
Steven, masih tetap dengan tatapan dingin nya tanpa menyentuh makanan yang Sandra, sajikan di piring nya, dia merasa kecewa dengan perkataan Sandra.
"nak,ayo di makan, apa itu tidak sesuai dengan selera mu"ujar Siti.
"tidak aunty, hanya saja aku sedang tak laper"ujar Steven, yang benar-benar merasa kehilangan selera makan nya.
"Steven, tolong ya"ujar Sandra, yang kini menatap sendu wajah pria tampan yang ada di hadapannya, Sandra, hanya ingin Steven, mengerti dengan keadaan nya saat ini masih depan keluarga besar nya.
"maaf uncle, aku kekamar duluan ada sedikit pekerjaan yang tertunda , silahkan di lanjutkan makan malam nya"ujar Steven, sambil langsung pergi.
"Steven"ujar Sandra, perlahan, tapi kemudian Sandra,sadar ia langsung mengambil piring milik Steven, dan memakan nya dengan lahap, dia tidak ingin keluarga nya itu curiga.
setelah selesai makan Sandra, kembali membawa piring, dan mengisi nya dengan berbagai menu yang ada di meja, setelah itu dia taruh di nampan, dan pamit membawa nampan tersebut ke atas, semua orang mengerti itu untuk Steven.
sesampainya di kamar Steven, sedang beres-beres barang nya di masukan ke dalam koper besar miliknya itu, Sandra, mematung di tempatnya, saat ini dia tidak ingin berdebat dia menyimpan nampan tersebut ke atas meja.
"makan lah setelah itu kamu bisa pergi sesuai keinginan mu, tidak perlu pamit pada ku, aku pergi"ujar Sandra.
"aku tidak butuh itu, bawa pergi"ucap Steven, tanpa menoleh.
"terserah kamu"ujar Sandra, Sambil , pergi dia langsung bergegas menuju kamar nya, dan mengambil mantel nya, dia langsung menuruni tangga, dan menelpon seseorang.
"halo, apa ?? kamu ada waktu, aku ingin bertemu"ujar Sandra, yang sedikit masih bisa di dengar oleh Steven, yang langsung mengepalkan tangannya saat itu juga.
"kamu berani pergi , dengan orang lain saat aku masih di sini "gumam Steven.
Sandra, berlalu dengan mobilnya, saat ini untuk menemui Rendi,sang pelatih, Sandra, tidak ingin melihat kepergian, Steven, untuk itu dia langsung tancap gas.
"kak...mau kemana??"ujar Gilang.
"aku mau jalan"ujar Sandra, sambil terus fokus menyetir.
Rendi , sudah stay di tempat mereka janjian tadi, tepat nya di sebuah kafe tongkrongan anak muda di kampung, kafe, yang terbilang baru di sana bahkan mereka bisa menyalakan api unggun tepat di samping kafe, ada tanah lapang dengan rerumputan yang nyaman untuk di pijak walaupun tanpa alas kaki, Sandra, masih diam tanpa kata, dia sibuk dengan minuman nya saat ini, sementara Rendi, dari tadi sibuk dengan gitarnya.
"Sandra, coba deh kamu nyanyi pasti suara mu merdu"ujar, Rendi.
"aku tidak berbakat, Rendi, kamu saja yang nyanyi gimana"ujar Sandra.
"yakin lah, kita bisa jadi pasangan duet"ujar Rendi, yang terus membujuk nya.
"kak,elo di sini, aku nyariin, ayah nyuruh kakak, pulang secepatnya, di rumah ada sedikit. masalah"ujar Riko.
"ahhh... ganggu deh, aku sedang menikmati malam yang indah ini"ujar Sandra.
"ayolah kak,ini darurat"ujar Riko.
"aku tidak ingin pulang"ujar Riko.
tiba-tiba, tangan kekar menggenggam tangan Sandra, dan langsung menarik nya pergi.
"lepas, aku tidak ingin pulang!!"ujar Sandra,tegas.
namun pria itu tidak sedikit pun menghiraukan permintaan Sandra.
"masuk!!"teriak nya tegas.
"aku tidak mau"ujar Sandra.
"masuk atau aku hancurkan , semua nya termasuk kepala pria itu"ancam Steven.
__ADS_1
Sandra, lagi-lagi kaget saat melihat kemarahan Steven, yang jarang ia tunjukkan, Sandra, pun masuk, ke dalam mobil nya, dan Steven, melempar kunci mobilnya pada Riko, dan langsung di tangkap.
Steven, langsung tancap gas, tanpa menghiraukan tatapan Sandra, yang masih syok, saat ini dia bahkan membawa Sandra,ke hotel, yang baru-baru ini di bangun tidak jauh dari tempat Sandra, tinggal.
