
Setelah beberapa hari berada di Jerman, saat ini kondisi, Jason, sudah mulai membaik, Alice pun terlihat sangat bahagia saat ini dia sedang sarapan pagi bersama dengan Rio, pria itu masih bersikap dingin, selama berada di Jerman, entah apa yang menggangu pikiran nya.
"Kak, sarapan nya jangan sambil melamun itu roti nya cepat di habiskan"ujar Alice, sambil tersenyum manis ke arah Rio.
"Ayo kita pulang,ini sudah terlalu lama, aku sudah meninggalkan pekerjaan ku terlalu lama"ujar Rio yang sebenarnya tidak nyaman berada di Mension, tersebut.
"Kak, bukan kah perjanjian nya, kita akan menetap di sini"ujar Alice, mengingat kan.
"Tidak, sayang perjanjian itu sudah tidak berlaku, aku ingin kita segera kembali, aku tidak betah tinggal di negara ini"ujar Rio, beralasan.
"Aku tidak bisa kembali kak, perusahaan Daddy, membutuhkan ku,kalau kakak, tetap ngotot ingin pulang silahkan, tapi aku tidak akan bisa ikut, dan itu artinya kita akan berpisah untuk sel"ucapan Alice, terhenti saat Rio melemparkan piring di hadapan nya ke dinding.
"kak"ujar Alice,tak percaya Rio, bisa melakukan hal yang menurut nya sangat kasar.
"Alice, aku tau kekayaan ku, tidak sebanding dengan mu, tapi aku akan berusaha untuk mewujudkan semua impian mu, aku hanya ingin kamu ikut bersama dengan ku, makan tidak makan kita akan terus bersama susah senang kita lewati bersama, tapi sepertinya, kamu tidak akan pernah bisa melewati kesusahan, baiklah-baiklah aku yang akan menyerah sekarang aku akan berhenti berharap"ujar Rio, yang langsung berdiri dan pergi menuju kamar nya saat ini untuk mengambil barang-barang nya.
Alice, langsung terduduk lemas, saat mendengar keputusan Rio, adalah pilihan yang sangat sulit bagi nya,di satu sisi ada Daddy nya dan di sisi lain,ada pria yang sangat di cintai nya, Alice , berjalan gontai menuju kamar yang Rio, tempati saat ini, sesampainya di depan pintu, terlihat Rio, sedang menyeret koper nya.
"Kak, aku tau kamu marah, dan kecewa dengan diri ku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, semoga setelah kepulangan mu nanti kau akan lebih bahagia bersama dengan keluarga kecil mu itu"ucap Alice,sambil berjalan melewati pintu kamar Rio, dia berlari menuju kamar nya, Alice benar-benar merasakan sakit yang teramat, ternyata cinta Rio, tidak sesuai yang ia bayangkan selama ini.
cinta Rio, terhadap nya begitu rapuh, Alice, langsung masuk dan membanting pintu, saat ini dia menangis sesenggukan di atas ranjang nya dengan posisi ber telunkup di sana wajah nya ia benamkan di bantal tersebut.
sudah lelah rasanya untuk menangisi cinta yang selama ini di permainkan oleh takdir, dan saat ini Alice, benar-benar menyerah, dia bahkan melihat Rio, tidak mengejar nya.
Alice, berhenti berharap dari cinta yang menyakitkan.
saat Alice, sedang menggigit bibir bawahnya, karena keadaannya saat ini terasa sangat meyakit kan, tiba-tiba tangan kekar itu memeluk tubuh Alice, Rio memeluk nya dari samping, dia tidak rela jika harus kehilangan Alice, lebih baik ia kehilangan segalanya dari pada harus kehilangan Alice.
"Yan...KK., aku minta maaf, aku tidak ingin kehilangan mu sampai kapan pun, tapi please, jangan mengajak ku untuk tinggal di sini lagi, kita bisa cari tempat lain yang lebih privat, untuk orang luar, aku tidak nyaman berada di sini"ujar Rio,sambil berbisik tentang sesuatu yang membuat Alice, membulatkan matanya.
