Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Biarlah Rasa Itu Mengalir


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


...***...


Besoknya Sinta kembali tidak hadir ke sekolah. Di hari yang sama Ayu kembali membuatnya sedih. Saat Indah berjalan menuju perpustakaan, dari arah belakang Ayu dan teman-temannya datang dan mendorongnya. Indah terjatuh, namun beruntung karena saat itu ada seorang guru yang lewat sehingga ia bisa membantu Indah. Sementara Ayu mengatakan jika ia tidak sengaja melakukan itu.


Saat jam istirahat, Indah berjalan menuju Kantin. Namun Saat ia sampai di sana, hanya omongan orang-orang yang ia dapatkan.


"Itukah perempuan yang kemarin?"


"Kasihan sekali yah dia, di permalukan seperti itu."


"Itu sih salah dia sendiri, siapa suruh cari urusan sama Ayu."


Indah yang mendengarnya segera meninggalkan Kantin. Hatinya begitu sedih mendengar perkataan orang-orang tentang dirinya. Hingga ia tidak pernah lagi makan di kantin dan memutuskannya untuk membawa bekal ke sekolah.


Saat Ayu memperlakukannya Indah dengan tidak baik. Indah sekali berusaha untuk sabar dan mencoba memahami situasinya. Indah berpikir Ayu mungkin sangat menyayangi kak Adnan hingga dia sangat marah saat melihat kak Adnan terluka. Karena saat kita menyayangi seseorang, kita tentu menginginkan hal yang baik untuknya dan akan marah jika terjadi hal buruk padanya. Dan lagi, ia banyak mendengar tentang Ayu yang memiliki pengaruh yang besar di sekolah. Jika terjadi masalah di sekolah, ia hanya akan merepotkan dan membuat ibunya sedih. Indah tidak menginginkan hal itu. Bu Dania sudah bekerja keras untuknya, tidak mungkin dia mengecewakannya dengan membuat masalah di sekolah.


Beberapa menit kemudian bel berbunyi. Guru-guru segera masuk ke kelas yang sesuai jadwal mereka. Indah menaikkan buku tulisnya saat Bu Musdalifah masuk ke kelas. Dan pelajaran pun berlangsung seperti biasanya.


...***...

__ADS_1


Senja kembali menyapa sore itu. Warna jingganya masuk lewat sudut-sudut jendela Indah yang tertutup. Indah yang melihat sinar itu segera membuka jendelanya.


Ia berdiri dari balik jendela itu, menyaksikan senja yang kini mendominasi langit. Indah menyunggingkan senyum, ia selalu menyukai momen ini, saat Sang Surya akan kembali ke peraduannya.


Bayangan seseorang tiba-tiba saja muncul dibenaknya.


"Aku selalu merindukan senja. kamu tahu kenapa?" Indah kembali tersenyum, menunduk sebentar lalu kembali menatap ke depan.


"Karena saat senja tiba, sebentar lagi kau pun akan hadir. Kamu sama seperti senja, Indah dan selalu menenangkan. Entah mengapa perasaanku begitu dalam padamu? Aku sadar, rasa ini bukanlah lagi tantang mengagumi, namun juga mencintai. Dan senja hari ini menjadi saksi, betapa tulusnya perasaanku padamu."


Indah menutup matanya, dan menghadirkan bayangan Adnan di sana.


...***...


Indah menaiki tangga Masjid dengan hati-hati, diikuti dengan beberapa orang yang masih ada di bawah, namun tak sedikit pula yang telah sampai di atas. Tanpa ia sadari, sedari tadi Adnan juga sedang berjalan beriringan dengannya. Namun di sisi tangga yang lain, khusus laki-laki.


Indah tak menyangka akan apa yang baru saja ia lihat, ia bahkan belum sempat membalas senyum itu dan malah melihat ke arah belakang. Barangkali ada orang lain di belakang Indah.


Saat ia menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di sana.


"Apakah dia tersenyum padaku? Indah, apa kamu sedang bermimpi?" Ucap Indah menepuk pipinya pelan, sambil berjalan menuju barisan shaff perempuan.


