Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
#untuk yang terindah#


__ADS_3

saat Alice, tengah menunduk dan menangis tiba-tiba, saja seseorang berteriak.


"Ahhhhhh"entah siapa yang pasti bikin Alice,kaget dan langsung menoleh ke arah Rio, tapi Rio tidak berada di sana Alice, nyaris pingsan, dia pikir Rio, sudah terjun dari atas sana hingga ia hendak berlari ke tepi atap tersebut namun tiba-tiba tangan nya di genggam oleh seseorang.


"Lepas,kak.... Rio!!!....hiks hiks ... kamu tega kak Rio aku sangat mencintaimu tapi kenapa kamu tega ninggalin aku, dengan cara seperti ini,hiks hiks hiks....."tanpa Alice,sadari bahwa yang sedari tadi menggenggam tangan nya adalah Rio.


"Honey... aku di sini lihat lah, aku tidak pergi kemana pun"ujar Rio sambil memeluk tubuh wanita yang lemah itu Alice, melirik dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri, beruntung Rio langsung menahan nya.


Rio pun membawa Alice, turun melewati tangga darurat, saat itu juga menuju ruangan nya.


beruntung ruangan Alice, berada di lantai teratas gedung tersebut, dan tidak perlu lama untuk menaiki tangga.


Sesampainya di dalam ruangan Alice, Rio langsung meminta sekertaris nya memanggil dokter, sementara itu Rio, mencoba untuk mengoles minyak angin di hidung dan leher, pelipis nya.


tidak lama dokter, yang bertugas di kantor itu pun datang saat itu juga, Alice,di periksa setelah Alice,sadar dia langsung memeluk erat Rio, yang sedari tadi menunggu ia sadar di samping nya.


"Kak... aku mencintaimu aku mohon jangan lakukan hal bodoh lagi aku sayang kakak aku mohon tetap lah hidup untuk ku"ujar Alice.


"Iya sayang aku janji, aku juga sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu sampai kapan pun, sampai maut memisahkan aku sangat-sangat mencintai mu honey love you more..."ucap Rio, yang langsung mencium bibir Alice, ******* nya begitu penuh cinta setelah itu dia kembali menatap wajah cantik wanita yang selama dua belas tahun ini dia cintai.


Alice, pulang bersama Rio, setelah merapikan berkas yang sudah ia tandatangani, kini mereka berada di mobil, Alice menelpon Merry, mengabari bahwa dia tidak pulang malam ini karena akan menginap di rumah sahabat nya.


"Sayang kita pulang ke villa, saja ya"ucap Rio.


"terserah kakak saja" ucap Alice.


mereka pun pergi ke villa, yang di klaim sebagai rumah mereka berdua, villa peninggalan almarhum ibunya Rio itu kini sudah di buat senyaman mungkin karena Rio ingin Alice betah tinggal di sana.


Alice langsung turun dari mobil setelah Rio memarkir mobilnya.mereka pun masuk kedalam suasana nya teramat sepi hanya terdengar deburan ombak yang tak jauh dari sana.


Rio langsung membuka pintu, dan menyalakan lampu, setelah itu dia langsung mengajak Alice, langsung ke kamar mereka yaitu kamar utama.


sesampainya di dalam kamar, Rio langsung mengajak Alice, untuk duduk di sofa kamar tersebut sejenak melepaskan rasa lelahnya Rio masih setia merangkul pinggang Alice, sedari ia masuk.


"kak, aku ingin mandi dulu, rasa nya gerah "ujar Alice.


"Baiklah honey"jawab Rio sambil melepaskan rangkulannya itu.


Alice, segera pergi masuk ke dalam kamar mandi, sementara Rio, duduk di sofa sambil tersenyum bahagia, saat ini dia bahagia karena Alice, sudah mau menuruti kehendak nya.


setelah selesai mandi Alice, keluar dari dalam kamar mandi menuju wal-k in closed, untuk memakai baju yang sudah lama tersedia di sana, Rio , selalu mengisi ruangan itu dengan baju-baju terbaru limited edition, padahal Alice, tidak tinggal di sana.


kini Rio yang gantian masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri, Rio masuk kedalam sana sambil bersenandung menandakan hatinya tengah berbahagia.


Alice, yang melihat itu menyunggingkan senyuman.


setelah selesai menyisir rambut Alice , langsung duduk di atas ranjang menyandar di kepala ranjang sambil mengecek email yang masuk dari sekertaris nya, sementara itu Rio baru saja membuka pintu kamar mandi, dengan menggunakan bathroob, saat ini dia sedang sibuk mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil, Rio begitu terlihat segar dan jangan lupa dengan wangi maskulin yang sampai di penciuman Alice, yang tengah fokus pada handphone nya itu.


"Sayang kamu sedang apa?.... bisa minta tolong ambilkan baju untuk ku"pinta Rio.


