
Saat jam istirahat…
"Adnan kamu mau kemana?" Tanya David.
"Aku mau ke perpustakaan, mau mengembalikan buku ini." Adnan memperlihatkan buku yang ada ditangannya.
"Kalau begitu mari pergi bersama, kebetulan aku juga mau ke sana, ada buku yang ingin ku pinjam.”David berjalan mendahului Adnan.
'Tumben sekali dia mau ke perpustakaan, biasanya juga langsung ke kantin.' Batin Adnan.
Sementara David sedang tersenyum-senyum sendiri. Ia berpikir siapa tahu saja ia bisa bertemu dengan Indah di sana. Perpustakaan itu kan dekat dengan kelasnya, dan lagi ia selalu mendengar cerita dari Sinta kalau gadis itu suka sekali ke perpustakaan.
Sesampainya di perpustakaan…
Adnan langsung menuju meja penjaga perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam 3 hari yang lalu. Ia mulai mencari namanya dalam daftar buku pinjam itu, setelah menandatangi keterangan telah mengembalikan pada tanggal sekian, ia menaruh buku itu kembali dan mulai melihat-lihat dan berpikir untuk meminjam buku apa lagi.
Ia memperhatikan David yang tampak terlihat gelisah, cowok itu berdiri di salah satu rak buku, tangannya mengarah pada buku-buku di depannya, namun pandangannya selalu saja beralih ke arah pintu.
"Ada apa dengannya?”Gumam Adnan kecil.
Setelah mendapatkan buku yang ia inginkan, Adnan beralih pada David, lalu berdiri di samping cowok itu.
"Apa yang kamu lakukan?”Tanya Adnan.
Menyadari Adnan yang kini ada di sebelahnya, David pura-pura fokus.
"Aku sedang mencari buku, apa kamu tidak lihat?”Jawabnya agak ketus.
Adnan menghembuskan nafasnya pelan, jelas-jelas cowok di depannya itu sedari tadi hanya sibuk memandang ke arah pintu masuk perpustakaan.
"Memangnya kamu mencari buku apa?”
"Hhmm…”David tampak berpikir.
"A… aku mencari buku… biologi, yah biologi." Jawabnya putus-putus.
"Ck." Adnan berdecak.
"Kalau kamu mencari buku biologi di rak ini, sampai malam pun kamu tidak akan mendapatkannya.”Sambung Adnan.
David mengerutkan keningnya, tak mengerti.
__ADS_1
"Di sini khusus buku-buku IPS, bukan IPA.”Jawab Adnan, berlalu meninggalkan David dan duduk di salah satu bangku di sana.
David menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengapa ia tidak menyadari hal itu… pikirannya terlalu dipenuhi oleh gadis pujaannya.
Setelah mendapatkan buku biologi, David menyusul Adnan dan duduk di sebelah cowok itu.
Lama mereka saling diam, dan hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Adnan tampak tenang dengan pandangan yang terus mengarah pada buku di tangannya. Sementara David, yah… kalian tahu ia masih setia menunggu Indah, dengan terus mengalihkan pandangannya pada setiap siswa yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Apa kamu sedang menunggu seseorang David?”Tanya Adnan membuka percakapan setelah 15 menit hanya diam.
"A… ah, tidak. Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa.”David gelagapan, ia kembali berpura-pura fokus dengan buku yang ia pegang.
'Sepertinya, Indah tidak akan kemari hari ini, pasti Sinta mengajaknya ke kantin. Huh, anak itu…’Kesalnya dalam hati.
Adnan menyeka keringat di keningnya, sementara David mengipasi dirinya dengan buku yang ia pegang. Ruangan itu terasa panas karena AC yang sedang tidak berfungsi sejak beberapa hari yang lalu.
"Huufftt… kenapa di sini panas sekali, apa AC-nya rusak?”Keluh David.
"AC-nya memang rusak beberapa hari yang lalu.”Ucap Adnan santai, walau kini juga merasa kepanasan.
"Huh, pantas saja." Ucap David saat melihat AC di ruangan itu memang tidak menyala.
David melihat itu, dan merasa aneh.
"Tumben kamu bawa sapu tangan.”Tanya David.
Adnan tersenyum menanggapi, ia tidak ada maksud untuk membuat David cemburu tapi kalau cowok itu bertanya tentu dengan senang hati akan dijawabnya.
"Ini bukan sapu tanganku.”
