
weekend, pagi hari ini mereka berkumpul setelah bersiap-siap, untuk pergi bersama ke taman bunga, tulip sekaligus, untuk mengenal daerah sekitar, Sania sebelum berangkat iya menghubungi, Yeslin, pergi bersama ke tempat wisata yang tidak jauh dari taman tersebut.
saat setelah mobil berhenti, di sebuah lahan parkir, mereka pun turun tapi Sania, turun nya agak sedikit telat entah sedang mengambil barang apa yang terjatuh tepat di samping pintu mobil.
"Bibi Rebecca, aku minta tolong ambilkan, permen,ku yang jatuh berhamburan, aku lgi menyiapkan kamera,ku tanggung ini please"
Sania memohon, untuk minta tolong di ambilin permen yang berserakan di dekat pintu mobil nya itu.
"Nona, ini sudah di ambil semua permen nya lalu saya harus menyimpan nya di mana"
"berikan saja pada teman-teman ku aku lagi nanggung ini lagi benerin posisi kamera ku.
Sania yang tidak menyadari bahwa ada seseorang, yang sedang memperhatikan mobil nya itu di masih tetap fokus, mengotak-atik posisi kamera nya.
"Do, kaya gini udah kali ya",,,,,
Sania terbengong karena yang ada di hadapannya bukan Rido atau pun Ari dan sandi melainkan Adryan, yang sedang mengatakan Yeslin, untuk menemui nya karena sudah buat janji terlebih dahulu dengan nya.
Sania mematung air mata nya jatuh di pipinya, iya segera berlari pergi meninggalkan Adryan, yang hendak menyentuh nya.
"kenapa, harus begini, kenapa "
Sania terus berlari membawa kamera dan tas selempang di tangan nya.
"Sania, tunggu,,,!"
kata Yeslin yang ikut mengejar nya, namun Sania tidak mau peduli yang iya ingin kan sekarang adalah, pergi menjauh sejauh mungkin agar tidak tersakiti lagi, walau sebenarnya hati nya teramat perih Sania kini duduk,di bangku taman di hadapan nya ada air mancur dan bunga-bunga yang bermekaran
iya menangis, sejadi-jadinya iya sudah tidak kuat menahan, beban yang terasa berat untuk di tanggung nya sendiri, tiba-tiba ada yang memeluk nya dari depan.
"maaf kan aku sayang, aku yang bersalah telah membuat mu seperti ini, aku mohon berhenti lah menangis hati ku terasa sakit melihat mu seperti ini, lebih baik kamu luapkan ke marahan mu pada ku, kamu bisa melukai ku atau bahkan membunuh ku asal kan kamu bisa memaafkan aku, kembali lah dengan ku sayang,ayo kita menikah, saat ini juga aku mohon"
Adryan, memohon sambil memeluk Sania dengan erat.
"Adryan, kamu sedang apa, kamu memeluk mantan asisten mu "
Amelia, tiba-tiba datang menghampiri mereka, dia bertanya, dalam ke pura-pura an nya.
"sayang, kamu di sini bukan nya tadi kamu tidak mau ikut"
Adryan, terkejut dan langsung memeluk sang, istri setelah tadi melepaskan Sania dengan cepat, Sania yang sadar bahwa posisi nya sudah tidak di butuhkan lagi oleh Adryan, iya pergi dari situ tapi air mata nya tidak juga berhenti menetes, Sania berjalan gontai yang terlihat oleh mata Adryan,kini iya,menyerah hati nya sudah tidak kuat lagi Sania pun jatuh pingsan tepat di tengah jalan, sontak semua orang berlari an menolong nya termasuk Rebecca yang dari tadi mengikuti nya dari jauh.
"Sania"
teriak Yeslin, yang lebih dekat dari tempat nya Sania, terjatuh saat pingsan.
"Nona Sania, anda kenapa bangun lah Nona jangan bikin saya khawatir, Sania pun langsung di bawah ke dalam mobilnya dengan bantuan beberapa orang termasuk Yeslin, sementara Adryan, yang sudah berada di mobil nya tepat samping mobil Sania iya hanya bisa memandangi nya , hati nya terasa perih.