Sholat Maghrib berlangsung begitu khidmat. Lalu kemudian di lanjutkan dengan sholat isya beberapa waktu kemudian. Setelah selesai, para jamaah mulai berhamburan pulang.


Indah menuruni tangga dengan sesekali tersenyum, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Baru kali ini dia melihat senyum Adnan. Apalagi Adnan tersenyum untuknya.


"Sungguh, senyum yang sangat Indah." Indah berkata pelan.

__ADS_1


Saat pulang, Indah melihat Adnan sedang berjalan di depannya. Langkah kaki mereka mengayun bersamaan. Sesekali Indah melihat Adnan dari belakang, Untuk hal sesederhana seperti ini saja ia sudah sangat bahagia. Dan Adnan, Adnan tahu bila sekarang Indah sedang berjalan di belakangnya. Tapi ia tak ingin menoleh.


'Biarlah rasa ini mengalir begitu saja, saat cinta ini tulus, dan takdir kita memang bersama, ia pasti akan menemukan tempatnya untuk pulang. Seperti kata orang-orang, Tulang rusuk takkan tertukar.' Ucapnya dalam hati.


Hingga saat sampai di pertigaan jalan komplek, Adnan berbelok ke arah kiri. Tak lama kemudian Indah pun sampai di pertigaan itu lalu berbelok ke arah kanan. Indah berbalik sebentar, terlihat Adnan masih berjalan di sana. Indah melihat punggung Adnan dari jauh, hingga ia berbelok dan menghilangkan dari pandangan Indah. Indah mengukir senyum kemudian berbalik kembali, berjalan pulang ke rumah.


Di Kamar Indah


Indah melepaskan mukenah nya, melipat dan menggantungnya dengan rapi. Ia mengambil posisi nyaman bersandar pada tempat tidur, kemudian mengambil sebuah bantal dan meletakkan di pangkuannya, seperti biasa. Indah masih membayangkan senyuman Adnan. Sejak pertama kali melihat laki-laki itu, baru kali ini ia melihatnya senyum selepas itu. Dan itu pun untuknya.


"Hari ini kamu mengukir senyum di bibirmu. Yah, aku tahu mungkin itu hanyalah senyum biasa. Seperti senyum yang diberikan kepada seseorang yang kita kenal di jalan. Berbeda dengan senyum yang mungkar kau ukir untuk kak Ayu. Tapi kau tahu, aku sangat senang. Setidaknya sikap dinginku padaku sedikit berkurang dan aku merasa kau menganggap kehadiranku. Saat aku melihatmu berjalan pulang hari ini, aku kembali mengingat saat kita pertama bertemu. Dan sama seperti waktu itu, aku melihatmu dari jauh, melangkah pergi. Kak Adnan... haruskah ku hilangkan rasa ini? Aku mulai merasa takut, aku takut bila rasa ini semakin dalam, dan melukai diriku sendiri."


...***...


"Kamu tidak mau ke kantin Indah?" Tanya Sinta saat Bu Mulyana, guru matematika baru saja keluar kelas.


"Tidak Sin, aku bawa bekal kok. Lagian aku juga ma ke perpustakaan dulu."


"Apa kamu ingin mengembalikan sebuah buku?"


"Tidak, justru aku ingin meminjam buku. Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah novel, dan aku sangat penasaran ingin membacanya." Indah bersemangat.


"Baiklah, kalau begitu aku ke kantin yah. Jangan lupa makan bekalmu, kamu tidak bisa kenyang hanya dengan membaca buku kan? Hehe." Sinta mengejek.


"Sinta, kamu ini." Indah hampir saja memukul sahabatnya itu dengan sebuah buku yang masih ada di atas mejanya, namun Sinta segera berlari keluar kelas sambil mengejek Indah dari jauh. Indah hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang iseng itu.


Indah memasukkan buku matematikanya ke dalam tas, buku yang hampir ia gunakan untuk memukul tangan Sinta, hehe. Kemudian berjalan keluar kelas menuju perpustakaan.

__ADS_1


__ADS_2