
setelah selesai menyuapi makanan kini Gavin bersandar di kepala ranjang, dia melirik wajah Emily,sesekali.
"kak, kapan kita pulang?"tanya Emily.
"Minggu depan sayang, aku masih kangen dengan mommy dan Daddy, juga kamu, jika kamu di Australia, dan aku di Rusia kan jauh sayang jadi nikmati lah hari dimana kita tetap bersama"ujar Gavin sambil,di akhiri senyuman.
"apa mommy, tidak akan marah jika tau kita menjalin hubungan?"tanya Emily lagi.
"lihat nanti saja ya sayang, sekarang kita jalani saja seperti air mengalir"ucap Gavin.
mereka pun kembali tertidur pulas hingga pagi hari menjelang, saat ini semua penghuni Mension, tengah menyiapkan penyambutan untuk kedatangan, kolega bisnis dan sekaligus kedatangan Sandra dan sandrina, yang baru saja lulus SMA, tidak terasa mereka berdua sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang mirip sekali dengan kedua orang tua nya, saat ini.
waktu begitu cepat berlalu, seakan baru kemarin mereka lahir dari rahim Sania,kini mereka sudah menjelma menjadi gadis yang begitu mengagumkan, dan sangat mandiri seperti ibunya dulu, walaupun Sania terkenal manja, saat itu jika berada di hadapan sandi dan Danang, keduanya sangat penting bagi Sania.
pagi pun berlalu dengan begitu indah karena siang ini mereka datang jadi Sania sibuk membuat makanan paforit, semua anggota keluarga, saat ini di bantu pelayan mension.
sementara Emily kini tengah melamun di taman samping, dia begitu terlihat sedih ternyata hidup nya selama ini terombang ambing, karena ternyata Daddy yang selama ini di cintai nya bukan lah ayah kandung nya, tapi Emily tidak pernah membenci nya, Emily semakin menyayangi nya.
bahkan saat ini Emily sedang sibuk bertukar chat bersama Daddy kesayangan nya itu, Maxim begitu merindukan nya tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemui nya, karena Natalie, masih mendominasi di rumah tersebut, Maxim berencana menceraikan nya saat ini juga, dia, lebih baik kehilangan istri yang jelas-jelas, tidak setia ketimbang putri kesayangan nya itu.
"sayang, kamu lagi chatting bareng siapa sih anteng banget"ucap Gavin.
"aku sedang kirim pesan dengan Daddy max.. sedari tadi"jawab Emily jujur.
"sayang kalian di sini rupanya, mommy mencari kalian sedari tadi Gavin, sayang lihat siapa yang datang?"ujar Sania begitu bahagia saat mengatakan itu.
"siapa momm..."ucap Gavin sambil celingukan.
"mereka, ada di ruang keluarga sayang ayo temui mereka"ucap Sania sambil menggandeng keduanya.
sesampainya di sana mereka begitu terkejut Sandra dan sandrina kini berlari memeluk mereka berdua.
"kakak, kapan kakak, kemari"ucap sandrina, pada Gavin.
"Emily, aku kangen kamu sayang ku"ucap Sandra sambil, memeluk erat tubuh Emily.
"aku juga kak, aku sangat merindukan kalian semua bagaimana kabar aki dan Nini, ucap Emily.
"mereka baik, mungkin dua hari lagi akan menyusul"ucap Sandra mereka pun bertukar pelukan dengan Gavin dan Emily.
saat Sania akan mengelus puncak kepala kedua putrinya itu kini Gibran datang dia begitu marah saat ini.
"mommy, jangan pegang mereka, mommy hanya mommy Gibran"ucap nya.
"owh ya ampun, ternyata, kamu begitu posesif nya adikku yang ganteng ini"ucap Sandra.
"jangan pegang"ucap Gibran yang bahkan tidak mau di sentuh nya.
"mommy, dia anak siapa sih, kelakuan nya begitu amat ucap sandrina, sedikit kesal.
"sayang,tentu saja dia anak Daddy sama seperti kalian semua, tapi begitulah sifatnya begitu posesif"jawab Adryan yang baru saja selesai meeting, bareng kolega bisnis nya yang kini sedang menikmati kapal pesiar milik nya di tengah laut sana.
"gitu banget ya punya adik"ucap Sandra, mereka pun pergi ke meja makan semua saat ini Gibran di gendong oleh Sania menuju meja makan.
"momm... Mikael,mana?"ucap Gibran.
"Mikael sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa gabung dengan kita!"ujar Sania sambil mengelus puncak kepala putra bungsu nya itu.
"mommy, aku mau buatkan bubur untuk Mikael, kasihan dia sakit princess ku tak boleh sakit"oceh Gibran bocah dua tahun itu sudah seperti orang gede, semua orang tertawa, ternyata dia begitu perhatian pada orang lain.
