Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Memaksa


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


"Sin, kalau yang ini gimana?" Indah memperlihatkan sepatu kets putih dengan tali berwarna biru.


"Terlalu mencolok Indah, aku kurang suka yang warna putih. Aku ini gak bisa sebersih kamu kalau pakai apa-apa. Bisa-bisa nanti tuh sepatu bukannya warna putih lagi tapi berubah jadi coklat, hahhh..." Sinta tergelak membayangkan.


"Ckck." Indah berdecak dengan senyum simpulnya.


Terkadang Sinta merasa Indah adalah kebalikan dari dirinya. Mengingat-ingat Indah adalah gadis yang anggun dan feminim, sementara dia selalu berkelakuan bak lelaki dengan penampilan yang semrawutan. Sinta ingat saat ia dan Indah belum berada di sekolah yang sama, Sinta lebih banyak bergaul dengan teman laki-lakinya. Namun sejak ada Indah yang sebangku dengannya, membuat sisi wanita Sinta sedikit keluar. Walaupun penampilannya tetap sama namun kini ia lebih banyak berinteraksi dengan teman wanitanya di kelas. Tentu saja itu karena ajakan Indah.


Indah selalu tampil rapi dan bersih, berbeda dengan Sinta yang selalu berantakan. Seragam yang selalu ia keluarkan dari roknya, lengan yang di gulung ke atas hingga hampir memperlihatkan bahunya, dan rambut yang selalu berantakan saat selesai bermain Volley atau pun basket dengan teman-teman cowoknya.


Terkadang sempat muncul dibenak Sinta, ingin tahu rasanya berpenampilan layaknya teman-teman perempuannya yang lain ataupun seperti Indah. Tapi hasilnya masih sangat gengsi mengakui itu. Ia selalu berpikir ini adalah dirinya sejak dulu dan sampai kapanpun.


Indah dan Sinta masih tampak memilih-milih sepatu


Saat terlihat sebuah sepatu balet berwarna pink dengan hiasan pita di bagian tengahnya, muncul dibenak Indah untuk menggoda sahabatnya itu.


"Sin! Aku sudah dapat nih sepatu yang cocok buat kamu." Ucap Indah menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa, sembari menyembunyikan sepatu itu dibelakang tubuhnya.


"Mana??? Mana???" Sinta yang berada tak jauh dari Indah terlihat antusias ingin melihat sepatu yang dimaksud Indah.


"Ini... tada..." Tampak riang, Indah memperlihatkannya.


Senyum yang tadi mengembang dibibir Sinta lantas berubah, kali ini memasang wajah cemberutnya.


"Kamu nih, sempat-sempatnya ngerjain aku, aku udah serius juga." Dengan wajah kesal dan tangan yang disilangkan di depan dada.


"Hahhhhh......" Indah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Sinta yang tampak kesal.


"Udah yah udah, gak ada yang lucu juga."


"Hehehe..... lagian kamu ini, memang apa salahnya kamu pakai ini, kamu kan cewek."


"Yeaahh... aku juga tahu kali aku cewek. cuma kan itu bukan gaya aku. Masa iya aku pakai sepatu kek gitu, bisa heboh satu komplek plus satu sekolah."


"Idiihh... lebay banget kamu." Indah mencubit pelan lengan Sinta.


"Hehe...." Sinta terkekeh.


...***...


Tok tok tok


"Kak Adnan! Kak!" Panggil seorang gadis kecil dari luar kamar Adnan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian


Ceklek


Pintu terbuka


"Ada apa dek?" Tanya Adnan yang berdiri di ambang pintu.


"Kakak dicariin kak Celine tuh di depan." Ujarnya.


"Hhuufftt....." Adnan menghembuskan nafas berat.


"Bilang aja kakak lagi tidur." Ucap Adnan. Ia enggan menemui gadis itu, pasalnya Celine hampir setiap hari ke rumahnya.


"Ih... kakak ngajarin adiknya bohong, dosa loh..." Gadis cilik itu memainkan telunjuknya, menunjuk ke arah Adnan.


"Eh, bukan gitu Humairah." Adnan yang salah tingkah memegangi tengkuknya.


"Yah itu tadi suruh bilang tidur, padahal kak Adnan kan gak lagi tidur."


'Duh, jadi serba salah gini.' Batin Adnan bingung.


"Kakak lagi malas ketemu dia dek." Ucapnya kini jujur.


"Eemm.... terserah kakak deh sebenarnya tadi papah yang nyuruh aku buat panggil kakak."


Adnan mengerutkan dahinya.


"Iya, ada papah di depan. Sudah yah, Humairah mau pergi main dulu, kakak cepetan ke depan entar papa marah loh." Ujar Humairah lantas berlari meninggalkan Adnan yang masih berdiri di balik pintu kamarnya.


Adnan berpikir sejenak, ingin mengabaikan Celine... tapi ia tak mungkin mengabaikan perintah papahnya. Akhirnya dengan berat hati Adnan kembali menutup pintu kamarnya, tapi bukan kembali masuk ke kamar, melainkan menuju ruang tamu menemui papahnya dan Celine.


"Tumben cepat pulang?" Tanya Adnan sedikit ogah-ogahan saat sampai di ruang tamu. Mendapati papahnya tengah asyik berbincang dengan Celine. Adnan memilih untuk duduk di sofa yang masih kosong.


