Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Jatuh Pingsan


__ADS_3

Indah mulai mengikuti praktek itu dengan penuh semangat, namun tetap terlihat tampak anggun karena sebenarnya ia adalah wanita yang pemalu. Ia melakukan semua teknik bermain dengan sangat baik. Sementara Sinta berkali-kali berteriak memberikan semangat kepada temannya itu. Pak Angga yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil melihat tingkahnya.


Indah masih tampak fokus dengan praktek itu sampai kemudian ia melihat seseorang keluar dari ruang guru.


"Kak Adnan..." Gumamnya dalam hati.


Laki-laki itu masih saja sama, selalu membuatnya merasa tenang setiap kali Indah melihat dia. Adnan tampak membawa buku-buku ditangannya. Kelihatannya itu adalah buku-bukunya dan juga teman sekelasnya yang telah di beri nilai oleh guru mereka. Yah, Adnan akan membagikannya setelah itu.


Adnan berjalan kecil, letak ruang guru itu persis berada di samping lapangan volly. Adnan mulai menuruni 3 anak tangga, dan saat menginjakkan kakinya pada anak tangga terakhir pandangannya pun tak sengaja bertemu dengan Indah.


Di sana, Indah tak sadar terus memandangnya. Sampai kemudian ia tidak menyadari jika bola yang di servis oleh lawannya terlempar menuju ke arahnya.


"Indah! Awas!" Teriak Sinta.


"Indah!" Adnan spontan memanggil nama Indah.


Namun saat pandangan Indah beralih pada arah yang di maksud oleh Sinta dan Adnan.


BRRUUKK...


Ia sudah terlambat untuk menghindar, alhasil bola itu mendarat tepat di kepalanya.


Pandangan Indah buram, semakin lama iya melihat ke sekelilingnya menjadi semakin gelap dan.......


"Indah!!" Teriak Adnan yang langsung menyimpan buku yang ia pegang di sembarang tempat, kemudian berlari menghampiri Indah yang jatuh pingsan.


"Indah!" Sinta tak kalah terkejut.


Suasana panik sejenak, semua siswa yang mengikuti pelajaran olahraga berlarian menuju ke arah Indah.


"Indah... Indah... bangun Ndah!" Sinta mengangkat kepala Indah perlahan dan meletakkannya di atas pangkuannya, sembari menepuk-nepuk pelan pipi Indah, berusaha untuk menyadarkannya.


Adnan dengan posisi berlutut dengan salah satu kakinya yang tertekuk terus memanggil Indah.


"Indah!!!" Adnan panik.


'Kalian cepat bawa Indah ke UKS." Perintah Pak Angga.


"Biar saya saja yang membawanya Pak, Sinta kamu juga ikut." Adnan langsung menggendong Indah sebelum mendapat jawaban dari Pak Angga.


Dengan hati-hati Adnan menggendong Indah yang sudah tidak sadarkan diri menuju ke ruang UKS dengan Sinta yang juga berada di sampingnya.

__ADS_1


Ruang UKS


Dua orang siswi PMR (Palang Merah Remaja) berusaha menyadarkan Indah. Dengan menghirupkan nya minyak kayu putih dan menciprat kan sedikit air ke wajah gadis itu. Sambil sesekali menepuk pipi dan lengannya.


Adnan dan Sinta berdiri di sisi lain tempat tidur itu.


"Aarrgh". Indah memegang kepalanya.


"Indah... Indah, Alhamdulillah kamu sudah sadar." Ucap Adnan melihat Indah yang mulai membuka matanya perlahan.


"Kak Adnan, Sinta... aku di mana?" Ucap Indah yang masih mengedip-ngedipkan matanya, masih berusaha mengumpulkan kesadaran.


"Kamu ada di ruang UKS Indah, kepalamu tadi terkena bola dan kamu pingsan." Sinta menjelaskan.


Indah kembali mengingat apa yang terjadi.


"Kalau begitu kita keluar dulu yah." Ucap salah satu anggota PMR yang membantu mereka.


"Ia, terima kasih yah." Adnan menjawab.


"Iya kak, sama-sama." Balas mereka bersamaan dengan sopan, mengingat Adnan adalah kakak kelas mereka.


