
semua orang kini tengah tidur siang di kamarnya masing-masing, tapi Adryan dan Sania kini tengah asik dengan pertempuran nya di atas ranjang.
hingga dua jam lamanya, setelah itu mereka langsung bergegas membersihkan diri, dan baru tertidur setelah nya.
saat ini sudah pukul 02:30 para penghuni rumah besar itu,kini tengah menikmati hidangan sederhana ala kampung, yang di buat oleh pelayan rumah itu ada beberapa, bakwan dan juga singkong dan ubi goreng, beserta beberapa macam minuman yang di sajikan di teras belakang dekat kolam renang.
mereka menikmati waktu berkumpul, saat ini termasuk sandi dan Yeslin yang bergabung di susul Ari dan Siti saat ini.
"Bunda, kita jalan-jalan ke bukit yu jam segini pasti seru tuh banyak yang mengunjungi tempat itu" ucap Yeslin.
"Yeslin, tadi kan kita dari sana lagian tempat nya kita lewati saat mau kerumah kita sayang" ucap sandi.
"hmmm benar juga sih tapi, aku sudah lama tidak melihat kalian beraksi" ucap Yeslin.
"Yeslin,kakak gak suka ya kamu ngingetin soal itu, aku sudah melarang istri ku untuk itu, kita boleh kesana tapi hanya sebatas main tidak melakukan apa-apa, Ok"Adryan menasehati adiknya itu.
"ya, baik'lah KA" jawab Yeslin sedih.
"kalianau ikut aku ke tebing gak" ucap Sania
"tidak manjat tidak juga menggunakan motor Ok!"
potong Adryan, yang langsung memotong perkataan Sania.
"tapi sayang,mau nyampe gimana kalo tidak manjat dan pakai motor hmmm" tanya Sania.
"begini saja sebaiknya, kita jalan-jalan di pematang sawah bagai mana di sana tidak kalah menarik dan ayah sudah membuat saung yang cukup nyaman, untuk berteduh kita sekeluarga, dan di sana tidak kalah indah dengan bukit yang sering kalian kunjungi, pokonya yang suka memancing ayah punya beberapa Empang dan tempat nya sangat nyaman sengaja ayah sediakan khusus untuk kita , saat berlibur seperti ini, kesana juga bisa bawa mobil jadi tidak perlu berjalan jauh bagaimana mau gak" ucap Danang menengahi.
"ide bagus ayah ayo kita pergi saat ini juga, tapi gimana dengan Amara?" ucap Rido.
"ya di bawa lah lagian tempat nya juga nyaman bahkan kalian bisa, berkemah di sana"ucap Danang lagi.
mereka pun segera bergegas, Sania yang kini tengah duduk bersandar di dada bidang suaminya, langsung bergegas bangkit mengganti baju, iya lebih bersemangat,ke sana karena ia ingin menikmati ikan hasil pancingan nya saat nanti.
"sayang, aku tidak bisa memancing, jadi kamu jangan senang dulu, aku pasti tidak bisa memberikan mu ikan" ucap Adryan yang kini menggunakan topi dan kacamata, tapi bukan nya menjawab Sania malah menatap suaminya itu dan langsung mencium bibir nya yang seksi bagi Sania.
"sayang,emmm kamu itu nakal ya sekarang" ucap Adryan.
"habis bibir mu itu menggoda Sayang aku tidak tahan melihat nya" ucap Sania yang mampu membuat Adryan langsung terdiam, sambil berpikir, kenapa bisa Sania sikapnya berubah derastis dari semenjak kecelakaan itu, Sania jadi lebih dekat dan begitu perhatian pada nya.
tidak seperti dulu yang hanya biasa saja semesra apa pun saat itu, mereka masih kalah mesra dari saat ini, Adryan seperti mendapatkan lotre, tapi ia merasa sedikit lega, karena Sania, selalu tersenyum pada nya.
sampai lah mereka di tempat pemancingan,di tengah sawah yang begitu luas tersebut milik Danang yang ia rawat sedari dulu saat mereka masih sangat kecil, Sania bisa merasakan sejuknya hawa pedesaan di sore hari ini.
semua orang seperti kompak berbarengan menghirup udara sejuk, yang ada di sana apa lagi sunset, yang terbit di sore ini sangat mempu membuat pemandangan di sana semakin indah.
Rido menuntun sang istri untuk duduk di saung yang nyaman tersebut, sementara Danang,sibuk mempersiapkan,kail untuk memancing ikan, di bantu oleh, asisten nya yang ada di sana.
"apa kalian sudah siap ayah sudah beres menyiapkan pancingan tersebut, dan sudah saatnya, kita para lelaki memancing sementara para wanita, kalian siapkan bumbu untuk Baluran, ikan yang akan di bakar nanti,biar mang Asep yang siapkan bara nya" kata Danang.
ayah Sania, ingin memancing karena Adryan tidak bisa jadi aku yang akan gantikan, boleh ya" ucap Sania meminta izin.