Alice, benar-benar tidak percaya dengan apa yang Alice,denger saat ini.
ibu tiri nya tega menggoda calon suaminya itu.
"Kita bisa tinggal di Mension mommy, setelah kita resmi menikah, untuk saat ini tolong bersalah"ucap Alice.
"Aku mau secepatnya kita menikah, saat ini juga, tidak ada masalah bukan setidaknya kita bisa langsung berbulan madu di negara ini"ucap Rio sambil menatap Alice minta jawaban.
"Rio, sayang ku apa??..kamu tidak akan menyesal menikah dengan ku, aku tidak secantik dia, dan aku juga belum tentu bisa seperti dia dalam hal mengurus mu"ujar Alice, dan masih banyak lagi, tapi Rio, berusaha untuk menutup kuping saat Alice, berkata demikian,ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.
Alice, sendiri sudah merasa terbiasa atas luka yang menganga Rio, langsung membungkam bibir Alice dengan ciuman panas yang baru kali ini setelah beberapa hari berlalu,saat berada di Jerman.
Alice, terhanyut dalam gelora buaian mesra kekasih nya itu"kak,stop jangan kelewat batas"ucap Alice.
"Sayang, kamu ini kenapa??...wajar saja jika kita melakukan ini sebentar lagi kita akan menikah"ujar Rio, yang kembali mencium bibir Alice.
mereka hampir terbawa suasana saat ini tapi Alice, langsung menghentikan nya.
"Kak, jangan lakukan itu sekarang, kita bisa melakukan itu setelah nanti kita menikah"ujar Alice, sambil menatap kearah Rio, yang kini menyunggingkan senyum meski senyum terpaksa guratan kekecewaan terlihat karena hasrat nya yang membuncah harus terhenti begitu saja .
"yan...k , sekali ini saja biarkan aku melakukan nya"mohon Rio.
"Tidak bisa kak, kita harus menikah dulu"ujar Alice.
"Apa bedanya sekarang dan nanti heuhhhhh"ucap Rio, yang masih pura-pura menginginkan hal itu, padahal maksud nya hanya ingin menggoda Alice, yang tampak gugup dan takut.
"beda ya jelas beda kita tidak melanggar hukum, juga sudah punya ikatan resmi gak seperti kalian dulu"jawaban Alice, yang langsung membuat Rio, menatap kecewa pada Alice, yang selalu membahas diri nya dengan istri nya itu.
"Alice, sudah berapa?... kali aku katakan jangan bahas orang lain, saat kita bersama aku tidak suka"ujar Rio
__ADS_1
"Tapi dia bukan orang lain,kak, dia istri mu"ujar Alice,lantang.
"stop Alice, aku menikah dengan nya karena terpaksa, andaikan saja dia tidak hamil saat itu aku juga tidak akan menikahi nya"ujar Rio.
"Dan itu juga akan terjadi pada ku, setelah kamu merenggut semua nya dari ku,kau akan meninggalkan aku , apa lagi saat aku tidak hamil iya kan"ujar Alice, berapi-api.
"honey, jangan samakan kamu dengan nya, karena jelas kamu dan dia beda, dia itu"
"Apa kak,pemuas nafsu mu.... atau pelacur mu atau wanita yang rela di jadikan budak nafsu mu, begitu...lalu apa bedanya di saat kamu melakukan itu pada ku, sebelum ada ikatan suci, kamu memperlakukan ku sama dengan nya, hanya satu perbedaan nya, saat ini dia lebih beruntung bisa memiliki mu, sementara aku belum tentu bisa"ucap Alice, berapi-api, memotong perkataan Rio.