"Tuan-tuan kalian di mana cepat ke mobil kita harus segera membawa Nona Sania ke Rumah sakit Nona Sania pingsan"
ujar Rebecca, yang di Landa panik, iya di bantu Yeslin mengoleskan minyak angin di hidung nya tapi,Sania tidak kunjung sadar juga Ari,Sandi dan Rido kini sampai di mobil sambil ngos-ngosan mereka langsung bergegas masuk dan memangku tubuh Sania dalam posisi duduk nya sandi dan Ari memijat bagian pelipis Sania Yeslin, masuk ke mobil Adryan, iya sedikit murung karena teman nya belum sadar juga.
"Bagaimana, apa teman mu sudah sadar"
tanya Adryan.
"Belum seperti nya ini serius dia akan di bawa ke Rumah sakit, terdekat, saat ini juga, Adryan langsung terdiam dadanya sesak, iya menahan tangisnya nya karena Amelia selalu merangkul tangannya Adryan, kini mobil Sania sudah sampai di Rumah sakit, Dokter pun langsung bergegas menolong nya Sania di bawa keruangan IGD, Rumah sakit tersebut satu jam pemeriksaan, Sania di Bawa langsung ke ruang ICU, karena Sania, tidak juga sadarkan diri Dokter bilang Sania kena serrangan jantung,untung cepat di bawa ke sana kalo terlambat lima menit saja mungkin nyawanya tidak tertolong.
"Sania ini salah ku, Aku tidak menjaga mu dengan baik andaikan tadi kita berbarengan pergi dari mobil, mungkin semua ini tidak akan terjadi" ujar sandi, sambil meneteskan air mata .
"Maaf kan kita Sania, kita tidak bermaksud meninggalkan mu hingga semua ini terjadi padamu" Rido pun sama terpukul nya.
tiba-tiba Yeslin datang di ikuti Adryan dan juga Amelia yang tak lepas bergelayut manja di lengan Adryan, Yeslin yang mengetahui kalau Sania, masuk ICU, dari resepsionis rumah sakit tersebut, iya berlari bergegas menuju ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan nya nyonya"
Yeslin bertanya, pada Rebecca.
"Dia belum sadar juga kata Dokter Nona Sania kena serrangan jantung, hiks,, hiks,, hiks, saya takut terjadi apa-apa pada Nya"
Rebecca, menangis di pelukan sandi yang berusaha menenangkan nya Rebecca, sudah seperti ibu bagi mereka, dia lah orang yang selama ini mengurus dan menjaga mereka di negeri orang tersebut.
"tenang lah Bibi kita berdo'a saja semoga Sania, cepat sadar dan tidak ada yang serius lagi"
ucap sandi menenangkan padahal hatinya juga sama-sama cemas, Sandi seketika menyadari ada seseorang yang sedang berbincang,di sebelah nya mengajak nya pulang.
"sayang Ayo kita pulang untuk apa kita di sini"
ajak sang istri.
"tunggu lah sebentar kasihan dia belum sadar juga"
kata Adrian lagi.
"kalian sebaiknya pulang saja untuk apa ribut-ribut di sini gak guna juga kan malah tambah runyam yang ada"
Rido murka kini dia mengerti kalau Sania seperti ini karena mereka.
"santai tuan, kita juga tidak mau kemari hanya saja,aku mengantar adik ku kemari"
ucap Amelia jutek.
"Yeslin kami pulang duluan nanti aku jemput kamu kemari.
kata, Adryan sopan.
__ADS_1
"baik lah KA, kalau Kaka sibuk sebaiknya tidak usah jemput aku kemari. aku akan pulang sendiri besok pagi" ucap Yeslin.
Sania, tiba-tiba mengerakkan jari tangan nya, Ari yang sedari tadi berjaga di dalam iya langsung memencet tombol merah yang ada di samping monitor.
