
Emily, hanya menatap sendu pada wajah Gavin, saat ini dia bahkan tidak bergeming sedikitpun, sementara itu Gavin, memberikan pisau tersebut, dan meletakkan nya langsung di tangan Emily.
"baiklah jika ini yang kamu mau"ucap Emily, sambil melangkah mundur ke belakang, Gavin pikir, istrinya itu akan melukai nya tapi malah Emily, yang hendak memotong nadi nya sendiri.
andaikan saja Gavin, tidak sigap, mungkin saja Emily, saat ini sudah terkapar di rumah sakit, dan mungkin yang paling buruk adalah kematian nya.
"apa-apaan kamu ini, sayang jangan pernah lakukan itu aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu lagi kalau sampai nyawa mu terancam"ujar Gavin, yang kini memeluk erat tubuh istrinya itu.
"aku tidak akan membuang waktu mu, biarkan aku saja yang mati agar kamu bisa tenang untuk pergi kembali pada yang seharusnya memiliki mu, bukan aku dan anak-anak ku, yang sudah menyesatkan mu hingga lupa jalan pulang"ucap Emily.
tidak sayang sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa kehilangan kalian, aku sangat mencintaimu, dan aku tidak akan pernah meninggalkan mu sampai aku mati"ujar Gavin.
kembali ke pernikahan sandrina saat ini, pesta megah kembali digelar di hotel milik Adryan,kini mereka mengundang lebih banyak para pebisnis dari semua golongan, Adryan, benar-benar membuat perhelatan Akbar untuk pernikahan putri bungsu nya itu.
sementara itu Sandra,kini tengah bersiap dengan gaun berwarna merah marun, dengan bagian punggung terbuka lebar, memperlihatkan kulit yang putih mulus bak porselen tersebut, ada seseorang yang tidak rela, melihat penampilan nya itu saat ini, ya siapa lagi kalau bukan Steven, yang teramat posesif, mereka berdua kini sedang berdebat di sebuah ruangan tempat Sandra, bersiap sebelumnya.
pria yang sangat tampan dan gagah itu melarang Sandra, keluar ruangan dengan penampilan nya saat ini, dia tidak rela kalau orang lain memandangi keindahan tubuh calon istri nya itu.
"Steven, please hanya kali ini saja aku sudah bersiap sedari tadi untuk ini "ucap Sandra.
"ganti atau kamu tidak keluar sama sekali"ucap Steven.
"aku pulang saja, jika kamu tidak mengizinkan, aku untuk hadir di pesta adikku sendiri, kenapa kamu tidak pernah melarang istri mu yang model itu berpakaian lebih terbuka dari ku yang bukan siapa-siapa kamu!!"ujar Sandra dongkol dengan sikap posesif yang selalu Steven, terapkan pada nya.
"aku tidak pernah mencintai dia, itulah kenapa aku tetap membiarkan nya"jawab Steven.
"tapi kau selalu menyentuh nya, Steven,itu bukan lah alasan bahwa kamu tidak pernah menyukai nya, selama ini"kata Sandra yang kini berdiri berjalan keluar, namun belum sampai satu langkah dari pintu Steven, menarik lengan Sandra, dan mendorong tubuh itu menghimpit nya di dinding.
"jangan pernah lakukan itu aku tidak suka kamu membandingkan diri mu, dengan nya, kalian tidak pernah sebanding sampai kapan pun, aku mencintaimu dan aku tidak pernah ingin orang lain menikmati keindahan tubuh mu, dan satu hal yang harus kamu tahu aku memang menyentuh nya,tapi aku anggap dia wanita murahan yang selalu berpindah ranjang, dan dia tidak akan pernah bisa di samakan dengan mu yang sebuah berlian"ucap Steven,sambil mencium rakus bibir, Sandra, saat ini hingga suara ketukan pintu terdengar, mereka baru melepaskan dan sedikit menjauhkan tubuh mereka.