"Hey ..... sayang kenapa? ... jadi begini, aku tadi hanya bercanda, aku tidak serius ingin melakukan hal itu,asal kamu tahu jika aku tidak pernah mencintai mu dan hanya mengikuti nafsu maka dulu kamu tidak akan kubiarkan pergi begitu saja, aku akan melakukan itu saat pertama kali kita di pantai, tapi karena aku benar-benar mencintai mu dan aku sangat menginginkan mu untuk menjadi pendamping hidup ku, aku tidak pernah melakukan hal lebih meski tidak bisa di pungkiri aku sangat menginginkan itu, ingat itu baik-baik"ujar Rio.
Alice terdiam sesaat, setelah itu dia bangkit berdiri berjalan menuju pintu keluar, karena mendengar suara Merry, mungkin kah Merry, datang sepagi ini pikir nya.
🌹💖💖💖🌹
Satu jam pasca kedatangan Merry, dan Gio,kini mereka tengah duduk santai di ruang keluarga, mereka saling berhadapan, Rio dengan Gio, Alice dengan Merry, dan Jason dengan sang istri, karena Jason, juga baru kembali dari rumah sakit, bersamaan dengan kedatangan Merry dan Gio.
"Alice, sayang Daddy, sudah memindahkan nama mu sebagai CEO, perusahaan, saat ini kamu harus menetap di sini, untuk selamanya, kecuali saat cuti kerja kamu baru boleh menemui mommy dan adik mu"ujar Jason, membuka obrolan.
"Maaf uncle, bagaimana dengan rencana pernikahan kami"ujar Rio.
"Rio, saya tau kamu sudah memiliki istri, jadi saya tegaskan saya menolak pernikahan itu, karena saya tidak ingin, kamu menyakiti putri saya, memangnya kau anggap apa ??..putri ku ini"ujar Jason, yang tentu saja membuat Alice,kaget dan , langsung menatap wajah Daddy nya itu, tidak ada main-main Jason benar-benar serius.
"Tapi uncle,saya sangat mencintai putri anda, saya janji akan membuat dia bahagia hidup dengan saya"ujar Rio,tak kalah tegas.
"Lalu seratus apa yang kan kau berikan pada nya, simpanan atau istri kedua, tidak-tidak...., saya membesarkan putri saya, dan menjaga nya, seperti intan permata,lalu setelah dia dewasa seenaknya saja kau ingin menjadikan putri ku istri simpanan mu,kau sudah menghina keluarga Smith, dengan melakukan itu, dan kau tau apa ?... hukum untuk itu"ujar Jason, sedikit menekankan kata-kata nya, menunjukkan bahwa dia dan keluarganya tidak bisa di remehkan.
"maaf, uncle, saya benar-benar tidak bermaksud melakukan itu, saya benar-benar mencintai nya, saya rela kehilangan apa pun termasuk,nyawa saya sendiri"ujar Rio, sambil bertekuk lutut di hadapan Jason Rio, benar-benar takut kehilangan Alice.
"pergi, dari sini jangan pernah temui putri ku lagi, sebelum kau menceraikan istri mu itu, dan satu lagi jangan harap kau akan dapat kan dia jika kau , kembali sebelum menyelesaikan semua nya"ucap Jason tegas tidak bisa di bantah.
sungguh keputusan yang sangat sulit dan berat itu sudah pasti,di satu sisi dia sangat mencintai wanita yang saat ini tertunduk tidak bisa menentang keputusan ayah nya,di sisi lain ada ibu dari anak nya yang tidak mungkin Rio tinggal kan dan memisahkan anak dan ibunya, dia bangkit dan menatap wanita yang sangat di cintai nya itu yang saat ini masih menunduk, dia kembali berjongkok di hadapan Alice.
sementara Merry, hanya terdiam menatap iba pada mereka berdua, beda dengan Gio, yang masih anteng dengan handphone nya, pria itu tidak memperdulikan apa yang terjadi di hadapan nya saat ini.
