Gadis Desa Ku

Gadis Desa Ku
#Ku akui#


__ADS_3

dua hari sudah Alice, berada di pulau As, saat ini dia tengah berjalan di pantai sendirian,dia memang sengaja tidak memberi tahu siapa pun, karena memang sedang ingin sendiri.


Alice, tengah duduk di dekat pohon rindang di bibir pantai tersebut, dia sempat melamun mengingat semua nya yang terjadi di dalam hidup nya, semenjak ia mengenal cinta,ada seseorang yang ikut andil dalam peristiwa menuju dewasa, Alice, menitikkan air mata saat mengenang nya.


"Apa kabarmu di sana,heumm.... sudah pasti sangat baik-baik saja, aku bego banget sih"ujar Alice,sambil menarik napas panjang, entah sampai kapan dia harus terus seperti ini.


Alice, menertawakan diri nya sendiri, yang masih terlarut dalam kesedihan dan kenangan yang menyakitkan hati.


"Aku tidak bisa keluar dari semua ini, tuhan apa dosa ku"ujar Alice,lirih.


"Tidak ada hanya saja kamu itu terlalu bodoh"ujar Gio,sambil ikut duduk di samping Alice.


"Kau menguping"ujar Alice.


"Untuk apa??.... tanpa aku sengaja menguping pun, aku dan pepohonan di sini tau karena kamu sendiri bicara terlalu keras"ujar Gio.


"mau apa?.. kamu kemari"ujar Alice, mengalihkan pembicaraan.


"ini tempat paforit ku,memang kenapa??...gak ganggu juga bukan??...."ujar Gio.


"Enggak sih, tapi aku heran apa tidak bosan dengan suasana di sini selama hidup mu,ya walaupun aku akui di sini sangat indah"ujar Alice.


"Sudah terbiasa mungkin, itulah yang membuat aku betah di sini"ujar Gio,santai.


"Gio... boleh aku tanya sesuatu gak"ujar Alice.


"Apa?... tanyakan lah, selagi bukan privasi aku akan dengan senang hati, menjawab nya"ucap Gio.


"justru itu,Gio,ini sedikit pribadi"ujar Alice.


"Baiklah pengecualian"ujar Gio lagi.


"Apa kamu tidak dendam dengan mommy ku, secara dia sudah mengganti kan, posisi ibumu selama ini"ujar Gio.


pria itu bukan nya menjawab tapi malah tersenyum, namun entah apa arti dari senyuman nya itu.


"ko... malah senyum, bukan nya jawab"ujar Alice.


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu kamu pasti bisa menebak nya sendiri"ujar Gio.


"Ih nggak jelas banget, asal kamu tahu aku tidak tau apa pun, makanya bertanya kepada mu"ujar Alice.


"Tiada guna aku membenci seseorang yang sudah jelas baik terhadap ku, meski ya ...di awal aku pun merasakan itu,sakit rasanya melihat mommy ku , sendiri harus tersingkir kan, dari sisi Daddy ku, tapi setelah ku coba memahami apa??.....yang terjadi, sudah seharusnya ini semua terjadi dari awal bahkan mungkin aku tidak berhak untuk lahir ke dunia ini, dengan cara seperti ini, tapi kembali lagi, sekuat apapun kita, tidak akan bisa mengubah garis takdir , yang sudah tuhan garis kan. aku sendiri merasa malu jika mengingat ibuku yang hadir menjadi orang ketiga yang memisahkan Daddy dan mommy mu,itu tapi mungkin ini sudah suratan takdir, aku harus terlahir dari nya dengan cara seperti itu"ujar nya santai.