"Owh,tunggu sebentar"jawab Alice,sambil meletakkan ponsel nya di atas nakas.


"makasih yank .... "ujar Rio, sambil mengikuti Alice, yang kini masuk kedalam wal-k in closed, Alice mengambil piyama bermotif sama dengan yang ia kenakan saat ini, karena Rio, selalu membeli baju untuk pasangan.


setelah memberikan itu Alice, langsung keluar.

__ADS_1


tidak sampai sepuluh menit, Rio pun sudah kembali ke tempat Alice, yang kembali sibuk dengan ponselnya.


"Kamu masih sibuk dengan pekerjaan sayang ini sudah masuk jam makan malam"ucap Rio.


"Aku sedang membalas pesan mommy, katanya Daddy, sedang sakit dia ingin aku pulang"ucap Alice jujur.


saat ini Jason, tengah sakit dan di rawat di rumah sakit di Jerman.


"Aku tidak mengerti ... kenapa??... selalu saja ada penghalang di saat kita akan bersama"ujar Rio,sendu.


"Kak, dia itu Daddy ku, bukan"ucapan Alice, terhenti saat Rio , mengangkat tangan nya, menghentikan ucapan Alice,lalu ia berjalan menuju balkon Rio, berdiri dengan pandangan fokus ke depan.


Alice, berjalan menghampiri Rio, yang kini tengah diam seribu bahasa di di balkon kamar nya.


"Kak, jangan diam kan aku kita bisa bicara baik-baik, kenapa?... harus seperti ini"ucap Alice, lembut sambil berdiri dengan posisi menghadap ke arah yang kini tengah di tatap Rio.


"Bicara, baik-baik ya, heuuh kalo bisa seperti itu mungkinkah sampai saat ini hubungan kita tidak pernah ada kejelasan"ucap Rio, dingin.


nyess ....


serasa di tusuk ribuan jarum ,hati alis begitu sakit, apa yang dikatakan oleh Rio, memang benar, dan semua nya tidak ada yang salah.


"Kak, aku tau disini aku yang salah hanya aku ... aku yang salah"ujar Alice, terus mengulang kata itu.


"Alice,stop honey, jangan menyalahkan diri mu sendiri, aku tidak ingin itu"ujar Rio.


"tapi itu kenyataan, andaikan saja aku mau berbagi cinta "ucapan Alice, terhenti saat Rio langsung membungkam bibir nya dengan ciuman panas yang Rio berikan, Rio, tidak ingin Alice, terus menyalahkan diri nya, walaupun itu adalah kenyataan, Alice, yang selalu pergi meninggalkan nya.


setelah hampir kehabisan oksigen, Rio melepaskan ciumannya, mereka sama-sama menghirup udara masih dengan posisi kening mereka saling menempel, Alice dan Rio ,kini saling menatap, mulai saat ini jangan pergi jauh dari ku, lagi aku mohon apa pun yang terjadi, kita akan menikah secepatnya jika perlu, besok pagi kita langsung mendaptar kan pernikahan kita"ucap Rio.


"Sayang, setidaknya kita menikah dulu, nanti ngadain resepsi pernikahan setelah kamu kembali dari Jerman"ujar Rio.


"Aku akan menetap di sana kak,itu permintaan Daddy, aku harap kakak,mau tinggal bersama ku di sana"ujar Alice.


"Tapi sayang"ucapan Rio, terhenti saat Alice menempel kan jari telunjuk nya di bibir Rio.


"Sudah cukup kak, aku tau jawabannya, kamu tidak akan pernah bisa, karena ada dia di sini"ujar Alice, yang kini langsung berjalan menuju ke dalam kamar, dia buru-buru berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuh nya ,itu hingga ke kepala.


Rio datang menghampiri nya, dan hendak membuka selimut tersebut, tapi Alice, menahan nya, dengan alasan ngantuk berat.


"Sayang kamu salah paham, tolong buka selimut nya, kita perlu bicara, bukan kah kamu bilang sendiri bahwa kita bisa bicara baik-baik"ujar Rio, yang tau Alice, tengah menangis di balik selimut.


"Kak, apa aku tidak boleh tidur, dengan tenang baik'lah aku akan pulang saja"ujar Alice, yang langsung bangkit, setelah menyeka air matanya.


"hey, sayang kamu salah paham, kita harus bicara baik-baik"ujar Rio lembut yang kini mencekal tangan Alice, yang berontak minta di lepaskan.


"Apa?...sih kak salah paham apa?... aku tidak mengerti apa? ... aku tidak boleh tidur dengan tenang, ya kalau tidak boleh aku akan pulang dimana letak salah paham nya"ujar Alice,sambil menatap lekat wajah Rio, yang menatap nya saat ini.


