Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
kesepian


__ADS_3

di sini lah Emily kini tinggal di sebuah Mension yang hanya di huni oleh nya, bahkan Joe tidak tau keberadaan putri nya itu, seakan menghilang begitu saja, saat di bandara saat menunggu penerbangan,menuju Australia, Emily diam-diam membeli tiket pesawat tujuan Kanada, saat itu yang tersisa satu penumpang dia langsung bergegas menuju pesawat, saat itu setelah pihak bandara mengumumkan penerbangan berikutnya kebetulan jadwal penerbangan ke Australia adalah jam dua dini hari dan asisten nya menunggu pun tertidur di ruang tunggu.


"aku harus melanjutkan pendidikan ku saat ini juga aku akan meminta Daddy Maxim mengurus semua nya tanpa ada siapapun yang tahu"gumam nya dalam hati.


waktu berlalu bergati bulan dan tahun, Emily kini sudah menginjak kelas tiga SMA, dan sebentar lagi dia akan ujian, usia nya genap delapan belas tahun, saat ini, dia masih kesepian sendiri hanya teman sepinya Karolin,si pelayan **** di Mension tersebut,tak jarang Gadis berusia dua puluh tahun itu membuat Emily tergelak dengan tingkah lucunya.


hingga saat dia pergi ke sekolah, dia tidak punya teman, hanya teman sebangku saja bukan tidak ada yang ingin berteman hanya saja dia tidak membuka diri untuk itu, menurut nya hidup sendiri itul lebih baik, ya Emily memutuskan untuk melanjutkan hidup nya di dalam kesendirian.


seperti setiap malam sebelum tidur, dia hanya bisa memandangi foto keluarga yang terpajang di dinding,kamar nya dan di sana tidak ada foto Gavin Stevano Anderson, karena Emily memutuskan untuk melupakan nya, dan seperti di hujam pisau rasa sakit di dadanya, jika mendengar atau melihat fotonya, Emily menghapus semua nya, walau pun kenangan di hati nya tidak pernah terhapus ada begitu banyak kenangan yang membekas di hati nya terutama perkataan nya saat itu, bahwa dia tidak akan pernah menikah dengan siapapun kecuali dengan Emily.


Emily, memejamkan mata nya, saat ini sambil, terlentang di atas sofa setelah mengerjakan tugas sekolah nya, tinggal menghitung hari setelah itu dia akan ujian kelulusan.


sementara itu di Italia, Gavin masih sibuk dengan laptop nya walau pun dia tidak tidur semalaman, dan hal itu sering di lewatkan nya sebagai pelampiasan,atas rasa kecewa setelah hampir tiga tahun lamanya, dia tidak bertemu dengan orang yang sangat dicintai nya itu, bahkan Emily, menghilang seperti di telan bumi.


bukan hal yang mustahil, untuk Gavin tau keberadaan Emily tapi, seakan semua menentang nya untuk bersatu jika saja Allan dan Adryan, tidak menghilangkan jejak nya mungkin saat ini dia masih bisa bersama dengan nya.


setelah selesai mengerjakan pekerjaan nya Gavin pun menyuruh asisten nya untuk menyiapkan mobil dia ingin pergi ke club malam, untuk menenangkan pikiran, saat ini ini adalah rutinitas nya selama ini.


Gavin, mungkin masih merawat tubuh nya dengan baik tapi jika pikiran nya, tidak bisa melupakan orang yang sangat di cintai nya,maka di sini lah kini dia berada di club malam di temani beberapa wanita cantik, yang menuangkan minuman untuk nya bahkan tidak jarang dia melakukan one night stand bersama wanita malam, yang selalu di Carikan oleh asisten nya, tapi fantasi nya selalu Emily, yang bahkan tidak pernah ia temui selama tiga tahun ini.


di usia nya yang kini dua puluh empat tahun, Gavin sudah banyak melakukan hubungan tanpa ikatan, bahkan itu sering di lakukan nya ketika dia benar-benar dalam kondisi mabuk berat dan yang mengurus wanita itu setelah nya adalah sang asisten yang selalu bersedia melakukan perintah apa pun yang di inginkan oleh bos nya itu.


