
setelah satu bulan Sonya berada di desa kini mereka berdua, memutuskan untuk kembali ke ibukota. tepat nya,kerumah lama Nanda, yang mereka tempati dulu Nanda juga masih memiliki cabang perusahaan di sana.
Sonya membereskan, semua barang nya Nanda duduk di tepi ranjang, saat ini ia memperhatikan istrinya, yang saat ini terlihat sangat cantik.
"sayang, coba lihat kemari deh!" Sonya tiba-tiba menoleh,jprett... jepret.... kamera menyala Nanda memang orang nya sangat romantis dia suka menggoda istrinya itu, bahkan saat ini pun Sonya tidak lepas dari godaan suaminya.
"sayang kebiasaan deh kamu, itu aku lagi beresin barang kamu, ini juga penya Kean,hiks,,hiks hiks..."Sonya rupanya, teringat sang anak, dia langsung menangis dan Nanda, langsung memeluk, Sonya saat ini juga.
"sayang yang sabar ya, semua sudah terjadi jadi kamu harus mengikhlaskan semua nya, tuhan lebih sayang Kean melebihi kita mommy juga harus semangat untuk anak kita ini"Nanda menenangkan istrinya itu.
"Daddy, aku tidak kuat kalo terus-terusan begini"ucap Sonya.
mereka pun berpelukan sangat lama, bukan tidak pernah merasakan kesedihan justru Nanda mencoba tegar untuk sang istri.akhirnya semua sudah beres kini Sonya berpamitan kepada Ayah dan Bunda nya, bukan Sonya tidak ingin tinggal di sana tapi ia tidak kuat kalo harus, terus berada di sana, pasalnya makan sang anak tidak jauh dari rumah mereka jadi Sonya selalu teringat akan putra nya itu.
bagaimana tidak Kean adalah anak yang cerdas di usia nya yang sangat kecil dia mampu, memecahkan teka-teki, yang sangat rumit sekalipun, dan semua keceriaan nya selalu jadi. pelepas lelah sang ayah sepulang bekerja.
kini mereka harus mengikhlaskan, kepergian sang buah hati Sonya bahkan hanya mampu, bertahan saat suami nya ada di sisinya, tapi saat dia sendiri dia begitu rapuh, semua foto-foto Kean sengaja Nanda sembunyikan di ruangan, yang tidak pernah Sonya datangi.
sesampainya di Jakarta, Sonya langsung masuk ke dalam kamar nya iya merasa sangat lelah beberapa pelayan rumah itu, menyiapkan segala keperluan tuan dan nyonya mereka, Sonya kini sedang beristirahat bersama dengan Nanda setelah ia membersihkan diri terlebih dahulu.
"momm... mommy mau makan apa saat ini, hmmm biar Daddy belikan" ucap Nanda sambil mengelus perut istrinya itu.
"tidak usah Daddy, mommy gak lapar , nanti kalo mommy mau pasti bilang sekarang aku hanya ingin bobo bareng' Daddy saja seperti ini sudah sangat nyaman, jangan tinggalkan aku Daddy" ucap Sonya.
"baiklah sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan mu"sampai kapan pun.
mereka pun tidur di sore hari itu karena lelah mungkin, jadi tidak bisa menahan kantuk.
sementara itu di Mension Adryan, Sania yang baru pulang dari perusahaan, saat ini ia merasakan lelah yang teramat sangat, Adryan sudah melarang nya bekerja tapi Sania tidak mau diam saja menunggu suaminya di rumah iya ikut bekerja dengan Adryan, saat ini karena tidak ada lagi, kegiatan yang dia lakukan.
"Sayang, aku sudah bilang jangan pernah bekerja kamu sih ngeyel sayang" ucap Adryan Sambil mengelus puncak kepala Sania yang tergolek lemas.
