Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Setelah keadaan canggung antara dirinya dan Sinta di restoran tadi, Adit terus merutuki dirinya sendiri karena sudah kelewatan, menurutnya. Selama ini ia sudah mati-matian untuk menutupi rasa sukanya pada gadis itu tapi tetap saja, mengapa dia malah menciptakan keadaan seperti tadi. Apa Sinta akan tahu kalau ia menyukai gadis itu? Pikirnya.


Sampai kembali di rumah sakit, ia memeriksa pasien di ruangan mereka, tak banyak hanya beberapa, sepertinya siang ini tidak begitu sibuk untuknya, berbeda dengan tadi pagi. Dokter muda itu selalu memberikan motivasi dan semangat pada pasien yang ia tangani untuk sembuh, selalu tersenyum setiap saat. Meski antara hati dan senyum di wajahnya saat ini bertolak belakang, ia akan tetap profesional menjalankan pekerjaannya.


Setelah memeriksa pasien terakhir ia balik badan hendak kembali ke ruang kerjanya. Namun langkahnya terhenti saat melewati ruang kerja David, tak banyak berpikir ia berbelok mengetuk 3 kali pintu itu lalu masuk, meski si pemilik kantor belum mempersilahkan.


"Oh aku kira tidak ada orang, ruangan ini terlihat tidak berpenghuni." Canda Adit masuk dan duduk di sofa yang ada di sana.


Tamu tak di undang itu selalu saja datang, tanpa permisi masuk begitu saja ke ruangan David, terus mengoceh hal-hal yang selalu membuat David jengkel.


David yang masih sibuk memeriksa beberapa data pasien hanya melirik sebentar, sudah terbiasa dengan sikap rekan kerjanya itu yang sialnya adalah teman baik adiknya.


"Ada apa kamu ke sini? Apa tidak ada orang lain yang bisa kamu ganggu selain aku?" David bertanya tanpa menoleh.


"Tidak... Tidak, aku tidak datang untuk mengganggu, justru aku datang untuk memperingatkan kamu, dokter David yang kaku." Mengejek.


David menatap tajam.


'Hehe aku bercanda, makanya kamu jadi orang jangan terlalu serius begitu dong." Salah tingkah melihat tatapan David yang mengintimidasi.


'Seramnya dari dulu tidak pernah berubah.' Omel Adit dalam hati.


"Kenapa lagi dengan Sinta? Kamu ingin mengatakan soal dia kan?" Menutup berkas dan meletakkan pulpen yang ia pegang.


"Tahu saja maksudku datang itu apa, hehe." Tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


David menatap datar.


"Cepat, ada pasien yang harus aku periksa, waktuku sedikit." Melihat jam ditangannya.


Adit menceritakan pertemuannya siang ini dengan Sinta, tidak semua, hanya hal yang berkaitan dengan David saja pastinya. Kembali membujuk David yang sudah lama tak pulang untuk menemui adik dan keluarganya barang sekali saja, mereka juga mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Malam ini pulanglah, Sinta, ibu dan ayahmu menunggu untuk makan malam." Pesan dari Sinta untuk di sampaikan pada David saat ia dan Adit pulang dari restoran.


David hanya mendengarkan, terlihat tak ingin merespon apapun, beranjak dari duduknya menuju pintu.


"Yah... Pergilah lagi, kamu selalu seperti itu saat tidak ingin menjawab ku kan." Jengkel ia kembali di kacangi, menyandarkan tubuhnya ke sofa, biarlah... setidaknya ia sudah berusaha kembali hari ini untuk membujuk kakak menjengkelkan dari gadis yang ia sukai.


Mendengar itu David membalikkan badannya.


"Katakan pada Sinta aku akan pulang malam ini." Ucapnya kemudian.


Mendengar hal itu Adit kembali menegakkan posisi duduknya. Wahh.... Ini adalah kabar yang baik, setelah cukup lama membujuk David akhirnya ia bisa memberikan kabar yang ingin Sinta dengar. Pria itu tersenyum senang.


"Katakan juga kalau kamu sudah lama suka sama dia, jangan terus di sembunyikan, kalau kamu terlalu lama bergerak, akan ku jodohkan adikku dengan pria lain." Kembali berbalik arah meninggalkan ruangan.


