
saat ini Emily, langsung menggunakan baju nya, dia berjalan keluar, bermaksud meninggalkan rumah tersebut, tapi saat dia keluar dia melihat sekeliling nya, adalah tempat asing entah di mana ia berada saat ini.
tidak berpikir, bahwa dia akan berada dalam bahaya, Emily, langsung keluar, namun tidak sampai depan pagar Gavin,kini sudah menarik nya kembali ke dalam rumah tersebut.
"Hanny, kamu tidak akan pernah pergi lagi dari tempat ini, kita akan selamanya hidup di sini,ini adalah rumah kita, dan aku akan segera membangun rumah megah di tanah ini"ujar Gavin.
"lepas Gavin, aku tidak mau hidup dengan laki-laki yang sudah beristri, kamu tidak sadar anak mu sudah lahir kedunia ini"ujar Emily, yang kini berbicara kasar pada Gavin, tapi Gavin,sangat paham Emily, saat ini sedang sangat kecewa.
"sayang kamu panggil aku apa barusan coba kamu ulangi lagi!!"''teriak Gavin yang sangat kecewa dengan sikap Emily saat ini.
"kamu adalah wanita beristri, apa aku salah heuuhh??""ucap Emily.
"jangan pernah bahas, dia saat kita bersama atau kamu sendiri yang akhirnya akan terluka, jika selama ini aku mencintai wanita lain bagaimana??"ujar Gavin.
"owh baru sadar ya jika selama ini kamu begitu mencintai nya iya"ucap Emily, yang kini bangkit berdiri, dan berjalan meninggalkan Gavin.
"kamu mau kemana heuhhhhh"ucap Gavin sambil meraih tangan Emily, sedikit kasar.
"aku mau pulang,di sini bukan tempat ku"ujar Emily yang mencoba menghempaskan genggaman tangan Gavin,namun Emily lagi-lagi kalah tenaga Gavin menyeretnya,ke dalam kamar tersebut dan menghempaskan Emily, keatas ranjang nya.
"mau, sampai kapan kamu menghindari ku terus Emily, apa semua rasa cinta ku ini tidak berarti bagi mu, jawab aku Emily"ucap Gavin.
"heuuhh, cinta cinta macam apa, yang menyerah dengan keadaan "ucap Emily, tersenyum mengejek Gavin.
"kamu masih perlu pembuktian"ucap Gavin yang kini mengungkung tubuh Emily, Emily pun memberontak saat ini, Gavin, tidak mau kalah dia, mengikat tangan Emily, menggunakan dasi yang kemarin dia kenakan, setelah itu Gavin , meninggalkan Emily, yang kini meronta minta di lepaskan.
"pikir kan semua kesalahan mu, setelah itu baru aku lepaskan"ujar Gavin yang kini meninggalkan Emily, namun Emily malah menangis sesenggukan, beginikah rasanya, mencintai, sungguh andai waktu bisa di putar Emily, tidak akan pernah mau jatuh cinta, sakit rasanya hati Emily, sudah kehilangan pria yang di cintai nya, saat ini mahkota nya juga sudah di renggut begitu saja.
Emily,memang mencintai Gavin , tapi bukan seperti ini, yang dia inginkan.
Gavin, pun hanya duduk termenung, saat ini dia depan halaman rumah tersebut, Gavin, tidak tega sebenarnya bila harus, berkata kasar dan memperlakukan Emily, juga dengan cara yang kasar, tapi dia tidak punya pilihan, jika Emily, tidak bisa menikah dengan nya,maka Gavin akan menjadikan nya sebagai simpanan nya.
"aku sangat mencintaimu sayang, maaf kan aku melakukan ini"ujar Gavin,pelan saat ini dia melihat Emily, tertidur dengan posisi, tangan terikat di kepala ranjang, tubuh nya bersandar di sana, Emily, sangat merasa lelah saat ini.
Gavin, mendekat,dan memeluk tubuh wanita rapuh yang sangat ia cintai.
"Emily, kenapa kamu lebih suka aku perlakuan seperti ini"ujar Gavin.
tiba-tiba,mata Emily, terbuka dia langsung berkata,"tolong kamu bunuh aku saja, Gavin, aku sudah tidak ingin hidup lagi, sudah cukup rasanya penderitaan ku saat ini"ucap Emily yang kini langsung berjalan ke kamar mandi, dia ingat di sana ada pecahan kaca, Emily tidak berpikir panjang lagi, saat melihat itu dia langsung mengambil nya dan saat akan menggores kan pada pergelangan tangan nya, Gavin dengan sigap merebut nya.