Alice, mengikuti Rio, pergi menuju kamar nya, saat itu juga, Rio berjalan gontai,ada air mata yang menetes dari pelupuk mata nya, saat ini dia begitu berat untuk mengambil keputusan.
sesampainya di kamar, Rio langsung memeluk wanita yang sangat di cintai nya itu, begitu juga dengan Alice, saat ini mereka begitu penuh ketakutan akan berpisah untuk selamanya.
"Alice, sayang, apa ??...aku tidak keterlaluan jika aku memisahkan seorang anak dari ibunya, dan apa aku salah jika aku ingin bahagia dengan wanita yang sangat aku cintai, kenapa?... dunia ini selalu menentang kebahagiaan ku, kenapa?... takdir tidak pernah berpihak kepada ku, aku kehilangan ibuku ... aku kehilangan dia... dan sekarang apa aku harus merelakan wanita yang sangat kucintai,lepas begitu saja, aku lebih baik mati, dari pada harus kehilangan mu honey, tapi aku juga tidak mungkin memisahkan seorang anak dari ibunya, dan jika aku melepaskan nya,sama saja aku menggali jurang pesakitan untuk putra ku"ujar Rio.
"Kak, sebaiknya pilih dia dan lupakan aku, aku yakin cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, bukan kah sebelum aku hadir di hidup mu sudah ada orang lain terlebih dahulu mengisi hati mu"ujar Alice,sambil menunduk tidak ingin memperlihatkan rasa sakit nya saat ini.
"Apa kamu gila, sayang, aku tak akan pernah melakukan hal itu, sekalipun aku harus membawa mu pergi jauh dari dunia ini, akan aku lakukan itu, tapi please jangan katakan itu lagi, aku mencintaimu dengan nyawa ku, aku mencintaimu dan itu tidak akan pernah tergantikan oleh waktu ataupun keadaan akan tetap sama seperti ini, aku sangat mencintaimu apa kamu tau itu,hiks...."Rio , menangis sesenggukan sambil memeluk erat tubuh Alice, yang juga menangis dalam diam.
"Tolong beri aku waktu, untuk menyelesaikan semua nya, kamu boleh memutuskan, apa pun jika aku tidak kembali setelah waktu yang ditentukan itu berakhir"ujar Rio, memohon padahal, Alice, akan tetap sabar menunggu jika Rio tidak berkata seperti itu, saat ini, Alice, jadi meragukan perasaan Rio, hingga dia berkata.
"Satu tahun, jika dalam waktu satu tahun tidak pernah kembali, aku anggap hubungan kita berakhir"ujar Alice, Rio awal nya berat untuk mengiyakan tapi kemudian dengan penuh keyakinan dia menyanggupi keputusan Alice.
****
disinilah alis saat ini, setelah melepas kepergian Rio , pria yang sangat di cintai nya itu untuk kembali ke tanah air, dan kembali untuk menyelesaikan masalah nya saat ini, dengan penuh keyakinan, Rio, meminta waktu untuk mempertimbangkan semua nya.
"Masuk lah, dia tidak akan pernah kembali"ucap Gio,asal.
"Jangan bicara sembarangan"ujar Alice.
"itu kenyataan"ujar Gio, cuek.
__ADS_1
pria yang berbeda usia sembilan tahun dari Alice itu berkata penuh keyakinan.
"Begitu ingin nya kah kamu melihat aku berpisah dengan nya"ujar Alice.
"Aku memang mengharapkan itu terjadi, tapi aku bukan pria yang senang melihat orang lain menderita,ayo masuk lah seperti nya sebetar lagi akan turun hujan"ujar Gio.
pria itu sengaja menjemput nya ke bandara, setelah sang sopir menelpon ke rumah mengabarkan mobil nya tiba-tiba mogok dan harus di derek padahal itu bukan mobil tua atau bekas, mungkin Tuhan , sedang berpihak pada pria yang kini berada di samping nya.