"Dokter,Dokter,,, cepat panggil Dokter" baru saja dia berucap dokter pun datang, ke ruangan itu, Adryan, yang baru setengah jalan tiba-tiba berlari meninggalkan istri nya di sana iya berlari ke ruangan tersebut, sesampainya di sana ia melihat, sedang kesulitan bernapas Dokter langsung memberikan pertolongan memasang kembali selang oksigen di hidung Sania, dokter juga kembali memasang alat-alat yang tadi sempat terlepas dari tubuh Sania yang tiba-tiba bergerak gelisah, seperti orang kejang kejang.
"sayang, bertahan lah demi cinta kita"
Adryan bergumam dalam hati dia juga menyeka air matanya, sambil memalingkan wajahnya ke samping kanan, yang tidak ada siapapun di sana.
"Sania, berjuang lah ingat impian kita, berempat kita harus bisa sukses sama-sama dan kita akan selalu ada untuk mu, berjuang lah ingatlah masa-masa menyenangkan saat kita bersama, melewati hari-hari kita di sini"
ucap sandi, sambil berurai air mata.
"iya Sania, nanti kalo kita, sudah kembali dari, sini aku janji akan memperkenalkan mu pada Siti,kita bisa bermain bareng dia"
ucap Ari yang mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang.
"apa kau ingin aku hajar, kamu pikir sang putri mau memegang Siti mu itu"
ujar sandi yang sedikit kesal,
"Sania, bangun lah apa kau tidak kasihan pada ku, mereka menindas ku secara berjamaah tolong aku tuan putri pangeran kodok mu mau menghajar ku"
Ari berkata sedikit berteriak, tiba-tiba, Sania sadar walaupun mata nya masih belum di buka.
"pangeran,ku jangan jahat sama Ari nanti kita tidak bisa berkenalan, dengan Siti "
Sania, berusaha membuka mata walau suaranya terdengar perlahan dan sangat pelan tapi mampu membuat semua nya tertawa gembira semua yang ada di sana masuk ke ruang ICU, mereka meneteskan air mata sambil memeluk Sania bergantian, kecuali Adryan, dia sudah di tarik pergi oleh Amelia, Yeslin kini mulai mengerti Kaka nya itu mencintai Sania bukan Amelia,.
🌹💖💖💖🌹
Dua hari setelah kepulangan Sania, dari Rumah sakit, mereka sengaja berlibur di rumah besar tidak melakukan aktivitas nya iya bahkan menjaga Sania,bak ratu Cleopatra, semua orang memanjakan nya termasuk Yeslin, yang saat itu berada di rumah Sania.
"kalian ini bikin kesel deh kenapa juga aku dilarang, bergerak seperti orang sakit saja mau buang air saja harus di gendong ke kamar mandi segala apa kalian tidak lelah melakukan itu semua"
Sania protes,sambil memanyunkan bibir nya pura-pura, marah.
"tuan putri, sebaiknya jangan dulu banyak bicara nanti pangeran bakalan ngambek, kalo kamu ngomong terus ingat pesan ayah saat sebelum kita kesini, aku harus ekstra hati-hati menjaga mu"
kata sandi menenangkan,dan Sania pun menurut, mereka tidak sadar aksinya di rekam oleh Yeslin, untuk di berikan pada Adryan.
"Baiklah, aku akan tidur saja,biar kamu senang"
kata Sania.
"jangan dulu kamu belum minum obat jadi harus,makan bubur dulu baru nanti, tidur"
kata sandi lagi.
ucap Yeslin, yang mendapat tatapan, dari mereka bertiga.
"sebaiknya besok kamu saja yang bantu Sania kerja kan tugasnya,agar dia masih bisa istirahat"
ucap sandi pada Yeslin.
"tidak usah besok aku kuliah,dan kalian bisa kembali bekerja, jangan malas-malasan,ingat harus rajin biar cepat sukses"
kata Sania.
"Baiklah tuan putri Sania, kita akan laksanakan"
ujar Ari,Rido dan sandi berbarengan.
"Sania, aku mau tanya sesuatu boleh"
ucap Yeslin.
"Tidak boleh"
ucap mereka bertiga kompak.
"Aku, gak tanya kalian,,,"
ucap, Yeslin lagi.