"Allan, hanya bisa pasrah melihat kelakuan cucunya itu, bagaimana pun juga dia harus bisa kuat dengan semua itu karena sebagai seorang pemimpin perusahaan terbesar milik nya,di butuhkan jiwa yang tangguh.


Allan, pun diam-diam selalu mengawasi cucu kesayangan nya itu,biar bagaimanapun juga ia adalah satu-satunya orang yang akan mewarisi perusahaan miliknya, dan Allan harus lebih giat lagi melatih cucunya itu, mungkin untuk saat ini dia masih memberikan waktu untuk Gavin karena dia tidak pernah lepas dari tanggung jawab nya sebagai pemimpin perusahaan, tapi kedepan nya Allan tidak akan membiarkan nya.


Allan, akan kembali mendisiplinkan cucu kesayangan nya itu, seperti saat ini dia yang baru pulang pegi dari sebuah hotel kini tengah melanjutkan tidur nya di kamar nya.


"mau sampai kapan kamu begini nak, Kakek sudah terlalu tua untuk terus membimbing mu, apa, kamu masih Gavin cucu kakek yang sangat bertanggung jawab, apa harus kakek melakukan seperti yang Daddy mu mau"ucap Allan lembut dia yakin Gavin masih mendengar nya.


"aku hanya akan menikah dengan Emily, bukan wanita lain, silahkan saja Kakek mencoba nya, tapi jangan salah kan aku jika aku melenyapkan wanita itu"ucap Gavin dingin.


"apa, hanya Emily yang berarti dalam hidup mu, apa kami tidak berarti apa-apa lagi untuk mu, Gavin, kakek tidak ingin kamu seperti ini,mana Gavin yang dulu penuh semangat?"ujar Allan.


"aku yang dulu sudah pergi bersama dengan cinta ku yang kini menghilang"ucap Gavin tegas.


"baiklah jika itu mau mu maka mulai saat ini kau bisa mulai menghabisi nyawa seluruh keluarga mu yang sudah menentang hubungan kalian, termasuk Kakek tua ini"ucap Allan sambil memberikan pisau dan pistol.


"aku tidak mungkin melakukan itu sampai kapan pun"ujar Gavin tegas.


"tapi dengan kau tidak menikah pun apa bedanya, kamu sama saja membunuh' keturunan kita"ucap Allan.


"kakek, tidak akan kehilangan pewaris, Gibran dan kedua adik perempuan ku juga, akan melanjutkan generasi keturunan kita, walau pun bukan dari ku"ucap Gavin.


Allan, benar-benar tidak bisa mengubah keras kepala nya Gavin saat ini dia mungkin akan memberikan sedikit waktu lagi.


"kakek, mohon pikirkan perkataan kakek tadi"ucap Allan.


Gavin hanya terdiam tak menjawab sedikit pun.


hati nya, saat ini masih sangat terluka, harus kah dia pergi dari keluarga nya saat ini,agar tidak lagi hidup dalam kekangan.


sementara itu,di Kanada, seorang gadis tengah kesulitan, dia sedang buru-buru untuk pergi kesekolah saat ini ada ujian, dia sudah menelpon dealer dan kini ia sedang menunggu sopir pribadi nya menjemput nya.


Ya, dia adalah Emily, saat ini dia sudah berusaha untuk datang pagi sekali untuk melaksanakan ujian di hari terakhir nya saat ini tapi sialnya mobilnya tiba-tiba mogok di tengah jalan yang cukup jauh dari arah Mension maupun sekolah nya dia masih di tengah-tengah perjalanan saat ini, hingga seseorang datang menghampiri menawarkan tumpangan.


ya, dia adalah tuan Edrick, seorang duda beranak satu, yang baru satu tahun di tinggal istri tercinta nya, sehabis melahirkan.


"Nona, kenapa dengan mobil mu, apa bisa aku bantu"ucap nya sambil turun dari mobil nya.