"sayang sedang apa heumm, mommy, sedari tadi menunggu mu, untuk berfoto bersama"ucap Sania.
"aku kurang enak badan momm... aku tidak bisa gabung, rasanya aku ingin pulang saja untuk istirahat"jawab Sandra.
"baiklah, sayang kalau begitu mommy, akan meminta sopir untuk mengantar mu pulang"ucap Sania.
"tidak perlu Tante, aku yang akan mengantar Sandra pulang sekarang juga"ujar Steven.
"baik"jawab Sania,sambil melangkah pergi .
Steven, melepaskan jas yang kini tengah di kenakan nya, dan memakai kan nya pada Sandra lalu Steven, merangkul pinggang Sandra, dengan begitu posesif saat ini, mereka berjalan menuju lobi hotel, dan tidak lama sopir membawa mobil Steven,ke hadapan mereka.
setelah keduanya masuk, Steven, langsung memasang kan sabuk pengaman ketubuh Sandra, dan dirinya juga lalu langsung tancap gas, bukan pulang menuju rumah tapi, Steven, membawa Sandra, kerumah milik nya yang sudah lama tidak di, tempati oleh keluarga nya, hanya ada beberapa orang pelayan yang selalu setia menjaga kebersihan rumah megah tersebut.
saat dia sampai depan gerbang,pagar yang menjulang tinggi tersebut pun terbuka otomatis dan juga tertutup otomatis, tanpa menggunakan tenaga manusia, karena rumah tersebut,di kendalikan dengan teknologi canggih.
Steven, memarkir mobil nya dengan, sangat rapih di depan garasi rumah tersebut, dia langsung turun dan membuka kan pintu, setelah itu mereka berdua pun berjalan masuk kedalam beberapa orang pelayan menyambut kedatangan mereka saat ini.
"selamat datang tuan muda"ujar mereka.
"perkenalkan dia istri ku,tolong layani dia dengan baik, jangan sampai ada kesalahan sedikit pun, apa lagi jika kalian membuat dia kesal, maka dipastikan nyawa kalian taruhan nya"ujar Steven, tegas dan sifat Steven,itu sepontan membuat Sandra, bengong karena baru kali ini mendengar kekasih nya itu bersikap dingin dan sedikit kejam walaupun hanya kata-kata.
"nama ku Sandra, kalian santai saja aku tidak seribet itu, jadi tidak perlu kaku"ucap Sandra sambil tersenyum.
"selamat datang nyonya muda"ucap mereka sambil membungkuk.
Sandra, membalas nya dengan senyuman.
semua pelayan senang melihat sikap Sandra, yang ramah itu.
Steven, masih merangkul pinggang Sandra dengan posesif nya, dan ia membawa Sandra,kekamar milik nya.
"Steven , untuk apa?? kita kesini"kata Sandra, bingung.
"duduk lah sayang, sebentar lagi, akan ada orang yang akan mengantarkan pakaian untuk mu"ucap Steven.
__ADS_1
"tapi aku bisa ganti baju di rumah"kata Sandra lagi.
"ini rumah kita sayang, mulai saat ini, kita akan tinggal di sini, setelah kita menikah sebetar lagi"ucap Steven.
"tapi Steven, kamu itu sudah menikah"ucapan Sandra, terhenti saat Steven, langsung mendorong tubuh Sandra ke atas ranjang empuk tersebut dan Steven, langsung menindih tubuh ramping itu tidak hanya itu Steven, berusaha melepaskan gaun yang kini dikenakan Sandra, tapi Sandra, berontak dia menolak dan tidak ingin terjadi sesuatu sebelum, pernikahan .
"Steven,stop, jangan pernah lakukan itu, jika kamu benar-benar menghargai diri ku,,,!!""pekik Sandra, yang kini sudah berderai air mata.
"aku tidak akan pernah melepaskan mu, jika kamu terus menerus menyinggung, tentang pernikahan yang tidak pernah kuharap kan itu"ujar Steven, yang masih mencium tulang selangka Sandra,sambil meninggalkan jejak kepemilikan.
