Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Sebuah Kesempatan


__ADS_3

“Dasar bodoh!”


Bugh bugh bugh


Tonson mendapat beberapa kali tinjuan di perutnya. Ia hanya diam meringis memegangi perutnya yang kini begitu sakit dan keram.


“Jaga perempuan lemah saja kamu dan anak buahmu tidak bisa, apa yang kalian lakukan? Tidur!” Jayadi berteriak marah. Begitu ia mendapat kabar kalau Dania berhasil kabur dari villa tersebut, ia segera menuju tempat itu kembali.


“Maafkan aku Jayadi, aku dan anak buahku memang lalai, aku berjanji akan segera menemukan perempuan itu, ia pasti tidak akan bisa pergi jauh dari tempat ini, dia tidak mengenal daerah ini.”


“Yah… memang harus kau lakukan.” Jayadi mencengkram rahang Tonson, anak buah Tonson yang ada di sana hanya bisa menunduk.


“Kalau kalian tidak berhasil, kau akan tahu sendiri akibatnya. Berdo'alah semoga kalian menemukan perempuan itu sebelum Kuncoro mengetahui hal ini.”


Tonson mengangguk samar, takut-takut.


Jayadi menghempaskan cengkeramannya, ia tampak sangat marah sekaligus terlihat kekhawatiran di matanya.


“Aku beri kalian waktu sampai besok siang, kalau kalian tidak menemukan Dania, heh… lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian.” Ucapnya lalu berlalu dari sana.


“Apa yang kalian tunggu? Sebar semua penjaga dan cari perempuan sialan itu, uhuk… uhuk…” Ucapnya marah, masih memegangi perutnya.


“Cari di seluruh hutan tempat kalian terakhir melihatnya, kampung, dan rumah-rumah penduduk, aku tidak mau tahu, kalian harus menemukannya.”


“Kalian mengerti.” Teriaknya.


“B… baik Tuan.” Ucap para penjaga bersamaan, mereka dengan cepat berlalu dari tempat tersebut, melaksanakan perintah tuannya.


...***...


Krek


Suara gagang pintu terdengar berputar, Sarah yang telah sadar dari pingsannya itu segera mundur, terduduk di sudut kamar tersebut memegangi lututnya.


Tubuhnya bergetar ketakutan, ia takut menerima siksaan kembali. Takut-takut ia melihat siapa yang masuk.


Jayadi masuk dengan santai ke kamar tersebut, namun terlihat kilatan amarah di matanya.


“Oh… kau sudah bangun wanita jal*ng.” Ucapnya.


Sarah masih terdiam, tadi Jayadi memang sempat masuk ke kamar tersebut berniat untuk memberi pelajaran pada Sarah, namun mendapati Sarah yang pingsan di lantai. Ia mengurungkan niatnya lalu menemui Tonson.


Jayadi mendekat… sementara Sarah semakin memeluk erat lututnya.

__ADS_1


‘Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Aku takut….’ Ucap Sarah dalam hati.


Jayadi berjongkok di depan Sarah, mensejajarkan tubuhnya dengan perempuan tersebut. Menatapnya intens.


Jayadi membelai rambut Sarah hingga sampai pada bagian belakang ia dengan kasar menjambaknya.


“Arrgghh…” Meringis.


“Ampun… tolong lepaskan Jayadi, sakit….” Lirih keluh Sarah.


“Apa? Apa kau bilang Jayadi? Berani sekali kau menyebut namaku tanpa kata Pak, kau tidak pantas.”


“Kau hanya wanita kotor yang hina yang akan selalu berada di bawah kakiku, heh…” Jayadi menghempaskan cengkeramannya.


“Tolong jangan sakiti aku lagi, aku tidak pernah punya salah sama kalian, mengapa kalian melakukan ini padaku?” Isak Sarah.


“Apa kau juga akan mengatakan hal yang sama, sementara kau telah membuat Dania kabur dari villa ini, iya!!” Bentak Jayadi.


Sarah terdiam.


“Berani sekali kau melakukan hal itu, Hah!! Jayadi membanting sebuah pot bunga berukuran sedang di dekat Sarah.


“Aaarrgg…” Teriak Sarah, wanita itu terkejut belum lagi beberapa serpihan vas bunga itu mengenai kaki dan tangannya.


“Kamu sudah menghancurkan rencanaku wanita sial*n, kemari kau.” Jayadi menyeret tubuh Sarah dan menghempaskannya ke tempat tidur.