"katanya mau pulang kenapa malah kemari,ujar Sandra, dingin.
"kamu ingin seluruh keluarga mu tau pertengkaran kita"ujar Steven.
"Steven, aku harus bagaimana lagi untuk ngadepin kamu heuhhhhh, aku cape Steve, kamu tidak pernah mau mengerti di antara kita tidak akan pernah bisa bersatu, kamu tau itu, kamu sudah punya istri sudah lah buang semua egois mu itu"ucap Sandra, sambil menatap keluar jendela.
Steven, langsung memarkir mobil tersebut, dengan kasar, walaupun tepat sasaran tidak lama dia langsung bergegas keluar, dan mbuka pintu samping Sandra, dan menarik nya keluar dengan paksa.
"Steven, sakit"ujar Sandra, yang merasa tersakiti di bagian pergelangan tangan nya, tapi Steven, tidak perduli, dia langsung menarik tangan Sandra,kasar hingga resepsionis, dan memberikan kartu identitas, dan kartu debit nya, setelah kunci di dapat dia langsung menarik tangan Sandra, lagi-lagi, hanya bisa pasrah, sesampainya di kamar sweet room, tersebut Steven, langsung mengunci pintu kamar tersebut dan mendorong Sandra, keatas ranjang.
ada kemarahan, yang membuncah hingga Steven,di kuasai nafsu, dia benar-benar akan melakukan, hal itu dengan atau tanpa persetujuan Sandra,agar Sandra, tidak bisa lagi pergi dari hidup nya.
Steven langsung mengungkung tubuh Sandra, dan Sandra, begitu panik dan ketakutan, dia melihat kilatan amarah di mata Steven, bahkan Sandra,sama sekali tidak bisa berontak, karena tenaga nya kalah dengan Steven.
Steven, dengan mudah nya merobek kancing kemeja milik Sandra dan kini sudah polos tanpa sehelai benang pun, Sandra, menangis sesenggukan minta dilepaskan dengan segala cara dia memohon tapi Steven, sudah gelap mata, dan akhirnya hal yang tidak pernah di inginkan Sandra, pun terjadi sebelum waktunya.
Sandra, menjerit ketika Steven, berhasil menerobos gawang pertahanan nya, Sandra, benar-benar merasa hancur karena itu, dia tidak berhenti menangis hingga, Steven, mencapai puncak, Sandra, langsung berusaha bangkit, rasa nya dia tidak ingin melihat pria kejam di hadapan nya saat ini, tapi saat ia akan pergi, tangan Steven, berhasil menghentikan nya.
"tetap di sini atau aku akan bubuh diri"ancam Steven, yang entah dari mana ia mendapat kan pistol tersebut.
"Steven,hiks hiks hiks hiks, apa masih belum puas heuuhh, kamu sudah dapat apa yang kamu mau, sekarang kita , bisa jalani hidup masing-masing"ujar Sandra, tanpa menoleh.
"apa se bejat itu aku di matamu heuhhhhh, jawab Sandra!!! Sandra,asal kamu tahu aku melakukan itu karena aku sudah tidak tau lagi bagaimana cara nya, agar kamu tetap bertahan bersama dengan ku, aku sangat mencintaimu, Sandra, sangat, tapi jika itu yang kamu inginkan baik'lah selamat tinggal, Sandra, semoga kamu bahagia dengan dia"ujar Steven, yang langsung menarik pelatuk pistol tersebut,tapi Sandra, seketika itu berhasil menghentikan nya.
"stop, Steven, baiklah-baiklah, sesuai keinginan mu, kita akan menikah, tapi satu hal yang harus kamu tahu, setelah pernikahan itu berlangsung, kamu bisa langsung menceraikan aku"ujar Sandra.
"semua percuma saja, jika aku harus tetap kehilangan mu, lebih baik aku mati saja"ucap Steven.
🌹💖💖💖🌹
akhirnya ijab qobul pun di laksanakan di mesjid tempat ia belajar mengaji saat kecil dulu, Sandra, bahkan hanya berbalut kebaya modern, yang sudah di siapkan, oleh ibu, Gilang,satu bulan yang lalu, tadinya itu adalah untuk kado pernikahan nya nanti, tapi semua itu terjadi tanpa rencana sebelumnya, Adryan, dan Sania, datang dengan menggunakan helikopter, milik nya bahkan acara pernikahan tersebut, digelar sangat sederhana, sesuai keinginan Sandra, walaupun Adryan, sempat protes,tapi demi kebahagiaan putri nya itu apa boleh buat.
