Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Indah dan Adnan (Visual)


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


Udara begitu dingin malam ini, hujan baru saja mengunjungi bumi, menciptakan kesejukan pada semua makhluk yang terkena guyurannya.


...***...


Indah berjalan dengan terburu-buru saat ia tidak sengaja berpapasan dengan Adnan di dekat tangga Masjid. Adnan yang ingin membicarakan sesuatu pada Indah beberapa kali mencoba untuk menghentikannya, namun Indah terus berjalan tanpa menoleh sekalipun saat lelaki itu terus memanggilnya.


"Indah!" Adnan kembali memanggil, ia berlari kecil menyusul Indah.


Sementara Indah tak juga berbalik, namun ia tahu kalau Adnan sedang berlari menuju ke arahnya sekarang.


Jantungnya berdegup kencang, entah karena gugup, marah, benci atau malu. Entahlah, ia tidak mengerti perasaannya sendiri, yang pasti setiap ada di dekat lelaki ini ia merasa jantungnya mendadak tak sehat. Indah tampak gelisah dan bingung, tak tahu apa yang akan ia katakan ketika lelaki ini bertanya.


Adnan berada di samping Indah, berjalan beriringan dengannya. Suasana canggung mendadak menyelimuti mereka. Indah semakin gugup saja berharap ia cepat sampai di pertigaan jalan komplek ini.


"Eemm... ada apa yah kak?" Indah memberanikan diri memulai percakapan dengan ragu.


"Ah, tidak. Aku hanya ingin berjalan dengan kamu." Adnan membalas dengan senyuman.


Sesaat Indah terpaku dengan senyum itu. Sudah berhari-hari ia tidak pernah melihatnya lagi, senyum yang selalu bisa membuatnya nyaman dan menghadirkan bunga-bunga bermekaran di hatinya.


Indah terus berjalan dengan pandangan masih menatap Adnan, hingga ia tak memperhatikan langkahnya di jalan yang masih licin karena terkena hujan.


"Aaaa..." Teriak Indah.


Tanpa sengaja Indah menginjak jalan yang licin, membuat kakinya terpeleset dan tubuhnya terhempas ke belakang. Namun dengan sigap Adnan segera menangkap tubuh Indah, ia tak mungkin membiarkan gadis itu terjatuh.


Satu tangan Adnan berada di belakang memegangi punggung Indah, sementara tangan satunya berusaha untuk tidak menyentuh gadis itu terlalu jauh, satu tangan saja sudah cukup untuknya menahan beban Indah yang akan terjatuh.


Sementara Indah yang terhuyung ke belakang masih belum membuka matanya karena takut. Namun saat merasakan seseorang menahannya, perlahan ia membuka matanya. Sesaat keduanya saling memandang, terhipnotis pada rasa yang mereka rasakan.


"Eemmm.... kak." Indah yang tersadar lebih dulu berusaha menyadarkan Adnan.


"Eh, ehem... maaf, a... aku gak bermaksud untuk pegang kamu." Ucap Adnan berdehem sambil melepaskan tangganya dari Indah sesaat setelah ia membantu Indah untuk berdiri dengan tegap.


"Kamu gak papa kan?" Sambung Adnan.


"I... iya kak, a... aku gak papa, terima kasih u... udah nolongin aku." Ucap Indah yang begitu gugup.

__ADS_1


"Iya, kamu hati-hati jalanan nya licin."


"Iya kak."


'Duh, kenapa jadi deg-degan gini yah.' Adnan berucap dalam hati, memegangi dadanya yang berdebar kencang.


Sesaat suasana kembali canggung, mereka melanjutkan perjalanan di komplek itu, pertigaan sudah tampak di depan sana.


"Hhmm... Indah." Adnan ragu-ragu berucap.


"Iya kak, ada apa?"


"Apa kamu marah padaku?"


Deg


Adnan akhirnya mengatakan pertanyaan yang sedari tadi Indah takutkan.


'Kenapa kak Adnan harus nanyain itu? ah, sudah aku duga. Itu sebabnya aku sangat tidak ingin ketemu sama dia, bisa kabur gak sih dari sini." Batin Indah terus mengeluh.


"Indah." Adnan menyadarkan Indah yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ah, iya kak."


"Kok jadi melamun sih."


"Jadi kamu beneran marah sama aku?"