"momm... siapa Mikael"ujar keduanya berbarengan.
"anak, angkat pelayan Mension sayang,kami selalu bersama setiap waktu tapi sayang saat ini dia demam"jawab Adryan.
"owh pantas saja, dia betah di pulau ini"ujar sandrina sambil melirik ke arah sang adik.
"apa lihat-lihat kalian tidak boleh bertemu princess Mikael, dia hanya punya aku dan mommy"ucap Gibran yang makin menggemaskan, alhasil semua kakak nya menghampiri nya sebelum makan dan mencubit gemas pipi juga hidung Gibran dan akhirnya dia nangis histeris.
"haaaaaa... momm....hiks hiks hiks, kakak' jahat sama Gibran"ucap nya sontak semua orang tertawa terbahak-bahak, tapi Sania hanya menahan tawa, karena jika dia ikut tertawa bisa-bisa Gibran tidak mau lagi melihat nya.
"sabar sayang, mereka hanya kangen dengan mu"ujar Sania.
Adryan tertawa geli melihat Sania menahan tawa sambil sesekali memalingkan wajahnya.
"makan lah kalian pasti lapar, bukan nanti Daddy akan mengajak kalian menikmati suasana pantai kita bisa piknik di pinggir pantai"kata Adryan.
__ADS_1
"hore.... Daddy aku ingin mancing ikan seperti mommy, ucap Sandra.
"kalau itu besok saja Daddy, ajak kalian berlayar di kapal pesiar milik Daddy, kalian pasti suka"ujar Adryan begitu antusias.
"Ok, Daddy itu pasti sangat lah keren dar akan aku posting foto di Instagram, aku ingin mereka melihat kapal milik kita Daddy iya kan Sandra"ucap sandrina, yang langsung menghabiskan makanan di piring nya.
"kalian yakin tidak akan mabuk laut secara kan itu di tengah laut"ujar Gavin, senyum mengejek.
"setelah selesai makan mereka pun duduk sejenak menikmati puding kesukaan mereka buatan sang mommy.
sementara itu Emily naik ke kamar untuk bersiap dia membawa kamera miliknya, saat ini dia ingin mengabadikan momen bersama keluarga nya saat nanti di pantai Emily, sudah tau daerah pinggiran pantai itu begitu indah, Gavin pun menyusul dan memeluk nya dari belakang.
"sayang, kamu sedang apa hemm"ucap Gavin.
"aku sedang mengambil kamera dan mau ganti baju sebaiknya kakak, segera keluar aku harus ganti baju dulu"ujar Emily.
"heumm, kenapa tidak langsung saja heumm toh cepat atau lambat aku juga akan menikmati nya"ucap Gavin sengaja menggodanya.
"ahh... Kakak, jangan jahil deh, siapa tau kamu menikah dengan orang lain, sekarang kita masih belum sedewasa itu, jadi kapan pun itu pasti bakal ada yang berubah"ujar Emily.
"tidak akan ada yang berubah sayang kakak hanya cinta kamu"ucap Gavin tulus.
🌹💖💖💖🌹
setelah, Sore tiba mereka pun kini sedang menikmati suasana pinggir pantai, saat ini.
mereka bahkan selalu mengabadikan setiap momen dengan jepretan kamera, saat ini, termasuk mereka berempat karena Gibran tidak mau berfoto dengan ke empat kakak nya itu mereka pun diam-diam mencuri gambar sang adik dengan kamera, super kilat.
Adryan, tersenyum bahagia mereka semua sudah tumbuh dewasa, kecuali si bungsu yang terakhir hadir sedikit terlambat, saat ini.
mereka pun,kini tengah menikmati permainan kejar-kejaran dengan,saling menyiram dengan air yang menghampiri nya mereka pun bermain air sambil sesekali saling menjahili, jepretan kamera tidak hentinya Adryan ambil mengabadikan kebahagiaan nya bersama dengan, keluarga nya adalah kebahagiaan yang tidak pernah iya bayangkan sebelumnya.
Adryan, dan Sania,sangat bersyukur di usia nya yang sudah paruh baya ini masih di berikan kesempatan untuk berkumpul bersama dengan putra dan putri nya, saat ini, Adryan bahkan sudah membuat surat wasiat untuk mereka semua jika sewaktu-waktu dia pergi mendadak, karena kematian tidak seorang pun yang tau.
kini mereka sedang duduk di atas tikar di depan Mension, saat setelah kembali dari pantai mereka begitu, bahagia bisa menikmati keindahan ciptaan sang pencipta di saat ini yang bahkan tidak pernah mereka rasakan, sesantai ini di tempat yang begitu indah Sandra dan sandrina kini sibuk berfoto untuk memamerkan keindahan yang ada di pulau pribadi milik nya, saat ini mulai dari video dan juga beberapa foto, sementara Emily, entah kenapa dia begitu sedih saat ini hatinya tiba-tiba mengingat masa-masa sepi yang selalu di jalani nya, sedari dulu dan hanya beberapa hari lagi dia akan kembali kesepian.