setelah pernikahan tersebut, Sandra, langsung di bawa pulang oleh Adryan, bersama dengan Steven, saat itu juga, sementara mobil mereka berdua,di bawa oleh para bodyguard nya.
setelah pamit pada ke empat saudara angkat nya Sania, langsung bergegas menaiki helikopter tersebut dan langsung berangkat menuju pulau as.
sesampainya di sana, Sania, langsung menyuruh mereka berdua untuk istirahat , sebelum besok di adakan acara resepsi pernikahan seperti yang di inginkan oleh Adryan, untuk putri sulung nya tersebut.
lain halnya sandrina, dan Riyan, yang sudah menikah empat bulan lalu, saat ini mereka sedang berbahagia, pasalnya sandrina,kini tengah mengandung anak pertama mereka, walaupun pernikahan mereka tidak di dasari rasa cinta, karena keduanya berkomitmen untuk berteman selama pernikahan mereka, entah mungkin dengan berjalan nya waktu, dan kehadiran anak mereka cintai itu akan hadir dengan sendirinya.
"kak, apa kamu mau aku buatkan teh??"ujar sandrina.
"heumm, tidak usah sayang, kamu pasti lelah aku bisa buat sendiri atau minta pelayan nanti, kamu istirahat saja Ok,agar anak kita tetap baik-baik saja"ujar Riyan.
"aku selalu baik-baik saja kok,kak, bahkan jika kamu ingin kita berpisah saat ini juga kasihan kekasih mu, harus menunggu lama"ucap sandrina.
"kamu bicara omong kosong apa, sandrina,buang pikiran buruk mu itu, aku tidak suka,dengar ya, Dina , aku tau pernikahan ini tidak di dasari rasa cinta, tapi bagiku perceraian itu tidak akan pernah ada dalam kamus ku, pernikahan bukan lah mainan"ujar Riyan.
"tapi kak, aku tau kamu begitu mencintai nya, hingga, saat kau tidur pun, nama itu selalu terucap dari bibir mu, aku bisa paham dengan semua itu, yang aku inginkan kamu tidak usah menyiksa diri sendiri demi pernikahan ini"ujar sandrina.
Deg....
jantung Riyan, seperti ditimpa batu besar, Riyan, bahkan tidak pernah menyadari hal itu,rasa bersalah teramat besar kini hadir di hati nya, pada sandrina.
"maaf kan aku, sandrina sayang, aku benar-benar tidak sadar dengan itu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu dan juga anak kita "ujar Riyan,tegas.
__ADS_1
"kalau begitu, nikahilah dia, aku tidak keberatan jika dia menjadi maduku , aku janji tidak akan pernah menuntut mu untuk berbuat adil"ucap sandrina.
"tidak aku bilang tidak ya tidak"ujar Riyan, sambil menatap wajah istrinya itu, sandrina, pergi dari hadapan Riyan, dia menuju balkon, Air mata nya tidak tertahan kan lagi, boleh kah dia egois, untuk bisa memiliki suami nya seutuhnya tapi Sandrina, tidak bisa mendapatkan hati suami nya itu, dia tau di setiap tidurnya Riyan, selalu memanggil nama wanita tersebut, bahkan no nya masih tersimpan rapih di ponsel suaminya itu.
Sandrina, menggenggam jemari nya,erat hingga memutih ia bahkan menggigit bibir bawahnya,agar suara tangisnya tidak terdengar oleh suaminya itu, Sandrina, tidak tau bahwa Riyan, sudah berdiri menatap nya dari belakang, tatapan penuh penyesalan, Sandrina, mengusap wajah nya kasar, sesekali ia mengelus perut yang kini mulai kelihatan berisi.
"maaf kan aku sayang, karena aku kamu harus merasakan sakit, yang mungkin Sulit untuk di lupakan tapi, aku tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita, sekalipun godaan itu sangat kuat"ujar Riyan, sambil beranjak pergi, Sandrina, tidak sadar bahwa Riyan, berkata seperti itu.
sementara itu Sandra, saat ini benar-benar tengah tertidur pulas dia merasakan lelah yang teramat lelah hati dan jiwa nya.