"Steven, stop, atau aku akan membencimu seumur hidup ku"teriak Sandra.
Steven, pun menghentikan aksi nya itu, dia menatap wajah Sandra, dengan tatapan penuh gairah, yang hampir saja tidak bisa ia tahan.
πΉππππΉ
setelah seharian penuh, Sandra berada di rumah tersebut,kini Sandra, meminta Steven, untuk mengantar dia pulang.
"antarkan aku pulang, atau aku pulang sendiri saja"ujar Sandra.
"kamu akan tinggal di sini, jadi jangan harap bisa pulang, saat kamu mau "ucap Steven lembut tapi penuh penekanan.
"Steven, please.... kita belum menikah, dan aku juga masih punya pekerjaan yang harus segera aku urus"ucap Sandra lagi.
sementara itu, Adryan, yang masih sibuk menjamu para tamu ia bahkan tidak sadar putri nya belum pulang hingga saat ini.
"Steven, please, antarkan aku pulang aku mohon"ucap Sandra, yang kini mengatupkan kedua tangannya kehadapan Steven.
"memohon lah dengan baik dan benar, kamu tau caranya"ucap Steven,sambil menatap lekat wajah Sandra, tanpa ekspresi, yang membuat Sandra, sedikit tegang.
Sandra, terpaksa mendekat dan mengecup bibir Steven, seperti yang Steven, ingin kan tapi Steven, malah menahan tengkuk Sandra dan memperdalam ciuman nya.
sampai saat Sandra, mencoba mendorong dada bidang tersebut, karena hampir kehabisan nafas, Steven,batu melepaskan pangutan bibir nya itu.
tatapan Steven, saat ini jadi penuh harap, Steven, rasanya sudah tidak sabar ingin memiliki Sandra, seutuhnya, tapi Sandra, selalu menghindar.
"tidak, Steven, kamu jangan pernah lakukan itu, sekarang tolong antarkan aku pulang, aku tidak ingin terjadi hal yang seharusnya di lakukan setelah menikah, seperti yang kamu mau saat ini"ujar Sandra,sambil berjalan menuju pintu keluar kamar.
"sayang aku mohon"ucap Steven, sambil berjalan mengikuti langkah Sandra.
"tidak, Steven, tidak jika kamu ingin melepaskan hasrat mu itu, sebaiknya cari wanita lain, aku tidak akan pernah melakukan itu sebelum menjadi istri, siapa pun itu"ujar Sandra tegas.
"tidak ada siapapun dan laki-laki manapun yang boleh memiliki mu, hanya aku ingat itu sayang"ucap Steven.
"ok, sekarang tolong antarkan aku"ucap Sandra,mau tak mau Steven, pun mengalah dan mengambil kunci mobil nya, dan juga tas miliknya.
selama perjalanan,dua jam tersebut, Steven, hanya diam dan begitu juga dengan Sandra, yang merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan itu, dia melihat ke arah jendela.
dua jam lebih perjalanan tersebut, belum juga sampai, Steven, memarkir mobil nya di sebuah restoran, saat ini dia merasa sangat lapar.
Sandra, tidak bertanya atau pun turun mengikuti Steven, yang sedari tadi mengacuhkan nya itu, hingga tangan kekar tersebut membuka kan pintu dan sabuk pengaman yang masih terpasang di tubuh nya.
"turun lah mau sampai kapan terus mendiamkan aku"ujar Steven.
"aku tidak laper kamu sendiri saja yang turun"ucap Sandra, tanpa menoleh.
"baiklah,kalau begitu"ucap Steven, yang kini langsung menutup pintu mobil tersebut, Sandra benar-benar dibuat kaget, melihat kemarahan di hadapan nya Steven, kembali masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobil nya, saat hendak melaju, Sandra berteriak .