"Aku adalah saksi dimana saat mommy ku, berjuang dengan sangat sulit , untuk bisa melupakan rasa sakit, dan berusaha menolak kehadiran, Daddy,di tengah ancaman dari opah mu saat itu, aku yang selalu hadir di sisi wanita yang sangat baik itu,di tengah dia sedang terluka aku hadir menjadi teman nya dan dia menjadi ibuku, apa kamu tau sebelum dia berhasil menemukan jejak keluarga nya, dia tidak menerima ku, untuk menjadi putri nya, dengan alasan takut tidak bisa memberikan aku makan dan minum bahkan untuk membeli eskrim yang harganya sangat mahal saat itu, tapi dia berkata meminta ku untuk menjadi sahabat nya, sebelum dia hidup mapan, setelah itu dia kembali menghilang karena kami berpisah saat liburan di Bali, Daddy, memaksa nya untuk kembali bersama nya, dan mungkin saat itu, kamu masih dalam kandungan ibumu, karena aku juga masih berusia lima tahun, saat itu, hingga saat dia kembali ke sisiku dan menyatakan akan menjadikan ku, sebagai anak angkat nya, karena saat itu mommy sudah mapan,berkat warisan dari kedua orang tua nya itu, akhirnya kami kembali bersama, hingga saat ini aku sangat menyayangi nya, bahkan aku siap mati untuk nya, mungkin ini terdengar konyol, perbedaan usia kami saat ini lima belas tahun"ujar Alice, panjang kali lebar...

__ADS_1


"Dia, memang wanita yang baik,maka dari itu Daddy, lebih mencintai nya dari pada mommy ku, sendiri yang mungkin tidak berarti, apa-apa di hati nya selama ini, Merry, adalah satu-satunya bukti cinta Daddy, yang pernah omah ceritakan kepada ku, saat itu aku hancur dan sangat sedih mengingat yang ku tau selama ini Daddy hanya milik ku, dan itu tidak pernah bisa di ganggu gugat"ucap Gio.


"Apa?... kamu masih membenci kehadiran nya?..."ujar Alice, kembali bertanya.


"Di awal jujur aku sangat membencinya, karena kupikir dia telah merebut Daddy, yang hanya milikku, itu yang selama ini mommy ku bilang, bahwa Merry, adalah anak haram, dan tidak berhak atas harta milik Daddy, tapi semakin kesini, aku semakin mengerti, bahwa jika bisa protes pada sang pencipta, mungkin Merry, juga tidak ingin terlahir dari hubungan tanpa status, itulah kenapa?... aku selalu menolak mommy,ku sendiri yang selama ini selalu memberikan racun di otak ku, tapi seburuk apapun, dia tetap ibuku yang harus di hormati, itu juga salah satu alasan aku masih sering berhubungan dengan nya, dan asal kamu tahu, dia meminta ku, untuk tinggal bersamanya sejak mom... Michael, kembali ke pulau ini"ujar Gio Jujur.


"Untuk harta, kamu tidak perlu takut,Merry akan mengambil dari mu, Merry, sudah menjadi pewaris harta kekayaan milik Daddy Jason, dia dan aku mendapat bagian yang sama, tidak di beda-beda kan, bahkan jika Merry, ingin dia akan mewarisi semua nya, karena aku sendiri tidak membutuhkan itu, yang aku butuhkan hanya lah kasih sayang dan kehangatan keluarga"ujar Alice.


"Aku juga tidak takut, Merry, mengambil semua aset kekayaan Daddy, karena aku juga masih harus mewarisi harta kakek,ku di Taiwan, dan walaupun tanpa itu, aku masih bisa berdiri dan meraih sukses dengan tangan ku sendiri"ujar Gio, sambil tersenyum.


obrolan mereka terus berlanjut, hingga tidak terasa kini sudah memasuki sore hari,sinar senja sudah menampakkan diri, semua terasa indah untuk Alice, saat ini biar bagaimanapun Alice, yang selalu sibuk dengan pekerjaan nya selama ini tidak pernah menikmati itu, saking sibuknya meski tidak pernah hidup kekurangan dan tidak ada yang menuntut nya untuk bekerja keras, Alice, tetap menjalani hidup nya dengan bekerja dan bekerja.


