
Tak terasa satu bulan sudah Sandra tinggal di desa tempat masa kecil dirinya dulu dan Sania,sang ibu, Sandra kini bahkan sudah seperti sang ibu yang dulu jago bermain motor cross, Sandra selalu di ajari oleh kedua saudara nya Riko, dan Gilang, mereka adalah anak sandi dan Ari, sementara itu anak Rido Kean, dia tidak pernah menemui saudara nya yang lain di kampung dia hanya bertemu lewat sosial media dan panggilan video, Kean,sibuk dengan bisnisnya,di Kanada, tempat kelahiran mommy nya Arumi.
hari-hari Sandra, setiap saat hanya di habiskan untuk memacu adrenalin, seperti panjat tebing, berpetualang di hutan bareng anak pendaki atau motor cross, Sandra, yang dulu satu bulan sebelumnya berpenampilan feminim sekarang sudah seperti sang bunda dulu yang tomboi bahkan kecantikan nya lebih menonjol dan alami perpaduan Adryan dan Sania.
"Sandra, sayang bangun ini sudah Sore , katanya mau ke bukit "ujar Gilang.
"sebentar, aku mandi dulu"sahut Sandra ,dari dalam kamar.
"heumm, giliran jalan saja langsung deh "ujar Gilang, geleng-geleng kepala, sementara itu Sandi, hanya tersenyum, dia teringat adiknya Sania, yang teramat manja.
"ingat hati-hati jangan ceroboh ,ajari adikmu dengan baik"pesan sang ayah.
"pasti ayah tidak usah khawatir"ucap Gilang, pada Sandi.
Sandi, pun berlalu pergi menuju kolam ikan peninggalan Danang Setiaji,sang ayah angkat, dia masih setia menjaga semua peninggalan ayah nya itu, di setiap sudut sawah rumah maupun beberapa Empang , dan tanah semua amanat benar-benar sangat iya jaga sekalipun semua keuntungan ia nikmati dan sebagian lagi di masukkan ke dalam uang kas keluarga, seperti yang sama-sama mereka sepakati,tak jarang satu tahun sekali mereka mengeluarkan uang kas tersebut untuk membantu warga yang membutuhkan seperti pembagian sembako santunan yatim piatu itu semua sebagai sumber pahala untuk ayah bunda yang sudah tiada .
Sandra pun sudah bersiap dengan menggunakan baju seragam untuk cross, dia bahkan menggunakan motor milik mommy, nya yang hingga sekarang masih terjaga dan terawat, semua berkat sandi dan Ari, yang selalu menjaga nya, sementara itu motor milik mereka diwariskan kepada anak mereka Riko dan Gilang.
"ayo berangkat"ujar Sandra.
"ayo, ingat jangan teledor, saat ini akan ada yang mengajarkan mu orang nya pendatang baru, dari luar kota, cuma dia lama tinggal di desa sebelah, namanya Ridwan, dia sangat jago dan sudah berkali-kali juara, dia yang bakal jadi guru privat untuk mu selain kami berdua tidak hanya itu dia jago dalam segala hal"ujar Gilang.
"wow, seperti nya menyenangkan"ujar Sandra,sambil menghidupkan motor nya, dan di ikuti oleh Gilang.
"si Riko, mana ko tumben gak kemari??"ujar Sandra.
"katanya sih, dia nyusul, tanggung sedang bantuin paman di restoran,kan ayah pergi ke Empang untuk mengambil ikan bareng mang Ujang"ucap Gilang.
"Ok,ayo jalan rasanya udah gak sabar"ujar Sandra.
"asiappp"jawab Gilang.
mereka pun berlalu menuju bukit tempat para anak muda nongkrong di sore hari bukit nan indah masih terjaga kelestariannya hingga saat ini,di sana masih seperti dulu,ada yang sengaja datang untuk berkemah, berkencan ataupun latihan motor cross,atau ajang berfoto bagaimana tidak bukit tersebut memiliki sejuta keindahan.
sesampainya di sana Sandra, langsung bertemu dengan Ridwan,guru privat nya saat ini dia langsung berkenalan, karena memang ini pertama kali mereka jumpa, Sandra, begitu kagum dengan sosok nya yang tidak hanya berbakat seperti yang di katakan oleh Gilang, tapi dia juga begitu tampan rupawan.
