
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
Celine terlihat memainkan ponselnya, dengan baju terusan sebatas lutut duduk menyilang kan kaki dengan santai. Riasan wajah yang cukup mencolok dan lekuk tubuh yang cukup terlihat dari balik bajunya yang ketat. Jika seseorang yang tidak mengenalnya melihat gadis itu, tentulah mereka tidak akan percaya jika gadis ini masih berumur 17 tahun yang masih sekolah.
Jika dilihat-lihat Celine adalah gadis yang cantik. Dengan kulit yang sangat putih dan tampak sangat halus. Hidung yang mancung dan ramping, bibir tipis, mata yang berwana kecokelatan dan rambut lurus yang panjang. Namun Adnan sama sekali tidak tertarik padanya. Bukan hanya karena penampilan Celine yang cukup terbuka, namun sebagai seorang pria, Adnan tidak pernah merasakan adanya getaran cinta ataupun perasaan tenang saat melihat atau berada di dekat gadis itu. Selama 5 tahun ini ia hanya menganggap Celine hanyalah sebatas teman, tidak lebih dari itu.
"Astaghfirullah." Adnan berucap pelan saat melihat Celine, ia baru saja memperhatikan pakaian yang di pakai gadis itu.
'Nih orang buat aku tambah dosa aja.' Batin Adnan, risih melihat gadis di depannya itu.
Menyadari kedatangan Adnan, Celine langsung meletakkan ponselnya di sofa, raut wajahnya seketika berbinar.
"Hei, kamu lama banget, kenapa tadi langsung masuk?" Tanya Celine.
Adnan tidak menjawab dan langsung duduk di sofa yang bersebrangan dengan Celine, memilih untuk sibuk memainkan ponselnya.
"Kau tahu, aku senang sekali bisa datang ke sini lagi. Aku sudah cukup lama berada di Amerika, rasanya aku merindukan suasananya negeri ini, dan juga... orang-orangnya." Celine menatap Adnan lekat.
Adnan yang tahu arah pembicaraan Celine hanya menanggapinya dengan senyum dingin.
"Kamu tahu Adnan aku sangat merindukanmu, waktu aku belum tinggal di Amerika kita banyak menghabiskan waktu bersama, I felt so alone there."
"Kapan kamu akan kembali ke Amerika?" Kali ini Adnan membuka suara dengan bertanya.
"Hei kamu jahat sekali, apa kamu ingin aku segera kembali ke sana?" Celine tidak menjawab pertanyaan Adnan dan malah berbalik bertanya padanya.
"Ah bukan begitu, aku hanya ingin tahu saja."
"Yah aku di sini mungkin hanya sekitar seminggu." Ada raut sedih terlihat di wajah gadis itu.
"Hhmm..." Adnan bergumam.
Adnan kembali memainkan ponselnya, ia sama sekali tidak tertarik pada pembicaraan malam ini. Seandainya saja ibunya yang memaksanya, tentulah ia akan mengunci dirinya saja di dalam kamar.
"Hei, apa kamu tidak merasa senang aku datang ke sini? Kamu tidak merindukanku Adnan?"
Adnan kembali merasa tak nyaman, sekali lagi dia tersenyum dingin, menatap sebentar gadis yang duduk di depannya itu.
"Ayo jawab!" Celine berucap manja.
"yah aku senang bisa bertemu dengan teman lama. Aku juga merindukanmu Celine, sebagai temanku." Adnan mempertegas ucapannya.
"Huufftt..." Celine menghembuskan nafas kasar, namun berusaha tetap tersenyum di depan pria itu. Walau sikap Adnan selalu dingin padanya dan hanya menganggapnya sebagai teman, tapi Celine sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ia bertekad akan mendapatkan hati Adnan suatu hari nanti, tidak peduli dengan cara apapun itu.
...***...
__ADS_1
Di sekolah saat jam istirahat pertama.
"Kamu mau kembalikan novel itu dulu ke perpustakaan?" Tanya Sinta kepada Indah.
Mereka tengah berjalan keluar kelas.
"Iya temani aku dulu yah, habis ini kita ke kantin bareng, ok?!" Ucap Indah seraya mengangkat tangan kanannya. Membuat simbol dengan ibu jari dan jari telunjuk yang bersambung membentuk lingkaran, sementara tiga jari yang lain tetap berdiri.
"Ok!" Sinta membalas dengan mengacungkan ibu jarinya.
Sesampainya di depan perpustakaan.
"Aku tunggu kamu di sini saja yah." Ucap Sinta langsung duduk di teras perpustakaan itu.
"Ya sudah iya , aku masuk dulu."
Sinta mengangguk mengiyakan.