🌹💖💖💖🌹


satu Minggu sudah berlalu, tidak terasa liburan pun berakhir untuk kedua kakak, beradik yang sengaja meliburkan diri dari aktifitas nya sehari-hari,dua hari lagi dia akan kembali, selama berada di Mension,As , Alice, merasakan suka dan dukanya bersama keluarga di sana, terutama kedua adik kembar nya, yang selalu menempel pada nya, bahkan meminta tidur bersama dengan Alice, seperti saat masih di Jakarta, sekarang mereka sudah besar mommy, tidak mengijinkan nya .


ada hal yang tidak akan pernah di lupakan oleh Alice, saat itu adalah sikap Gio, yang sangat menyebalkan menurut nya, karena sering muncul tiba-tiba, mengganggu ketenangan dan kenikmatan yang Alice, rasakan meski jengah tapi rasanya Alice, tidak ingin itu berakhir, entahlah mungkin karena hanya Gio,adik sambung nya yang kini sudah dewasa, jadi Alice, tidak pernah merasa kesepian lagi.


malam ini, Alice tengah duduk di balkon kamar nya, dia menikmati segelas wine, yang sudah dua bulan ini ia nikmati, semenjak dia ingin melupakan kenangan dengan nya, tapi sepertinya saat ini dia sudah mulai candu dengan itu.


"Apa?.... dengan meminumnya masalah mu akan hilang dan berganti dengan kebahagiaan"ujar Gio,sambil merebut dan melempar gelas tersebut ke bawah.


"Gio, apa-apa an kamu ...euhh "geram Alice, sambil mengepalkan tangannya.


"Aku, sedang menyelamatkan mu dari kebodohan mu, apa kamu sadar itu bisa merusak pikiran mu"ucap Gio


Gio, balas menatap wajah Alice, dengan tatapan sulit di artikan, hanya Gio, yang tahu.


ke esokan hari nya, Alice dan Merry pun kembali, setelah sebelumnya Gio, membantu keduanya memasukkan, koper miliknya ke,bagasi mobil, Gio juga menawarkan untuk mengantar mereka pulang tapi Alice, menolak dia berkata bisa menyetir sampai tujuan.


di jalan, Alice tengah fokus menyetir mereka baru melewati setengah perjalanan, saat ini Alice, menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia hendak mengisi perut nya yang terasa kosong tadi pagi dia hanya minum segelas susu.


beruntung Michael, memberikan bekal pada mereka berdua, sebelum pergi, sebenarnya Gibran, minta anak buah nya mengantar mereka dengan helikopter, tapi Alice, menolak padahal kalo menggunakan itu tidak akan menguras waktu dan tenaga.


"De... kamu lapar nggak, kakak mau makan sarapan dulu"ujar Alice.


"kakak, aja aku mah gampang, nanti juga bisa sini aku gantikan,kata Daddy,di sini rawan tidak boleh menghentikan kendaraan terlalu lama"ujar Merry, sambil keluar mobil, dan akhirnya mereka berganti posisi,kini Merry yang mengemudi kan mobil itu.


"Aku makan dulu ya De... hati-hati dan tetap fokus"ucap nya.


"Tentu saja kakak ku sayang, aku juga takut kali kalo kenapa-napa bisa-bisa aku kehilangan om ganteng ku"ucap Merry, keceplosan.


"Apa...?? om ganteng"ujar Alice.


"hehehe.... kakak, pasti salah dengar"ucap Merry, sambil tetap fokus kedepan gadis itu tampak sedikit gelagapan meski berusaha menetralkan perasaan nya saat ini.

__ADS_1


sementara itu Alice, yang curiga untuk saat ini dia membiarkan saja, sebelum dia menemukan jawaban nya sendiri.


