Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Cemas


__ADS_3

Indah berlari menuju jalan raya, sesampainya di sana ia menghentikan sebuah taksi dan segera pergi dari tempat tersebut.


Ia kembali pulang, tapi bukan ke rumah Sinta melainkan ke rumahnya sendiri, Indah tidak siap jika harus kembali bertemu dengan David di sana. Hari ini begitu menyesakkan untuknya.


Seorang lelaki menyatakan cinta padanya, tapi bukan dia orang yang Indah cintai, sedikit pun tak ada perasaan untuknya, melainkan hanya menganggapnya sebagai seorang kakak laki-lakinya sendiri.


Ia membuka kaca jendela mobil itu, setitik air mata kembali berlabuh di pipi putihnya.


“Yang aku cintai mungkin tidak memiliki perasaan yang sama padaku, sedangkan yang tidak ku cintai nyatanya mengungkapkan perasaannya.” Ucap Indah pelan.


Beberapa menit kemudian, taksi itu telah berhenti di depan rumah Indah dan Dania, bersamaan dengan adzan maghrib yang kini telah berkumandang.


Langkah Indah terhenti sejenak, merasakan setiap alunan merdu lantunan adzan tersebut.


Indah membuka pintu rumahnya dengan perlahan, beruntung ia selalu membawa kunci rumahnya di tas yang ia kenakan. Setelah membuka pintu, tujuannya saat ini hanya satu, yaitu kamar. Tempat ia bebas untuk mengekspresikan semua keadaan hatinya. Meski sekarang sedang tidak ada siapa-siapa di rumahnya, tetap saja, tempat itu akan selalu menjadi tempat ternyaman di rumah sederhananya ini.


Di kamar


Indah langsung menuju kamar mandi dengan membawa sebuah baju ganti, setelah itu ia melaksanakan sholat Maghrib untuk menenangkan hatinya. Selesai sholat gadis itu melipat sajadah yang ia kenakan tadi dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Indah terduduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya. Membiarkan air matanya kembali berlabuh di sana.


“Mengapa semua jadi seperti ini? Aku kira selama ini perhatian yang kak David perlihatkan hanya karena ia menganggap aku sebagai adik, sama seperti Sinta, tapi nyatanya... " Lirih Indah.


“Aku benci keadaan ini….. hiks… hiks… ma, cepatlah kembali, Indah kangen. Indah tidak punya siapa-siapa lagi, Indah ingin memeluk mama, dengan apa yang sudah terjadi tadi, Sinta pasti tidak ingin lagi berteman dengan Indah.” Lirih Indah.



...***...


Dania tampak berdiri termenung, memandang keluar jendela kamarnya di hotel, tempat mereka menginap. Pemandangan malam dengan gedung-gedung tinggi menjadi hal yang setiap malam ia lihat selama ada di lantai 21.


Sementara itu, Sarah tampak telah bersiap-siap sejak tadi. Ia yang melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya itu belum melakukan apapun menegurnya.


“Dan… Dania.” Panggilnya, sembari masih terus memoleskan bedak di wajahnya.


Dania tak menjawab, tepatnya karena ia tidak mendengar panggilan itu.


“Dania!” Panggilnya sekali lagi.


Dania tersentak, berbalik ke arah Sarah.


“Ada apa?” Tanyanya malas.

__ADS_1


“Kenapa kamu belum bersiap-siap? Setengah jam lagi kita akan berangkat loh. Jangan sampai kita membuat Pak Jayadi menunggu. Yah….. meskipun aku sangat.... sangat tidak suka padanya, tapi kita tetap bawahan dia, dan harus professional dalam bekerja kan.” Ucapnya serius.


“Hhmm… tidak tahu kenapa perasaan aku dari tadi kok tidak enak begini yah…” Dania mengungkapkan perasaannya yang sedari tadi ia rasakan.


“Gak enak bagaimana?” Sarah yang sudah selesai memoles wajahnya itu akhirnya mendekati Dania yang tampak khawatir.


“Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa tidak ingin pergi ke sana."


"Ke sana.... maksud kamu ke villa itu?" Tanya Sarah.


Dania menganggukkan kepala.


“Ck, kamu jangan buat aku jadi parnoan gini deh Dan.” Sarah memukul pelan lengan Dania.


“Perasaan kamu aja kali.” Ia mencoba menenangkan Dania, lebih tepatnya menenangkan dirinya sendiri.


