Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
Duka


__ADS_3

Sania terjatuh tak sadarkan diri, Adryan langsung, mengangkat tubuh Sania, dan membawa nya ke ranjang, Sania tidak sadarkan akibat serangan jantung.


dokter, langsung bergegas melakukan pertolongan pertama, pada Sania semua orang kaget, Sania yang Baru satu tahun sadar dari koma setelah menerima donor jantung kini harus kena serrangan jantung kembali,ini adalah hal yang paling di takutkan oleh Adryan.


"sayang, bangun lah,tolong jangan buat aku ketakutan, berjuang lah untuk kita kamu tau kalo kamu seperti ini lalu siapa yang akan merawat jagoan kita yang sedang berjuang melawan kematian" ucap Adryan sambil menangis.


Allan yang melihat itu ia semakin terluka bagaimana tidak, Sania sudah seperti ini karena ke lalaian nya.


"maaf kan Daddy,boy.. Daddy penyebab dari semua kekacauan ini" ucap Allan semakin terisak.


"tidak Daddy,ini semua sudah takdir, rentetan peristiwa yang terjadi bukan kehendak kita" ucap Adryan.


"tapi anday saja Daddy dulu tidak menelantarkan ibu mu dan Daddy tetap bertahan di sisi nya, mungkin dia tidak akan seperti ini,sumber masalah ini adalah Daddy" ucap Allan.


"jangan ucapkan itu lagi Daddy aku sangat menyayangi mu dan seluruh keluarga ku,dulu kalau Daddy tidak pergi mungkin keadaan nya akan lebih buruk lagi dari ini Daddy tidak akan bisa hidup seperti saat ini bersama dengan aunty Debora, bahkan mungkin hidup Daddy akan lebih menyeramkan" ucap Adryan.


"kau benar boy,,, Daddy menemukan kehidupan Daddy, kembali setelah Debora hadir di kehidupan Daddy, tapi sekarang tuhan sudah mengambilnya dari tangan Daddy" ucap Allan sambil mengusap air mata nya.


"berdoa lah Daddy semoga semua ini cepat berakhir" ucap Adryan sambil mengelus punggung Daddy nya dengan Sayang.


Dokter, pun berkata,ada sedikit perkembangan baik tentang Gavin, saat ini mungki minggu-minggu ini, jika terus membaik dia akan segera bangun dari koma nya.


sementara itu di kampung ayah Danang Setiaji, sedang mengadakan do'a bersama untuk kesembuhan cucu dan putri nya itu.


Joe yang mendengar hal itu ia menangis sendirian,baru saja kemaren dia bisa memeluk dan mencium, bibir Sania wanita yang kini menjadi ratu di hati nya, kini dia harus kembali kehilangan nya.


"sayang, bangun lah, aku menunggu mu" ucap Joe dalam hati.


tiba-tiba, Sania tersadar seperti mendengar seseorang menyuruh nya bangun dan dia bilang menunggu.


Sania perlahan membuka mata, Adryan sangat bahagia, saat melihat itu.


"sayang syukurlah kau sudah bangun" ucap Adryan sambil memeluk erat tubuh istrinya itu.


sementara itu, Allan juga berlari,ke kamar Adryan saking senangnya Gavin pun sudah sadar, benar-benar do'a orang terkasih di kabulkan oleh tuhan.


dua hari berlalu, Sania kini bisa dengan telaten mengurus putra semata wayangnya itu, padahal ia sendiri baru terbangun dari koma.


"sayang jangan terlalu cape kamu itu,baru sembuh,biar aku saja yang merawat jagoan kita yang satu ini" ucap Adryan sambil mengambil alih menyuapi Gavin.


"Daddy, Gavin sudah besar Gavin bisa makan sendiri" ucap Gavin yang tidak mau di suapin oleh Adryan.


"hmm,,, giliran sama mommy saja kamu mau giliran sama Daddy jadi malu, kenapa hmm,, apa kurang nya Daddy udah ganteng baik hati dan tidak sombong " ucap Adryan narsis.


"hmm,,, kurang satu hal" jawab Sania.


"apa yang kurang hmm masih kurang perkasa ia" kata Adryan lagi.


"kurang dewasa" jawab Sania ketus.

__ADS_1


"ya ampun Hanny kalau aku kurang dewasa bagaimana bisa aku membuat mu mendesah nikmat di bawah ku" ucap Adryan, berbisik di telinga Sania, dengan nada sensual.


"ya ampun Daddy,di sini ada anak kecil, kamu itu bisa tidak jangan bicara yang tidak-tidak" ucap Sania, sementara Allan hanya tersenyum,baru kali ini Allan menampilkan senyuman nya setelah satu Minggu kepergian Debora.


"kakek,,,bawa aku ke kamar ku seperti nya mommy dan Daddy ingin buat kan Ade lagi untuk ku" ucap Gavin.


Adryan dan Sania langsung terbengong dari mana putra nya belajar hal seperti itu kenapa dia bisa mengerti apa yang ayah ibunya bisikan.