"tapi,kami juru bicara Sania"
ucap Ari,sambil memeluk Sania.
"sudah-sudah, jangan ribut lagi lalu kapan aku bisa istirahat kalau begitu, dan kamu jangan peluk aku nanti Siti cemburu"
Sania berucap sambil memanyunkan bibirnya.
"hahaha,,,,tau tuh si Siti kalo ngambek nya bakal kaya gimana ya"
ujar Rido, sambil ngakak saking lucunya.
"ya dia ngambek lah kaya tuan putri Sania, tidak jauh beda haha,,,"
Jawab Ari lagi, Sania langsung tertawa
"gila aja di samain sama gue,rese Lo" ucap Sania
"kalian bicarakan siapa sih dari tadi"
__ADS_1
tanya Yeslin, pada mereka, karena ia bingung sendiri.
"itu pacarnya si Ari di kampung, karena Siti lah yang buat dia tergila-gila"
ucap Rido.
"Nona Yeslin,di bawah ada yang mencari anda"
ucap Rebecca.
"siapa Bi" kenapa gak di suruh kemari saja "
ucap Sania.
"Baiklah nona "
Bibi Rebecca pun turun.
"Sania, apa tidak apa-apa kalo orang lain masuk ke kamar mu"
ujar Yeslin.
"tidak apa-apa, ko siapa tahu aku kenal juga orang nya"
ucap Sania yakin, dan orang itu pun langsung, memasuki kamar Sania tanpa permisi, orang itu adalah Adryan, iya langsung memeluk Sania.
"sayang, apa kamu baik-baik saja, mana yang sakit,biar aku obati"
ucap Adryan, sambil menangis.
Semua orang yang ada di sana langsung bergegas pergi meninggalkan mereka memberi ruang buat mereka berdua.
"sayang, aku mohon maaf, mulai sekarang aku ingin, kita kembali bersama kita akan menikah dan aku sudah meyakinkan Mommy,agar kita bisa secepatnya menikah"
"cukup Yan, mau sampai kapan lagi, kamu membohongi diri mu sendiri, aku tau kau tidak pernah mencintai ku dan aku juga tau hubungan mu dengan istri mu baik-baik saja, jangan coba mengelak lagi, bahkan, semua yang kau ucapkan semua nya karena rasa kasihannnnnn,,, pada ku, dan aku tidak butuh belas kasihan dari mu, pergi lah orang yang kau cari ada di luar"
"sayang, aku mungkin telah melakukan banyak kesalahan, padamu tapi harus kamu tahu hanya kamu yang selalu bertahta di benak ku Sania ampuni aku berilah aku satu kesempatan, jangan pernah pergi dari ku lagi"
"Sudah lah Yan, aku sudah lelah, dengan semua ini lebih baik kita lupakan semua nya kita bisa berjalan masing-masing anggap kita tidak pernah bertemu"
ujar Sania sambil menahan pedih di hati nya.
"tidak bisa sayang aku takkan bisa hidup lagi tanpamu, aku mohon jangan bicara begitu, aku akan, mati tanpamu kalau kau berani meninggalkan aku"
Adryan, mengancam Sania, namun Sania kekeh dengan pendirian nya.
"pergilah jangan pernah kau mengingat ku lagi aku sudah lelah yang aku sudah tidak sanggup lagi kalo harus, terus-tersan begini"
Sania, menangis, iya sudah tidak bisa lagi menutupi kesedihannya.
"hiks,,, hiks,,, hiks pergi lah aku sudah tidak mau menunggu, semua itu sangat menyakitkan, kamu itu tidak akan pernah bisa mengerti aku, kamu bisa menjalani hidup mu dengan orang yang kamu cintai sementara aku,,,, aku harus berharap belas kasih dari orang lain, yang mana mungkin mau memberikan, apa yang, iya miliki, pergi,,,,aku mohon pergi,,,"
Sania histeris iya mengusir Adryan dari hadapan nya, sementara itu Yeslin yang mendengar, teriakan Sania, iya bergegas masuk kedalam kamar Sania,
"Sania,ada apa ini, kenapa kamu menangis"
tapi Sania tidak menjawab,
"KA coba jelaskan ada apa ini,,, kenapa dengan kalian, jangan buat aku bingung"
"Yeslin, ajaklah Kaka mu pulang, aku sudah selesai, dengan nya"
potong Sania, menyuruh Yeslin mengajak Adryan pergi dari hadapan nya.