Sampai di dalam Indah tak melihat ada Bu Lena yang biasanya duduk di bangkunya. Mencatat nama-nama siswa yang meminjam maupun mengembalikan buku yang mereka pinjam.
5 menit menunggu, Indah memutuskan untuk bertanya pada salah satu siswa yang berada di sana.
"Maaf, kamu tahu tidak Bu Lena ke mana?" Tanya Indah pada seorang siswa yang sedang asyik membaca sebuah buku.
Mendengar suara Indah, Ia meletakkan bukunya di atas meja, memperbaiki posisi kacamatanya dengan jari telunjuk.
"Oh tadi keluar, katanya sih mau ke tempat foto copy an. Kamu mau pinjam buku?" Tanyanya.
"Hhmm.... iya tunggu saja dulu. Katanya tadi dia cuma sebentar. Aku juga lagi nungguin dia untuk pinjam buku." Lelaki itu menjelaskan.
"Hhmm... baiklah, terima kasih "
"Iya." Jawabnya singkat.
Akhirnya Indah memutuskan untuk menunggu 5 menit lagi. Berjalan menuju bangku dekat jendela. Memilih untuk duduk menunggu di sana. Suasana perpustakaan tampak sepi, hanya ada 3 orang siswa di sana. Duduk terpisah, dengan buku yang masing-masing berada di tangan mereka.
Pandangan Indah beralih saat melihat seseorang masuk ke perpustakaan.
Deg...
Mata Indah membulat sempurna saat tak sengaja pandangan mereka bertemu.
Dengan segera Indah mengalihkan pandangannya, melihat ke arah luar jendela.
'Duh... aku lupa kalau kak Adnan memang selalu ke sini kalau jam istirahat. Ya Allah, aku belum siap bertemu dengannya.' Batin Indah gelisah.
Nampak raut sedih di wajahnya saat mengingat kembali bagaimana Celine memeluk Adnan.
Adnan yang memang ingin sekali bertemu dengan Indah setelah kejadian semalam sangat senang mendapati gadis itu sedang ada di depannya sekarang.
Perlahan ia menghampiri Indah, dan duduk di seberang kursi gadis itu. Berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Hhmm... apa kabar Indah?" Tanya Adnan.
'Kenapa dia mesti duduk di sini sih? Ngapain juga basa-basi gitu, kita kan baru aja ketemu kemarin malam.' Batin Indah kesal.
"Alhamdulillah baik kak." Jawab Indah datar.
Pandangannya masih tak lepas dari luar jendela. Ia enggan melihat pada pria yang saat ini duduk di depannya itu.
"Apa kamu ingin meminjam novel lagi?" Tanya Adnan kembali.
"Tidak."
"Atau ingin mengembalikan Buku?"
"Iya." jawab Indah singkat.
Pandangan Adnan beralih pada tempat duduk penjaga perpustakaan.
"Apa kamu sedang menunggu Bu Lena?"
Indah mengangguk, mengiyakan.
Adnan dapat merasakan perubahan sikap Indah padanya.
Gadis yang selalu tersenyum manis saat bertemu dengannya, kini bersikap begitu dingin.
Suasana hening sejenak.
Indah membuka lembaran novel yang ia pegang, sekedar untuk menutupi rasa gugup dan sedihnya.
"Indah, apa aku bisa menanyakan sesuatu?" Adnan kembali bertanya.
Mendengar nada Adnan yang serius, Indah melihat ke arahnya sebentar.
"Kak Adnan mau bertanya soal apa?"
"Hhmmm..... apa... apa kamu... kamu marah padaku Indah?"
deg
Indah tersentak mendengar pertanyaan dari laki-laki yang ia cintai itu. Seakan ia tahu apa yang sedang Indah rasakan.
"Kenapa kak Adnan bertanya seperti itu? Untuk apa aku marah?" Indah tersenyum getir.
"Eemmm.... aku kira kamu... mmm.... kamu... akan marah soal... soal semalam." Adnan salah tingkah, reflek memegangi tengkuknya.
'Ya ampun kenapa aku berada dalam situasi ini sih? Mana mungkin aku jawab kalau aku memang marah karena cemburu melihat dia dan gadis itu semalam. Ingin sekali aku tanyakan siapa itu gadis itu baginya?" Batin Indah.
"Huufftt..." Indah menghembuskan nafas kasar.
Indah menatap sebentar sosok pria itu. Pandangan mereka tak sengaja kembali bertemu.
__ADS_1
"Kalaupun aku marah untuk apa kak Adnan? Memangnya aku siapa?" Indah kembali tersenyum getir, lalu berdiri dari tempatnya duduk. Dan berjalan meninggalkan Adnan.