Steven, pun terlelap dalam mimpi nya menyusul sang istri, yang sangat di cintai nya saat ini, bahkan dia lupa kalau istri pertama nya,kini sedang menunggu kehadiran nya, untuk memberitahu kehamilan nya, saat ini ya, dia mengandung anak Steven, setelah terakhir kali, Steven, menyentuh nya tanpa pengaman sama sekali, entah bagaimana nasib pernikahan nya nanti dengan Sandra.
sementara itu Adryan, sedang memerintahkan seluruh anak buah nya untuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan untuk Sandra, dia bahkan tidak tanggung-tanggung membuat pesta pernikahan cukup megah berkonsep garden party.
ribuan undangan telah di sebar saat itu juga, tidak butuh waktu lama untuk ukuran sultan, undangan pernikahan tersebut benar-benar tersebar dari mulai kalangan bisnis dan juga masyarakat sekitar pulau, saat ini Adryan, benar-benar membuat perhelatan Akbar untuk pernikahan putri nya tersebut.
dua hari kemudian resepsi pun di gelar, dengan gaun pengantin yang sangat cantik dan elegan,kini Sandra, didampingi oleh Adryan, dan juga Gibran, memasuki tempat resepsi,di sana bahkan sudah ada Steven, dan Sania, juga sandrina.
acara yang sungguh sangat melelahkan bagi kedua mempelai walaupun mereka saat ini berbaur dengan kalangan bisnis dan yang lain nya, sesuai kosev Steven saat ini selalu tersenyum manis, dan tidak hanya sekali mendarat kan, kecupan manis di kening istrinya itu.
"sayang, kamu pasti lelah,ayo duduk lah"ucap Riyan.
"aku tidak selemah itu,kak, aku sangat bahagia melihat mereka bahagia saat ini, semoga saja tidak ada orang ketiga, di antara mereka"ujar sandrina, tanpa sadar.
sementara itu Riyan, hanya menelan mentah-mentah sindiran yang sadar atau tidak tertuju pada nya.
"semoga saja sayang"ucap Riyan, sambil tersenyum kearah istrinya yang kini membalas senyuman suaminya itu, walaupun sedikit rasa bersalah.
sandrina langsung, bergegas menuju kedalam mension tersebut di ikuti oleh Riyan, sandrina, langsung bergegas menuju dapur, dia ingin minum susu hangat di sore hari ini, tanpa ingin merepotkan siapapun, sementara Riyan, langsung mengambil alih gelas tersebut dia langsung membuat susu yang di inginkan oleh istrinya itu.
"sayang,minum lah , kamu mau apa lagi heumm"ujar Riyan.
"aku hanya ingin tidur"ujar Sandrina.
"baiklah sayang, ayo kita ke kamar"ujar Riyan, menuntun jalan Sandrina, perlahan menaiki tangga menuju kamar mereka.
sesampainya di dalam kamar, Sandrina, langsung bergegas menuju kamar mandi, dan membersihkan diri nya tidak butuh waktu lama ia telah kembali ke kamar tidur nya, Riyan bahkan sudah menyiapkan baju tidur milik sandrina, ya itu adalah kegiatan Riyan, yang tidak pernah bisa di tolak untuk mengurus sang istri.
"mari aku bantu "ujar Riyan.
sementara itu Sandrina, malah diam mematung dengan wajah memerah, saat ini , tangan Riyan, bukan nya membantu memasangkan pakaian tersebut, tapi malah bergerak nakal di area sensitif nya saat ini bahkan tidak butuh waktu lama Sandrina, saat ini sudah berbaring di ranjang empuk tersebut, dan Riyan, mengungkung nya.
"kak, aku ingin istirahat"ucap Sandrina, lirih.
"istirahat lah sayang,biar aku yang bekerja, kamu hanya perlu menikmati nya"ujar Riyan, sambil menyatukan bibir mereka.
Riyan,memang belum mencintai sandrina, sepenuhnya,atau mungkin tidak pernah ada rasa itu, tapi sebagai seorang pria normal, Riyan, tidak bisa mengabaikan kemolekan tubuh istrinya itu, walaupun Riyan, tidak memungkiri,ada getaran aneh jika ia sedang berada bersama dengan istrinya itu, dan saat ini Riyan, tengah meyakinkan perasaan nya itu.
"sayang, aku sangat bahagia bisa hidup bersama dengan mu, aku berharap kamu juga seperti itu, aku sangat mencintaimu"ujar Riyan.
Deg....
jantung Sandrina, serasa mau copot, pasalnya baru kali ini, dia mendengar pengakuan cinta dari nya.
"kak"ujar Sandrina, saat ia merasa takut,takut di permainkan.
"aku serius sayang, itulah kenapa aku selalu menolak saat kamu meminta ku untuk bercerai, dan aku yakin rasa ini, adalah cinta yang benar-benar murni hanya untuk mu"ucap Riyan.
"terimakasih kak,hiks hiks hiks hiks, aku sangat bahagia mendengar nya, semoga ini bukan kesalahan"ujar Sandrina.
__ADS_1
"tidak sayang ini benar-benar cinta ku padamu sangat murni"ujar Riyan.