"baik lah jika kamu ingin aku pergi, tapi ingat lah Sayang, aku tidak ingin melihat kamu menangis, pemakaman ku nanti.
Adryan, berkata dengan putus asa nya dia
"jangan, pernah lakukan itu KA aku akan membantu meyakinkan mommy dan Sania, jangan lakukan itu Kaka aku takut kehilanganmu,aku hanya punya kakak satu-satunya saudara ku, hiks hiks hiks,,,,, Sania, Aku mohon berilah kesempatan untuk KA Adryan,aku mohon Sania, setidaknya, kamu mau kembali bersama nya aku mohon,,, please Sania maaf kan Kaka ku"
Yeslin berlutut di hadapan Sania sambil mengatupkan kedua tangannya memohon agar Sania mau menerima kembali kakanya itu, karena Yeslin tahu Kaka nya tidak pernah bermain-main atas kata-kata nya itu.
"Yeslin, aku tidak bisa, semua sudah terlambat, Kaka mu sudah memilih mencintai istrinya di banding dengan ku yang hanya gadis biasa tidak memiliki apa pun "
Sania, berkata sambil memalingkan pandangannya, dia tidak tega melihat orang memelas padanya.
"Sudah lah Yeslin dia benar aku memang lelaki pengecut yang tidak pantas mendapatkan maaf dari nya, biarkan aku pergi selama-lamanya dari kehidupan nya, itu mungkin bisa buat dia puas"
Adryan berkata sinis nya pada Sania yang tidak mau melihat nya, Sania hanya bisa berderai air mata,sambil berjalan memasuki kamar mandi, iya menyalahkan shower,,, sengaja mengguyur tubuhnya, dari dan menangis di bawa guyuran air shower, Adryan, pun pergi mengikuti Sania kedalam kamar mandi, iya tahu Sania sedang menangis,
"sayang, apa yang kamu lakukan heuhhhhh,,, jangan begini jangan pernah kau menyakiti diri mu, kalau kau mau aku menjauh baiklah tapi aku mohon jangan sakiti dirimu"
Adryan yang kaget melihat Sania mau memotong urat nadi dengan pisau lipat yang ada di tangan kanan nya entah dari mana iya mendapat kan Nya, iya langsung merebut nya dan melempar kan nya ke sembarang arah.
"kenapa,,, kenapa,kamu lakukan ini lepas biarkan aku yang akan pergi dari mu agar rasa sakit ini juga hilang dari ku"
Sania menangis, dalam pelukan Adryan.
"Aku ingin mati saja Yan aku sudah tidak kuat lagi menahan semua rasa sakit ini"
"tidak sayang, kamu tidak boleh meninggalkan aku sendirian, aku janji kita akan segera menikah, aku mohon bertahan lah di sisiku kita akan berjuang sama-sama"
ucap Adryan, lagi untuk menenangkan Sania.
Aku sudah tidak bisa bertahan lagi Yan akhiri lah semua nya"
__ADS_1
Adryan,membungkam mulut Sania dengan ciuman lembut yang sudah lama menjadi candu untuk nya iya merindukan hal itu beberapa bulan lalu, mereka terhanyut dalam buaian kasih nya, ciuman itu makin panas Adryan, menginginkan lebih namun Sania menyudahi nya iya tersadar Adryan bukan lagi milik nya tapi milik orang lain Sania keluar dari sana ia langsung bergegas masuk keruangan ganti dan langsung mengganti pakaian nya, dan pergi menemui Sandi agar meminjam kan baju pada Adryan, Sania, bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi walaupun mata nya masih sembab iya pergi ke kamar nya lagi iya tidur dan tidak menghiraukan yang ada di sana.mereka pun bersikap seperti biasa Adryan telah kembali bersama Yeslin ke kediaman nya.