"yank, aku bosan di rumah terus anak-anak bahkan tidak ada di sini bersama dengan kita, aku kesepian" keluh Sania sambil menatap wajah tampan Adryan.
"kenapa tidak kita buat lagi aja, siapa tau yang ini tidak ada yang mengambil lagi dari kita mereka sudah mengambil ke-tiga anak kita mungkin yang ke empat aman bersama dengan Kita, bagaimana sayang"tanya Adryan.
"yank... kamu pikir hamil dan melahirkan itu gampang apa, coba kamu saja yang ngerasain itu" Sania mencabikan bibir nya.
"hmmm...ia aku tau ko baik'lah kalo tidak mau, aku tidak akan memaksa yang terpenting istri ku ini bisa bahagia" kata Adryan,sambil tersenyum dan terakhir mencium bibir istrinya itu.
jam menunjukkan pukul, tujuh malam, Sania bangun dari tidur nya dia merasa perutnya lapar iya juga membangunkan, suaminya itu.
__ADS_1
"sayang ini sudah jam tujuh malam aku lapar, kita ke luar yu cari makan" ajak Sania.
"hmm.. sebentar sayang aku cuci muka dulu" Adryan pun masuk kedalam kamar mandi, dan saat ini, Sania tengah merapihkan rambut nya, tidak di poles apa pun wajah nya terlihat sangat cantik alami itu yang selalu membuat Adryan jatuh cinta selain kepribadian nya juga wajahnya yang cantik selalu membuat Adryan terpesona saat berada di sisi nya.
"hmmmm, sayang kamu lebih cantik lagi kalau polos begini aku sangat suka, dan aku ingin melihat mu seperti ini setiap bersama dengan ku" pinta Adryan.
"hmmm..baik boss.." ujar Sania sbil mengedipkan mata.
"sayang jangan mulai deh, bagaimana kalo saat nanti kita, tidak jadi makan" ucap Adryan.
"jangan aneh-aneh yank... kamu tidak tahu kan kalo aku lapar banget saat ini" ucap Sania
mereka pun pergi,ke sebuah restoran mewah yang dulu pernah mempertemukan mereka, saat Sania masuk iya sadar restoran ini adalah tempat ia dan Adryan bertemu saat dulu, berkali-kali Sania melirik kesana kemari, semua masih seperti dulu, Adryan tidak pernah merubah nya, cuman yang megang resto tersebut adalah orang baru semua pegawai menyambut mereka dengan sangat hormat, Adryan, langsung menarik Sania ke dalam kamar istirahat nya dulu, dan Adryan menyuruh mereka, menyajikan makanan terbaik nya di ruangan pribadi nya itu.
"sayang mau menginap, itung-itung nostalgia" tawar Adryan pada istrinya itu.
"heumm lain kali saja Sayang, oya bagaimana kalo aku yang pegang restoran ini" ujar Sania.
"tidak princess ku, aku tidak mau kamu bekerja, apa pun itu" kata Adryan tegas.
makanan pun telah siap Sania yang sudah sangat lapar pun ia kini langsung melahap semua menu yang tersedia di sana, seperti orang yang baru kesurupan, Adryan hanya bisa tersenyum, sudah terlalu lama ia tidak melihat tingkah konyol istrinya itu,dulu terakhir kali pas di Desa, Sania menghabiskan jatah makan nya karena sedang marah dengan Adryan.
"sayang pelan-pelan tidak akan ada yang meminta nya kamu tenang saja, aku bisa minta lagi pada pelayan" ucap Adryan, Sania tersenyum ke arah suaminya itu.
"tidak apa-apa, yang penting kamu suka aku tidak ada masalah malah kamu harus menambah tenaga untuk pertempuran kita nanti" ucap Adryan yang mengedipkan mata nya sambil tersenyum kearah Sania untuk menggoda nya.
"sayang, baik'lah tapi aku mau sesuatu, ada mobil baru yang baru meluncur saat ini belum ada di Indonesia Sayang"Sania sengaja menguji suaminya itu padahal dia tidak pernah minta ampun dari Adryan.