Alice, masih terdiam, hingga saat Gio, menarik nya masuk ke dalam mobil, dan langsung memasang kan,sabuk pengaman di tubuh Alice.
"Aku bilang juga, apa?... jangan jadi wanita bodoh, dia tidak akan pernah bisa kembali seutuhnya untuk mu,kalau kamu berpikir seperti itu, kamu terlalu naif .
"Stop... sudah cukup kau , mengolok ku, aku tau mana yang baik dan tidak baik"ujar Alice kesal.
"lalu apa?.. menurut mu dia yang terbaik"ujar Gio lagi.
"Stop Gio, aku bilang stop...!!! kamu tidak akan pernah bisa mengerti karena kamu, tidak pernah berada di posisi ku"ujar Alice.
"Kata siapa ??...Alice, kamu tidak pernah tau apa yang aku alami"ujar Gio.
"Tetap saja Gio, masalah mu beda, dengan ku"ujar Alice, yang memalingkan wajahnya kearah jendela.
"Beda,lalu mencintai wanita yang sudah mencintai pria lain itu mudah, apa??...itu mudah Alice, bahkan aku harus memendam rasa cinta dan rasa sakit itu bersamaan"ujar Gio.
Alice,menoleh lalu berkata"salah kau tidak mengatakan hal itu pada nya"ujar Alice.
"Karena, aku tidak ingin membebani mu Alice"ucap Gio.
"Aku, terbebani karena mu"ujar Alice , menatap lekat wajah pria yang sedang fokus menyetir itu.
"Ya... karena wanita yang kucintai selama ini adalah dirimu, kamu Alice, dan hanya kamu"ujar Gio.
Alice, terdiam masih dengan posisi menghadap ke arah Gio.
"Ya... Alice kamu"ujar Gio, mengulangi nya lagi.
"itu tidak mungkin Gio, kamu pasti salah, kamu hanya terbawa suasana, ya hanya itu, aku ini kakak mu meski tidak ada hubungan darah, tapi itu tidak bisa di tolak"ujar Alice.
"Tapi, perasaan ini tidak bisa di tolak ini adalah anugerah, Alice, aku mencintaimu sejak aku masuk SMA, setiap kali aku datang kerumah omah ... aku melihat kamu yang benar-benar berbeda dari yang lain"ujar Gio.
"Gio"ujar Alice, meminta Gio berhenti berucap.
"Aku sudah menduga nya, Alice, aku sudah tau akan seperti ini,maka dari itu aku tidak pernah mengungkapkan perasaan ku, selama ini"Gio, hanya tetap fokus, wajah nya masih tampak datar saat ini.
ada rasa bersalah yang hingga di hati Alice, saat ini tapi kembali lagi, perasaan itu tidak bisa di salahkan biar bagaimanapun, semua orang berhak, untuk merasakan itu semua terlepas dari bersambut atau tidak itu adalah resiko yang harus di tanggung.
Alice, masih menatap wajah pria tampan itu dari samping.
"Jangan menatap ku seperti itu, kamu tenang saja aku tidak akan memaksa kan kehendak, cukup kamu tau saja,itu sudah sedikit mengurangi beban derita ku, aku tidak ingin kau merasa iba terhadap ku, tapi jika suatu saat nanti kamu berubah pikiran, aku selalu ada untuk mu"ujar Gio Jujur.
"Maaf"ujar Alice.
"Untuk??..."tanya Gio.
"untuk semua yang terjadi pada mu"ujar Alice.
"Apa??...itu salah mu"ujar Gio sengaja ingin meyakinkan Alice.
Alice pun menggeleng.
__ADS_1
"Tentu saja, semua bukan salah mu,lalu untuk apa meminta maaf, kamu tidak pernah meminta ku untuk jatuh cinta pada mu"ujar Gio.
Alice pun mengangguk.