
Di hari kedua ia bekerja semuanya masih berjalan dengan lancar, Indah juga sangat menikmati pekerjaannya. Setelah selesai mengajar ia membereskan barang-barangnya, anak-anak sedang beristirahat di luar, bermain di perosotan, ayunan atau bermain kejar-kejaran bersama teman-teman, Adapula yang masih berada di kelas, asyik memakan bekalnya. Baru saja ia akan masuk ke ruangannya, seorang anak laki-laki tiba-tiba masuk dengan terengah-engah.
"Bu guru, Bu guru... Huuffttt." Menarik nafas dan menghembuskannya lagi.
"Ada apa Rehan? Kenapa berlari-lari seperti tadi, kamu harus hati-hati nak, kalau jatuh bagaimana?" Mendekat, memberi nasihat.
"Itu Bu guru, Naya... Naya jatuh, kakinya berdarah." Melaporkan kejadian yang ia lihat.
Indah lalu bertanya di mana si anak yang jatuh tersebut, anak laki-laki yang bernama Rehan itu lantas menggandeng tangannya, menuntunnya.
Melihat anak perempuan itu menangis, Indah segera menggendongnya, sebagai wali kelas dari anak tersebut tentu itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Sambil terus menenangkan gadis kecil itu ia membawanya masuk ke ruangannya. Rehan yang tadinya mengekor di belakang ibu gurunya itu terhenti di dalam kelas, berhenti sampai di sana.
Naya masih saja menangis melihat luka kecil di lututnya yang mengeluarkan darah. Indah masih berusaha menghibur.
"Tidak apa-apa Naya, ibu guru akan mengobati luka Naya, jangan menangis lagi yah..." Mengelus kepala gadis kecil itu, mendudukkannya di sofa mini yang ada di ruangannya. Naya menarik kakinya menjauh dari tangan Indah, takut di obati.
"Tapi... Tapi Bu ka... Kaki Naya sakit, huhuuu." Sesenggukan.
"Setelah ibu mengobatinya, luka Naya akan lebih baik, tidak sakit lagi. Yah...." Masih membujuk.
Gadis kecil itu tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya pelan-pelan menganggukkan kepala.
Indah tersenyum, ia beranjak mengambil kotak P3K yang tersedia di ruangannya, lalu membuka lagi cadar yang ia gunakan setelah memakainya kembali saat selesai mengajar anak-anak tadi.
Indah mengobati Naya dengan hati-hati dan lembut, membersihkan lukanya, sesekali melihat wajah gadis kecil itu, yang mengeluh tertahan.
"Naya suka yah main kejar-kejaran ?" Bertanya mengalihkan perhatian naya.
"iya Bu guru, Naya sangat suka berlari, Naya selalu menang loh kalau lagi main, naya bisa menangkap semua teman Naya yang lari, dan kalau Naya yang di kejar, teman Naya pasti sangat sulit menangkap Naya Bu guru." Asyik bercerita dengan antusias.
"Masya Allah, Naya hebat larinya. Tapi lain kali hati-hati yah, kala Naya luka kan Naya sendiri yang merasakan sakitnya." Memasangkan plester di kaki Naya.
Gadis kecil itu mengangguk.
"Nah sudah selesai, bagaimana, sudah lebih baik bukan?"
Naya kembali mengangguk, tersenyum melihat lututnya tampak lucu dengan plester emoticon.
"Terima kasih Bu guru."
"Sama-sama sayang." Mengelus kepala Naya.
"Ibu guru?" Memanggil.
__ADS_1
Indah yang sedang menyimpan kembali kotak P3K ke dalam lemari kecil itu berbalik, bertanya ada apa. Naya hanya menggelengkan kepala, kemudian tersenyum sebelum akhirnya ia mengatakan.
"Ibu guru cantik deh, baik lagi." Ucapnya polos.
Indah hanya tersenyum mendengarnya, perkataan anak kecil sangat tulus terdengar.
Setelahnya gadis kecil itu berpamitan pada Indah, izin kembali bermain di luar. Indah mengizinkan dengan catatan tak boleh bermain kejar-kejaran dulu, karena lutut Naya masih sakit. Naya menganggukkan kepala, mengerti. Ia juga sepertinya tak ingin bermain kejar-kejaran sekarang, yang ingin ia lakukan saat ini adalah adalah, memperlihatkan plester cantik yang menempel di kakinya kepada teman-temannya, dan menceritakan kalau ibu guru Indah yang cantik itu yang mengobati kakinya.
...
Adnan dan Bu Ratih akhirnya bertemu. Saat ia kembali ke ruangan ibunya di rawat, betapa bahagianya pria itu melihat Bu Ratih sudah siuman, di bantu oleh adiknya Humairah memakan sarapan yang di bawakan oleh petugas rumah sakit, ibu dan anak itu saling melepas rindu penuh haru, Bu Ratih memeluk putra satu-satunya itu dengan erat, seakan takut sekali ia jika kembali di tinggal pergi Adnan.