"kamu ingin mati, heuhhhhh,ok baik'lah kita mati sama-sama"ujar Gavin, yang kini tengah mendekat kan pecahan kaca itu pada leher nya,namun Emily, lagi-lagi meninggalkan nya,hari sudah semakin gelap Emily, tidak perduli jika dia akan mati di telan binatang buas atau apapun itu, yang pasti Emily, harus pergi jauh.
dia berlari, dengan sangat kencang, saat ini dia tidak merasakan sakit yang sungguh menyiksa nya saat ini, dia hanya perlu berlari terus, hingga menemukan jalan raya nanti,tapi lagi-lagi usaha nya, gagal orang-orang kepercayaan Gavin, sudah berada di hadapan nya mencegah nya.
Emily, tidak memperdulikan itu dia lari, dengan mengecoh mereka, tapi seketika Gavin berada di hadapan nya, saat ini seperti hantu, Emily pun hanya bisa menangis sekuat mungkin, hatinya sudah teramat pedih.
"Gavin, kamu mau apa lagi, heuhhhhh, apa kamu tidak puas sudah merenggut masadepan ku, apa kamu tidak puas melihat ku menderita, apa kamu ingin melihat ku mati baiklah-baik, Gavin"Gavin, yang melihat Emily,mengambil batu tajam di genggam nya, dia langsung merebut nya.
"lepaskan, aku bilang jangan pernah berbuat macam-macam, kenapa sulit sekali untuk memiliki mu heuhhhhh, kenapa apa aku tidak setampan dan sekaya pria itu"ujar Gavin, yang memperlihatkan foto Emily, yang diam-diam di rekayasa oleh Adryan.
"heuuhh,lucu sekali, bahkan dunia ini pun begitu sempitnya, hingga tidak akan pernah merestui kebersamaan kita, aku hanya bisa memberimu saran tuan Gavin, yang terhormat, sebaiknya ikuti keinginan orang tua mu, aku bukan wanita yang pantas untuk mu, aku hanya benalu di kehidupan kalian, dan tidak berarti apa-apa, makanya, karena satu kesalahan ku, mereka menyingkirkan ku, dari hubungan keluarga, apa lagi jika mereka tau kita telah berhubungan,... mereka akan melenyapkan aku, dan aku tidak perlu susah payah bunuh diri karena sebentar lagi, yang namanya tuan Adryan, akan menghabisi ku, jika tau putra mahkota nya,menjamah ku, hahahaha, luar biasa"ucap Emily, yang menertawakan diri nya sendiri, sampai bercucuran air mata Emily kini benar-benar terduduk lemas di jalanan setapak.
"Emily, bangun,ayo kembali ini sudah larut malam"ujar Gavin, tapi dia sama sekali tidak bergeming.
__ADS_1
"Emily, kamu dengar aku kan"ucap Gavin lagi namun, Emily tidak juga mengakat wajah nya,kini dia masih setia menunduk, hingga Gavin, mencoba mengangkat wajah Emily, dia begitu kaget Emily,kini bercucuran darah, dari hidung nya, Gavin langsung berteriak agar asisten nya segera membawa mobil kearah nya, Gavin begitu panik saat ini darah itu tidak mau berhenti kini wajah Emily,begitu pucat,tapi perjalanan mereka masih sangat panjang, Emily hanya tersenyum, dia tidak memperlihatkan, kesedihan nya,atau rasa sakit nya, Emily seperti sedang menyambut, kematian nya.
🌹💖💖💖🌹
"sayang, kita sudah berada di rumah sakit, bertahan lah"ucap Gavin yang kini menangis memeluk Emily, saat itu juga Dokter, mencoba memisahkan mereka , secepatnya agar Emily bisa di tolong.
"tuan, Gavin,saya mohon menyingkir lah keadaan pasien sangat keritis dia harus segera di Tolong!!""ucap sang dokter sangat keras.
sekuriti pun membantu menjauhkan tubuh Gavin, yang kini masih tidak sadar, dan memeluk nya.
