
tidak lama setelah itu kini ponsel Emily pun berdering kembali dia langsung mengangkat nya, saat itu karena itu panggilan dari Maxim.
📱"Halo, Daddy apa kabar"ucap Emily di sela tangisnya.
📱"Daddy,baik sayang tapi kenapa suaramu seperti habis menangis?"tanya Maxim.
📱"tidak Daddy, hanya saja Emily sedikit sakit perut maklum lagi datang bulan"jawab Emily berbohong.
📱"heumm... apa perlu Daddy panggil kan Dokter, untuk itu sayang ku princess Daddy tercinta"ucap Maxim begitu lembut.
📱"tidak perlu Daddy, aku hanya akan tidur sebentar, saja mungkin akan hilang"jawab Emily.
📱"baiklah sayang, kamu istirahat, dulu nanti Daddy telpon lagi, setelah kamu istirahat, Daddy juga ingin menjemput mu setelah hari kelulusan,agar kau bisa berlibur di sini bersama Daddy, muachh sayang selamat istirahat"ucap Maxim.
panggilan pun berakhir, setelah tiga detik tiba-tiba, ponsel nya kembali berbunyi, dia tidak melihat siapa yang memanggil nya, saat ini dia langsung menerima panggilan tersebut.
📱"iya Daddy ada apa lagi, kalau Daddy menelpon ku terus lalu kapan aku istirahat nya, apa Daddy mau anak mu tambah parah dan masuk rumah sakit?"ujarnya tanpa Jedah.
📱"sayang, kamu sakit apa,beritau aku kamu di mana sekarang"tutttttt panggilan pun terputus tiba-tiba "nomor yang Anda tuju sedang sibuk"operator seluler pun menjawab.
"halo, sayang kamu kenapa seperti ini sih apa kamu tidak mencintai ku lagi hiks hiks hiks, kamu tega ninggalin aku, sayang aku sangat mencintaimu, kamu tau itu"ucap Gavin yang kini terduduk di samping ranjang nya sambil menggenggam erat ponsel nya .
"please aku mohon sayang jangan seperti ini, kembali lah pada ku, aku tidak sanggup lagi hidup tanpa mu"ucap Gavin, sambil memeluk lantai dia tidak sadar tangan nya berdarah dan lecet.
💌"aku tidak ingin lagi, kehilangan mu, jika kamu ingin aku mati saat ini juga baiklah, aku akan pergi jauh tanpa aku mohon bicara lah, dan temui aku sekali saja"pesan dari Gavin.
Emily semakin terisak, saat itu pun Gavin tidak berhenti memanggilnya, saat ini Emily mengangkat nya dengan ragu, dan tidak kuasa untuk bicara.
telpon pun tersambung.
📱"sayang, aku mohon, katakan pada ku kamu di mana"ucap Gavin yang menahan tangisnya.
📱"Hay... cantik kemarin kamu sudah janji akan membawa pangeran kecil ku jalan-jalan bukan dan kami sudah siap"terdengar suara laki-laki dari sebrang telpon.
Gavin,geram... ketika dia mendengar percakapan Emily dengan cowok lain,dia pun langsung melacak keberadaan Emily saat ini, ponsel masih menyala tapi Emily tidak sedikit pun bersuara.
📱"sayang, aku tak akan membiarkan mu memilih laki-laki lain aku berjanji akan menghabisi nya, saat ini juga"ancam Gavin.
Emily pun langsung menutup ponselnya dan melepaskan kartu SIM nya saat itu juga dia langsung menyuruh Edrick untuk tidak menemui nya, sampai kondisi benar-benar aman, Edrick yang mendengar kan hal itu sedikit merasa heran, tapi dia mencoba untuk mengerti mungkin ini adalah jawaban atas pertanyaan nya saat ini yang dapat jawab buntu dari Emily.
"Edrick, bisakah aku minta tolong pinjamkan jet pribadi milik mu, aku akan pergi ke Amerika kamu tidak usah khawatir dengan biyaya aku akan mengganti nya saat jet mu kembali dengan selamat ke tempat nya dan satu lagi tolong jangan pernah muncul di rumah ku ini sampai waktu yang belum di tentukan itu untuk keselamatan semuanya"kata Emily.