__ADS_1
"Baiklah sayang,ku sekarang ambil ini dan segera lah memancing" ucap Danang semetaea sang Bunda, hanya bisa tersenyum melihat tingkah putri bungsu nya yang kumat sifat tomboi nya saat ini.
semua orang kini tengah memegang jorann nya masing-masing, tidak perlu waktu lama bagi Sania yang langsung mendapat kan ikan mas seberat 3kg, memang ikan di sana itu sangat besar-besar wajar saja pemiliknya jarang ada di kampung, jadi hanya di urus oleh tukang di sana, yang memberikan ikan itu pakan yang berkualitas jadi ikan nya tumbuh subur.
Adryan, yang kaget' melihat istrinya yang pandai memancing kini ia mendekati Sania dan mencium bibir Sania sekilas.
"kau memang istri ku yang paling cerdas, sedunia sayang ku"ucap Adryan bangga.
"sayang, tolong bersih kan ikan nya dan segera lah bakar aku tidak sabar ingin memakan nya, saat ini, pasti lejat deh.." kata Sania.
"baiklah sayang aku akan menyuruh mang Asep, membakar nya sekarang.
Adryan, langsung bergegas menuju ke tempat mencuci ikan di bantu mang Asep.
Adryan, saat ini, tengah melihat proses pembersihan ikan dan Bunda Andara, membantu membumbui ikan itu.
"Sania, aku juga dapat ucap Rido, yang kini memegang, pancingan dengan ikan yang masih menyangkut di kail, dan langsung bergegas melepaskan nya di bantu ayah, setelah Rido di susul sandi.
"tuan putri gimana punya ku lebih besar, bukan, jadi aku pemenang nya hari ini" ucap sandi.
"alah baru satu saja kau sudah bangga pangeran, lihat ini" Sania mengangkat jorannya, dengan tenaga yang kuat, ikan nya ada dua yang menyangkut di jorannya saat ini, dan ayah pun langsung membantu mengangkat nya karena anak nya kepayahan, Adryan yang melihat itu dari jauh segera berlari ke tempat istrinya berada kini.
"wah sayang ku kau sangat lah hebat aku sangat bangga padamu" ucap Adryan kini sambil merangkul istrinya dari belakang.
"sayang aku cape ah udahan ya mancing nya lagian ikan nya besar-besar jadi cukup untuk kita semua" ucap Sania.
"ya sudah sekarang kita lihat cara bakar ikan kita lagian bunda juga sudah menyiapkan bumbu, dan saat ini, kita bisa berfoto di saung dan di pematang sawah itu" ucap Adryan, yang kini langsung menarik lengan istrinya itu berjalan menuju, pematang sawah.
🌹💖💖💖🌹
"sayang, kamu harus nyobain ikan hasil tangkapan ku tadi biar tau rasanya sangat nikmat" ucap Rido kepada Amara yang kini tengah berkeringat hebat gara-gara, makan sambal jahe buatan Bunda, Andara.
"Hanny, cium bibir ku kepedesan, ahhhhhh perih" keluh Amara.
"sini, aku cium Sayang, tapi jangan keterusan ya malu banyak orang" ucap Rido, yang kini mendekat,ke arah bibir istrinya sambil langsung di kecup.
"sudah kan sayang, gimana udah hilang pedes nya" ucap Rido lagi.
"lumayan Hanny, makasih ya" ucap Amara.
"hmmm, Amara-Amara orang pedes itu minum air,biar ilang pedas nya,ini malah di cium" ucap sandi, yang kini pergi mengambil ikan bakar yang terakhir.
"sayang, aku juga kepedesan,cium donk" pinta Adryan.
"Hmmm Daddy, jangan macem-macem deh gak malu apa di depan ada mertua mending minum deh" jawab Sania.
semua orang tertawa di buatnya.
"hmmm awas aja sampai rumah nanti,aku gigit baru tahu rasa" ucap Adryan.
"Di tunggu Daddy,tuh lihat anak,mu saja tidak mengeluh sandrina malah anteng mainin ikan, yang tadi di pancing mommy" ucap Sania.
__ADS_1
"tau tuh anak kita keduanya tidak pernah rewel, karena, ada aja yang mengalihkan perhatian mereka, sementara aku apa donk" ucap Adryan sambil memonyongkan bibirnya.
"ya ampun Daddy kamu itu sudah tua anak aja, sudah tiga masa masih tidak tahu harus fokus kemana heran deh" ucap Sania sedikit sebel terhadap Adryan.
jalan-jalan sore pun, berakhir dengan melakukan pemotretan di pematang sawah dan di saung tadi sementara, Sania tidak tahu kalau Adryan sedari tadi selalu mengabadikan momen kebersamaan nya melalui kamera kecil yang di terbangkan, sebesar kumbang yang di kendalikan dari ponsel canggih milik nya.
"sayang ku bagaimana liburan nya kali ini apa menyenangkan, atau masih kurang hmmm" ucap, Sania bertanya kepada Adryan.