"Ini dia nih anaknya, kamu kok lama banget di dalam. kasihan kan Celine sudah lama menunggu kamu loh." Tidak menjawab pertanyaan Adnan.


Lelaki paruh baya itu, sorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang Industri, dengan perusahaan yang bisa di bilang salah satu perusahaan terbesar di Jakarta. Ia berambisi untuk membuat perusahaannya semakin besar. Al hasil, waktunya lebih banyak ia habiskan di kantor daripada di rumahnya sendiri.


"Adnan ketiduran." Adnan menjawab dengan singkat, tampak tak ingin menatap laki-laki yang kini duduk berhadapan dengannya itu.


"Adnan sekarang sepertinya memiliki hobi baru yah om." Ujar Celine.


"Oh yah, apa?" Ayah Adnan nampak serius, laki-laki itu tampak sangat ramah hari ini.


"Tidur, om. Hehehe." Jawab Celine terkekeh.


Begitu pun ayah Adnan yang tertawa mendengarnya, sementara Adnan masih memasang ekspresi datar.


"Kebanyakan tidur nanti kamu bulat loh Nan." Ayah Adnan menimpali.


Adnan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Papah tumben udah pulang kerja jam segini? Bukannya pekerjaan di kantor gak ada habisnya yah? " Adnan kembali mengajukan pertanyaan yang sama, namun bermaksud menyindir.


"Tidak, papah belum pulang, hanya ingin mengambil berkas yang ketinggalan." Jawabnya sembari memperlihatkan berkas yang ada di atas meja, tersenyum kaku ke arah Celine.


"Tumben banget pah? biasanya kan papa tinggal suruh Pak Tejo saja." Pak Tejo adalah supir pribadi keluarga mereka.


"Tidak... tidak, berkas ini sangat penting. Papah... Papah, tidak akan tenang kalau bukan papah sendiri yang mengambilnya."


"Hhmm... " Adnan bergumam.


"Oh iya, Celine ke sini mau mengajak kamu keluar, temenin dia yah. Dia kan sebentar lagi mau kembali ke Amerika, kalian mungkin tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Jadi, kalian harus sering menghabiskan waktu bersama." Jelas lelaki itu.


Celine tersenyum malu-malu melihat ke arah Adnan . Sementara Adnan sedari tadi memang sudah mengerti kenapa papahnya ada di rumah kali ini. Tidak lain karena ingin membujuknya untuk pergi bersama Celine. Mengambil berkas yang ketinggalan hanyalah alasan saja. Bukan su'udzon namun dia sangat mengenal papahnya itu. Dari dulu ia memang sudah sering melakukan hal yang sama, karena jika Celine memintanya sendiri secara langsung, tentu Adnan tidak pernah menerima ajakannya itu. Karena itu Celine selalu meminta Pak Baskoro atau Bu Ratih membantunya.


Bukankah kerap kali ayahnya selalu menjodohkannya dengan Celine? Dan Ayah Celine pun sangat setuju dengan itu.


"Huufftt...." Adnan menghirup nafas berat dan mengeluarkannya dengan kasar.


"Tapi pah, hari ini Adnan lagi banyak tugas." Ujarnya mencari alasan.


"Tidak ada tapi-tapian Adnan. Kamu ini, Celine ke sini setelah sekian lama dan kamu sulit sekali meluangkan waktu untuk dia." Ayahnya memasang wajah tegas.


Adnan tertunduk sejenak, walau ia membenci pria di depannya itu. Namun bagaimana pun juga pria itu adalah ayahnya.


Ia tidak ingin, papahnya kembali memasang tanduknya, agar keinginannya terlaksana. Menolak pun tidak ada gunanya.


"Iya pah, aku akan temenin Celine." Adnan pasrah tak bisa membantah.


"Nah, gitu dong." Lelaki paruh baya itu tersenyum lega.


Raut wajah Celine yang sebelumnya sedih seketika mengembangkan senyumnya. Tak sia-sia dia sampai meminta bantuan pada Pak Baskoro untuk membujuk Adnan agar mau menemaninya hari ini.


"Kalau begitu papah balik ke kantor lagi yah." Beranjak dari tempat duduknya.


"Iya." Jawab Adnan singkat.


"Hati-hati yah Om." Ujar Celine tersenyum.


"Iya."


Setelah ayahnya pergi, sekarang hanya menyisakan Adnan dan Celine di ruang tamu yang luas itu.


"Kita pergi sekarang yah Adnan!" Ucap Celine semangat.


"Memangnya kamu mau ke mana?" Tanya Adnan malas.


"Hhmm.... aku mau ke Mall saja. Aku ingin beli baju tas, dan sepatu, setelah itu kita makan di restoran, yah....." Jawab Celine mengerlingkan matanya, memohon.


"Hhmm... aku ganti baju dulu." Adnan segera berlalu, menuju kamar.


'Dia selalu saja memaksa, dan kenapa juga aku harus bertanya dia mau ke mana, bukankah dia memang tahunya hanya mall dan makan di restoran saja. Hanya itu yang selalu ia lakukan.' Batin Adnan kesal.

__ADS_1


__ADS_2