"ini aku juga tidak tau mobil ku tiba-tiba saja mogok padahal aku harus segera tiba di sekolah ini adalah hari terakhir ujian ku"ucap nya sedih.

__ADS_1


"naik lah ke mobil ku biar aku antar kau kesekolah"ujar nya sambil membuka pintu mobilnya,mau tidak mau dia mengikuti ajakan dari orang tersebut, dari pada terlambat kesekolah.


setelah sampai di sekolah, Emily langsung keluar dari mobil karena bel sekolah sudah berbunyi dia mengucapkan terimakasih sambil berlari masuk sekolah.


Edrick hanya tersenyum melihat tingkah gadis berusia delapan belas tahun tersebut,sambil pergi menuju kantor nya saat itu juga.


sementara itu Emily, mengusap dadanya karena masih selamat di hari terakhir ujian nya.


Emily pun mengikuti ujian akhir nya dengan sangat serius dia tidak ingin hasil nya mengecewakan kerja keras nya selama ini.


sementara itu setelah pulang sekolah Emily di jemput oleh sopir pribadi nya, setelah sampai depan Mension, Emily menyuruh nya untuk berhenti saat dia melihat mobil yang tadi di tumpangi nya, berhenti di samping gerbang Mension milik Edrick,ya itu adalah Edrick yang baru saja pulang kantor saat mendengar putra nya tengah demam saat ini.


Emily pun turun dari mobil nya dan mengejar mobil Edrick hingga masuk ke pekarangan Mension nya.


saat Edrick,keluar dari mobilnya saat itu juga Emily langsung menghadangnya.


"Tuan, Edrick maaf aku masuk ke sini tanpa seizin mu, tapi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan nya tadi"ucap Emily tulus.


"owh ternyata gadis manis yang datang, tidak masalah kapan pun kau mau kau bisa masuk kemari, dan tidak perlu minta izin, dari ku semua pelayan akan aku beri tau bahwa kau adalah tamu istimewa ku, dan soal tadi lupakan lah itu bukan apa-apa, lagian tadi kita searah dan kalau pun tidak aku akan tetap membantumu bukan kah itu yang selalu di ajarkan oleh agama maupun berbuat kebaikan adalah sebuah keajaiban kita sebagai manusia"ucap Edrick, yang tersenyum manis saat ini.


"Oya, tumben tuan pulang di jam segini"ucap Emily penasaran.


"jadi kau tau, aku selalu pulang larut malam"ujarnya menebak asal.


"heumm, aku sering melihat nya dari balkon kamar ku, sebelum aku tidur saat aku sedang belajar di sana"ucap Emily sambil menunjuk arah balkon Mension nya, yang lumayan jauh jika di lihat dari tempat Edrick.


"heumm...begitu ya,lain kali aku akan menyapa mu, tapi sekarang aku sedang buru-buru karena putra ku sedang sakit"jawab Edrick.


"owh maaf aku sudah mengganggu, perjalanan tuan semoga anaknya cepat sembuh"ucap Emily.


"apa kamu tidak mau melihat pangeran tampan ku itu?"ucap Edrick,sambil berjalan perlahan.


"bukan kah sudah ku bilang kalau kamu adalah tamu istimewa ku"ucap Edrick, sambil tersenyum kearah Emily.


"baiklah aku juga penasaran ingin berkenalan dengan pangeran tampan mu itu"ujar Emily yang langsung mengikuti langkah lebar, Edrick saat ini.


"syukurlah, kau sudah kembali nak, anak mu dari tadi rewel terus dia tidak ingin menyusu dan badan nya panas"ujar,ibu Edrick, yang kini menyambut nya.


Edrick, pun langsung bergegas menuju lantai dua kamar putra nya itu,di ikuti oleh Emily yang masih menggunakan seragam sekolah, nya.


sesampainya di kamar empat orang pengasuh kini tengah kewalahan, dengan tangisan si kecil yang baru berusia satu tahun,itu dia menangis meronta-ronta, dan tubuhnya demam tinggi.