"Hah!? Ti... tidak kok, aku ti... tidak marah." Indah berusaha menyembunyikan wajahnya dengan melihat ke arah lain, takut-takut Adnan akan bisa melihat ekspresinya yang sudah salah tingkah.


"Namanya Celine, dia adalah anak sahabat ayahku, kami sudah saling mengenal cukup lama dan aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Apa kamu marah soal itu?"


'Oh, ya ampun mau di taro dimana ini muka, tolong.... aku mau kabur, malu banget, jangan-jangan aku ketahuan yah kalau suka sama dia.' Batin Indah kembali berteriak.


Adnan menjelaskan, Indah hanya terdiam terus berperang dengan perasaanya sendiri.


"Hhmm... kenapa kakak harus menjelaskan itu ke aku?" Tanya Indah pelan.


"Karena aku gak mau sikap kamu berubah ke aku. Aku gak mau kamu cuekin aku Indah, kamu menghindar dari aku terus, itu sangat menyakitkan."


Ada rasa sesak yang Adnan rasakan saat mengatakan itu.


'Apa katanya, menyakitkan? Maksud kak Adnan apa yah? Apa iya dia juga suka sama aku? Ah, Indah... jangan kegeeran deh kamu.' Kata Indah dalam hati.


"Siapa bilang a... aku jauhin kak Adnan?" Indah nyengir kuda, memperlihatkan senyum kaku.

__ADS_1


'Duh, emang jelas banget yah kalau aku berusaha menghindar dari dia beberapa hari ini? Dasar Indah.' Indah merutuki dirinya lagi.


"Kalau kamu gak jauhin aku terus kenapa setiap kita ketemu di sekolah kamu langsung pergi begitu saja? Aku panggil juga kamu gak pernah berbalik, sama seperti tadi, sampai aku harus ngejar kamu ke sini." Adnan menjelaskan, muncul di benaknya untuk menggoda gadis di sampingnya itu.


"Eh, gak kok kak, perasaan kak Adnan aja kali."


"Masa sih? Bukan karena kamu lagi cemburu yah?" Adnan menarik turunkan alisnya melihat ke arah Indah.


'Eh, kok gitu. Kak Adnan gak lagi ke sambet kan? Kenapa jadi jahil gini sih, Gak tau apa dari tadi aku udah nahan malu dan deg-degan aku." Batin Indah dengan wajah yang sudah mulai merona karena menahan malu.


"Ce... cemburu? Ah, kak Adnan ka... kalau bercanda bisa saja. yah... enggak lah kak."


Beruntung hari sudah malam, jadi Indah bisa menutupi wajahnya yang sudah Semerah kepiting rebus itu.


"Hehe... iya iya, aku hanya bercanda Indah." Adnan tertawa pelan melihat wajah Indah yang sudah sangat malu.


Indah hanya bisa nyengir kuda, memperlihatkan susunan giginya yang terlihat rapi dengan gigi kelincinya yang menggemaskan.


"Sebenarnya kalau kamu cemburu juga gak papa kok, aku justru akan sangat senang." Sambung Adnan pelan.


"Yah... kenapa kak?"


"Ah, tidak... tidak."


"Oh, aku kira kakak ngomong barusan."


Obrolan menegangkan untuk Indah itu akhirnya bisa berakhir saat mereka tiba di pertigaan jalan komplek tersebut.


"Aku..... duluan yah kak."


"Iya, kamu hati-hati yah, perhatikan langkahmu, jalanan masih sangat licin."


"Hhmm... iya kak."


Adnan dan Indah kembali bertukar senyum di jalan tersebut. Adnan berjalan perlahan sambil sesekali berbalik ke belakang melihat ke arah Indah. Saat jarak mereka cukup jauh seseorang membunyikan klakson motornya beberapa kali dari arah belakang membuat Adnan reflek kembali berbalik. Keningnya berkerut saat melihat seseorang berhenti di dekat Indah, dan berbicara dengannya.


"David?" Adnan berucap pelan.


Beberapa saat ia melihat David dan Indah yang masih tampak mengobrol di sana, sesekali Indah terlihat tersenyum pada laki-laki itu. Hal tersebut membuat Adnan merasakan sesuatu yang tidak nyaman, perasaan panas dan gelisah di hatinya.


Visual Indah Nur Aisyah



Visual Miftahul Adnan Maharendra

__ADS_1



__ADS_2