“Kau wanita lancang, jika Dania tidak di temukan, maka kau akan tetap berada di tempat ini untuk selamanya. Setidaknya kecantikan dan tubuh sexy mu itulah yang menyelamatkanmu hari ini, kalau tidak aku sudah lebih dulu membunuhmu.”


“Bunuh aku! Bunuh aku saja! Aku tidak sudi berada di tempat ini, aku tidak sudi melihat wajahmu yang menjijikkan itu, cuih.”


Plak


Jayadi mencengkram dagu Sarah.


“Jangan sampai kau semakin membuatku memudarkan kecantikanmu dengan terus membantah ucapanku wanita murahan. Jadilah penurut, karena mulai sekarang kau akan ku jadikan rumah kedua untukku.”


“Aku tidak akan pernah sudi menjadi istrimu.” Kilatan amarah nampak di mata perempuan yang penuh luka itu.


“Hahahhh… istri? Oh ayolah apa aku mengatakan kamu akan menjadi istriku?” Menghempaskan dagu Sarah.


“Kau hanya akan menjadi penghiburku saja. Karena aku tidak ingin menjadikan wanita jal*ng sepertimu menjadi istriku. Jadi mulai hari ini belajarlah, dan biasakanlah dirimu untuk melayaniku. Hahhhh….” Tawa Jayadi menggema ke seluruh kamar, ia lalu meninggalkan ruangan tersebut, membanting pintunya dengan keras.


“Hiks… hiks… aku tidak mau… aku tidak mau…” Sarah menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


“kau tahu nona Sarah sebenarnya kami hanya membutuhkan Dania, tapi kesalahanmu adalah karena kamu terlalu **** dan... cantik”


Ucapan Jayadi kembali terngiang di telinga Sarah.


“sexy dan cantik… sexy dan cantik…”


“Tidak!! Tidak!! Hentikan! Hentikan semua ini!” Sarah menjambak rambutnya sendiri.


Perlahan ia melangkah menuju meja rias, goresan darah mengikuti langkahnya.


Ia berdiri di sana, menatap wajah dan tubuhnya…


Ia baru menyadari satu hal. Satu hal yang selalu Dania ingatkan padanya, tapi dia sama sekali tidak pernah mau mendengarkan ucapan sahabatnya itu.


...


Di kafe


“Sarah sebaiknya kamu memakai pakaian yang agak tertutup, pasti akan sangat cantik.” Dania mengingatkan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Sarah.


“Apa aku tidak terlihat cantik dengan pakaianku ini Dania?” Sarah memperhatikan pakaiannya yang cukup terbuka di bagian bahu dan dadanya.


“Tidak tidak, bukan seperti itu. Kamu cantik kok, tapi akan terlihat lebih cantik lagi jika memakai pakaian yang lebih tertutup, lagi pula itu akan menjagamu dari pandangan laki-laki hidung belang."


Sarah mengedarkan pandangannya, beberapa lelaki memang kini sedang memperhatikan dirinya. Di tatap seperti itu, Sarah malah merasa sangat bangga.


“Ohh mereka." Berkata santai melihat laki-laki yang menatapnya.


" Tidak apa-apa lah, aku kan cantik jadi wajar kalau mereka terpesona.”


Dania tersenyum mendengarnya.


“Iya sahabatku yang cantik, tapi ingat yah… pakaian itu punya peran yang besar dalam hidup kita, aku cuma tidak mau laki-laki jahat memandang mu dengan pandangan yang …. kau tahu kan.” Dania menasehati.


“Iya iya... huusstt…. Jangan ceramah dulu yah… aku udah laper nih, kita makan dulu, oke.”


Dania menggelengkan kepalanya, tersenyum pada Sarah.


...


“Andai aku mendengarkan nasehat kamu hari itu Dania, aku pasti tidak akan diperlakukan seperti ini, mereka tidak akan menganggap ku... wanita murahan, hiks… hiks….” Isak Sarah.


“Tapi… semuanya sudah terlambat, aku…sekarang aku hanya perempuan kotor, aku… aku menjijikkan.” Sarah berteriak.

__ADS_1


Sarah kembali terduduk di lantai, mengingat nasibnya yang malang.


“Ya Allah bisakah engkau memberiku kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi? Seperti Dania, aku ingin memakai pakaian sepertinya, tertutup namun tampak cantik.” Lirih Sarah kembali menangis memeluk lututnya.


__ADS_2