"Alice, aku tau tadi kamu"


"Tau apa ??....udah deh kak,kalau kakak bahas itu terus lebih baik aku pulang"ujar Alice,sambil melepaskan genggaman tangan Rio, dengan sedikit kasar.


"Alice, kamu bisa bersabar nggak!!!...."teriak Rio di hadapan wajah Alice membuat Alice, terbengong baru kali ini, dia melihat Rio, begitu marah.


Alice,tak bergeming, dia masih menatap kearah Rio,derai air mata nya lolos begitu saja, dia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya nya lagi, Rio tiba-tiba tersadar, dan mencoba untuk berbicara dengan pelan penuh kelembutan.

__ADS_1


"S sayang, aku mohon jangan seperti ini, kita bisa bicara baik-baik bukan, aku minta maaf barusan aku terbawa suasana, aku mohon stop , jangan menangis kamu boleh menampar ku, jika kamu marah kamu boleh lakukan apapun,asal jangan seperti ini jangan menyiksa diri sendiri please honey" ujar Rio,sambil memeluk erat Alice, yang masih menangis tanpa suara.


mereka pun akhirnya berbicara dari hati ke hati, hingga pagi menjelang, mereka tidak ada yang memejamkan mata nya sedikit pun, terlalu banyak yang mereka bahas, bukan lagi kalau ada yang tidak cocok dengan kedua nya, mereka akan terus berdebat.


"keputusan terakhir ku, kakak ikut dengan ku, atau kita akhiri saja semua ini, percuma saja di pertahankan jika, akhirnya menyakitkan juga"ucap Alice.


"Honey, kita akan segera menikah, jika perlu sekarang juga,asal kamu tetap tinggal di sini ok"ujar Rio.


"kak, kamu itu masih saja egois,lalu untuk apa kita menikah jika kita tetap berpisah ruang dan waktu, aku rasa sebaiknya kita akhir" Rio langsung membungkam bibir Alice, dengan ciuman penuh kemarahan, Rio bahkan menggigit kecil bibir bawah Alice, hingga bengkak .


🌹💖💖💖🌹


kini Alice, sudah berada di Jerman, bersama Rio, yang selalu memperlihatkan wajah kesalnya hingga saat dia tiba di negara tersebut.


mereka berdua memutuskan untuk pergi berdua ke negara itu karena Rio, tidak ingin Alice, menetap di Jerman.


sesampainya di rumah sakit yang kini di tempati oleh Jason, Alice, langsung menghambur memeluk tubuh Daddy nya yang terlihat sangat lemah, menurut ibu tiri nya,sang Daddy, terkena racun, saat menghadiri jamuan para petinggi perusahaan yang diadakan di hotel, tapi dia meminta untuk merahasiakan itu dari Alice, namun ibu tirinya, tidak ingin merawat suaminya itu sendiri, sikap nya tidak pernah berubah.


Jason yang kini berusia 67 tahun itu masih terlihat sangat muda, karena rajin merawat tubuh, dan satu lagi di usia nya itu dia selalu menjaga pola hidup.


jadi, alasan Jason, terkena racun itu seperti rekayasa,semata Alice mencurigai apa??.... yang terjadi pada Daddy nya ada kaitannya dengan ibu tiri nya, karena Jason, sudah menyiapkan surat wasiat, sebelum dia genap berusia tiga puluh tahun, yang menyatakan seluruh harta kekayaan miliknya, akan di wariskan kepada putri semata wayangnya Alice, dan juga Merry, itupun jika Merry, menginginkan nya, karena berkali-kali ia menolak tidak ingin jadi pengusaha dia lebih tertarik dengan jerih payahnya menjadi dokter.


Jason masih sangat menyayangi putri dari Michael dan Gibran,itu.


sementara Merry,belum sempat ikut saat ini karena dia sedang menghadapi ujian semester, dan masih banyak tugas kampus lainnya, dia adalah gadis yang begitu rajin dan ulet, tidak pernah mengandalkan nama besar keluarga nya untuk melancarkan segala urusan nya.


rencana nya Merry, akan menyusul setelah selesai, sementara itu Jason, yang mendapat kan pelukan dari putri semata wayangnya itu, saat ini dia menitikkan air mata, tidak biasanya dia terlihat lemah seperti ini, Piter, yang selalu mendampingi nya menjaga nya di rumah sakit.


"Daddy, jangan sakit Alice, takut"ujar Alice,sambil menangis, Rio yang melihat itu dia hendak, bangkit untuk menghampiri kekasih nya itu, tapi Piter, menahan nya.