What? Adit seketika terkejut, membulatkan matanya.


"Hei enak saja, siapa bilang aku suka sama Sinta? Aku sama dia itu sudah lama sahabatan, awas saja yah kalau kamu menjodohkan dia sama laki-laki lain, aku tidak terima! David!" Setengah berteriak, menyusul David keluar dari ruangan.


Mau sebanyak apapun ia terus mengomel, David tentu tidak menanggapi, demi menjaga image dirinya sebagai seorang dokter Adit kembali bersikap cool saat keluar dari ruangan David.


Saat David akan kembali ke ruangannya setelah memeriksa pasien, seorang suster menghampiri dokter tampan tersebut.


"Maaf dok, ada pasien di ruang gawat darurat yang harus segera di tangani." Ucapnya cepat.


David mengangguk, kembali memakai masker di wajahnya yang sempat ia lepas, melangkah cepat menuju ruang UGD.


sesampainya di sana David melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang basah terbaring di brangkar, seorang pria dan wanita yang masing-masing memegangi satu tangan wanita itu, pria itu tampak begitu cemas sedangkan wanita muda itu terus menangis, dan satu lagi wanita paruh baya yang juga ikut menangis di sampingnya, berkali-kali berkata 'nyonya sadar nyonya.'


"Permisi." Mendekati pasien.


"Maaf Pak, Bu, sebaiknya anda menunggu di luar dulu, dokter akan menangani pasien." Kata seorang suster yang datang bersama David.

__ADS_1


Humairah awalnya tak ingin mendengarkan perkataan suster tersebut, ingin memilih untuk berada di samping ibunya. Ia janji tak akan mengganggu, hanya berdiri di sana, setidaknya ia dekat dengan ibunya. Tapi Adnan tidak mengizinkan, bilang kalau mereka akan mengganggu dokter, itu tidak akan baik untuk ibu mereka sendiri. Ia pun menyerah, menuruti perkataan Adnan, menunggu dari balik pintu dengan cemas.


Beberapa saat kemudian...


David keluar dari ruangan itu, masih dengan wajah yang tertutup masker, keluarga pasien langsung mendekatinya.


"Bagaimana keadaan mama saya dok?" Adnan bertanya cemas.


"Iya dok, mama saya baik-baik saja kan?" Humairah tak sabaran.


"Tante Yana mengalami beberapa cedera ringan di bagian kaki dan bahunya, tapi itu bukan cedera serius jadi kalian tidak perlu khawatir. Kami akan kembali memeriksa pasien lebih lanjut, sejauh ini tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Adnan dan Humairah lega mendengarnya.


"Terima kasih dok." Ucap kakak beradik itu bersamaan.


David mengangguk.


"Baiklah, saya permisi." Pamit.


Adnan dan Humairah mengangguk, sekali lagi mengucapkan terima kasih. Suster mempersilahkan untuk kembali masuk ke ruangan Bu Ratih, mendampingi wanita tersebut, namun hanya dua orang yang bisa menemani, jadilah bibi yang bekerja di rumah mereka itu mempersilahkan Adnan dan Humairah untuk menemani ibu mereka. Mereka berdua lebih berhak daripada dirinya, meski ia pun merasa sangat khawatir sama dengan kedua kakak beradik itu.


Adnan masih berdiri di samping Bu Ratih, sementara Humairah duduk di bangku yang ada di samping brangkar, memegangi tangan ibunya. Baju basah yang di kenakan Bu Ratih telah berganti dengan pakaian yang kering, suster yang membatu menggantinya tadi. Perempuan paruh baya itu masih belum sadar.


Humairah menatap kakaknya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Bertanya ada apa?


"Aku pikir aku mengenali dokter yang tadi memeriksa mama."


"Siapa kak?"


Adnan menggeleng, ia pun masih belum yakin.

__ADS_1


"Sepertinya dia juga kenal sama kita, sama mama. Tadi dia memanggil mama Tante kan?" Humairah juga membenarkan.


Adnan mengangguk, itu juga yang ia pikirkan. Sejak dokter itu memanggil ibunya dengan Tante, ia jadi penasaran siapakah dokter itu, apa dia mengenalnya? atau ibunya yang mengenal dia? Ah, di lain kesempatan jika bertemu ia akan bertanya.


__ADS_2