
Akhirnya, tugas sekolahnya telah selesai Indah kerjakan setelah 2 jam matanya terus saja menatap buku catatannya itu.
“Hufftt… akhirnya selesai juga, capek banget.” Indah merenggangkan otot-ototnya, merapikan buku-bukunya kembali ke dalam tas, Indah naik ke tempat tidur dan duduk di samping Sinta yang sedang tadi terus saja melihat ponselnya yang ia pegang.
Indah semakin dekat ke arah Sinta, melirik ponsel sahabatnya itu.
“Sinta!” Teriak Indah sembari memukul lengan Indah dengan cukup keras.
“Astaga naga kaget aku, Indah kamu apa-apaan sih.” Sinta yang begitu terkejut menatap tajam ke arah gadis yang kini nyengir itu.
“Kalau jantung aku copot gimana, mau tanggung jawab?” Marah Sinta.
“Ist, gitu aja marah aku kan Cuma bercanda. Lagian yah, kalau orang kaget itu bilangnya astagfirullah, bukan astaga naga.”
‘Sempat-sempatnya nasehatin aku, padahal dia udah yang buat aku kaget begini.’ Batin Sinta kesal.
“Kamu ini kenapa gak ada kerjaan yah? Pake ngaget-ngagetin aku segala.”
“Emang aku gak ada kerjaan, kan tugas aku udah selesai sekarang tinggal bobo cantik ala-ala putri salju.”
“Oh iya, kalau gitu tunggu aku dulu, aku mau ambilin apel beracun buat kamu. Supaya kamu bisa tidur selamanya.” Sinta melirik Indah dengan kesal, gadis itu bikin emosinya naik aja deh.
“Ist… gini nih kalau orang yang tidak pernah tahu kisah cinta yang romantis. Putri salju atau putri tidur itu gak tidur selamanya, kan ada pangeran yang mematahkan sihir jahat si penyihir. Gitu aja gak tahu, anak SD aja udah hapal dongeng itu.” Indah menyebikkan bibirnya, lalu mensedekapkan kedua tangannya di dada. Gadis itu mengambil posisi yang nyaman dengan bersandar di headboard tempat tidur.
“Gak ada pangeran-pangerangan, itu cuma ada di dalam buku dongeng. Lagian gak penting banget sih pembahasannya.”
“Mungkin kisah seperti itu tidak ada, tapi setiap perempuan kan pasti punya seseorang yang ia anggap pangerannya Sin.” Indah tampak tersenyum-senyum sendiri.
Sinta menatap Indah yang tiba-tiba seperti cewek yang centil.
Centil? Hei centil apanya? Dia kan hanya membayangkan seperti apa pangeran yang akan hidup dengannya nanti.
“Kecentilan? Kecentilan sama siapa? Di sini saja gak ada laki-laki.” Tanya Indah datar.
“Padahal tadi aku baru saja ingin membayangkan kamu menjadi kurcaci-kurcaci yang selalu menemaniku yang sedang berkhayal jadi putri salju.”
Sinta membulatkan matanya.
__ADS_1
“What? Kurcaci?” Teriak Sinta.
“Iya, kamu pasti akan terlihat sangat lucu menjadi salah satu dari mereka.” Indah tersenyum dengan lebar, memperlihatkan wajah tak bersalahnya itu.
Pletak
“Augghh…. Sakit Sin.” Indah mengadu memegangi kepalanya yang baru saja di jitak oleh gadis tak anggun di sebelahnya.
“Rasain, enak aja aku berperan jadi kurcaci kamu.” Sinta Sewot.
Saking emosinya, ia mulai menggulung rambutnya dan mengikatnya. Huufftt… mendadak suhu ruangan di kamarnya itu semakin panas dengan ocehan-ocehan tidak penting Indah.
“Kalau kamu gak mau jadi kurcaci, berarti kamu jadi penyihir dong yah. Kan tadi kamu bilang mau ambilin aku apel beracun. Tapi jangan yang beracun beneran yah Sin, aku takut.” Indah bergidik.
“Ck, semakin ngaco nih anak yah.”
“Atau jangan-jangan kamu mau jadi pangerannya yah?” Suara Indah mendadak meninggi, Sinta sekali lagi terkejut.
‘Astaga naga, eh astagfirullah.. niah anak bikin aku jantungan aja deh.’ Batin Sinta.