"owh sayang Daddy,ada apa sayang,sini biar Daddy gendong, ucap Edrick, dengan penuh cinta namun putra nya tersebut tidak mau diam


dan Emily pun langsung menawarkan diri untuk menggendong nya.


"maaf tuan jika boleh biar aku coba gendong pangeran tampan mu itu, siapa tau dia bisa diam"ujar Emily.


dan benar saja, saat dia merentangkan tangannya anak berusia satu tahun itu langsung mau dan tiba-tiba terdiam, sebuah keajaiban untuk mereka karena sudah hampir tiga jam dia rewel.


"cup...cup..cup... sayang, kamu sama aunty saja ya setelah itu kamu cepat sembuh dan minum susunya,biar nanti kalau kamu sembuh bisa bermain dengan aunty lagi"ucap Emily sangat lembut.


"wah,ini benar-benar keajaiban"ucap Edrick.


"mungkin ini hanya kebetulan tuan boleh berikan botol susunya yang baru biar saya yang akan membantu nya menyusu, ucap Emily sambil terus memangku anak itu Sambil mengelus punggung nya.


"tolong ambilkan susu untuk putra ku yang baru"ucap Edrick tegas dan mereka pun berlalu dari ruangan itu,kini hanya ada Edrick dan Emily yang sedang membantu menenangkan bayi nya itu.


"seperti nya kamu sangat berpengalaman"ujar Edrick sambil tersenyum kearah Emily yang begitu cantik dan baik hati itu.


"aku kan perempuan,dulu saat kecil aku di ajarkan menggendong boneka oleh kakek,ku di Indonesia sana, dan dia yang selalu mengajarkan kelembutan pada ku, jadi aku tau caranya menangani anak rewel, cita-cita ku juga ada dua kalo tidak jadi dokter anak aku akan jadi guru tapi kedua Daddy ku menginginkan aku untuk jadi pewaris tunggal nya.

__ADS_1


"maksudnya, Daddy mu ada dua apa, aku tidak salah dengar"ucap Edrick tidak percaya.


"aku bahkan punya tiga Daddy dan dua mommy, hanya saja aku selalu kesepian seperti saat ini mungkin sudah takdir"ujar Emily, yang kini menurunkan pandangan nya.


"maaf jika aku tidak sengaja mengingat kan mu"ucap Edrick.


"kau tidak salah tuan, bahkan nasib ku mungkin sama dengan pangeran tampan mu, mommy ku meninggal tepat setelah satu bulan kelahiran ku dia bahkan koma, selama tiga tahun, dan tidak pernah kembali lagi, dan Daddy yang menjadi suami mommy ku itu bukan Daddy kandung ku Daddy ku berada di Australia, rumit nya hubungan mereka bertiga hingga memberikan ku, keluarga lain, setelah mommy di nyatakan meninggal, tepat, saat mommy angkat ku datang kerumah sakit yang sama di bawa Daddy ku,suami mommy ku yang baru saja meninggal itu dan jantung nya di donorkan, pada mommy ku yang sekarang ini, dia juga punya suami dan anak Daddy ku menitipkan ku pada mereka dan di sana lah aku bertemu dengan Kakek ku yang sangat lembut dan penyayang"ucap Emily,sambil memberikan susu formula pada anak yang berada di pangkuan nya itu.


"lalu di mana mereka semua kenapa tidak ada bersama mu"ucap Edrick semakin penasaran.


"kalau itu aku tidak bisa jelaskan yang pasti aku sengaja menjauh dari mereka, saat ini karena ada hal yang tidak bisa di selesaikan dengan bicara, jadi aku mengalah untuk kebaikan mereka semua"ucap nya sedih.


"sudah lah, jika kamu tidak bisa cerita saat ini tidak apa-apa tapi kapan pun kamu butuh teman curhat aku siap menjadi teman curhat mu"ucap Edrick,Sabil menepuk bahu Emily pelan.


