakan tugasmu, hah!”
“Ti… tidak, bukan seperti itu Kuncoro. Aku sudah….”
“Alah… sudahlah, aku tidak mau mendengar alasan apapun. Pokoknya cari wanita itu sampai dapat, jika tidak kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan terhadap perusahaanmu itu.” Ancam Kuncoro.
“Iya… baik… baik, aku pastikan aku akan menemukannya.”
“Aku tidak perlu janji kau. Hari ini aku mau menerima kabar kalau perempuan itu sudah mati, kau mengerti!”
“Baiklah, aku….”
Tut… tut… tut…
Telepon terputus.
“Arrgghh… sialan!” Teriak Jayadi.
“Yah… aku tahu.”
Dengan senyum liciknya, ia kembali menghubungi seseorang.
“Halo, ada yang harus kalian lakukan.” Ucapnya kepada seseorang di seberang telepon.
...***...
Pukul 10 pagi, Adnan dan David, telah berada di rumah Indah. Kembali mendiskusikan, untuk mencari jalan keluar menemukan Dania.
“Gimana Nan, kamu sudah bicara sama papa kamu?” Tanya David yang duduk di sebelah sahabatnya itu, sementara Sinta dan Indah duduk di seberang mereka.
“Aku sudah menanyakannya, papa bilang akan mencobanya.” Jawab Adnan merasa sedikit bersalah melihat raut wajah Indah yang tampak sedih mendengar ucapannya itu.
“kalau gitu sekarang kamu coba telepon papa kamu, barangkali dia sudah mendapatkan informasi tentang Tante Dania.” Usul David kembali.
Adnan cengo, rasanya ganjil sekali jika ia menghubungi papanya itu, mengingat hubungan mereka yang selama ini tidak begitu baik.
“Ayo cepat.” Desak David.
“I… iya.”
Dengan sedikit terpaksa, Adnan akhirnya menelpon juga ayahnya itu.
Tak lama, panggilannya terjawab.
__ADS_1
“Halo, Pa.” Adnan menyapa.
Indah dan Sinta serius mendengarkan.
“Ada apa? Tumben sekali kamu menelpon papa Adnan, apa kamu ingin menanyakan tentang masalah ibu teman spesial mu itu?”Ada sedikit kalimat singgungan di dalamnya.
“Apa papa sudah mendapatkan informasi di mana tante Dania?” Adnan tidak menanggapi.
“Heh, kamu sungguh keras kepala. Ingat pesan papa Adnan, kamu boleh menjalin hubungan dengan siapapun itu, tapi kamu hanya akan menikah dengan Celine karena papa dan ayah Celine sudah mengatur perjodohan kalian sejak lama.”
“Aku tidak ingin membahas hal itu Pa.” Nada Adnan meninggi.
Indah, Sinta dan David yang mendengar itu merasa heran. Adnan yang selalu tenang tampak berbeda kali ini.
“Baiklah, papa mengalah.”
“Tapi, maaf papa tidak mendapatkan informasi apapun tentang ibu temanmu itu. Papa sudah mengecek ke sana, pimpinan mereka bilang, tidak ada perjalanan bisnis yang mereka lakukan selama satu bulan ini, apa temanmu itu tidak salah?”
Tampak kekecewaan di wajah Adnan, bagaimana mungkin ayahnya itu tidak mendapatkan informasi apapun? Sementara, ayahnya sangat terkenal dan di segani oleh banyak perusahaan-perusahaan di kota tersebut.
“Kalau papa memang tidak ingin membantuku, seharusnya….” Nada Adnan kembali meninggi, namun ia tersadar sedang berada di mana saat ini.
Cowok itu menghembuskan nafas kasar.
“Sudahlah, aku tutup dulu.”
Adnan menutup teleponnya.
Indah begitu heran melihat sikap Adnan hari ini.
'Apa hubungan kak Adnan dan ayahnya tidak baik? Lalu aku malah merepotkannya.’ Batin Indah merasa bersalah.
“Kak Adnan tidak apa-apa?” Tanya Indah hati-hati.
Adnan melihat gadis itu, merasa begitu bersalah karena tidak bisa mendapat informasi apapun tentang ibunya. Sementara ia yakin Indah pasti sangat mengharapkan dirinya.
“Aku tidak apa-apa ndah, aku minta maaf, papaku tidak bisa membantu kita. Ia hanya bilang kalau di tempat tante bekerja, tidak ada karyawan yang melakukan perjalan bisnis keluar kota sejak sebulan ini.”
“Apa? Bagaimana mungkin kak? Tapi mama dan tante Sarah bilang…”
“Ini sangat mencurigakan.” Potong Sinta.
“Iya kamu benar Sin.” David membenarkan.
“Mengapa mereka mengatakan hal itu, lalu ke mana Tante Dania dan….”
“Tante Sarah.” Lanjut Indah.
“Kita harus memastikannya sendiri Vid. Kita harus ke perusahaan itu” Usul Adnan.
“Iya kamu benar.”
Sinta mengangguk, sementara Indah semakin khawatir saja.
‘Ma… mama ke mana?’ Batin Indah sedih.
__ADS_1