"baiklah kamu tenang saja jangan pikirkan soal biyaya, setelah kau sampai cukup kabari aku saja "ucap Edrick.
Emily pun segera bersiap saat itu juga setelah pamit pada Edrick dan si kecil dia langsung pergi ke bandara saat itu juga, pesawat pribadi sudah menunggu nya di sana, pesawat pun lepas landas,menuju New York Amerika serikat .
sementara itu, Gavin pun tidak menunggu lama dia langsung terbang dari Italia ke Kanada, Allan, hanya bisa pasrah karena dia tidak sanggup lagi melihat kehancuran cucunya itu, selama ini biarlah Tuhan yang akan memutuskan semua nya.
sesampainya di New York , Emily langsung menitipkan surat untuk Edrick ungkapan terima kasih atas bantuan yang selalu ia berikan kepada nya.
__ADS_1
Maxim,kini menjemput putri kesayangan nya itu, dia langsung memeluk Emily, saat itu juga
"sayang, apa kau itu tidak pernah makan dengan benar tubuh mu begitu kurus"ujar Maxim sedih melihat putri nya yang begitu kurus.
"ahhhhhh... Daddy bukan nya memujiku, saat ini tubuh ku sudah seperti model bukan, kenapa Daddy bilang aku kurus ini tuh standar wanita seksi jaman sekarang hehehe"ucap nya sambil tersenyum di paksakan.
"Daddy tidak mau tau mulai saat ini tinggal kan tubuh model mu yang seperti papan itu kamu harus banyak makan pokok nya"ucap Maxim tegas.
"baiklah-bsiklah,demi Daddy ku tersayang apa pun akan aku lakukan, tapi Daddy apa kau setuju jika kau punya mantu,duda beranak satu"ucap Emily,sepontan sambil cengengesan.
"apa kamu bilang, jangan macam-macam, kamu itu putri Daddy satu-satunya persetan dengan yang lain yang pasti Daddy ingin putri Daddy menikah dengan orang yang di cintai nya dengan sepenuh hati, bukan dengan pria-pria asal seperti itu"ucap Maxim mengultimatum.
"hemmm... Daddy, bagiku cinta itu hanya menyakitkan dan aku tidak mau semua itu, dan biarpun dia duda anak satu yang penting semua orang bisa menerima ku di tempat nya,itu sudah cukup"Deg... ucapan Emily membuat hati nya terasa sakit mengingat putri nya mendapatkan penolakan dari seluruh keluarga Gavin dan keluarga kandung nya sendiri.
"baiklah sayang asalkan itu buat kamu bahagia Daddy, akan meminang nya untuk mu"ucap Maxim yang kini mengelus puncak kepala putri nya itu dan mengecup nya sambil terus mengemudi.
akhirnya mereka pun sampai di Mension milik Maxim,di sana terlihat sangat sepi, tidak ada satu orang pun, saat ini hanya ada dia dan Daddy nya.
"Daddy yang lain kemana??"ucap Emily.
"Daddy sedang meliburkan mereka hingga bulan depan mereka akan datang sesekali hanya untuk membersihkan rumah kita ini"ujar Maxim.
Emily pun mengerti, Daddy nya sudah mempersiapkan semua ini demi dirinya, Emily pun langsung bergegas menuju kamar nya, dia berniat membersikh tubuh nya yang kini terasa lengket.
sementara Maxim, pun menyuruh orang-orang kepercayaan nya untuk menyembunyikan keberadaan putri nya itu, saat ini Maxim pun hanya bisa membuat penyamaran dengan menggunakan topeng kulit, sintetis dan rambut palsu, untuk berjaga-jaga, jika ada mata-mata dari pihak Allan.
setelah selesai membersihkan diri kini Emily, merebahkan diri nya di kasy empuk nya saat ini dia hanya ingin mengistirahatkan tubuh nya yang terasa lelah, Emily tidak ingin pergi ke mana-mana lagi dan Maxim pun hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diambil oleh Emily putri semata wayangnya walaupun dia bukan lah darah daging nya.
tok..tok..tok..
bunyi pintu di ketuk.