"Sayang, aku sangat bahagia saat ini, terimakasih untuk semua nya, semoga kebahagiaan ini semakin bertambah, saat ini nanti dan selamanya" jawab Adryan.
malam pun tiba, semua penghuni rumah kini tengah beristirahat, mereka semua sampai tertidur pulas, saking kekenyangan, menikmati nasi liwet dan ayam bakar.
pagi menjelang, sekitar pukul empat pagi, Sania terbangun karena ada telpon dari anak nya dari Italia.
"Halo sayang apa kabarnya, mommy sangat kangen sama kamu sayang mommy, sedang di rumah aki, di kampung, kamu pasti rindu kemari bukan" ucap Sania yang sangat rindukan buah hati nya itu.
"momm bicaranya pelan-pelan Gavin juga rindu, mommy, makanya Gavin telpon, mommy, Daddy mana?" tanya Gavin.
"tuh Daddy mu masih betah tertidur, karena kekenyangan, kemaren sore habis makan ikan bakar" jawab Sania.
"mommy,kapan mommy tengok aku di sini aku rindu mommy" tanya Gavin.
"Mommy, janji secepatnya Sayang setelah pulang dari kampung, Ok,Gavin tunggu saja di sana sayang Oya Gavin mau oleh-oleh gak, dari kampung" tanya Sania lagi.
"Baik lah momm,,, tapi jangan lama-lama ya aku kangen" ucap Gavin.
"baiklah sayang mommy segera pulang dan akan langsung pergi ke sana"ucap Sania menenangkan anak nya.
setelah siang Sania, minta izin pulang ke ibukota karena harus terbang langsung ke Italia, sementara, Rido yang kini sedang menjalani salam perpisahan dengan sang istri, karena Andara ingin Amara,ada yang merawat nya di saat, kehamilan nya mendekati kelahiran mereka harus rela berpisah, untuk sementara.
"sayang, aku pergi dulu ya jaga diri baik-baik, dan jangan lupa telpon aku setiap kali kamu rindukan aku, ingat aku sangat mencintaimu dan aku lakukan ini untuk kebaikan mu, dan Bunda juga ayah sangat sayang dengan kita itulah kenapa, mereka meminta kau dan anak kita tinggal sementara di sini, itu demi kebaikan kita" ucap Rido panjang lebar menjelaskan pada Amara.
"Aku tau Hanny, kamu juga jaga diri baik-baik,tenang saja aku akan baik-baik saja di sini dan kalo aku rindukan kamu aku pasti nelpon kamu ko sayang, aku janji baik-baik ya di sana jaga hati dan cinta kita, aku sangat mencintaimu dan akan selalu merindukan mu" jawab Amara.
Amara dan Rido kini tengah bercumbu mesra untuk perpisahan sementara, karena pekerjaan di kantor tidak bisa di tinggal lama belum lagi Amara tengah hamil tujuh bulan, harus mengadakan syukuran,di kampung.
selesai bercumbu mesra Amara, memeluk erat suaminya, iya, bahkan sudah merasakan, kerinduan sebelum mereka pergi.
"sayang, aku pergi dulu ya" ucap Rido.
"iya Daddy, kita akan baik-baik saja, iya kan sayang ku" ucap Amara sambil berbicara, dengan, bayi yang masih ada di dalam perut nya Rido, mengelus perut buncit istrinya dengan sayang, dan tiba-tiba saja Rido tersenyum anak nya merespon sentuhan Ayah nya.
"sayang, kamu baik-baik ya di sini Daddy, akan bekerja lebih keras untuk bisa membahagiakan mu dengan mommy" ucap Rido sambil mengecup perut, yang sedang bergerak, karena sang anak bergerak-gerak di dalam sana seperti ingin di sapa sebelum pergi.
mereka semua pun berangkat iring-iringan mobil, mewah menjadi sorotan warga kampung, saat ini hingga ke jalan raya, mereka baru melesat cepat karena yang mereka naiki semua adalah mobil sport, terbaru maklum saja sekarang mereka adalah orang-orang yang sudah sukses, Rido, yang menjabat sebagai CEO,di perusahaan milik Amara, sandi yang memegang cabang restoran milik Sania begitu juga dengan Ari, dengan gaji tinggi, mereka mampu membeli semua itu, dan di tambah lagi Sania adalah bos yang royal, karena mereka adalah bagian dari keluarga nya.
saat ini, Amara tengah duduk di sofa,Andara senantiasa menjaga nya seperti putri nya sendiri, iya cukupi kebutuhan Amara dan bayi dalam perut nya, dengan makanan yang bergizi tinggi, saat ini.
"Amara, sayang kamu makan ini dulu ya biar seger" ucap Andara memberikan salad buah, yang iya sediakan sendiri.
"baik Bunda, Bunda tau aja kalo saat ini aku sedang ingin itu" kata Amara.
__ADS_1
"Bunda tau Sayang, karena itu masih paforit bunda semenjak Bunda hamil dulu, saat Sania masih di dalam perut itu makanan paforit Bunda.
mereka pun bercengkrama,di ruang TV,sambil melihat si kembar,asik bermain boneka, sandrina dan Sandra,kini di asuh oleh aki dan Nini, begitu lah mereka di biasakan memanggil nya.