"sempurna"gumam Sandra, dalam hati, dia tersenyum sekilas saat mereka berjabat tangan.
"Ridwan"ujar Ridwan.
"Sandra"ucap Sandra.
"kamu sudah siap??"tanya Ridwan.
"tentu"jawab Sandra.
"Ok, pertama yang harus di perhatikan adalah persiapan dasar, yaitu kostum, dan juga tentunya motor, apa semua sudah di cek ulang??"kata Ridwan.
"sudah kok"jawab Gilang.
"hey...kukira master Gilang , tidak ada disini"ujar Ridwan, sambil tos ria mereka berdua adalah tim saat pertandingan berlangsung.
"kau bisa saja, aku tentu sangat mengutamakan keselamatan adikku ini, apa lagi dia itu masih jomblo, jadi harus benar-benar ekstrak hati-hati menjaga nya jangan sampai lecet sedikit pun, bisa-bisa mommy, Sania murka"ujar Gilang.
"waw... ternyata Sandra ,ini anak nya nyonya Sania, yang hebat itu"ujar Ridwan,kaget.
"ya, dia adalah anak kedua mommy, dan dia kembar, hanya saja kembaran nya, sudah menikah dua bulan lalu"ujar Gilang.
"kak, apa ??mommy, begitu terkenal di sini"ujar Sandra.
"tentu adikku yang manis, apa kamu tidak lihat di gapura sebelum masuk di sana terpangpang foto mommy, dan ayah juga paman Ari dan paman Rido"ujar Gilang.
"aku tidak memperhatikan nya"ujar Sandra.
"mereka adalah legenda di desa ini"ujar Ridwan.
"aku sudah tidak sabar ingin seperti mommy"ucap Sandra.
"Sandra,ayo mulai kita pemanasan, tidak usah terlalu di paksakan jika belum bisa"ujar Ridwan.
"ok siap"ujar Sandra,sambil menghidupkan motor nya,lalu mulai pemanasan dengan mengelilingi area bukit tersebut,di bimbing oleh Ridwan, dan ternyata Sandra, sudah mahir untuk hal itu,kini Ridwan, mengajar kan Sandra, beberapa tehnik, bermotor yang baik dan benar.
Sandra, sangat mengerti dan cepat tanggap hingga iya begitu bersemangat untuk mempelajari semua nya.
"untuk saat ini cukup dulu, kamu sudah mulai mahir, tidak sulit mengajar kan mu"ujar Ridwan, saat ini mereka bertiga sedang beristirahat, di bangku yang tersedia di sana, tiba-tiba Riko datang dengan sewotnya.
"hah...hah.. Sandra,maaf baru datang aku baru selesai membantu ayah, tapi ada satu lagi, seseorang mencari mu, dia datang bersama bodyguard, Daddy Adryan"ujar Riko.
"siapa??"tanya Gilang, penasaran.
__ADS_1
"kalau gak salah Steven"ujar Riko.
"baiklah aku pulang duluan"ujar Sandra pamit pada Ridwan.
"tentu silahkan, untuk besok kita latihan mulai jam dua"ujar Ridwan.
"baiklah"ujar Sandra,Gilang Riko dan Sandra, pun sudah menghidupkan motor mereka kembali dan mereka bertiga pulang menuju rumah besar.
sesampainya di sana Sandra, langsung memarkir motornya, tepat di samping mobil milik Steven,di ikuti oleh Gilang dan Riko, Sandra, mematung di tempatnya setelah ia mbuka helem yang ia kenakan .
ternyata Steven, tengah memperhatikan kedatangan nya saat ini, Sandra, langsung tersadar dan turun dari motor nya di ikuti Gilang .
"sayang, apa , apa an kamu??"ujar Steven,kaget saat melihat penampilan wanita yang sangat ia rindukan.