"iya Daddy, aku bangun"ucap Emily yang baru ingin memejamkan mata nya.
"sarapan dulu sayang Habis itu kamu bisa tidur"ucap Maxim sambil mengelus puncak kepala putri nya itu.
"baik,dadd..."Emily, pun turun bersama Maxim menuju meja makan.
sesampainya di sana mereka pun langsung melahap sarapan pagi nya setelah itu Emily kembali ke kamar nya karena sangat mengantuk.
Maxim, hanya tersenyum,sambil berkata"Emily sayang Daddy akan pergi ke kantor sebentar setelah itu Daddy akan langsung pulang"ucap Maxim.
"tentu saja Daddy, aku tidak ingin mengganggu pekerjaan Daddy silahkan pergi tapi ingat jangan pulang larut aku kesepian"ucap Emily berbohong padahal dia sudah terbiasa dengan rasa sepi selama ini.
"baiklah sayang Daddy janji"ucap Maxim dia pun pergi saat itu juga semetara Emily melanjutkan istirahat nya di kamar nya itu.
di, Kanada kini Gavin sudah sampai di Mension milik keluarga Maxim namun sayang dia datang terlambat karena Emily tidak ada di Mansion tersebut.
"sayang, mau sampai kapan kamu menghindari ku, aku sangat mencintaimu kenapa takdir tidak pernah merestui hubungan kita, andaikan saja dulu aku melakukan hal yang lebih jauh pada mu mungkin saat ini kita tidak akan seperti ini, aku benci semua nya,hiks hiks hiks"Gavin tersungkur di lantai kamar Emily yang begitu sepi.
__ADS_1
sementara itu Emily masih dengan mimpi nya yang mana dia melihat Gavin, berlumuran darah saat ini dia bahkan berteriak histeris, dalam mimpi itu dia melihat Gavin terkapar di lantai dengan darah yang terus keluar dari seluruh bagian tubuh nya yang terluka hingga Gavin tewas.
"tidak.....kakak,hiks hiks hiks hiks"Emily kini terbangun dan tubuhnya di basahi oleh keringat yang bercucuran rasanya mimpi itu begitu nyata, Emily pun langsung mengambil air dengan tangan yang bergetar hebat, dia sangat ketakutan, saat ini dia meneguk air dalam gelas itu hingga habis setelah itu kini dia kembali mengambil laptop nya dia melihat rekaman cctv, yang terpasang di dalam kamar nya walau sedikit gangguan namun dia bisa melihat Gavin terduduk sambil menangis.
"maaf kan aku kak, mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kita aku tidak ingin melukai siapa pun, cukup kita yang merasakan begitu perihnya siksa ini"ujar Emily sambil menyeka air matanya.
"hidup lah dengan baik aku yakin suatu hari nanti kamu akan bisa move on, dan mendapatkan pengganti ku"ucap Emily lagi sambil menggigit bibir bawahnya karena tidak kuasa menahan sakit.
sementara itu di Kanada,kini Gavin bangkit dia melihat ke atas tempat cctv kamar Emily Gavin yakin dia akan melihat rekaman itu suatu saat nanti.
"Emily sayang kakak tau kamu menghindar dari ku, tapi satu hal yang harus kamu tau rasa cinta ini tidak akan pernah bisa hilang biarpun waktu terus berlalu tapi yakinlah bahwa aku tidak akan menyerah, aku akan tetap berusaha untuk mencari mu walau pun keujung dunia sekalipun, dan jika kamu tetap menjauh dari ku pun aku akan mengakhiri hidup ku,itu janji ku, aku akan mengakhiri hidup ku Emily, aku tidak perduli lagi dengan yang lain nya satu bulan aku beri kau kesempatan untuk berpikir, jika satu bulan ini kamu tidak kembali aku pastikan kamu hanya akan melihat kuburan ku Hanny"ucap Gavin.