“Iya aku yang akan jadi pangeran kamu.” Okelah demi membuat Indah segera menutup mulutnya, ia akan mengalah.
“Hah!” Indah tampak shock, menutup mulutnya menatap Sinta dengan dramatis.
“Jangan-jangan… kamu…” Indah mengarahkan telunjuknya pada Sinta.
Bugh
Belum selesai gadis itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah bantal sudah mendarat di wajahnya.
“Jangan asal menuduh dan berpikiran macam-macam yah. Aku ini cewek normal yang suka sama cowok.” Sinta tampak emosi dengan wajah memerah.
Indah menyipitkan matanya, melihat Sinta dengan penuh selidik.
“Beneran….?” Ucapnya lirih.
“INDAH!!!” suara teriakan Sinta pun menggema di lantai dua.
Indah yang sedari tadi hanya berpura-pura karena ingin menjahili Sinta itu tersenyum puas. Awalnya ia memang ingin membayangkan dirinya menjadi seorang putri, dan begitu melihat wajah Sinta yang sejak sore tadi selalu murung ia pun berniat untuk menghibur gadis itu. Entah apa sebabnya Sinta mendadak jadi gadis yang pendiam sejak pulang sekolah tadi, sampai sore pun wajahnya yang tampak selalu sendu. Indah dengan cepat membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi sampai kepalanya.
__ADS_1
‘Ngeri juga lihat dia marah, hahhh….’ Batin Indah tertawa.
Sementara Indah sedang bersembunyi di bawa bantal, Sinta sedang mengatur nafasnya untuk meredakan amarahnya yang sempat naik ke ubun-ubun karena gadis yang kini dengan bodohnya mencoba menghindarinya dengan bersembunyi di balik selimut.
Entah apa yang Indah pikirkan, dia kira dia bisa menghindari Sinta begitu, sekali Sinta menarik selimut itu, maka gadis jahil ini pasti sudah memegangi telinganya sekarang karena sakit. Namun demi tidak menimbulkan keributan lagi ia pun mengalah, lagi….. hadeeehhh….
Sinta membereskan buku-buku yang berserakan di tempat tidurnya. Setelah itu, ia kemudian ikut membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Ia menatap langit-langit kamarnya, bayangan seseorang tiba-tiba kembali terlintas di benaknya.
Adit.
Flashback
Setelah perutnya penuh, Sinta keluar dari kantin, ia harus cepat kembali karena waktu istirahat akan segera berakhir, sementara Indah belum makan. Saat akan berbelok ke koridor kelas IX Sinta tanpa sengaja melihat Adit yang sedang mengobrol dan duduk berdua di taman sekolah bersama seorang siswi yang ia tahu sebagai adik kelasnya, mereka tampak sangat akrab. Adit terus tertawa saat bersama dengan gadis tersebut. Bahkan Adit tak segan untuk menyuapkan sepotong roti pada gadis itu lalu mengelus puncak kepalanya.
Ada yang patah tapi bukan ranting. Eh……
Sinta dengan kesal kembali berjalan menuju kelas, hampir saja ia melempar makanan dan minuman yang ia pegang. Kalau saja ia tidak sadar kalau makanan dan minuman itu untuk Indah, ia sudah melemparnya ke sembarang tempat karena esmosi, padahal kalau es campur kan lebih enak.
What? Why?
“Dasar cowok mata keranjang, pacaran kok di sekolah, gak tahu tempat banget sih.” Sinta terus menggerutu.
“Cowok memang begitu yah, kalau lihat yang bening aja, matanya langsung ijo.”
“Menyebalkan.”
…
“Ada apa denganmu Sin, kenapa perasaanmu jadi tidak karuan begini setelah melihat makhluk astral itu berduaan dengan gadis lain. Dasar bodoh kamu.” Sinta kembali merutuki dirinya sendiri, ia memukul pelan kepalanya.
Sinta kemudian membalik tubuhnya membelakangi Indah yang masih setia menutupi seluruh tubuhnya itu dengan selimut. Lebih baik ia segera tidur, atau bayangan Adit bersama dengan gadis yang sialnya begitu imut itu akan terus membayangi dirinya. Menunggu pesan apalagi telepon dari Adit rasanya sudah tidak mungkin. Kenyataanya, cowok itu benar-benar tidak mengganggu Sinta lagi.
...***...
lanjut gak?
yg setuju aku up 1 bab lagi hari ini
__ADS_1
komen mau yah.....