"Emily...teriak Gavin, gadis itu masih menatap wajah Gavin, dengan senyum di wajah nya hingga akhirnya dia menutup mata,tak sadarkan diri, Emily, sudah hampir tak tertolong jika, saja sepuluh menit lagi, pendarahan nya tidak bisa di hentikan, beberapa kantong darah kini sudah mereka siapkan Emily, pun,di bawa ke ruang perawatan intensif, ICU, dia masih keritis saat ini, gejala nya belum bisa di ketahui setelah melakukan, pemeriksaan ketat terhadap Emily, penyebab nya adalah stress berlebih dan jiwa yang sangat lelah, saat ini .
beruntung, bukan gejala kanker, darah yang sempat, merenggut nyawa nya dulu, Emily masih terbaring lemah dan tidak sadarkan diri, saat ini, tidak ada orang lain yang di beritahukan semua ini, Gavin tidak ingin orang lain, mengetahui kebersamaan mereka saat ini.
satu Minggu berlalu, saat ini Emily, masih tetap belum juga sadar entah kenapa, tapi yang pasti Emily, seperti enggan untuk bangun lagi.
"sayang, aku tak akan memaksa mu, lagi untuk terus bersama dengan ku, aku membebaskan mu, saat ini juga, aku akan pergi dari dunia ini, jika kamu benar-benar membenciku"ucap Gavin sambil menggenggam erat tangan Emily.
Gavin, pun bangkit dari duduknya, dan dia begitu kaget, tangan Emily, memegang nya kuat.
"apa ini artinya Emily, apa kamu berubah pikiran"ujar Gavin yang kini memandang ke arah Emily.
"jangan pergi, aku sudah tidak kuat lagi, jika aku sudah tiada nanti tolong makamkan aku di sebelah makam mommy ku"ujar Emily , lirih tiba-tiba tangan nya terlepas dan jatuh lemas begitu saja menitor detak jantung pun bergerak lurus, Emily,kini sudah tiada.
"tidak,teriak Gavin"ternyata hanya mimpi, dan dia melihat Emily, sudah tidak tidak ada di ruangan tersebut.
"suster, dokter dimana pasien yang berada di kamar itu"ujar Gavin berteriak.
"tidak............. Emily sayang kenapa kamu Setega itu pada ku, kamu pergi tanpa seizin ku, sayang kenapa semua ini harus terjadi aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu kenapa kamu tega ninggalin aku sendiri,hiks hiks hiks"tangis Gavin pecah kini asisten nya, membawa tubuh yang sedang rapuh itu kembali ke Mension Adryan.
sementara itu, Emily, yang kini tengah di nyatakan meninggal dunia, dia sedang berada di pesawat menuju, Kanada, dia pergi, ke negara tersebut, dengan berganti identitas, sebagai Eren, identitas sang mommy, yang telah lama tiada.
Emily, berurai air mata, saat ini, dia hanya bisa pasrah dengan takdir yang menentang cinta mereka berdua,kini Emily, benar-benar memutuskan untuk, pergi hidup sendiri tanpa bantuan siapapun, saat ini, kecuali jika Maxim, mengetahui keberadaan nya, dia tidak bisa menolak kasih, sayang nya.
beberapa bulan, berlalu, saat ini Emily, sedang meratapi nasibnya, dia harus mengandung tanpa suami, saat ini,kini usia kandungan nya menginjak lima bulan, sebagai dokter anak yang kini merawat pasien anak-anak dia sering mengelus perut buncitnya itu, dia selalu berkata untuk menguatkan hati dan kondisi nya saat ini.
"sabarlah sayang, kita akan segera beristirahat, dan kita akan makan siang, setelah itu kita pulang ke Mension, kita bersama"ujar Emily, yang kini tengah, beristirahat di ruangan nya, dan kini mengelus perut nya.
Emily, pun kembali, dengan mobil miliknya, saat itu, juga pulang menuju rumah nya, saat dia akan masuk gerbang, tiba-tiba, seorang anak laki-laki berusia, lima tahun, dia menghentikan mobilnya.
"mommy... mommy"ujar anak tersebut, Emily yang kenal dengan wajah anak itu dia langsung menghentikan mobilnya, dan langsung keluar, dan menghampiri, anak tersebut.
"sayang, kamu sudah besar"ujar Emily, sedikit berjongkok, dan mencium pipi anak laki-laki tersebut.
"Hay, sayang apa kabar mu"ujar seorang pria yang lama tidak di jumpai nya selama empat tahun lebih.
"hey, kamu apa kabar,tuan??"ucap Emily.
Edrick, tersenyum manis dan mengecup pipi Emily.