"sayang ada apa hemm"ucap Gavin dari samping Emily memang sedang menikmati sunset, saat ini tapi dia duduk terpisah dari yang lain nya dia duduk di bangku taman.
"aku hanya sedang mengingat masa-masa kesendirian ku kak, dan hanya tinggal beberapa hari lagi aku akan kesepian lagi"ucap Emily, tidak bersemangat sama sekali.
"itu tidak mungkin kak, Daddy dan omah tidak akan mengizinkan nya, lagian di sana kakak juga pasti sangat sibuk dan tidak akan ada waktu untuk bersantai"ujar Emily.
"aku, akan menyempatkan waktu untuk menemani mu sayang"ucap Gavin penuh cinta.
"sama saja,biar aku tinggal di Australia saja lagian setidaknya di sana ada aunty Joyu, yang akan menemani ku"ucap Emily.
"ya sudah pulang sendiri saja jika kamu berani"ujar Gavin kesal dia langsung pergi menuju pintu masuk , Gavin kesal keinginan nya di tolak.
"kak... tunggu!!!"""ucap Emily.
namun perkataan Emily tidak di gubris oleh Gavin dan saat ini semua orang melirik y arah nya.
"ada apa, Emily?"tanya sandrina sambil mendekat.
"kakak marah karena aku ingin pulang besok sendiri"ucap Emily bohong.
"ya ampun Emily, Amerika itu jauh kamu juga masih kecil, jadi biar pulang nya di antar kak Gavin atau Daddy.
"aku tidak tinggal di Amerika lagi kak, aku tinggal di Australia, saat ini dengan Daddy Joe"jawab Emily yang langsung membuat sandrina, kaget'.
"apa, kamu bilang tinggal dengan Uncle Joe, sejak kapan"ucap nya penasaran.
"cerita nya panjang kak, tapi kakak bisa tanya Daddy Adryan"jawab Emily.
"kak, aku tinggal dulu ya sekalian mau mandi dulu"ujar Emily.
"baiklah sayang, sebentar lagi kami nyusul!"ujar sandrina.
Emily pun berlalu meninggalkan mereka semua, saat ini dia langsung masuk ke dalam kamar nya, tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Gavin yang kini duduk di sofa kamar nya.
Emily mengambil baju ganti dari wal-k in closet, saat itu juga dan langsung bergegas menuju kamar mandi, setelah hampir tiga puluh menit dia pun keluar dan sudah terlihat fresh saat ini, dia duduk depan meja rias,sambil mengeringkan rambut nya, sementara itu Gavin tengah menatap nya sambil sesekali meneguk Wine, dari gelas yang ada di tangan nya.
Emily,sama sekali tidak memperdulikan nya, hingga suara Gavin yang sedikit serak itu bicara dengan sedikit penekanan di setiap kata nya.
"jika kau ingin kembali, bereskan barang mu sekarang juga, aku akan mengantarmu ke bandara"ujar Gavin dingin.
__ADS_1
"Kakak, mengusir ku?"kata Emily sambil melirik ke arah Gavin yang masih menatap tajam kearah nya.
"terserah kamu,mau nganggap gimana "ucap Gavin masih menatap nya.
"baiklah, aku akan pergi sekarang juga, tidak usah mengantar ku,aku bisa pergi sendiri"ucap Emily yang langsung membereskan barang-barang nya kedalam koper.
"kau mau pergi dengan siapa helikopter Daddy sedang di pulau lain??"ujar Gavin.
"aku jalan kaki, saja sampai Daddy jemput aku"ucap Emily ringan, tanpa melirik ke arah Gavin dia menyeret koper miliknya.
"berhenti di situ atau kita tidak punya hubungan apa pun lagi, mulai saat ini"ancam Gavin.
"terserah"ucap Emily yang saat ini sedang melangkah terburu-buru, namun Gavin berhasil menarik tangan nya kasar dan Emily pun kini tertarik ke arah Gavin tepat di hadapan Gavin.
"kau tidak mencintai ku"ucap Gavin menatap manik mata Emily yang kini, tengah menahan tangisnya.
"terserah apa kata mu toh kamu juga yang mengusir ku, mungkin lebih baik jika kita tidak pernah bertemu lagi, kamu bisa hidup bahagia seperti yang kamu mau kamu bisa mengatur wanita manapun untuk tinggal dengan mu, selama kamu mau"ujar Emily, yang kini berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin.
