Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Risih


__ADS_3

Gadis itu bernama Celine Andriwinata, ia adalah anak dari sahabat lama sekaligus rekan bisnis ayah Adnan. Sebelumnya Celine memang sering bertemu dengan Adnan, walau pria itu sering kali bersikap dingin padanya.


Sejujurnya Adnan sangat risih berada didekat gadis itu, tapi karena ingin menghormati keinginan ayahnya yang merasa tak enak pada ayah Celine akhirnya Adnan mengikuti perintah Ayahnya. Seringkali ia harus mengantar Celine untuk sekedar berbelanja ke mall, atau menunggunya di salon, tak jarang pula ia harus menemani Gadis itu untuk sekedar makan di restoran. Beberapa kali juga ia sempat menghindar dengan mengatakan harus ke rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok.


3 tahun ini Adnan merasa tenang karena gadis itu tidak lagi menempel terus padanya. Celine harus mengikuti ayahnya yang harus menyelesaikan proyek perusahannya di Amerika, sehingga ia pun dengan berat hati harus tinggal dan bersekolah di sana. Namun kedatangannya hari ini semakin membuat Adnan resah. Entah apa yang harus ia lakukan lagi untuk menghindari Celine nanti.


"Tolong jangan seperti ini, kita bukan muhrim. Lepaskan aku Celine!" Dengan sedikit membentak Adnan akhirnya berhasil melepaskan dirinya dari pelukan Celine.


"Ok... ok... jangan marah gitu dong. Masa baru ketemu udah marah-marah aja sih, ya udah ayo kita ke rumahmu!" Ajaknya kembali memegang tangan Adnan.


Namun Adnan segera melepaskan tangannya yang digenggam.


Ia malah menatap Indah, Indah tampak sekali terlihat begitu sedih. Ia bisa melihat bulir bening di mata gadis itu.


Celine yang melihat tatapan Adnan yang tak beralih dari Indah memicingkan matanya, menatap Indah dengan pandangan tak suka.


"Ck, ini siapa?" Tanyanya sinis sambil berdecak.


Indah hanya menunduk, tak mampu berucap.


"Eh Celine... kamu kapan datang ke Indonesia?" Bu Ratih yang melihat raut ketegangan dari ketiga anak muda itu berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Baru aja sampai tadi sore Tante. Aku kangen banget sama Adnan dan semuanya, jadi langsung ke sini." Ucapnya sembari memeluk Bu Ratih, namun pandangannya masih tertuju pada Indah, dengan nada mengejek ingin memperlihatkan posisinya di keluarga Adnan.


Perlahan Indah melangkah mundur, ia harus segera pergi dari sana sebelum ia sendiri tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Tatapan kesedihan saling bertemu sejenak, raut wajah Adnan tampak memelas dan ingin mengungkapkan sesuatu, tapi ia sadar ia tak bisa melakukannya sekarang.


Beberapa detik kemudian Indah membalikkan badannya, tak ingin melihat semua itu lagi.


"Ayo Ma, kita pulang!" Ucapnya datar.


Bu Dania yang menangkap raut sedih dari wajah putrinya segera mengiyakan.


"Bu Ratih, nak Adnan kami pulang dulu yah." Pamit Bu Dania.


"Eh, Hhmmm.... baik Bu." Bu Ratih pun merasa tidak enak hati dengan suasana ini.

__ADS_1


"Ayo Adnan, Tan, kita naik mobil aku aja." Ajak Celine.


Celine dan Bu Ratih lantas masuk ke dalam mobil. Sementara Adnan masih belum bergeming dari tempatnya, ia masih saja melihat Indah berjalan menjauh, sampai hilang dari pandangannya.


"Adnan, ayo!" Teriak Celine yang sudah ada di dalam mobil.


Dengan berat hati Adnan meninggalkan tempat itu. Dengan perasaan yang bercampur aduk, takut bila wanita yang ia cintai salah paham atas kejadian tadi.


...***...


"Kamu tidak apa-apa Indah?" Tanya sang ibu tiba-tiba saat mereka baru saja sampai di rumah.


Bu Dania segera mengunci pintu dan berjalan di belakang anaknya.


"Ma, Indah langsung ke kamar saja yah, sudah ngantuk." Ucap Indah mengalihkan pembicaraan.


Bu Dania mengerti perasaan putrinya, tak ingin ikut campur terlalu dalam.