"Hay boy... Daddy dengan mommy mu bukan bicarakan hal yang aneh-aneh lagian dari mana kau tau urusan orang dewasa" kata Adryan.


"hmm, Daddy sebentar lagi usia ku akan menginjak tujuh belas tahun, dan Kawan-kawan ku di SMA selalu membahas itu" ucap Gavin.


"ya ampun Gavin Stevano Anderson, kamu itu baru lima belas tahun, kenapa kau bisa masuk SMA dengan cepat karena kamu adalah murid yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata,mana ada usia mu lompat juga dan ingat Daddy tidak mau kau belajar hal, yang memalukan" ucap Adryan tegas.


"boy,,, jangan terlalu keras, karena itu masih wajar di sini, dia hanya bicara tapi tidak akan melakukan nya karena Daddy yakin dia adalah anak yang taat beribadah" ucap Allan.


"Gavin, sayang mommy berharap kamu bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mommy sangat ingin kau menjadi anak yang bisa di bayangkan, kamu adalah anak mommy, satu-satunya laki-laki di keluarga kita harus bisa memberikan contoh untuk adik-adik mu yang tiga-tiganya perempuan, dan mommy juga perempuan jika kau merusak wanita itu artinya secara tidak langsung kau juga merusak kami semua" ucap Sania lemah lembut.


"tentu saja mommy, aku akan selalu mengingat nasihat mommy, dan sudah pasti hal itu tidak akan pernah aku lakukan" ucap. Gavin yang kini berjanji.


"tentu saja Sayang mommy Percaya pada mu" ucap Sania, yang kini mengelus dan mencium puncak kepala putra nya itu.


"sayang pasti kamu penasaran dengan,adik ketiga mu dia itu, Gadis cantik dan penurut namanya emili, dia berusia empat tahun saat ini" ucap Sania.


"hmm, aku sangat ingin berjumpa dengan nya momm... dia pasti sangat cantik seperti mommy" ucap Gavin.


"hmm,,kakek mungkin aku tidak akan bisa berjalan lagi, tapi aku ingin segera kesana" ucap Gavin yang masih semangat walau dia tahu cedera yang mengakibatkan dia lumpuh.


"tidak akan Sayang Daddy janji akan lakukan apapun, untuk kesembuhan mu" ucap Adryan, Sania mengelus dan mencium pipi putra nya itu,lalu memeluk nya erat sambil menangis.


"Gavin,putra kesayangan mommy, mommy akan lakukan apapun, untuk kesembuhan mu meski itu harus di tukar dengan nyawa mommy sekali pun" ucap Sania.


"tidak, mommy, aku tidak ingin mommy kenapa-kenapa aku hanya ingin mommy selalu ada di sisi ku aku ikhlas ko kalo seandainya aku tetap seperti ini" ucap Gavin .


tidak sayang kamu akan secepatnya bisa berjalan besok, kita ke tempat aki, siapa tau di sana ada keajaiban kamu bisa kembali berjalan sayang" ucap Sania.


perkataan Sania mendapatkan, persetujuan dari Allan.


๐ŸŒน๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐ŸŒน


setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan sangat melelahkan kini Sania dan Adryan, bersama dengan Gavin dan juga Allan telah kembali ke Indonesia, tepat nya di Mension Adryan, karena kelelahan mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.


dua hari kemudian baru'lah mereka pergi ke kampung, untuk bertemu seluruh keluarga, kebetulan Sandra dan Emily sudah di bawa oleh Maxim ke pedesaan karena mereka menunda bulan madu nya, malah berencana berbulan madu di kampung Sania.


Joe juga sudah ada di sana saat itu karena ia di beritahukan oleh Yena,namun Joe hanya bisa melihat Sania dari jauh tanpa bisa menyentuh nya, karena ia belum siap untuk mati, saat ini.


yang benar saja kalo Joe berani, memeluk Sania di saat ada Allan, yang akan mematahkan leher nya hanya dengan hitungan detik.


seluruh keluarga pun bersama-sama menyambut. Sania dan putra kesayangannya yaitu cucu mereka yang pertama Gavin Stevano Anderson.

__ADS_1


bahkan Sonya pun sudah tidak tahan ingin melihat keponakan kesayangan nya itu, dia langsung datang dari London saat ini juga sudah duluan berada di rumah ayahnya itu.


saat Sania turun dari mobil Ayah nya lah yang pertama memeluk dan mencium putri nya itu yang berkali-kali lolos dari Kematian.


di susul ibunya, Andara menangis pilu memeluk putri bungsu nya itu, berlanjut ke yang lain, tapi saat pintu mobilnya di geser Danang yang melihat cucu kesayangan nya duduk di kursi roda Khusus, dia langsung menjerit menangis memeluk cucu kesayangan nya itu, dia bahkan menggendong nya langsung masuk,di susul oleh semua nya hanya sandi yang menyambut Allan dan juga Maxim dan Joe yang lain menangis berjamaah di dalam rumah, Gavin yang kini duduk di pangkuan Kakek nya semua orang memeluk dan mencium nya, apa lagi Siti yang tau dari awal perjuangan Sania mempertahankan keselamatan Gavin, dia menangis sesenggukan, untung ada para suami yang menenangkan mereka hanya Danang yang masih menangis sesenggukan, tapi dia seketika saat Gavin berbicara.