Alice, masih menikmati makanan nya, saat ini sepertiga perjalanan menuju rumah mereka, Alice, kembali mengganti Merry, yang sudah kelelahan, saat ini karena perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh, Alice membawa mobil dengan kecepatan tinggi, karena jalanan yang dia lewati, adalah jalan yang sunyi, orang bilang ini adalah jalur rawan kejahatan, mereka pun tiba di rumah tepat pukul tujuh malam, setelah seharian di perjalanan.


sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh para asisten rumah, saat itu mereka hanya membawa tas kecil milik mereka, sementara barang-barang lain nya para asisten nya yang membawakan, dan mobil di urus oleh sopir.


sesampainya di kamar mereka masing-masing, langsung bergegas menuju kamar mandi dan berendam di bathtub, saat itu juga, setelah para art menyiapkan sepuluh menit sebelum sampai Alice menelpon mereka.


setelah selesai berendam , Alice pun langsung membersihkan tubuh nya di bawah guyuran air shower.


sementara Merry, sudah selesai mandi dan berbaring di ranjang tanpa menggunakan pakaian hanya dalaman saja yang ia kenakan dengan bathroob nya saking ngantuk dia langsung masuk ke dalam selimut, bahkan tidak ingat untuk makan malam terlebih dahulu.


mereka berdua pun terlelap dalam tidur nya, hingga pagi menjelang Alice, bersiap untuk pergi ke kantor, dan Merry, ke kampus.


Alice, sudah berada di dalam mobil nya, dan langsung tancap gas,di susul oleh Merry , saat itu juga dia pergi ke kampus.


sesampainya di parkiran, Alice, langsung pergi ke ruangan CEO, untuk kembali mengurus pekerjaan nya karena di tinggal pergi oleh nya, Gibran, sudah mempercayakan semua nya, selama Gibran pergi.


Alice, berjalan sambil menyanyikan sebuah lagu yang lumayan enak di dengar.hingga sampai di dalam ruangan, yang awalnya hendak di cegah dan sekertaris nya ingin memberitahu kan bahwa di dalam ada pria yang sudah empat hari selalu mencari nya itu.


tapi belum sempat sekertaris nya memberitahu, Alice, sudah masuk terlebih dahulu, seketika langkah nya terhenti, Alice, membulat kan pandangan nya kedepannya dimana di situ ada seseorang yang selalu berusaha ia hindari.


"Maaf, aku kira tidak ada tamu"ucap Alice.


"Honey, aku sudah berhari-hari mencari mu tapi kamu selalu menghindari ku, aku sangat merindukan mu honey, aku sangat mencintaimu, aku mohon kembali lah, apa kamu tau aku lebih baik mati saja, dari pada harus terus seperti ini melihat mu, membenci ku aku tak sanggup Honey"ujar Rio, menangis sesenggukan sambil bertekuk lutut di hadapan Alice, yang juga berlinang air mata dia tak kuasa melihat cinta nya begitu rapuh.


"IO.... aku mohon jangan seperti ini, jangan buat aku merasa seperti penjahat di matamu aku tidak bisa melihat mu, seperti ini, tapi kita tidak bisa bersama dan kamu harus tau itu, kita memang saling mencintai tapi tidak ditakdirkan untuk bersama, kamu sudah memiliki nya, dan aku tidak berhak apa pun atas dirimu,di antara kita tidak memiliki hubungan apapun, jadi aku mohon"ucapan Alice terhenti ketika Rio, membungkam bibir nya dengan ciuman panas nya, saat ini Rio, bahkan memaksa Alice, untuk membalas ciuman itu namun tidak kunjung mendapat kan balasan, Alice, hanya berderai air mata sesaat kemudian dia langsung mendorong dada bidang Rio.


"Yo... sudah ku katakan jangan, jadikan aku seperti seorang penjahat , kamu ngerti nggak sih, hiks hiks hiks"Alice, berlari menuju ruang istirahat, dia terduduk di lantai Sambil membenamkan wajahnya di atas lutut nya.