"apa maksudnya mu??"ujar Sandra bingung.
"masuk lah bang kita bicara di dalam "ujar Gilang, menengahi .
mereka pun masuk termasuk Sandra, yang langsung masuk tanpa menoleh ke arah Steven, dia langsung meniti anak tangga dan langsung masuk kedalam kamar nya.
setelah melucuti pakaiannya saat ini dia langsung bergegas menuju kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat dan sabun aroma terapi sesuai kesukaan nya, Sandra, tidak mau perduli dengan pria yang kini sedang menunggu nya, beruntung , Sandi,ada jadi dia menemani Steven, ngobrol saat ini Sementara Gilang dan Riko, sama-sama masuk kedalam kamar mereka, dan membersihkan diri, Riko juga memiliki kamar tidur sendiri sedari kecil dia memang sering tinggal di rumah besar itu, walaupun sesekali tinggal di rumah orang tua nya.
"nak, Steven,maaf kalau di keadaan di sini kurang nyaman, maklum saja ini di kampung"ujar sandi.
"tidak masalah uncle,santai saja"jawab Steven, yang sesekali melirik kearah kamar Sandra,di lantai atas.
"Sandra, adalah anak yang manja sama seperti adikku Sania, mommy nya, jadi harap maklum jika sifatnya terkadang keras kepala, tapi dia adalah gadis yang baik"ucap sandi.
"dia , memang keras kepala, bahkan aku kadang tidak tau harus berbuat apa"ujar Steven.
"dia sudah satu, bulan di sini, adikku bilang dia ingin menenangkan diri, kebetulan kedua kakak nya cowok, semua jadi gitulah keseharian nya di sini"ujar Sandi.
"Oya, yang dua tadi itu siapa??"ucap Steven, pemasaran.
"mereka lah kakak nya, yang pertama Gilang, anak saya, dan satu lagi Riko,anak nya adik saya Ari, semenjak ayah dan bunda tiada mereka hidup terpisah, Sandra,kuliah di Hongkong dan juga bekerja di sana, jadi mereka bertemu saat mereka sudah dewasa,kalau saat kecil mereka sering tinggal bersama di sini, karena Sandra, sejak bayi di besarkan oleh ayah dan bunda, jadi dia tidak dekat dengan mommy, dan Daddy nya bahkan saudara nya yang lain kini tinggal di Kanada, kakak nya Kean, dan Sean , juga adik nya Aruna, jika mereka datang rumah ini begitu ramai dengan suara mereka tapi sayang,, setelah bunda tiada mereka seakan enggan untuk kembali ke mari, bahkan anak Kakak ku Sonia,si kembar seakan tak pernah mengenal keluarga di kampung mereka tinggal di London"ujar Sandi, bercerita panjang lebar.
🌹💖💖💖🌹
Sandra, turun di ikuti Riko dan Gilang, mereka sudah terlihat segar setelah membersihkan diri, kebetulan saat ini aunty nya menghidangkan camilan kesukaan Sandra, dan kedua kakak nya itu, Steven, masih duduk berhadapan dengan Sandi.
mereka bertiga bergabung, Sandra, duduk di samping Steven, dan tanpa canggung , Steven mencium bibir Sandra, sekilas dan mendekapnya, seketika itu Riko, dan Gilang memalingkan pandangannya, sementara itu Sandi,pamit menemui istrinya yang kini tengah berada di dapur menyiapkan makan malam untuk mereka, sementara para bodyguard, yang biasa mengawal Sandra, mereka sudah berada di belakang rumah besar tersebut, tepat nya di kamar mereka yang Adryan, siapkan dulu.
"sayang, kamu mau ini gak ini enak lo,"ujar Gilang, pada Sandra,sambil membawa semangkuk kacang rebus.
sementara Steven, memandang kesal kearah Sandra, karena mendengar panggilan sayang dari Gilang, Sandra, mengerti dia langsung berkata",itu panggilan mereka semua padaku, mommy dulu lebih dari itu, mereka memanggil nya tuan putri"ujar Sania, Steven, pun mulai tenang.