Adnan berjalan dan kembali berdiri di sisi tempat tidur yang satunya, tempat kedua siswi PMR tadi.


"Aku baik-baik saja kak, hanya sedikit pusing." Indah mengukir senyum tipis, wajahnya terlihat agak pucat.


"Kamu istirahat saja dulu di sini, tidak perlu masuk ke kelas dulu."


"Hhmmm..." Indah bergumam mengiyakan lelaki itu.


"Lagian kamu juga, bukannya fokus sama praktek malah liatin kak Adnan." Sinta berucap dengan polosnya.


"Sintaaa.... apaan sih." Indah melototkan matanya ke Sinta, sembari memberikan cubitan maut 😅 pada temannya yang berdiri di dekatnya itu.


"Aduh... kamu kok cubit aku sih Ndah? Sakit tau." Sinta memegang lengannya.


Indah kembali memberikan kode dengan melototkan matanya, entah terlihat seperti apa wajahnya kini. Mungkin sudah Semerah tomat karena menahan malu. Rasanya ia ingin lari saja dari ruangan itu sekarang dan bersembunyi.


Adnan terlihat tak kalah salah tingkah, beberapa kali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan senyum canggung terukir di bibirnya.


"Aku keluar dulu sebentar yah." Ucapnya melangkah keluar ruangan itu.

__ADS_1


"Sinta!!!" Indah kembali mencubit lengan Sinta berkali-kali.


"Kamu nyebelin banget sih, kenapa harus bilang begitu di depan kak Adnan, aku kan malu " Indah kesal, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Indah....sakit tau. Kamu udah cubit aku berkali-kali, rasanya itu lebih sakit dibanding saat kamu di pukul seseorang." Sinta mengeluh melihat lengannya yang memerah.


"Biarin aja, itu hukuman buat kamu,kamu udah buat aku malu tau..."


"Emangnya kenapa? Emang bener kan kamu gak fokus praktek gara-gara liatin kak Adnan yang lewat dekat lapangan, orang akunya liat kok." Sinta mengejek.


"Iihh..... tapi jangan bilang di depan orangnya juga, aku rasanya mau kabur aja dari ruangan ini tau gak." Indah cemberut.


"Iya... iya, aku minta maaf deh. tadi kan aku juga keceplosan Indah, hehe..." Sinta berusaha menghibur sahabatnya yang tengah merajuk itu.


"Keceplosan kamu kelewatan tau."


"Iya Indah, Indah yang cantik, yang manis. Maafin sahabat kamu ini yah... aku janji deh gak akan ulang lagi " Sinta mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


...***...


Beberapa menit kemudian Adnan kembali ke ruang UKS dengan sebuah botol mineral ditangannya. Indah tersenyum kikuk melihat pria itu masuk.


"Assalamualaikum." Ucap Adnan, membiarkan pintu UKS terbuka lebar.


"Wa'alaikumsalam."


"Sinta ke mana?" Tanya Adnan yang kemudian duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur Indah.


"Katanya dia ke kantin sebentar." Indah menjawab tanpa menoleh pada pria di depannya itu. Posisinya kini sedang duduk bersandar pada tembok yang ada di sisi kiri tempat tidurnya. Sehingga kini ia duduk berhadapan dengan Adnan.


"Hhmm..." Adnan bergumam. Sebenarnya ia pun sangat gugup dengan situasi ini, tak sadar memainkan sebuah benda yang ia pegang.


"Eh,, aku sampai lupa. Ini minumlah agar kamu merasa lebih baik." Adnan memberikan air mineral yang memang sengaja ia beli untuk Indah.


Indah melirik sebuah gelas yang ada di atas meja yang ada di sebelah kiri Adnan, dan juga sebuah dispenser yang ada di dekat pintu ruangan itu. memang semuanya sudah kosong. Sebenarnya ia memang sudah merasa sangat haus sejak tadi. Jadi ketika Sinta mengatakan akan ke kantin sebentar, ia pun menitipkan agar membelikannya air.


Pelan.... Indah meraih botol itu.


"Terima kasih kak, maafkan aku sudah merepotkan kak Adnan."


"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak merasa direpotkan." Ucap Adnan dengan senyum.

__ADS_1


'hufftt... senyum itu, selalu membuatku merasa lebih gugup.' Batin Indah.


__ADS_2