
“Sudahlah tidak perlu berpikir dari mana aku tahu apa yang kamu pikirkan, karena dari wajahmu saja aku sudah bisa menebaknya. Awas yah kamu kalau macam-macam.” Ancam Sinta.
“Hehe, siapa bilang, aku gak mikirin apa-apa kok.” Indah nyengir kuda, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih.
Sinta mendengus.
“Ya udah yah kak, kalau kakak cuma mau bahas hal yang tidak penting itu mending tutup deh teleponnya, Aku mau tidur aja.”
“EEee… tunggu dulu Sin, kakak nelpon bukan cuma mau bahas itu kok.”
“Terus?”
“Hhmm... Hari ini kamu gak ada kegiatan kan sama Indah?”
“Enggak.” Sinta menjawab ogah-ogahan.
“Kalau gitu bagaimana kalau nanti sore kita ke mall. Sekalian kakak akan beliin barang yang kamu mau.”
Seakan mendapat angin segar, Sinta lantas menegakkan posisi duduknya.
“Seriusan nih?” Tanya Sinta antusias.
“Iya, tapi ada syaratnya.” David tersenyum licik di seberang telepon.
“Ck, pakai syarat segala lagi, kan itu udah jadi janji kakak. Janji itu adalah utang loh.” Sinta sewot.
“Ya udah kalau gak mau, kakak gak jadi beliin nih.” David berpura-pura ingin mematikan telepon.
“Eeehhh… iya-iya, iisstt… licik banget sih.” Kesal.
“Dosa loh kamu ejekin kakak sendiri.”
“Ck, cepetan kak, apa syaratnya?”
‘Memang yah, mendapatkan apa yang kita inginkan itu susahnya minta ampun.’ Sinta mengeluh.
“Kakak kan mau beliin barang yang kamu minta nih di mall, nah jadi sekalian aja hari ini kita jalan-jalan bareng Indah.” Ucap David antusias.
“Duh otakmu kak, bener-bener bisa mencari kesempatan yah.”
“Hehe, iya dong. Ini semua kan demi cinta.”
“Iyyuuu…. Lebay deh.”
“Dan satu lagi Sin, kakak mau…”
Sinta mendengarkan dengan seksama.
“Kalian ngomongin apa? Aku jadi penasaran.” Tanya Indah yang sedari tadi sudah setia menjadi penonton yang baik. Kalau pendengar mah belum, karena setiap ia mendekatkan kupingnya ke ponsel Sinta, maka gadis itu akan menoel kepalanya untuk menjauh.
“Husstt…. Anak kecil gak perlu tahu.” Ucap Sinta.
Indah mencebikkan bibirnya merasa tak terima di bilang anak kecil.
__ADS_1
“Kakak yakin mau lakuin itu?” Sinta ragu.
“Ya yakin lah Sin.”
“Yah, terserah kakak aja lah, tapi kalau kak David patah hati jangan salahin aku yah.”
“Kamu gak perlu khawatir, kakak pasti akan menang. Lihat aja nanti.” Ucap David percaya diri.
“Kamu hanya perlu bantuin kakak aja untuk bawa Indah ke sana, oke!”
“Hhmm... oke.”
Telepon tertutup.
Setelah mematikan teleponnya, Sinta tampak berpikir. Terlihat keraguan dan kekhawatiran di wajahnya. Ia melirik gadis yang tadi kepo dengan kegiatannya yang sedang menelpon.
Senyum lucu terukir di bibirnya melihat Indah sudah tertidur dengan pulas.
“Cepat banget tidurnya, padahal baru aja dia ngoceh tadi.” Gumam Sinta.
Iya menarik selimut menutupi tubuh sahabatnya itu, lalu berjalan keluar kamar. Sinta perlu merefresh kan otaknya, untuk kejadian yang akan ia saksikan nanti sore.
Sinta menuju dapur, ada Bi inem di sana, yang sedang beres-beres.
“Bibi.” Panggilnya yang sudah duduk di meja makan.
“Iya non, ada apa?” Bi Inem langsung mendekat ke arah Sinta.
Bi Inem terkekeh.
“Hehe, iya non, tentu saja bisa.”
“Ya udah, nanti bawain ke taman belakang aja yah.” Sinta beranjak dari duduknya.
“Siap non, di tunggu yah.”
Sinta mengangguk dan segera menuju taman belakang.