"heumm,ini enak aunty"ucap Riko.
"Riko, minta"ujar Sandra,sambil bangkit berdiri, tapi dasar Riko yang jahil dia langsung menyendok puding tersebut, dan menyuruh Sandra, buka mulut, tapi setelah Sandra, bukan mulut dia malah pergi gitu aja membawa semangkuk puding buah tersebut.
"ahhhhhh,Gilang bantuin , dia itu ngeselin banget"ujar Sandra, merengek kaya anak kecil.
"Riko, kasih deh kasihan Sandra,tar kalo anak nya ngiler gimana"ujar Gilang, malah tambah rese, bukan nya di kasih Riko,malah tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh Gilang yang juga berlari mengikuti Riko, karena takut di amuk Sandra.
"sialan kalian berdua awas saja nanti aku bilang mommy,baru tahu rasa"ujar Sandra, Steven langsung mendekap erat Sandra, menenangkan kekasih nya itu yang sedang kesal.
"sayang aku mau mandi gerah rasanya"ujar Steven.
"ayo ikut aku kamar mu di atas ujar, Sandra, sambil berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai dua.
"rumah yang indah, rasanya nyaman"ujar Steven.
"dulu lebih nyaman lagi, saat kakek dan nenek ku masih ada, mereka adalah pahlawan kami "ujar Sandra,sambil melirik ke arah foto keluarga yang terletak di dinding samping tangga.
"sayang aku penasaran,di sana seperti nya aku kenal "ujar Steven.
"yang mana??"ucap Sandra.
"nanti aku tunjukkan"ujar Steven.
sesampainya di kamar yang bersebelahan dengan Sandra, Sandra langsung membuka pintu dan mbersihkan Steven, masuk lalu dia hendak berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
"sayang tunggu di sini"ujar Steven.
"aku di kamar sebelah ko, aku lupa sesuatu "ujar Sandra.
"baiklah, jangan lama"ujar Steven.
"tidak ko"ucap Sandra, sebetulnya dia ingin pergi menghindar dari Steven, yang selalu membuat hati nya goyah tapi Sandra, tidak mungkin melakukan hal itu apa lagi,di sana Steven, adalah tamu nya, saat sampai di kamar Sandra, malah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, rasa kantuknya mendera.
__ADS_1
Steven, yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, saat ini dia masih menunggu Sandra,di kamar nya, tapi Sandra, tidak kunjung datang terpaksa Steven, keluar hendak pergi ke kamar Sandra, tapi langkah nya terhenti, saat handphone nya berdering, dia langsung mengangkat telepon tersebut.
📱"ya ada apa??"tanya Steven.
📱"sayang kamu di mana"ucap sang istri
📱"aku di luar sedang ada urusan, mungkin dua Minggu lagi baru kembali"ujar Steven.
📱"aku di rumah"ujar nya.
📱"bukan nya,di Paris"ucap Steven.
📱"aku kangen kamu"ujarnya.
📱"aku sibuk,dua Minggu lagi baru kembali, terserah kamu mau nunggu atau enggak"ujar Steven,sambil langsung menutup telepon .
Steven, mematung saat melihat Sandra, berdiri di hadapan nya, Sandra, menatap nya tanpa ekspresi .
"sayang aku baru mau masuk"ujar Steven, sedikit gugup.
"bisa, tidak kalau terima panggilan dari nya, didalam kamar mu, saja jangan buat aku seperti istri simpanan yang merebut mu dari nya, setidaknya hargai aku sedikit saja di depan keluarga ku"ucap Sandra,pelan tapi penuh penekanan, wajah wanita itu nampak sendu.
"sayang maafkan aku, aku tidak sengaja"ujar Steven.
"sudah lah, terserah kamu saja, aku tidak tau harus apa lagi, atau mungkin karena aku yang tidak pernah sadar, diri"ucap Sandra, sambil masuk ke dalam kamar nya.
sementara itu Steven, langsung mengikuti langkah Sandra.