"hentikan mobil nya, aku tidak ingin melihat, seseorang yang tidak pernah ikhlas, aku bisa pulang sendiri"ucap Sandra sambil menatap wajah Steven.
"Sandra, apa aku terlihat tidak ikhlas, aku hanya sedang laper kenapa kamu memperkeruh suasana"ujar Steven, yang kini memukul stir .
seketika Sandra , terdiam Air mata nya jatuh begitu saja, melihat tingkah pria yang di cintai nya, sedang memendam amarah.
"pergilah jika kamu laper tidak usah menghiraukan aku, aku belum lapar bisa kan"ujar Sandra, tapi Steven malah tancap gas saat ini bahkan Steven, tidak menghiraukan tangis Sandra, saat ini yang semakin membuat nya merasa bersalah.
__ADS_1
sesampainya di Mension Adryan, Sandra langsung keluar dari mobil tersebut tanpa menghiraukan tatapan Steven, yang kini menatap nya sendu Steven, tidak segera keluar dari mobilnya, tapi dia malah pergi lagi padahal waktu sudah larut malam, saat ini Sandra, bahkan tidak tau Steven, tidak mengikuti nya saat ini dia langsung masuk kedalam kamar dan membersihkan diri setelah itu dia berganti pakaian berniat membuat kan Steven makanan karena Sandra ,tau Steven, tadi kelaparan dan tidak melanjutkan keinginan nya untuk makan malah tancap gas.
saat Sandra, turun dia heran tidak melihat Steven, saat ini dia langsung mencari ke kamar nya, tapi barang-barang Steven, tetap utuh seperti semula, dan tidak ada bekas pergerakan sama sekali spray pun masih terlihat rapi, Sandra langsung bertanya pada seorang pelayan yang ada di dalam Mension, saat ini.
"dimana? tuan Steven"ucap Sandra.
"tuan, muda langsung pergi tadi tanpa turun, setelah mengantar kan Nona muda"ucap pelayan tersebut.
"Steven, apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak seperti ini, jika kamu memang tidak merasa nyaman dengan ku, aku ikhlas melepaskan mu pergi seperti dulu"Gumam, Sandra, yang kini berjalan meniti tangga dia kembali ke dalam kamar nya saat ini Sandra mencoba menghubungi Steven.
π±πΆπΆπΆπ±
π±"Steven, kamu dimana, kenapa harus pergi seperti saat ini, jika kamu memang benci aku bicaralah baik-baik, aku ikhlas jika kamu ingin melepaskan ku lagi" Sandra.
π±"bicara itu soal gampang tapi , siapa yang harus aku ajak bicara, bahkan tidak ada yang mau perduli dengan ku, kekasih ku sekaligus pun, sudah lah istirahat lah sudah larut, aku tidak akan kembali, mungkin besok akan ada orang suruhan ku, mengambil barang-barang ku, aku harap kamu bisa tenang tanpa aku"Steven.
π±"aku tau kamu sudah berubah pikiran, saat ini dan akan kembali pada istri mu selamat semoga kalian lebih berbahagia lagi"Sandra.
saat Steven, ingin berbicara sambungan telepon sudah terputus, Steven mencoba menghubungi Sandra, lagi tapi no nya sudah di blokir.
Sandra, terduduk sambil menangis, dia sangat merasakan sakit yang teramat, dengan sikap Steven, yang pergi, begitu saja, saat ini Steven bahkan, tidak memberikan alasan sebelumnya.
"aku mungkin tak pernah ada dalam hidup mu, kamu bersama dengan ku, hanya karena kasihan"gumam Sandra, masih sesenggukan saat ini.
saking lelahnya, setelah menangis Sandra pun ketiduran di samping ranjang nya, hingga seorang pelayan, menghampiri dan memberanikan diri untuk membangunkan nya saat ini karena sudah pukul tujuh pagi.