…
Sesampainya di taman belakang…
Sinta langsung duduk di salah satu kursi kayu yang ada di sana.
“Wah, ternyata taman bunga mama jadi semakin Indah yah.” Gumam Sinta.
Walau ia tidak terlalu menyukai bunga, tapi hari ini ia memilih taman belakang untuk sekedar bersantai dan melupakan sejenak permintaan kakaknya.
…
Dania dan Sarah tampak senang karena hari ini client mereka merasa puas dengan kerja mereka. Jayadi pun terus saja bersandiwara dan bersikap baik di hadapan dua wanita itu. Mereka melakukan pertemuan di sebuah restoran yang sudah di reservasi oleh Pak Jayadi.
Suasana tentu sangat tenang, hanya ada Dania, Sarah, Jayadi dan Joy serta dua bodyguardnya. Dan jangan lupakan client pura-pura mereka yang hanya datang bersama dengan asistennya.
__ADS_1
“Baiklah Pak Jayadi, saya menerima kontrak kerjasama ini, saya sangat puas dengan hasil kerja para karyawan bapak.” Ucap pria bertubuh gemuk, Pak Tonson yang duduk di samping Jayadi itu.
“Tentu saja Pak, karyawan di perusahaan kami telah melewati tahap seleksi yang ketat, sehingga hanya yang terbaik yang akan masuk ke perusahaan kami." Ucap Pak Jayadi.
"Baiklah, untuk merayakannya aku ingin mengundang Pak Jayadi dan kedua karyawan anda yang berbakat ini ke villa ku yang baru saja diresmikan, kita akan mengadakan makan malam di sana. Aku harap anda menerima tawaranku ini.”
Dania dan Sarah saling melempar pandang.
“Tentu saja Pak Tonson, kami pasti akan datang, anda tidak perlu khawatir.” Jayadi tersenyum ramah.
“Baiklah kalau begitu.” Tonson berdiri dari duduknya, merapikan jas yang ia kenakan.
“Asistenku akan mengirim alamat pertemuan kita selanjutnya nanti, senang berbisnis dengan anda Pak Jayadi.” Pak Tonson mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Tentu saja Pak.” Jayadi menyambut uluran tangan itu.
…
“Indah, bangun!” Sinta mengguncang tubuh Indah.
“Indah! Sudah masuk waktu ashar, kamu gak sholat?” Sekali lagi memukul pelan lengan gadis yang kini tidur di bawah selimut itu.
“Eemm…” Indah bergumam.
“Ayo, bangun!”
‘Ternyata susah juga bangunin nih anak.’ Sinta menghembuskan nafas kasar.
Ia yang melihat pipi tembem Indah pun menemukan ide, Sinta tersenyum licik sebelum akhirnya dua jarinya mencapit pipi Indah. Awalnya pelan, namun karena gadis itu belum juga bangun jadilah ia mencubitnya semakin keras. Begitu mendengar lenguhan Indah, dengan cepat Sinta berpura-pura berbalik ke arah lain sambil bermain ponsel.
“Aaauugghh….”Indah terbangun secara reflex memegang pipi kirinya.
“Aduhhh… sakit.” Keluhnya hampir menangis, terlihat air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Sinta panik.
‘Waduh, kayaknya aku terlalu keras mencubitnya tadi. Kan gawat kalau dia nangis, bisa-bisa rumah ini gempar mendengar suaranya yang keras itu.’ Batin Sinta.
Yah pernah sekali waktu berada di rumah Indah, Sinta tidak sengaja menjatuhkan sebuah gelas dan mengenai kaki Indah, al hasil gadis itu menangis selama setengah jam tanpa henti dengan suara yang lebih mirip teriakan, tetangga pun sampai datang ke sana untuk melihat keadaan Indah.
Memang sih, lumayan sakit. Tapi kan gak sampai gitu juga, lagian gelasnya juga gak apa-apa dan tidak terluka sedikit pun, eh?
Dengan cepat ia berusaha mengalihkan perhatian gadis itu.
“Eh, kamu udah bangun yah? Kamu mandi gih, terus sholat ashar.”
Indah yang tadi ingin menangis mendadak berhenti, dengan masih memegang pipinya yang kini sudah memerah ia melirik sebuah jam dinding di kamar tersebut.
“Eh udah jam 3 sore yah.” Katanya.
“Iya, sana cepetan mandi!”
Indah mengangguk pelan. Ia beranjak dari tempat tidur, mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1