"apapun itu aku akan. belikan untuk mu Hanny, muachh" Adryan malah sangat senang, pasalnya selama ini Sania tidak pernah meminta apapun, dia mampu membeli apa pun dengan uangnya sendiri.
🌹💖💖💖🌹
'seminggu berlalu tepat nya hari ini adalah hari ulang tahun Sania semua sudah berkumpul di pestah megah yang di adakan oleh, Adryan seperti acara pernikahan saja Adryan mengenal kan Sania ke publik,acara nya bahkan ada sesi konferensi pers, dan kado yang tidak kalah menakjubkan,ya itu sebuah mobil termewah tercanggih dan keluaran terbaru Seperti yang Sania ingin kan sengaja Adryan datang kan dari Jerman.
acara tambah meriah lagi ketika ketiga anaknya, berada di hadapan nya kini, Sania yang sangat merindukan mereka menangis sesenggukan sambil memeluk ketiga nya, dan itu sudah pasti membuat suasana menjadi haru ketika ketiga nya membawa seikat bunga dan kado untuk Sania.
mereka bertiga bernyanyi lagu selamat ulang tahun, untuk mommy nya.
"happy birthday mommy... happy birthday mommy... happy birthday mommy happy birthday end I love you mommy" ucap ketiga nya yang kini memeluk sang ibu.
"sayang mommy owh mommy sangat rindu kalian Hanny... muachh muachh muachh" Sania memeluk erat ketiga nya, begitu juga Adryan yang bergabung bersama mereka.
__ADS_1
"Daddy, terimakasih kado terindah nya, semua ini, Sangat membuat ku bahagia, terimakasih banyak Daddy,cup..." kecupan itu mendarat mulus di bibir Adryan mereka bercumbu, saat itu juga, hingga semua tamu yang hadir ikutan Baper sementara anak mereka masih dalam pelukan mereka berdua.
"sama-sama sayang ku kau adalah sumber kebahagiaan,ku selama ini,sayang nya Daddy ayo kita pulang ke rumah kalian " Adryan mengajak ketiganya pulang sementara para tamu masih berdatangan, tapi Adryan tidak perduli itu karena Allan yang menghendel acaranya kini.
mereka hanya butuh tiga puluh menit, sudah sampai di Mension tersebut dan saat ini mereka masuk kedalam sana ketiga anaknya takjub melihat kemewahan yang ada di sana, padahal Gavin selalu melihat yang sama persis di Mension milik Allan yang tidak kalah mewah.
"Daddy, sandrina mau tinggal di sini saja saat ini, tidak mau pulang ke desa lagi" ucap sandrina.
"kakak,kalau kita di sini nanti kasihan aki bakalan kesepian" ucap Sandra mengingat kan.
"Daddy, Dimana kamarku aku lelah saat ini" ujar Gavin yang kini sudah berusia sepuluh tahun.
"nanti Daddy antarkan sayang tapi mommy dan Daddy terlalu kangen pada kalian semua jadi malam ini kita bobo bareng sayang" kata Adryan, sambil mengelus puncak kepala ketiga anaknya.
"Sandra sayang mommy, sangat ingin kalian tinggal di sini, mommy mohon, kabulkan permintaan mommy hari ini sayang ku" Sania menggendong anak bungsu nya itu dan memeluk erat Sandra yang lebih dekat dengan sang kakek yang selalu di panggil aki ...
"tapi mommy,aki bakal kesepian, di sana aku tidak mau buat dia sedih" ucap Sandra yang polos itu.