"wah anak Daddy ternyata kamu nyaman di pangkuan aunty, apa Daddy harus membayar nya setiap kali pertemuan"ucap Edrick, terkekeh.


"cukup telaktir aku makan atau temani aku makan ketika kamu sempat tuan, aku kesepian tidak bisa makan dengan lahap seperti dulu"ucap nya.


"owh kapan pun kamu mau aku siap"ucap Edrick, yang langsung memberikan hormat pada Emily, Emily pun tertawa terbahak-bahak dia tidak sadar anak kecil itu ikut tertawa dalam tidurnya.


Edward pun tersenyum melihat Emily yang sudah bisa tertawa setelah kesedihan nya, dan satu hal lagi seperti nya anak nya memiliki ikatan batin dengan Emily.


"Emily, dia sudah tidur apa kamu tidak ingin, istirahat biar dia tidur di ranjang nya saja"ucap Edrick, yang melihat wanita itu kini sedikit menguap.


"apa dia sudah minum, obat"ucap Emily bertanya pada pengasuh nya.


"sudah Nona,tadi sebelum kedatangan Anda"ucap nya.


"syukurlah, sebentar lagi demam nya akan berkurang"ujar Emily.


Emily pun membaringkan tubuh bayi gembul itu, di atas ranjang nya dengan perlahan, dan memberikan bantal guling di kedua sisi nya,agar dia merasa di peluk saat tidur nya.


"apa, kamu mau nginep atau pulang ini sudah jam tujuh malam, kita makan malam dulu Ok"ucap Edrick.


"heumm...baiklah aku akan makan malam bersama tapi tidak untuk menginap, aku tidak mau orang berpikir yang tidak-tidak"ujar Emily.


mereka pun turun dan makan bersama, setelah itu Emily pamit pulang, Edrick, mengantar nya pulang,sambil berjalan kaki hingga sampai Pitu masuk mension milik, Emily.


Edrick pun pamit.


"good night"ucap Edrick, tersenyum pada Emily.


"good night too"balas Emily.


Edrick pun langsung bergegas pergi menuju rumah nya yang tidak jauh dari rumah Emily tersebut.


begitu pula Emily, saat itu dia langsung menuju kamar nya dan membersihkan diri, setelah berendam dalam bathtub yang berisi air hangat kini, dia langsung membersihkan sisa sabun dengan shower, dan tidak beberapa menit iya pun keluar dari kamar mandi, masih menggunakan bathroob, dan tiba-tiba dering ponsel nya terdengar nyaring, Emily bingung siapa yang menghubungi nya malam begini tidak biasanya.


nomor tidak di kenal pun muncul di layar ponsel nya Emily pun langsung menolak panggilan tersebut dan mematikan ponsel nya, saat itu juga, dia tidak mau banyak pikiran saat ini tanpa menggunakan baju hanya Daleman saja dia pun menutup tubuh nya dengan selimut, seperti kebiasaan Nya selama tiga tahun ini.


iya pu tertidur pulas, setelah cape belajar dan membantu Edrick tadi sore sampai jam makan malam, besok adalah hari libur baginya, dia sudah berniat untuk menengok bayi gembul tersebut.


pagi pun menjelang dia terbangun dan mengecek ponselnya yang semalam ia matikan.


ada, pesan masuk dari no tidak di kenal.


💌"sayang, mau sampai kapan kamu menghindar dari ku, apa setelah berita kematian ku pun kau akan tetap menghindari ku, tidak pernah mau perduli kan aku lagi"isi pesan dari nomor tidak di kenal.


tiba-tiba sebuah foto muncul foto kebersamaan nya tiga tahun lalu, seketika jantung Emily terasa sangat sesak air mata pun lolos, membasahi pipinya.


Emily, pun memeluk ponsel tersebut, dia menangis sesenggukan di atas ranjang dengan wajah tertunduk di atas lutut, nya Emily begitu terluka saat ini, dan tidak ada satu pun yang bisa mendengar kan keluh kesah nya.

__ADS_1


__ADS_2