Rio berlari menyusul nya,lalu ia berjongkok dan langsung memeluk nya erat "Menikah lah dengan ku honey please, aku janji aku akan berusaha keras untuk bisa membuat mu bahagia please honey, aku sangat mencintaimu jangan menghindari ku lagi"ujar Rio.


Alice, hanya bisa menggelengkan kepalanya, berusaha menolak, tapi sesaat kemudian, Rio melepaskan pelukan itu, dia sudah putus asa.


"Baik lah sayang, jika ini yang sudah menjadi keputusan mu, aku harap kamu bahagia, dengan pilihan mu itu, aku akan pergi menjauh dari mu, untuk selamanya, tapi aku mohon jangan pernah membenci ku, cukup dengan penolakan ini sekali lagi semoga kamu bahagia"ujar Rio, sambil berlalu pergi, dari hadapan Alice, tatapan mata sendu dan terlihat sangat putus asa, saat ini terlihat dari wajah nya, Alice, mengingat sesuatu dulu saat berada di Jepang, dia pernah melihat itu, sesaat sebelum Rio, melakukan percobaan bunuh diri.


Alice, langsung tersadar dengan situasi saat ini, dia langsung berlari hendak mengejar Rio, namun pria itu sudah tidak ada, dia langsung bertanya pada setiap orang yang ada di sana siapa saja yang melihatnya Alice , minta bantuan nya untuk memberitahu kemana dia pergi, tapi tidak ada satupun yang melihat nya, Alice, langsung teringat lantai teratas atap gedung perusahaan itu dia berlari menuju lift khusus untuk kembali ke dalam ruangan nya, dia akan pergi ke atap gedung melalui tangga darurat yang ada di sana.


sesampainya di lantai tempat CEO, tersebut, Alice, berlari sekuat tenaga menaiki anak tangga yang lumayan panjang dan berbelit-belit cukup melelahkan hingga hampir menyerah tapi demi keselamatan Rio, dia rela jika harus menderita bahkan jika di perlukan dia rela kehilangan nyawa nya.


sesampainya di atap gedung jantung nya, seakan berhenti berdetak melihat Rio berdiri di atas pembatas tepat di tepi gedung tersebut.


"Rio, jangan lakukan ini aku mohon, berhenti!!!! aku mohon Rio, jangan lakukan ini, aku mohon hiks hiks hiks, aku mohon jangan lakukan ini, kamu boleh kecewa terhadap ku, tapi aku mohon jangan bodoh, aku bukan wanita yang sempurna Rio, aku mohon maafkan aku"ujar Alice.


tapi Rio tidak bergeming, sedikit pun bahkan tidak menoleh, dia seperti patung, yang benar-benar sudah mati rasa, Alice berlari menghampiri nya, dia hendak memeluk nya, tapi kemudian terhenti, karena Rio mencegah nya.

__ADS_1


"Alice, pergi saja tidak usah memperdulikan pria bodoh, seperti ku, kamu berhak bahagia dengan pilihan mu, aku memang keterlaluan, karena telah berani mencintai mu, aku yang tak tahu malu ini mencintai, seorang princess, aku yang tidak tahu malu ini ingin menebus kesalahanku, yang bahkan tidak akan pernah termaafkan, Maaf kan aku Alice, aku terlalu mencintaimu, hingga aku lupa diri, selamat tinggal Alice, semoga kamu bahagia dengan pilihan mu kelak"ujar Rio, yang kembali membelakangi Alice, hendak melompat.


"Pergilah,kak, jika kamu tidak pernah mencintai ku, pergi saja aku tidak akan pernah melarang nya, asal kamu tahu aku bahkan membenci laki-laki pengecut, macam diri mu, cinta macam apa ??....heuhhhhh apa ini yang kamu sebut cinta, apa?... kamu bahkan tega ingin meninggalkan aku sendiri, apa ?...itu masih bisa di sebut cinta"ujar Alice, yang kini menunduk.


__ADS_2