"sayang aku minta maaf, aku tidak ingin menyakiti mu, sungguh,aku tidak sengaja"ucap Steven, sambil memeluk erat tubuh Sandra, dari belakang, saat ini Steven , mencium ceruk leher Sandra.
"lepas, Steve semua itu hak mu, maaf kalau aku ikut campur"ucap Sandra, berusaha melepaskan diri setelah lepas dia langsung menjauh dan duduk di sofa.
"sayang , aku mohon jangan seperti ini, aku benar-benar merindukan mu,ayo kita menikah, aku tidak ingin kita berpisah lagi,aku datang jauh hanya untuk mu"ujar Steven.
"Steve, aku mohon lupakan aku, kamu punya dia, berbahagialah sebelum kamu menyesal, sebelum bahagia itu sulit diraih kamu tau itu"ujar Sandra.
"Sandra, bahagia ku adalah kamu"ujar Steven, yang kini mendekat berjongkok di hadapan Sandra.
"aku bukan siapa-siapa, kamu Steven, kamu harus sadar itu"ucap Sandra tertahan"aku sudah putuskan untuk tetap menyendiri "ucap Sandra.
"tidak sayang, itu tidak akan pernah terjadi apapun yang terjadi nanti kita akan tetap menikah, aku sedang berjuang untuk itu, aku mohon berikan aku kekuatan agar aku bisa secepatnya mewujudkan semua nya"ujar Steven.
"Steve, apa lagi yang kamu inginkan istri ada perusahaan pun maju, kurang apa lagi coba"ucap Sandra.
"kurang kamu, dan hanya kamu penyempurna hidup ku"ujar Steven, tidak mau kalah.
"sayang makan malam sudah siap turun lah" ujar Sandi.
"iya, uncle"jawab Sandra, dia pun bangkit.
"ayo makan malam dulu"ujar Sandra.
"aku tidak laper"jawab Steven, yang sedang kecewa saat ini, Sandra,tau sifat kekasih nya itu.
"Steve, aku mohon hargai aku sebentar saja"ujar Sandra, Sandra tidak ingin keluarga nya tau masalah nya dengan Steven.
"pergilah, bilang saja aku ada pekerjaan"ujar Steven, sambil hendak pergi menuju kamar nya.
"Steve, aku tidak tau harus apa lagi, tolong jangan samakan saat keadaan kita berdua dan saat dengan keluarga ku, aku tidak mau mereka tau masalah kita"ujar Sandra, Steven, menghela nafas berat, dia langsung turun ke bawah menuju meja makan di sana sudah ada Ari dan Siti , orang tua Riko.
"malam semua"ujar Steven,sambil tersenyum ramah.
"duduk lah Steve, jangan sungkan anggap di rumah mu sendiri walaupun Uncle tau tidak semewah rumah mu"ujar sandi.
"tidak uncle,di sini lebih baik"ujar Steven,sambil melirik ke arah Riko.
"kenalkan, mereka adalah adikku,Ari dan Siti , orang tua Riko, mereka tinggal tidak jauh dari restoran kami"ujar Sandi.
"salam kenal uncle dan aunty, aku Steven, calon suami nya Sandra"ujar Steven, dengan tenang nya, tiba-tiba saja Riko,tersedak makanan nya, saat itu juga karena dia sudah makan lebih dulu bersama dengan Gilang.
"minum lah bro... pelan-pelan makan nya, saat ini kita tidak sedang berlomba"ujar Gilang.
"sialan,gue kaget dengar berita terbaru, hahahaha"ujar Riko.
"ada yang lucu"ucap Sandra,sambil mengambil piring dan mengambil menu yang ada di meja lalu ia berikan kepada Steven, saat ini Steven, sendiri, merasa sangat dicintai, Sandra, memang wanita cerdas, tidak hanya di bidang pekerjaan tapi juga pintar memposisikan diri.
"terimakasih sayang"ucap Steven.
"duh, seperti nya , sebentar lagi, Sania, akan punya mantu lagi dan kali ini kita harus hadir"ujar Ari.
__ADS_1
"uncle, bisa aja, masih lama uncle"ujar Sandra.
sepontan Steven, melirik ke arah Sandra.