Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Pingsan


__ADS_3

“Oh iya Pak, saya minta maaf karena Dania terlambat datang, dia tidak sengaja tertidur dan baru bangun saat saya datang ke kamarnya, mungkin sebentar lagi dia akan datang Pak.” Sarah mencari topik pembicaraan lain.


“Nona Sarah tidak perlu sungkan dan berbicara formal begitu, malam ini kita santai saja layaknya seorang yang kenal dekat satu sama lain. Dan kita juga akan menunggu Bu Dania 15 menit lagi sebelum memulai makan malamnya. ” Tonson berkata.


“Baik Pak, terima kasih atas pengertiannya.”Sarah berucap sopan.


Percakapan itu banyak di dominasi oleh Jayadi dan Tonson sementara Sarah lebih banyak diam, dan hanya menjawab ketika di tanya saja.


‘Oh ayolah sarah, kamu harus tetap professional.’ Ucap Sarah dalam hati.


“Oh yah nona Sarah, kalau boleh tahu mengapa anda belum menikah? Tidak mungkin ada laki-laki yang bisa menolak wanita secantik nona, anggun dan memiliki karier yang cukup baik.” Tanya Tonson.


Jayadi tersenyum mesum mendengar pertanyaan itu, sedari tadi ia terus memperhatikan Sarah dengan detail.


“Saya hanya masih ingin fokus pada pekerjaan saja Pak, lagi pula saya juga belum menemukan sesuai dengan kriteria yang saya inginkan.” Jawabnya sembari terus meremas jemari tangannya yang ada di bawah meja.


“Memangnya seperti apa kriteria nona Sarah?” Tanya Tonson lagi.


Sarah tersenyum kaku, merasa tidak enak terus menjadi bahan obrolan 2 lelaki di depannya itu.


"Yah, siapa tahu saya punya kenalan seperti tipe yang nona Sarah inginkan." Sambungnya.


“Sudahlah Tonson, kamu terlalu banyak bertanya hal pribadi padanya, nona Sarah mungkin akan merasa tak nyaman.” Jayadi membulatkan matanya pada pria di sampingnya itu.


“Eh… i… iya, mungkin pembahasan ini terlalu jauh, saya minta maaf nona.” Tonson gugup.


“Tidak apa-apa Pak.” Reflek Sarah memegangi lehernya.


Jayadi kembali memperhatikan setiap gerakan Sarah, sembari meminum air yang ada di depannya itu, matanya tajam tak teralihkan. Seakan telah siap untuk menerkam mangsanya.



Tak lama setelah itu, Dania masuk ke ruangan tersebut saat berbagai jenis makanan telah disiapkan pelayan di meja.


“Oh itu dia Bu Dania.” Tonson berkata.


Dengan langkah ragu Dania mendekati mereka.


“Maafkan saya karena sudah terlambat Pak.” Dania menunduk hormat.


“Tidak apa-apa Bu Dania, bergabunglah bersama kami.” Ucap Tonson.

__ADS_1


Dania belum beranjak dari tempatnya berdiri.


“Duduklah Bu Dania.” Ucap Jayadi datar.


Mendengar perintah itu, Dania segera bergabung dengan mereka di meja makan. Duduk di samping Sarah.


“Sekali lagi saya minta maaf Pak.” Dania kembali meminta maaf sesaat setelah duduk.


“Tentu, kali ini saya memaafkan kecerobohan anda karena hati saya sedang senang, jika tidak kesalahan seperti ini tidak akan saya tolerir Bu.” Jayadi kembali berucap datar.


“Bagaimanapun, memberikan kesan yang terbaik untuk rekan bisnis kita adalah yang utama, dan anda melanggar hal itu kerena datang terlambat. Hal itu sama sekali tidak mencerminkan karakter perusahaan kita yang selalu mengutamakan ketepatan waktu.” Sambung Jayadi.


Dania tertunduk lesu, dia memang melakukan kesalahan.


“Sudahlah Pak Jayadi tidak perlu di perpanjang, untuk hari ini, itu tidak masalah untuk saya.” Tonson menengahi.


Jayadi mendengus, entah dia sedang bersandiwara atau tidak. Dan Sarah merasa lega karena Dania sudah ada di sana. Ia merasa tak nyaman berada di dekat 2 lelaki kaya itu.


Mereka melanjutkan makan malam dengan menu yang mewah dan istimewa dari villa tersebut.



Setelah makan malam.


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan membawakan 4 gelas minuman untuk mereka. Meletakkannya di meja, dan menaruhnya di hadapan mereka masing-masing.