Gavin pun langsung kembali ke Italia saat itu juga, dan rekaman cctv itu di kirimkan oleh salah seorang penjaga mansion dan Emily yang melihat itu pun kini menangis tanpa henti bagaimana tidak jiwa nya begitu terluka hingga dia melihat keputusasaan di wajah Gavin.
Gavin, yang dingin saat ini dia hanya duduk terdiam di kursi penumpang dan tidak melihat ke arah manapun dia sedang tidak ingin di ganggu, saat ini bahkan seluruh anak buah nya yang ikut tidak berani menyapa nya.
"Emily, jika kau tidak kembali aku akan bunuh diri, aku jamin itu"gumam Gavin.
sementara itu di New York, Emily tidak dalam kondisi baik-baik saja,kini tubuhnya mengalami demam tinggi bahkan sekujur tubuh nya lemas tidak bertenaga mungkin karena sudah terlalu lama menangis, dan jiwanya sudah terlalu lelah, Emily tidak sadarkan diri berhari-hari di rumah sakit Maxim yang melihat itu pun dia tidak tega dokter pun menyarankan agar Emily bisa bertemu dengan orang yang selalu di sebut di alam bawah sadar nya,yaitu Gavin.
Maxim pun membuat perjanjian dengan Allan, untuk kesembuhan putri nya itu yang juga masih kerabat Allan, dia berani memutuskan hubungan dengan semua nya jika terjadi sesuatu terhadap putri nya yang semakin hari semakin memburuk kondisi nya.
"tolong lah tuan Allan,bermurah hati lah sedikit izinkan Gavin melihat putri ku, aku tidak menginginkan apa pun selain kesembuhan nya jika kamu ingin kamu boleh mengambil alih semua harta yang ku miliki tapi tolong jangan renggut nyawa putri ku hanya dia satu-satunya harta berharga yang ku miliki, jika setelah itu dia kembali sadar dan sembuh aku janji akan memutuskan hubungan keluarga ini untuk putri ku aku siap kehilangan segalanya"Maxim berbicara panjang lebar di kediaman Allan saat Gavin tidak ada di sana.
"aku tidak akan mengambil apapun yang kamu miliki, aku hanya ingin setelah putri mu sadar nanti segera jauhkan dia dari Gavin"ucap Allan.
"jika itu yang terbaik baik'lah"ucap Maxim yang sudah kehabisan akal.
"tapi jika kamu ingkar janji,maka, semua milik mu akan jadi taruhan nya termasuk nyawa mu sendiri"ucap Allan tegas.
"aku akan berkorban apa pun untuk putri ku sekalipun aku harus kehilangan nyawa ku"ucap Maxim.
Allan yang melihat keseriusan di mata Maxim kini dia tau begitu besar rasa cinta nya untuk Emily, yang juga cucunya itu.
saat Maxim pamit Gavin pun datang mereka berdua berpapasan, dan Gavin langsung bertanya,pada Maxim.
"uncle dimana Emily"ucap nya tegas.
"ikutlah denganku, tapi setelah itu kamu harus berjanji jika Emily sadar tolong segera tinggalkan dia demi kebaikan bersama"ucap Maxim namun Gavin tidak menjawab dia hanya mengikuti langkah Maxim.
mereka pun kini terbang menuju New York, sesampainya di sana Gavin begitu terkejut melihat kondisi Emily yang saat ini terbaring lemah tak sadarkan diri sudah hampir lima belas hari.
"Emily, sayang hiks hiks hiks hiks, kamu kenapa bisa seperti ini apa kamu akan menyerah pada takdir yang menentang kita sayang aku mohon bangun lah, aku akan lakukan apapun untuk kita sekalipun itu harus berkorban nyawa aku akan melakukan nya, bangun sayang aku di sini menunggu mu"ujar Gavin yang kini tengah menggenggam tangan Emily dengan mencium nya air mata nya tidak berhenti menetes.
tiba-tiba, Emily menggerakkan tangan nya.
"sayang, aku di sini bangun lah"ucap nya lagi.
"kak... kakak"ucap Emily yang kini membuka mata nya.
__ADS_1
"sayang, aku disini"ucap Gavin.