Sandra, langsung bangkit, dari tempat nya kini setelah itu dia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, Sandra, akan pergi jauh setelah ini karena dia merasa sudah tidak ada lagi yang harus ia tunggu bahkan adiknya, langsung terbang hari ini untuk berbulan madu dengan Riyan, yang kini sudah sah menjadi suami nya meski hasil dari perjodohan.
"sayang kamu sendiri dimana Steven??"ucap Sania yang kini baru kembali dengan Adryan, dan Gibran juga Michael.
"aku tidak tau mommy, mungkin sudah kembali pada istri nya saat ini"ucap Sandra, tanpa ragu, Sandra, sedang menikmati sarapan nya, saat ini.
"apa kamu yakin sayang, kenapa tidak bilang dari awal kalau dia sudah beristri ucap Adryan.
"Daddy, aku sedang tak ingin membicarakan tentang semua itu, nanti bakalan ada orang suruhan nya untuk mengambil barang milik nya segera"ujar Sandra.
semuanya kini bergabung di meja makan tersebut, Sandra, mulai meminta izin untuk pergi berlibur saat ini juga pada kedua orang tua nya.
"Daddy,momm... boleh kah ??aku pergi berlibur saat ini juga, aku ingin mencari ketenangan di luar sana"ujar Sandra.
"memang nya, suasana di sini tidak menyenangkan sayang"jawab Sania.
"aku akan pergi ke rumah besar milik Nini dan aki, mungkin di sana suasana nya akan sangat damai, sekaligus aku ingin berziarah kubur ke makam mereka momm"ujar Sandra.
"baiklah sayang kamu akan di antar sopir, Daddy untuk kesana"ucap Adryan.
Sandra, pun tersenyum setelah menghabiskan sarapan nya, dia bergegas untuk bersiap saat itu juga, Sandra, bahkan membawa koper besar saat ini seperti orang yang hendak pindahan.
"sayang barang bawaan mu banyak sekali kaya mau pindah saja"ujar Sania.
"aku akan tinggal lama di sana momm... mungkin sampai aku menemukan jodoh, hehehe"kekeuh Sandra.
"bagus lah,kalo bisa yang penyayang seperti aki "ucap Sania.
"jadi mommy, setuju' kalo aku berjodoh dengan orang kampung "ujar Sandra,kaget.
"ya kalo sudah jodoh,mau di apakan lagi, daripada jomblo dan gak nikah-nikah kan berabe jadi perawan tua entar"ujar Sania,sambil tertawa.
"aku pergi momm...mau titip apa buat saudara mommy di kampung"ujar Sandra.
"pergilah semua sudah di siapkan sedari tadi di mobil mu"ucap Sania sambil tersenyum kearah Adryan.
"sayang hati-hati di sana, dan jangan coba-coba, lakukan hal ekstrim seperti mommy mu dulu"ujar Adryan,sambil menggandeng tangan istrinya itu.
"tidak Daddy, paling aku jadi petani"canda Sandra,sambil tersenyum Sandra, pun masuk mobil nya beserta supir handal kepercayaan Adryan, tidak hanya itu dia juga di kawal secara diam-diam oleh anak buah Daddy nya itu.
__ADS_1
butuh waktu dua puluh empat jam untuk sampai di desa, saat ini Sandra, hanya melamun menangis dan tidur tiga hal itu yang kini ia jalani sepanjang perjalanan, selain berhenti sejenak untuk beristirahat.
sementara itu Steven, yang kini sedang berada di pesawat menuju Hongkong, dia pun hanya bisa menatap sendu, kearah yang kosong, kalo saat datang ke Indonesia, dia bersama dengan kekasih nya itu, lain halnya sekarang, Steven, melihat bayangan Sandra,di setiap tempat dalam jet pribadi nya, Steven, pun mengusap wajah nya kasar, selain sedang kecewa dengan sikap Sandra, dia kembali karena ancaman orang tua nya, yang akan nekad bunuh diri jika Steven, meninggalkan istrinya itu.