"aku, tidak ingin yang lain"ucap Gavin tegas
"maaf, aku sudah harus pergi kamu benar di sini memang bukan tempat ku"ucap Emily sambil melepaskan tangan Gavin.
"tidak, kamu hanya sedang emosi, aku tidak akan melepaskan mu, jika kamu ingin kembali sekarang mari kita kembali tapi aku tetap akan membawa mu ke Italia, bukan Australia"ujar Gavin, yang kini memeluk erat tubuh Emily.
"lepaskan aku, mulai saat ini kita tidak punya hubungan apa pun,itu kan yang tadi kamu ucap kan, apa kau lupa?"ujar Emily yang kini menangis sesenggukan,di dada bidang Gavin, yang kini masih memeluk nya erat.
"Emily,mari kita menikah"ujar Gavin serius.
Emily diam sejenak lalu menjawab
"kamu gila kak, kita tidak mungkin direstui mereka"ucap Emily.
"aku tidak perduli,itu aku akan menikah dengan mu, atau tidak akan pernah menikah selama nya"ucap Gavin tegas.
"Gavin, apa yang kamu katakan"tiba-tiba suara Sania, mengejutkan mereka berdua.
"momm...ini kakak"ucapan nya terhenti.
"diamlah Emily biar kan aku yang bicara'"ujar Gavin sambil membawa Emily duduk di sofa sementara Gavin menghadap Sania.
"momm... aku sangat mencintai nya, dan hanya dia yang aku inginkan sampai kapan pun jadi, aku mohon restu kami"ucap Gavin memohon.
"Gavin, mommy, tidak setuju dia itu adik mu"ucap Sania.
"Gavin tidak perduli momm... yang Gavin mau hanya dia titik"ucap Gavin tegas.
"Gavin, ikut mommy"ucap Sania sambil memegang tangan putra sulung nya itu.
"momm.. apa susah nya sih mommy tinggal restuin kami"ucap Gavin.
setelah mereka turun Sania membawanya ke kamar milik nya, dia tidak ingin mereka semua mendengar kan perdebatan nya.
"ada apa, sayang kenapa Gavin di bawa kemari"ucap Adryan sedikit heran.
"Daddy telpon Joe atau Maxim sekarang juga suruh mereka menjemput Emily ini semua tidak boleh terjadi hubungan keluarga kita tidak boleh hancur"ucap Sania tegas.
"ada apa ini sebenarnya Gavin"ucap Adryan sedikit meninggikan suara nya.
"Daddy, aku mencintai Emily, dan ingin menikah dengan nya"jawab Gavin tegas.
plak...suara tamparan itu cukup keras mendarat di pipi Gavin dan melukai ujung bibir putra nya itu.
"Gavin, apa kau sadar dengan yang kau ucapkan itu heuhhhhh, dia itu adik mu, dan juga sekaligus sepupumu, apa ajaran kami selama ini kurang heuhhhhh"teriak Adryan murka.
"tapi Daddy, aku hanya ingin menikah dengan nya jika tidak maka aku tidak akan menikah dengan siapapun"ucap Gavin tidak kalah keras.
"Daddy, tidak akan membiarkan itu terjadi mulai Minggu depan persiapkan diri mu, untuk bertunangan dengan anak rekan bisnis Daddy"ucap Adryan tegas kini dia meninggal putra nya itu bersama Sania.
"kamu dengan itu kan sayang mommy mohon jangan keras kepala seandainya kau tidak salah jalan mommy akan membebaskan mu, memilih siapa saja yang penting bukan adikmu"ujar Sania sambil memeluk putra nya yang kini menangis memohon agar mommy nya merestui hubungan mereka.
sementara itu Emily di bawa Adryan, saat itu juga, dengan anak buah nya pergi ke bandara menggunakan helikopter, sesampainya di sana ada asisten Joe yang sudah menunggu nya di bandara.
"Daddy, maafkan Emily, tolong jangan hukum kak, Gavin biar Emily, yang menjauhi nya, tapi Emily mohon jangan membenci Emily"ucap Emily yang kini menangis sambil berlutut.
"bangun sayang, Daddy tidak akan pernah membenci mu justru karena Daddy sayang kalian makanya Daddy lakukan ini semua maafkan Daddy, jika menurut mu Daddy begitu egois"ucap Adryan yang langsung memeluk sambil mengecup puncak kepala Emily putri bungsu nya itu.
__ADS_1
sementara itu Emily tidak pulang ke Australia,atau pun ke Amerika dia memilih tinggal di Kanada, tempat orang tua Maxim, tinggal dulu rumah mewah yang begitu luas itu hanya di huni puluhan pelayanan walau pun mereka tidak tinggal di dalam nya mereka di sana hanya untuk bersih-bersih, setelah itu mereka kembali ke rumah yang tersedia di belakang Mension itu.