"Daddy, akan baik-baik saja Sayang, apa lagi jika Alice, tetap disini bersama Daddy, Alice, Daddy terlalu lelah untuk memimpin perusahaan, Daddy butuh bantuan mu, Daddy mohon segeralah bersiap ambil alih semua nya, Daddy , sudah tua tidak mungkin lagi bisa terus bertahan di perusahaan, kamu putri Daddy, satu-satunya, yang berharga dalam hidup Daddy, dan Merry juga putri Daddy, tapi dia tidak ingin mewarisi perusahaan"ujar Jason.


Jason, tersenyum pada putrinya, dia tidak ingin terlihat lemah saat ini, meski tubuhnya benar-benar lemas, beruntung racun itu cepat di tangani oleh dokter ahli karena tepat di saat kejadian Piter,ada bersama dengan nya, Piter, langsung melarikan nya kerumah sakit.


Jason, masih memeluk putri semata wayangnya itu, dia tidak ingin perduli dengan kehadiran Rio, yang Jason , benci karena gara-gara pria itu putri nya hingga kini menderita dan tinggal jauh dari nya, dan satu lagi Jason, masih mengingat peristiwa saat di Jepang, dimana sang putri harus mendekam di balik jeruji besi, karena ulah nya, meski tidak lama, tapi bagi Jason,itu sangat menyakitkan hati nya, putri yang selama ini dia jaga dengan baik, bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk di sakiti oleh orang lain, tapi Rio ,berani membuat Alice kecil nya menderita, saat ini Jason, tidak memperlihatkan kebencian terhadap Rio, karena dia tidak ingin putri nya sedih.


setelah beberapa jam di rumah sakit, saat ini adalah waktu nya Jason untuk minum obat, Alice, yang setia mendampingi Daddy nya, itu dia tengah menyuapi Jason, dengan bubur khusus yang di buat oleh Piter, yang sudah mengandung obat di dalam nya, obat untuk menetralisir racun dalam tubuh Jason, meski kemungkinan racun itu sudah hampir hilang sepenuhnya dari tubuh Jason.


pria yang selama ini di kagumi oleh putrinya itu, dan selalu menjadi cinta pertama Alice, dalam hidup nya,kini sudah mulai membaik, walaupun baru beberapa jam Alice, berada di sana, mungkin yang memperparah keadaan adalah, kerinduan nya, terhadap sang putri, selama ini Jason, tidak ingin membebani putri semata wayangnya itu dengan urusan pribadi nya, dia tau karena kesalahannya memilih wanita yang selama ini berstatus sebagai istri nya itu, putri nya harus terasingkan tidak bisa sepenuhnya bermanja-manja pada nya, selain tekanan pekerjaan, selama ini,ibu tiri nya itu tidak mengizinkan Alice, untuk terlalu dekat dengan dirinya.


Alice, yang sudah melihat Jason, tertidur pulas, dia beralih pada Piter dan Rio, yang saat ini terlihat saling berdiam diri.


"Kak, sebaiknya kakak pulang dan beristirahat,dulu aku masih ingin di sini bersama Daddy"ujar Alice, tapi Rio, hanya menggeleng.


"Honey,biar Daddy Jason, Daddy yang jaga kamu sebaiknya pulang ke Mension, Daddy, dan beristirahat lah kamu pasti lelah, dan satu lagi adik mu merindukan mu"ucap Piter.


"sudah berapa kali, Alice, jelaskan Daddy, dia bukan adik Alice, dia putri orang lain, jika Daddy tidak percaya silahkan tes DNA, dan satu lagi adikku, hanya Miki dan Mike, juga si cantik Merry"ujar Alice, yang tahu betapa gila nya istri Piter, yang selama ini bermuka dua, Alice,tahu istri Piter, memiliki anak dari hubungan gelap nya dengan pria selingkuhan nya itu.


Piter, yang sudah tahu semua nya, dia hanya bertahan,demi putri nya itu, bagi Piter anak itu tidak berdosa, dia berhak untuk bahagia,maka dari itu dia mempertahankan pernikahan nya itu.


"Tapi Alice, Daddy, menyayangi nya sama seperti Daddy, menyayangi Merry, putri sambung Daddy"ujar Piter.


"Tidak Daddy, Merry,jauh lebih baik dari dia, Daddy tidak boleh menyamakan mereka"ujar Alice.


"Baiklah sayang terserah kamu saja"ujar Piter, tidak ingin berdebat dengan putri pertama nya itu, bagi Piter, Alice, adalah anak pertama nya kedua Merry, dan ketiga si kembar Miki dan Mike, yang selalu mengunjungi nya, bersama Michael,atas izin dari Gibran,demi kebahagiaan mereka, walaupun sebenarnya Gibran, tidak rela istrinya harus bertemu dengan Piter, terlihat bila Michael, mengobrol dengan Piter, Michael, harus terus menghidupkan telepon dari Gibran, dan Piter, hanya bisa mengepalkan tangannya, wanita yang menjadi cinta pertama Dan terakhir nya itu bahkan tidak bisa ia sentuh seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2