"Lalu?”David mengerutkan keningnya.
"Kenapa ada di kamu? Dan kenapa kamu memakainya?”Sambungnya.
"Ini punya Indah, dia…”Belum selesai Adnan menjelaskannya cowok di sampingnya itu sudah memotong ucapannya.
"Apa! punya Indah? Kenapa bisa ada di kamu? Apa kamu mengambilnya diam-diam? Ck… tak baik seperti itu, sini berikan padaku, biar aku yang mengembalikannya pada Indah." David hendak mengambil sapu tangan itu dari Adnan.
Buru-buru Adnan menepis tangan David.
"Ck. Kamu ini cerewet sekali sih. Aku kan belum selesai jawab tadi, kamu sudah memberiku pertanyaan baru lagi.”Adnan sewot.
__ADS_1
Enak saja sapu tangan pemberian Indah ini mau diambilnya, tentu saja Adnan tidak terima. Baginya kain berbentuk segi empat kecil itu sangat berarti, tidak boleh ada yang memegangnya selain ia dan Indah.
David mensedekapkan kedua tangannya di dada, ia tampak sangat kesal namun berusaha ditutupinya. Bukan kesal sih sebenarnya tapi… merasa kalah karena Adnan selangkah lebih maju dibandingkan dirinya dalam mendekati gadis berlesung pipi itu.
Meski enggan, ia tetap bertanya karena penasaran.
"Kenapa sapu tangan Indah bisa ada di kamu?”Tanya David sedikit sewot.
"Dia memberikannya padaku kemarin, saat kami berdua di hukum karena terlambat, dan…”
"Jadi kemarin Indah juga terlambat?" Lagi-lagi David memotong ucapan Adnan.
'Pantas saja kemarin Adnan terlihat senang-senang saja saat selesai di hukum, ternyata ini alasannya, menyebalkan sekali.' David mengeluh dalam hati.
"Iya, dia memberiku ini untuk mengelap keringat di keningku dan…”
"Sudahlah tidak perlu diteruskan.”David tampak semakin kesal.
Sementara Adnan mengedikkan bahunya, tak peduli.
"Aku kan hanya menjawab pertanyaanmu saja.”Adnan acuh, ia tahu kalau David saat ini sedang cemburu padanya.
Mereka kembali hening beberapa saat, sampai kemudian…
"Adnan, aku rasa kamu harus tahu sesuatu.”David tampak serius, jujur ia tidak ingin lagi menyembunyikan perasaannya dari sahabatnya itu.
"Hhmm… apa?”Adnan tak melihat dan terus fokus pada bukunya.
"Aku… sebenarnya aku menyukai Indah.”Katanya cepat.
Adnan menatap mata David dengan tatapan datar. Tentu ia tahu itu.
Sedetik kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya pada buku. Berpura-pura fokus membaca.
"Aku tahu kamu juga menyukai Indah, aku tidak bermaksud untuk merebutnya dari sahabatku sendiri. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku… aku ingin bersaing secara sehat denganmu dalam merebut hati Indah, dan kita biarkan Indah memilih, kamu harus berjanji padaku jika nanti pilihan Indah adalah aku, kamu harus mundur. Dan aku pun akan berjanji, kalau nanti Indah memilihmu aku akan berhenti dan tidak akan mengganggu kalian berdua. Aku tahu perasaan mungkin tidak bisa dipaksakan, tapi aku ingin berusaha terlebih dahulu.”David berkata panjang lebar.
Adnan menghembuskan nafasnya, seakan beban baru tengah hinggap dipikirannya saat ini.
"Aku tahu kamu menyukainya David, sangat jelas dari cara kamu memandang dan memperhatikannya.”Jawab Adnan santai, David terlihat malu-malu.
"Tapi… kamu tahu Indah bukanlah sebuah barang yang patut kita perebutkan. Perasaan cinta itu suci, dan aku percaya cinta akan membawa 2 hati untuk bersatu. Entah itu hatiku, hatimu, atau malah hati orang lain yang akan bersama Indah. Namun aku percaya satu hal tulang rusuk milikku tidak akan tertukar, jika memang Indah adalah jodohku maka ia akan selalu menjadi milikku dan kembali padaku." Ucap Adnan dengan tampang datarnya, ia lalu beranjak dari tempatnya duduk menyimpan buku yang tadi ia ambil dan melenggang keluar perpustakaan.
__ADS_1