"Sandra kita bisa minta ijin aki nanti aku mau tinggal sama mommy Dulu di sini" ucap sandrina, yang sipat nya bertolak belakang dengan Sandra, sandrina lebih suka hidup mewah sementara Sandra, anak yang sederhana seperti Sania, dan Gavin lebih kalem seperti Adryan.
malam pun semakin larut mereka tidur berlima di ranjang king size tersebut, dengan sangat bahagia nya Sania, mencium mereka sebelum tidur.
ke esokan pagi nya Allan yang menginap di hotel tersebut, mereka datang berkunjung ke Mension,milik Adryan tersebut untuk menjemput Gavin untuk kembali ke Italia saat ini juga, Sania menangis sesenggukan memohon agar Allan mengizinkan Gavin untuk tinggal sedikit lebih lama bersama dengan nya, Allan yang sangat sayang dengan Sania pun memberikan izin tapi hanya satu Minggu saja, setelah itu Gavin akan di jemput oleh anak buah nya.
Sania harus puas dengan itu semua sementara, Debora saat ini lebih memilih memeluk cucu-cucu perempuan nya itu, iya sangat menyayangi mereka berdua, Debora juga tidak lupa memberi kan dua buah kado yang kini, ia berikan kepada kedua nya ya itu kalung berlian yang memiliki alat pelacak di dalam nya tanpa sepengetahuan mereka itu sengaja Allan buat untuk bisa melindungi kedua cucu perempuan nya itu, karena, begitu sayang nya Allan pada ketiga nya.
"thanks, Oma," ucap sandrina dan Sandra.
Adryan,tau kalung itu sama persis yang dulu di berikan terhadap Sania,kalung pelacak,di balik keindahan, berlian.
"Daddy, apa itu seperti yang dulu" tanya Adryan.
"hmmm..."jawab Allan.
mereka pun, makan bersama saat ini dengan sangat lahap, Adryan sangat bahagia melihat seluruh keluarga nya berkumpul, tidak seluruhnya nya sih karena hanya Allan yang boleh datang kesana entah kenapa Adryan sangat membatasi, nya menurut dia itu adalah pripasi, nya.
Sania bisa mengerti itu dan semua keluarga nya. pun tahu seperti rumah besar milik, Nenek Sania yang saat ini Andara kunjungi, Andara bisa membuat pintu gerbang depan telapak tangan yang di tempel pada dinding gerbang itu, karena monitor pendeteksi keturunan yang sengaja di pasang oleh Paramitha Anderson, untuk menjaga keamanan, rumah tersebut, sampai kapan pun.danang masuk mengikuti Andara, dari belakang.
"Bunda,rumah ini masih seperti yang dulu, saat pertama kita bertemu, ayah kangen masa-masa di mana mengantar kan Bunda kuliah dan bekerja" ucap Danang sambil menitikkan air mata, betapa tidak, hidup nya berubah seratus derajat,berkat mendiang mertua perempuan nya itu, yang menerima dia dengan lapang dada.
bukan tanpa alasan, Paramitha menerima keadaan Danang karena sakit akibat penolakan pernah di terima oleh nya saat itu, dimana keluarga suaminya menolak kehadiran Paramitha, tanpa alasan yang jelas, sebelum Paramitha tahu suaminya, punya seorang istri, sebelum menikah dengan nya, dan kejadian itu pun di alami Sania dulu, bahkan Paramitha tidak pernah di akui keberadaan nya, oleh mertuanya hingga iya bercerai dan membawa kedua anak nya, padahal Paramitha bukan lah orang biasa dia sudah terlanjur kaya dari lahir.
__ADS_1
mungkin karena pengalaman itu, dan Paramitha melihat, kebaikan dari seorang Danang Setiaji, dan dia merasa kalau Danang adalah orang yang tepat untuk menjaga nya, dan benar saja Paramitha bisa meninggalkan dunia ini dengan tersenyum karena Andara sudah bahagia bersama dengan Danang saat itu, perusahaan yang di pimpin nya pun berkembang pesat saat itu, yang kini di wariskan kepada Sania.
"ayah, terimakasih, untuk semua nya"