Sebagai seorang ibu Dania bisa merasakan bila putrinya itu menyimpan rasa pada Adnan. Begitu pun dengan Adnan, ia tahu bila Adnan Lah yang telah menyelamatkan Indah sewaktu dijebak di sekolah oleh Ayu dan teman-temannya, ia bisa melihat bagaimana Adnan dulu melindungi Indah saat Ayu juga akan memukulnya di ruang BK, bagaimana dia menatap Indah.


Indah menjawab dengan anggukan, lalu menyunggingkan senyum terpaksa.


Tepat saat ia masuk dan memutar kunci kamar, air mata yang sedari tadi berusaha ia bendung akhirnya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.


Tak dapat dipungkiri bahwa perasaannya kini begitu hancur melihat kedekatan antara Adnan dan gadis bernama Celine itu. Bahkan terlihat lebih dekat dibandingkan dengan pertama kali ia melihat Ayu dan Adnan.


Perasaan sedih, kesal, hancur, dan marah. Ia menyalahkan perasannya sendiri yang begitu tidak terima bila Adnan bersama dengan gadis lain sementara dirinya juga bukanlah siapa-siapa di mata pria itu. Batinnya menduga.


"Bodoh... bodoh... bodoh, kenapa denganmu Indah? Mau dekat dengan siapa saja itu urusan dia, kenapa kamu yang marah. Kenapa kamu merasa sedih? Toh dia bukan siapa-siapa mu kan?!" Indah beberapa kali memukul kepalanya sendiri, meruntuki kebodohannya.


Ingin sekali rasanya Indah menghentikan air matanya , tapi apa mau dikata, tahu akan hati yang hancur, air mata sebagai simbol dari itu.


Di tempat lain...


"Wah... Celine kangen banget sama suasana rumah ini Tan." Ucap Celine sambil duduk di ruang tamu.


Rumah Adnan cukup besar, bahkan bisa dikategorikan mewah. Dengan dinding yang berwarna cream white yang memberikan kesan lembut pada ruangan tersebut. Sofa minimalis yang nyaman, lampu-lampu hias yang berjejer di atas meja di sudut ruangan yang juga minimalis, serta beberapa furniture elegan yang semakin menambah kesan mewah di rumah itu.

__ADS_1


"Kamu kok tidak ngabarin Tante sih kalau sudah pulang ke sini?" Tanya Bu Ratih kemudian juga duduk di sofa.


"Kan mau buat kejutan Tan." Celine tersenyum simpul, diikuti dengan Bu Ratih yang juga membalasnya dengan senyuman.


" Kalau gitu Tante masuk dulu yah, mau panggil Adnan."


"Iya, Tan."


Bu Dania melangkah masuk menuju kamar putranya itu.


Pikiran Adnan yang begitu kusut langsung membuatnya masuk ke kamar dengan cepat saat mereka telah sampai di rumah.


Celine yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Adnan terhadap dirinya tak mengambil hati melihat pria itu.


Sementara Bu Ratih menjadi tidak enak. Sedang ada tamu tapi anaknya itu malah nyelonong masuk ke kamar. Apalagi Celine datang pastilah hanya ingin bertemu dengan Adnan.


Di kamar Adnan.


"Adnan... kamu kok ninggalin Celine gitu aja sih nak? Dia kan ke sini untuk ketemu sama kamu." Tanya Bu Ratih yang duduk di tepi tempat tidur putranya.


Adnan yang sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur itu memilih untuk diam.


"Adnan! Kamu nih, ditanya bukannya jawab malah diam saja." Bu Ratih memukul pelan lengan Adnan.


"Huufftt..." Adnan membuang nafas kasar.


"Mama kan tahu aku malas banget ketemu sama dia, aku tidak suka dan sangat risih di dekatnya." Ucapnya sambil menatap ke arah plafon kamarnya.


"Iya mama tahu, tapi dia kan tamu kita juga nak. Dan dia ke sini khusus ketemu sama kamu. Kamu jangan gitu, setidaknya sambut dia sebagai tuan rumah yang baik. Lagian papa kamu bisa marah kalau kamu bersikap seperti itu sama anak sahabatnya, sekaligus rekan kerja papa. Kamu tahu kan keluarga kita sudah berhutang Budi sama ayahnya Celine."


"Huufftt...." Adnan kembali menghembuskan nafas kasar.


"Hanya karena itu bukan berarti aku harus dekat kan sama anaknya Ma?" Tanya Adnan menatap pada Bu Ratih.


" Iya, mama tahu nak, kali ini lakukan demi mama yah. Dia sudah ada di sini, tidak enak jika harus mengabaikannya, kamu keluar yah sayang." Ucap Bu Ratih memberi pengertian.


"Ya udah, aku ke depan dulu." Adnan melangkah dengan malas menuju ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2