"Aki,,, lihat Gavin, apa Gavin se menyediakan itu di mata aki,,, Gavin ini masih muda dan Gavin yakin bisa sembuh secepatnya" ucap Gavin optimis.


"kau benar cucu ku yang tampan ini, adalah pria sejati,aki yakin kau akan secepatnya sembuh aki... menangis karena aki sangat rindu dan bahagia bisa melihat mu banjir dari hidup dan mati sayang aki... akan membantu mu agar kau bisa cepat berlari" ucap Danang sambil tersenyum tulus.


"Oya tuan maaf bukan nya saya lupa dengan tuan saking terharunya, bisa melihat cucuku kembali" Danang menyambut, Allan antusias.


"tidak masalah, aku juga bisa mengerti cuman keadaan nya sedikit kurang baik" jawab Allan.


"tuan saya turut berduka cita,atas meninggalnya nyonya Debora" ucap Andara.


"ya terimakasih, maaf bila aku datang secara mendadak, aku ingin membawa Gavin bertemu dengan kalian agar dia bisa langsung secepatnya pulih" ucap Allan lagi.


"Bunda makan siang nya sudah siap" ucap Yena dan Siti bersama an.


"baiklah tuan dan semua anak-anak ku,mari kita makan bersama" ucap Andara meja makan yang sangat panjang dan ada dua puluh kursi semua sudah pada duduk di tempat nya masing-masing Danang di himpit oleh Gavin dan Sania seperti biasa Danang lebih sibuk menyuapi mereka berdua, sementara Maxim dan Natalie, makan saling bertatapan sesekali tersenyum, Nanda dan Sonya duduk berhadapan, begitu juga sandi dengan Yena Adryan dengan Allan,Siti dengan Ari Sementara itu Joe makan di hadapan bunda Andara.


setelah selesai makan, mereka pun berbincang,penuh canda tawa hanya Sania dan Danang, yang kini membawa Gavin ke kamar nya yang ada di lantai bawah, Sania langsung bergegas menuju kamar tersebut, sepasang mata diam-diam melihat gerak-gerik, wanita yang ia cintai.


sementara itu, Sania sedang membantu Danang untuk membaringkan tubuh Gavin keatas ranjang empuk, miliknya sedari kecil berukuran king size.


"Aki,, aku ingin. tidur siang bersama Aki" ucap Gavin.


"tentu saja Sayang,Aki juga rindu tidur bareng cucu Aki yang tampan ini" ucap. Danang yang langsung, bergegas naik,ke atas ranjang empuk itu sambil mengelus puncak kepala Gavin mereka mengobrol dan melepas rindu, saat ini hingga Gavin pun terpejam karena sentuhan lembut penuh kasih sayang dari Kakek nya Tersebut.


Sania pun keluar dia menuju teras belakang iya membawa laptop nya, bermaksud ingin bekerja tapi tiba-tiba, saja dia mendapat email yang masuk dari Joe, dia mengajak Sania naik bukit itu adalah hal yang tidak mungkin Sania lakukan,ia pun meneruskan chatting nya memberi pemahaman untuk Joe agar tidak terus menerus mengejar nya, apa lagi saat ini begitu kurang tepat untuk bicara serius.


Joe langsung kembali masuk dan pergi dengan berani ke taman belakang di mana Sania berada, Joe ingin melihat Sania tersenyum pada nya itu sudah cukup.


"ya ampun Joe, jangan buat semua nya jadi sulit, aku sedang punya banyak masalah saat ini, tolonglah mengerti"ucap Sania.


tiba-tiba saja Yena dan sandi datang kak, Joe tolong antarkan ini ke butik, aku masih ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Sania.


"baiklah" ucap Joe yang langsung pergi tanpa menoleh, kearah Sania jujur saja dia sangat kecewa bagaimana tidak, Joe yang biasa dapat, ciuman atau senyuman namun keduanya nihil Joe mengerti Sania sedang banyak pikiran.


Joe pun kembali mengirim pesan.


"โœ‰๏ธHanny, maaf kan aku aku hanya rindu dan aku Takut kehilangan mu mendengar kamu koma, saja rasanya jantungku ikut berhenti bernafas" pesan Joe.


"โœ‰๏ธ maaf Joe, aku tidak bisa tersenyum untuk saat ini kamu tau sendiri keadaan ku saat ini,aku tidak bisa melakukan hal yang kamu mau kuharap kamu bisa mengerti"


"โœ‰๏ธaku sangat maklum ko Hanny"


pesan,pun berakhir semua bekas chat, iya hapus dan Sania melakukan itu, untuk tidak membuat seseorang nekad menyakiti nya atau merasa tersinggung oleh ucapan nya Sania tau semua itu salah tapi dia juga bukan manusia yang kejam yang langsung bisa menolak keinginan, Joe Sania berharap, suatu hari nanti Joe akan mengerti dengan penolakan Sania dengan cara yang halus.

__ADS_1


__ADS_2