"kabar ku sangat baik Emily, apa lagi saat melihat wajah mu"ucap Edrick, yang kini memperhatikan,perut Emily.
"heumm... kapan, kamu menikah, kenapa tidak mengundang ku"ucap nya penasaran.
__ADS_1
cerita nya panjang, aku saat ini sedang lelah baru pulang dari rumah sakit, bisa aku numpang makan di rumah mu, pangeran ku"ujar Emily, yang kini melihat kearah putra Edrick, yang dia kenal sejak masih bayi.
"tentu saja momm..."ujar pria kecil yang selalu memanggil nya mommy.
Edrick pun, tersenyum, saat ingat kebiasaan Emily yang selalu menumpang makan di rumah nya dulu.
"kamu masih sama tidak ada yang berubah"ujar Edrick,lalu menggandeng tangan Emily, layaknya teman kencan.
Emily, yang sudah biasa di permalukan seperti itu.
tidak menunggu lama, Emily dan kedua pria beda generasi itu pun langsung menyantap hidangan,di meja makan tersebut sangat ini hingga, habis tak bersisa.
setelah selesai, makan mereka pun, mengobrol di taman belakang,sambil menemani, putra nya bermain bola.
Emily, menceritakan semua tentang jalan hidupnya, hingga saat ini, dia tidak merahasiakan tentang kehamilan nya saat ini, Emily, sempat berurai air mata,namun Edrick, langsung memeluk nya dari samping dan mengecup puncak kepala Emily, dengan sayang Edrick, tidak pernah tega melihat Emily, yang bernasib sama, dengan putra nya itu.
"kamu, tidak usah berkecil hati, Emily, jika semua orang menolakmu datanglah pada ku, karena rumah ini selalu terbuka untuk mu, dan begitu juga hati ini"ujar Edrick.
"aku tau itu, tapi rasanya aku tidak pernah pantas untuk siapapun"ujar Emily, aku akan tetap menjadi singgel Peren sampai kapan pun"ucap Emily.
"kita bisa mencoba nya, sedari awal saat ini"ujar Edrick yang kini tengah memandang wajah Emily, Emily hanya tersenyum tidak mampu memberikan jawaban.
"aku rasa, hubungan kita tidak perlu,ada ikatan pernikahan, putra mu sudah sejak lama memanggil ku mommy, dan satu saat jika putri ku atau putra ku butuh ayah, dia juga akan memanggil mu seperti itu"ujar Emily.
"heummm...begitu juga lebih baik"ujar Edrick,sambil tersenyum setelah memijit hidung Emily, sedikit lebih kuat.
"ah... Edrick, sakit tau"ucap Emily.
"hehehe, sorry tapi aku suka melihat hidup mu yang merah itu"ucap Edrick.
"ah aku marah , aku pulang saja"ucap Emily.
"Emily, sorry aku tidak sengaja tangan ku refleks"ujar Edrick, mengulang kata-kata nya itu.
"aku,balas kamu, Gael... tolong bantu mommy, mengejar Daddy mu yang nakal itu hidung mommy, sakit di di cubit Daddy mu"ucap Emily pura-pura merajuk,kalau sudah begitu Gael, pasti menangis minta Daddy nya pasrah dan Emily, pun merasa memang dia mencubit hidung Edrick, benar-benar sangat keras hingga mengaduh dan merah seperti hidung badut.
Emily pun saat ini, pamit pulang, setelah malam tiba Gael, sudah tidur, jadi dia tidak bisa meninggalkan rumah tersebut sebelum Gael tidur.
saat Emily, memasuki rumah miliknya itu, dia langsung merasakan kesepian, saat ini Emily, bahkan meneteskan air mata, kesedihan nya, dia mengelus perut nya yang sudah sangat besar.
"sayang, kita sudah lama bermain di luar sekarang sebaiknya kita bobo"
Emily, bergumam sendiri, dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk nya itu, dengan berbagai kenangan hidup nya, yang melintas setiap kali dia tidur.
Emily, pun memejamkan mata, dia langsung terlelap, dalam tidurnya saat ini.
hanya bantal guling yang selalu setia menemani nya, setiap saat.
sementara itu,di Italia Gavin kini sedang menjalani pengobatan,atas tindakan bodoh nya yang melakukan percobaan bunuh diri.
"sayang, kamu kenapa bisa seperti ini heummm ujar istri dari Gavin.
"lepaskan aku, aku tidak ingin hidup lagi"teriak Gavin yang badannya di ikat.
__ADS_1