“Bukan seperti itu, aku hanya takut Sarah, kalau terjadi sesuatu padaku, bagaimana dengan Indah? Sekarang dia hanya punya aku. Aku tidak mau anakku hidup sebatang kara.”


“Nah… ini nih... ini pasti karena kamu merindukan anakmu jadinya pikiran kamu itu ke mana-mana.” Sarah memegang pundak Dania.


“Sekarang kamu telepon dia saja dulu. Pastiin dia baik-baik saja, mungkin kamu akan merasa lebih tenang setelahnya.” Saran Sarah.


“Mungkin kamu benar.” Dania mengukir senyum.


“Baiklah, aku telepon dulu yah.”


Dddrrtt….


Drrrtt….


Ponsel Indah berdering beberapa kali, namun gadis itu tak mendengarnya. Setelah menangis, ia tertidur di atas lantai dengan alas karpet bulu yang tipis.


“Kenapa tidak di angkat- angkat yah Sar. Aku sudah nelpon Indah berkali-kali.” Dania tampak khawatir.


“Coba kamu telepon lagi.” Usul Sarah, Dania menganggukkan kepala. Mencoba menghubungi Indah sekali lagi.


Indah akhirnya terbangun karena suara ponselnya yang terus berdering. Ia mengucek matanya sebentar dan dengan cepat mengambil ponsel tersebut. Barangkali itu adalah telepon dari ibunya. Dan benar saja, begitu melihat nama yang tertera di ponselnya, raut wajah gadis itu mendadak berseri meski matanya tampak bengkak dan sembab karena menangis.


“Halo Ma, assalamu'alaikum.” Indah memberi salam.


“Halo sayang, Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Kamu lagi ngapain nak, kenapa lama sekali angkat telepon mama? Mama jadi khawatir.”


“Eh… maaf yah Ma, Indah ketiduran tadi, jadinya gak denger deh.” Suara Indah terdengar sedikit serak. Dania yang menyadari ada yang berbeda pada anaknya pun bertanya.

__ADS_1


“Hmmm…. Gitu, tapi kok suara kamu serak begini, kamu habis nangis Nak?”


“Bu… bukan Ma, Ini… Indah… Indah lagi flu jadi suaranya kayak gini deh.” Ucap gadis itu berbohong.


“Loh… sayang kenapa kamu bisa flu sih. Kamu harus jaga kesehatan kamu nak. Jangan makan sembarangan, jaga kondisi tubuh. Kalau kamu sakit gimana, mama di sini bisa jadi gak tenang dan mikirin kamu terus kan.”


“Iya mamaku sayang. Indah janji akan jaga kesehatan Indah, maafin Indah yah ma sudah buat mama khawatir.” Indah tampak tersenyum.


Dania manggut-manggut mendengar ucapan anaknya.


“Sinta mana nak?”


Indah membulatkan matanya.


“Sinta… sin… sinta lagi….” Indah bingung mau mengatakan apa, tidak mungkin kan dia mengatakan yang sebenarnya dan membuat ibunya khawatir.


“Halo… Indah…”


“Itu Ma.”


“Sar… ini udah jam berapa loh. Teleponnya nanti aja lagi yah kalian sambung, ntar kita telat, kamu juga belum siap-siap gitu.” Tiba-tiba Sarah memotong.


Indah yang mendengar suara Sarah itu bernafas lega, akhirnya ia bisa menghindari pertanyaan ibunya.


“Iya, sebentar.” Dania menjawab singkat.


“Indah, maafin mama yah, mama matiin teleponnya dulu. Mama mau lanjut kerja, Insya Allah besok pagi mama pulang.”


“Besok pagi mama udah pulang?! Janji yah Ma.” Indah mengulang, ia tampak sangat girang.


“Iya sayang, Insya Allah mama janji akan langsung pulang besok pagi.”


“Yeaaayyy,,,, Indah seneng banget ma, Indah kangen banget sama mama.”


“Mama juga sangat rindu sama kamu nak.” Dania tertawa renyah mendengar Indah yang begitu senang.


“Ya udah , mama tutup dulu yah.”


“Iya Ma, mama hati-hati yah.”


“Iya sayang, assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam Warahmatullah.”

__ADS_1


"Cepet pulang yah ma, Indah butuh mama." Ucap indah pelan, setelah panggilan terputus.


Jangan lupa subscribe, like dan komen yah. ❤️


__ADS_2