“Silakan Tuan dan nyonya.” Ucap pelayan itu.


Jayadi menggerakkan jarinya, memerintahkan pelayan itu untuk meninggalkan tempat tersebut. Pelayan tersebut menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Jayadi memberi kode pada Tonson untuk menyuruh Sarah dan Dania meminum minuman itu.


“Mari kita bersulang, untuk merayakan kerja sama ini.” Tonson mengangkat gelasnya, begitu pun dengan Jayadi dan Sarah. Namun Dania tampak termenung, ia hanya menatap ragu pada gelas di depannya.


Sarah menyenggol lengan Dania yang ada di sampingnya, menyuruhnya untuk mengangkat gelas miliknya itu.


“Ada apa Bu Dania?” Tanya Tonson.


Dania yang tersadar pun segera meraih gelas itu, agak ragu.


“Hahah... Bu Dania tidak perlu khawatir ini bukanlah alkohol, hanya jus anggur biasa. Saya tahu Bu Dania tidak akan meminum minuman seperti itu, karena itu pelayanku membawakan jus ini untuk kita.” Tonson menjelaskan.

__ADS_1


Dania lagi-lagi merasa bersalah, mungkin dia memang terlalu overthingking hari ini. Sehingga semuanya ia anggap negatif dan berbahaya untuk dirinya. Ia melirik pada Jayadi, kalau-kalau bosnya itu kembali akan menegurnya lagi, atau menatapnya tajam. Tapi tidak, bos nya itu malah sibuk terus memandangi Sarah, tepatnya pada bagian gaun yang terbuka perempuan itu.


Dania menautkan kedua alisnya, sebagai seorang wanita, ia tahu betul maksud dari tatapan Jayadi kepada Sarah.


Dania lalu mengangkat gelasnya, ikut bersulang, dan meminum jus itu. Setelah itu ia pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Sarah.


[Sarah, angkat gaunmu dan tutup kakimu yang terbuka itu. Kau lihat, Pak Jayadi sedari tadi terus menatap kamu.] Bunyi pesan Dania.


Ting


Suara notifikasi ponsel Sarah. Namun wanita itu masih mengabaikannya, dan terus mengobrol dengan Tonson. Melihat hal itu Dania menyenggol lengan Sarah.


Sarah mengangkat kedua alisnya, bertanya ada apa?


“Hp kamu bunyi tadi.” Ucap Dania tersenyum canggung karena Tonson dan Jayadi kini juga menatapnya.


“Oh biarkan saja.” Jawab Sarah yang kembali meminum minumannya.


“Di lihat dulu Sarah, siapa tahu penting.”


“Nanti saja Dania, aku tidak enak jika harus bermain ponsel di depan Pak Tonson dan Pak Jayadi, sebaiknya kamu juga meletakkan ponselmu sekarang.” Ucap Sarah yang melihat Dania memegang ponsel ditangannya.


Jayadi dan Tonson tersenyum,


“Mari nona Sarah, Bu Dania… kita bersulang lagi.” Jayadi mengangkat gelasnya terlebih dahulu, diikuti oleh Tonson Sarah dan Dania.


Obrolan itu kembali berlanjut hingga Sarah terlihat meringis memegang kepalanya. Bukan hanya Sarah Dania pun merasakan hal yang sama, ia terus mengerjapkan matanya yang kini nampak buram melihat sekeliling.


"Sa.... Sarah...." Dania mengeluh.


Sebelum menyadari semuanya, tubuhnya lebih dulu ambruk di sofa itu bersama dengan Sarah.


Jayadi tersenyum licik, Tonson terdiam melihat dua perempuan yang kini sudah pingsan di depannya itu.


"Obat yang kamu kasih ternyata manjur juga Tonson, tidak ku sangka reaksinya secepat itu." Ucap Jayadi yang masih duduk dengan posisi kaki menyilang.


Sebelumnya Tonson sudah memerintahkan pelayannya agar mencampurkan obat tidur di jus anggur tersebut.


"Heh, tentu saja Pak. Selanjutnya apa yang akan kita lakukan pada mereka?" Tanyanya.


"Kamu bawa nona Sarah yang cantik itu ke kamarku, Dania... heh, sekap dia di gudang." Perintah Jayadi. Setelah ia memberikan perintah, lelaki itu lalu berlalu, menuju kamarnya... ia akan menunggu Sarah di sana, segera.

__ADS_1


Sementara Tonson, segera memanggil anak buahnya untuk melaksanakan perintah Jayadi


__ADS_2