Adnan kembali menghapus air mata yang jatuh di pipi ibunya, tangisan bahagia dan kerinduan itu sangat jelas terlihat. Mengatakan 'mama jangan menangis lagi, aku sudah ada di dekat mama sekarang'.
Tak lama...
Bu Ratih tertidur kembali setelah ia menghabiskan sarapannya dan berbincang dengan Adnan, dari perbincangan itu, Adnan selalu bertanya apa yang terjadi, mengapa ia berada di kamar mandi dalam keadaan seperti tempo hari, Adnan menginginkan penjelasan. Namun Bu Ratih masih saja bungkam, tak ingin bercerita atau menjelaskan apapun, memilih untuk mencari topik lain dalam pembahasan mereka.
Adnan tak ingin memaksakan ibunya, mengingat bagaimana kondisinya sekarang. Ia akan bersabar untuk menunggu, sampai ibunya sudah lebih baik. Ia hanya ingin tahu, sangat ingin tahu, apakah lelaki itu yang sudah membuat ibunya seperti ini?
Adnan masih memegang tangan Bu Ratih, tersenyum melihatnya yang tampak pulas. Humairah yang duduk di sebelahnya juga merasa lebih tenang, kerinduan ibunya pada kakaknya itu sudah terobati.
"Oh iya kak, aku sampai lupa." Memukul pelan dahinya.
"Husstt...." Humairah malah mengikuti, kelepasan. Ia melirik Bu Ratih, hampir saja ia membangunkan ibunya yang baru saja tertidur.
Adnan memberikan isyarat untuk bicara di luar ruangan, melepaskan tangannya dari genggaman Bu Ratih dengan sangat pelan.
"Dokter yang menangani mama menunggu kakak di ruangannya."
Adnan mengangguk.
"Baiklah, aku akan ke sana. Tapi ruangannya ada di mana?"
Humairah berpikir, sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya, tidak tahu.
Adnan kembali bertanya apa Humairah mengetahui ruangan dokter itu? Humairah kembali menggelengkan kepala. Sepertinya tadi ibunya menyebut nama dokter tampan itu, tapi dia terlalu fokus pada wajah si dokter, melupakan yang lain, hanya memandang wajah indah di depannya, ia masi berpikir keras, berusaha mengingat.
Nama dokter itu bukanlah nama dengan huruf-huruf yang sulit, di tambah lagi nama itu juga tak asing baginya.
Adnan berpikir sejenak, kemarin dokter itu tak melepas masker yang ia gunakan, ia jadi tidak tahu bagaimana wajahnya.
"Baiklah, kakak akan mencarinya sendiri, kamu ingat siapa nama dokter itu?"
__ADS_1
Humairah menutup matanya, sampai akhirnya menganggukkan kepala.
"Aha! Aku ingat kak." Mengangkat telunjuk ke udara.
Adnan sampai terkejut.
"Tadi mama memanggilnya dokter David kak."
Deg
Mendengar nama itu, seketika Adnan kembali teringat masa lalu. Nama itu, sangat familiar untuknya, kembali teringat sosok teman dekat semasa sekolah.
"David..." Ucapnya kecil.
"Iya kak, namanya dokter David." Humairah yakin.
"Yang tampan." Sambungnya berbisik, gadis itu tersenyum malu.
"Apa dia adalah David yang.... CK, tidak.... Mungkin itu David yang lain." Berbicara pada diri sendiri.
Meski Adnan pun berharap, dokter David yang di maksud itu adalah benar teman lamanya, sudah lama sekali ia tidak mengetahui kabar dari lelaki itu.
"Kenapa kak, kakak kenal sama dokter itu?" Bertanya antusias dengan mata berbinar.
"Entahlah, kakak harus memastikannya dulu."
Humairah memanyunkan bibirnya.
Adnan menatap curiga.
"Eh, ada apa? Kenapa tiba-tiba jadi cemberut begitu? Kamu suka yah..." Menggoda.
"Eh, gak ihh.... Kakak sok tahu." Menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Ekhm... tadi kamu juga sangat antusias membahasnya wah,,, jadi kakak ceritanya lagi pegang rahasia kamu nih, hayoo... Nanti kakak kasi tahu mama." Mendekatkan wajahnya ke telinga Humairah, kembali menggoda.
"Ihhh kak Adnan." Memukul lengan Adnan.
Sebelum beranjak dari sana Adnan menatap wajah Humairah serius.
"Tapi walaupun kamu suka, kakak tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk pacaran, ngerti!"
"Ih kak Adnan, lagian yang mau pacaran siapa sih, sudah sana! Cari ruangan dokternya." Mendorong Adnan.
__ADS_1
Adnan menggelengkan kepala, adiknya ini sudah besar rupanya. Sudah bisa menyukai seorang pria, Pria itu lalu beranjak, meninggalkan Humairah yang masih tersipu malu karena ketahuan menyukai dokter tampan yang merawat ibunya itu.